
Alex langsung menghubungi orang-orangnya untuk melakukan pemakaman terhadap Rania . Alex sengaja tak memberitahu para sahabatnya karena ia tak ingin ada terlalu banyak orang di sana, sehingga bisa mengundang para awak media untuk meliputnya, Alex tak ingin kabar bunuh dirinya sang mama tiri tersebut menyebar luas.
Setelah itu, Alex menghubungi salah satu kepercayaannya di kantor, yang sengaja ia pindahkan dari salah satu divisi untuk menggantikan tugas David selama pria itu belum masuk ke kantor karena sakit. Alex memintanya untuk memindah seluruh jadwal meetingnya hari ini.
Ini semua ia lakukan demi Anes bukan karena Rania tentunya.
Proses pemakaman Rania pun selesai, polisi menghampiri Alex dan memberikannya sesuatu, sebelum meninggalkan makam.
"Tuan Parvis, kami menemukan ini bersama dengan jatuhnya nyonya Rania dari lantai 7," ucap polisi sambil menyerahkan secarik kertas kepada Alex. Kertas itu ternyata surat yang ditulis Rania untuk Alex.
"Buang saja pak," ucap Alex, enggan untuk menerimanya dari polisi.
"Mas tidak boleh begitu," ucap Anes.
Kemudian Anes yang mewakili Alex untuk menerimanya.
Alex dan Anes masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, Anes menyuruh Alex membuka surat tersebut namun di tolak dengan tegas oleh Alex.
"Biar aku saja yang bacain," ucap Anes kemudian karena bujukannya tidak berhasil.
Anes membuka dan mulai membacanya.
"Hai Lex, aku tahu kamu tidak akan Sudi menerima surat dariku ini, tapi aku tetap menulisnya. Mungkin kalau kamu mau menerima dan membaca ini, aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Melalui surat ini, aku hanya ingin minta maaf sama kamu atas apa yang sudah aku lakukan padamu selama ini,"
"Aku harusnya sadar dari Awal, kalau semua ini akulah penyebabnya, aku tidak pernah berpikir panjang untuk ke depannya, aku terlalu mencintai kamu, namun aku juga terlalu mencintai uang, kamu tahu kan hidupku dulu seperti apa susahnya? meskipun kamu selalu meyakinkanku, kalau kamu akan membahagiakan aku di masa depan nanti, kamu akan bekerja keras untuk kehidupan yang layak untukku. Kamu selalu menasehatiku untuk tidak terlalu mencintai dan memuja uang, namun aku selalu mengabaikannya dengan bilang uang adalah segalanya, dengan uang cinta pun bisa di beli.
" Pada akhirnya aku menyerah pada hubungan kita dan memilih menikah dengan pria kaya yang ternyta adalah ayah kamu sendiri. Awalanya dengan adanya harta yang banyak, aku tak butuh cinta darimu, tapi ternyata aku salah,"
"Setelah mendapatkan harta yang begitu banyak, semua itu seakan tak ada artinya karena tidak ada kamu di sisiku. Kamu benar mungkin aku terlalu terobsesi terhadapmu. Kau tahu, dulu kau adalah orang yang paling mengerti dan peduli denganku, di saat semua menjauh dan menindas ku, kamu selalu ada dan menolongku. Itulah alasanku terlalu terobsesi terhadapmu.
"Tapi aku malah menyalahkan gunakan kebaikanmu, aku tahu tidak ada gunanya lagi sekarang aku minta maaf sama kamu. Sekarang aku bisa terima jika kamu sangat membenciku. Untuk masalah ayahmu aku benar-benar minta maaf, tidak seharusnya aku memanfaatkan kebaikannya selama ini."
"Dia begitu mencintaiku, tapi aku justru menyakitinya, sama sepertimu. Aku benar-benar minta maaf sama kalian. Dan tolong sampaikan permintaan maafku kepada David dan juga istrimu, Anes. aku tahu, mereka akan sulit memafkanku atas apa yang sudah aku lakukan, tapi setidaknya beritahu mereka, aku sudah menebus kesalahanku dengan nyawaku. Sekali lagi aku minta maaf atas semuanya, semoga kalian bahagia setelah kepergianku. Rania," Anes selesai membaca isi surat tersebut. Tanpa terasa air matanya menetes membasahi kertas di tangannya tersebut.
Anes melirik sekilas ke arah suaminya yang tidak bergeming. Wajahnya tetap datar seperti biasanya. Surat itu seakan tak ada pengaruhnya sama sekali untuknya. Ia memaafkan Rania, karena biar bagaimanapun juga orangnya sudah tidak ada, tapi tidak serta merta dia harus bersedih menangisi kepergian wanita itu, karena semua itu adalah keputusannya sendiri.
Alex benar-benar sudah kehilangan respect terhadap mantan kekasihnya tersebut.
__ADS_1
Alex menoleh ke Arah Anes, di lihatnya sang istri sedang menyeka air matanya.
"Sayang, kenapa kamu menangis? Mas kan tadi sudah bilang, tidak usah membacanya, buang saja," Alex mengubah posisi duduknya menyerong ke arah Anes dan mengusap air mata dari pipi istrinya tersebut.
Alex langsung mengambil kertas itu dan merobeknya lalu menyuruh orangnya untuk membuangnya ke sampah.
"Tidak mas, aku nggak apa-apa cuma kasihan saja sama Rania," ucap Anes yang notabennya memang memiliki hati yang lembut dan tulus.
"Sudahlah jangan menangis, semua sudah berlalu, tidak perlu di tangisi," Alex mendekap tubuh Anes ke dalam pelukannya. Sesaat suasana hening.
"Mas aku lapar," ucap Anes kemudian. Alex melihat jam yang melingkar di tangannya, memang sudah waktunya makan siang.
"Uluh, istri dan anak Daddy lapar ya? Mau makan apa hem?" tanyanya lembut.
"Em aku mau makan nasi sama nila bakar sambal mattah mas," sahut Anes, sambil membayangkan enaknya makanan itu.
"Baiklah, kita akan cari ya,"
"Yang dekat kantor itu ada mas," ucap Anes.
",Baiklah kita ke sana nyonya Parvis," Alex mengecup puncak kepala Anes lalu memakaikan sabuk pengaman kepadanya dan langsung tancap gas.
"No!" tolak Alex.
"Kenapa? Kan dekat mas sama kantor, tinggal jalan beberapa menit aja," Anes sudah siap dengan ponselnya untuk menghubungi Amel.
"Sayang, nanti yang ada Amel mengganggu kita, tidak baik. Dia hanya akan menjadi obat nyamuk, kan kasihan,"
"Baygon kali ah obat nyamuk, cuma makan siang ini mas, apanya yang mengganggu sih, emang kita mau ngapain?"
"Kencan, berduaan," jawab Alex tanpa dosa.
Anes menelan ludahnya kasar.
"Ya elah, makan siang doang ribet, lagian kita di rumah udah berduaan terus mas, masih kurang apa," dengus Anes.
"Kita nggak berdua, bertiga ya sayang," Alex menyentuh perut Anes dengan mata tetap fokus pada jalan di depannya.
__ADS_1
"Huh intinya saja mas, boleh nggak ajak Amel? Harus, kudu, wajib boleh, kalau nggak nggak dapat jatah main sampai dedek lahir," ancam Anes.
"Boleh sayang, tentu saja boleh, siapa bilang tidak boleh," sahut Alex dengan cepat. Anes mengulum senyum kemenangan lalu menelepon Amel.
"Suka-suka nyonya dah, daripada nggak dapat jatah, masa iya harus main solo lagi, sampai lahiran lagi," gumam Alex.
"Aku dengar loh mas, jangan banyak mengeluh," ucap Anes sembari menunggu panggilannya di angkat.
"Hehehe canda sayangku cintaku, honey bunny sweetyku," ucap Alex nyengir.
"Halo Mel, aku sebentar lagi samapi di rumah makan Xx yang ada di dekat kantor nih, kita makan siang bareng ya, jangan nolak. kita ketemu di sana, oke? emmuah," Anes langsung mengakhiri panggilannya.
" ya elah nih anak, main langsung matiin aja," Amel yang baru saja mendaratkan pantatnya di kursi kantin langsung berdiri lagi dan menuju ke tempat yang di maksud Anes.
"Say, aku tadi udah pesan makan dan minum sama ibu kantin, kamu ambil aja ya, udah aku bayar kok," ucap Amel yang kebetulan berpapasan dengan temannya.
"Lah kamu mau kemana Mel? buru-buru amat," tanya temannya.
"Ada panggilan mendadak dari Bu bos, udah ya aku pergi dulu, bye," Amel langsung meneruskan langkahnya.
"Lumayan, makan siang gratis," gumam temannya tersebut.
Di dalam mobil, Alex tampak kesal mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Anes kepada Amel.
"Jangan umbae cium ke semua orang sayang, di sini ada suami kamu,"
"Astaga, ini Amel mas, Amel, masa iya sama Amel aja cemburu,"
"Yang jelas, mas nggak suka, ciuman kamu hanya untuk mas," sikap posesifnya tidak pernah berubah.
"Dan sebentar lagi akan aku bagi sama anak kita," sahut Anes cepat.
Alex hanya mengernyitkan kedua alisnya.
" Jangan bilang nanti mas juga akan cemburu sama anak sendiri? Hah, cemburulah pada tempat dan waktu yang tepat mas," ucap Anes.
"Semoga tidak," sahut Alex, sembari membelokkan mobilnya ke arah parkiran rumah makan yang di tuju.
__ADS_1
"Kok semoga? ya emang harus nggak boleh cemburu dong, haish kamu ini mas, mas,"
🌼🌼🌼🌼