MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 119


__ADS_3

Alex langsung menyusul Anes, tapi sialnya, Anes mengunci pintunya dari dalam.


"Sayang buka pintunya, mas minta maaf. Mas akui mas salah. Mas mohon buka pintunya," ucap Alex sambil menggedor-nggedor pintu. Namun tak ada sahutan dari dalam.


"Nah loh, kelimpungan kan sekarang? Siapa suruh cuekin aku, aku juga bisa cuekin kamu mas," batin Anes. Ia ingin memejamkan matanya tapi tidak bisa, terganggu dengan suara berisik Alex.


"Bi, mana kunci cadangan kamar ini, cepat bawa sini!" teriak Alex.


"Ini tuan," ucap asisten rumah tangga sambil menahan kencing di celananya.


"Kenapa nggak bisa?" sungut Alex.


"Itu kebalik tuan pasang kuncinya,"


"Saya juga tahu, kamu jangan menggurui saya,"sahut Alex tak mau di salahkan.


Alex langsung masuk begitu pintunya berhasil ia buka.


"Sayang jangan seperti ini dong, maafin mas," Alex mendekati Anes yang pura-pura tidur.


"Mas tahu kamu belum tidur, iya kan? jangan gantian diemin mas dong, sedih tahu?"


Anes hanya mendesis mendengar ucapan Alex.


"Baru di diemin berapa menit, bahkan mungkin baru berapa detik udah kebingungan seperti anak ayam kehilangan induknya. Terus kemarin-kemarin itu apa? nggak sadar? salah minum obat apa bagaimana? " batin Anes kesal.


"Sayang," menggoyang-goyang tubuh Anes.


"Ya sudah kalau kamu nggak mau maafin mas, mas memang salah," ucap Alex lesu.


"Ya emang salah, siapa suruh terus menghindari ku,"


"Mas emang bodoh, maafin mas, kamu tidurlah, mas nggak akan ganggu lagi," ucap Alex lalu berdiri dan dengan berat hati meninggalkan Anes yang masih tak bergeming.


"Makanya kalau sedih tuh bagi-bagi, jangan di makan sendiri sampai lupa istrinya juga butuh kasih sayang, mas itu nggak sendiri, masih ada aku, papa mama dan juga sahabat-sahabat mas. Terus aja menghindar, mas pikir dengan seperti itu,kesedihan mas akan hilang? Enggak kan? malah tambah kan? Pikiran kok cetek amat! Udah sana" ucap Anes sambil terisak. Ia langsung memeluk suaminya yang sangat ia rindukan itu dari belakang.


"Aku sedih tahu kalau mas kayak gini terus, aku tuh bingung mesti gimana, aku kangen juga sama mas. Mas Alex jahat tahu nggak. Jangan abaikan aku lagi, hiks! Jangan egois! seenak jidatnya nyuekin aku, giliran aku mau ikut cuek mas malah kayak gini," lanjut Anes.


Alex berbalik badan dan mengeratkan pelukannya, ia mencium puncak kepala Anes.


"Maafin mas, mas janji nggak akan menghindari kamu lagi, mas janji, maafin mas sayang," Alex terus saja minta maaf.


"Minta maaf saja terus, tapi nanti di ulangi lagi. Bosan!"

__ADS_1


"Enggak, beneran mas nggak akan nyuekin kamu lagi, mas janji, swear!" membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.


Sekarang ayo kembali ke kamar," Amel Alex.


"Enggak mau! aku mau tidur sendiri, toh Deri kemarin-kemarin sama aja kayak tidur sendiri kok, jadi aku udah terbiasa. Sana mas aja yang balik ke kamar,"


Tidak mendengarkan ocehan Anes, Alex langsung membopong tubuh Anes dan membawanya ke kamar. Ia tidak menghiraukan ocehan-ocehan Anes yang terus minta di turunkan. Karena kehabisan tenaga untuk memberontak, akhirnya Anes mengalah diam. Ia terus meringis menahan sakit di jarinya yang ia gunakan untuk memukul-mukul dada Alex.


Alex mendudukkan Anes di tepi tempat tidur.


"Tunggu sebentar," Alex berlari keluar untuk mencari kotak p3k, lalu segera kembali ke dalam kamar.


Alex membuka kotak p3k dan meraih tangan Anes yang terkena pisau.


"Mas mau ngapain?" tanya Anes.


Alex tak menjawab, ia membuka pelan-pelan perban yang membalut dua jari Anes yang merah karena darah.


"Maaf, sepertinya tadi mas terlalu kencang menggenggamnya, jadi berdarah lagi begini," sesal Alex. Ia meletakkan perban yang sudah kotor tersebut lalu meniup-niup jari-jari Anes.


Anes hanya diam menikmati perlakuan suaminya, ia senang karena Alex yang dulu sudah kembali.


"Kita ke rumah sakit saja ya? Atau biar dokternya yang kesini?" tanya Alex.


"luka kecil bagaimana? ini cukup dalam, lain kali kalau pikiran kamu sedang tidak baik jangan main pisau," Alex menasehati Anes.


"Ck, pisau! aku masak mas bukan main-main, emang anak kecil, lagian ini kan salah mas," protes Anes.


"Iya iya, mas yang salah, selalu mas yang salah, nyonya muda Parvis yang selalu benar. Jangan marah lagi ya?" Alex mengusap rambut panjang Anes.


"Mas tetesi obat merah, ini akan sedikit perih, kamu tahan ya?" ucap Alex.


Dan benar saja, rasanya perih saat obat merah menetes di luka Anes. Ia mengeratkan giginya dan memejamkan matanya.


Alex langsung mencium bibir Anes, dan ********** beberapa saat sampai Anes lupa rasa perihnya.


"Masih perih?" tanya Alex.


Anes menggeleng, mukanya memerah. Ia memang sangat merindukan sentuhan dan belaian suaminya tersebut.


"Kamu mupeng ya? kok jadi merah gitu mukanya? habis ini ya?" goda Alex sambil memasang perban di jari Anes.


"Apaan sih mas, nggak lucu! pikiran kok mesum," kilah Anes.

__ADS_1


"Ya wajar dong mesum sama istri sendiri. Lagian kan udah lama mas nggak buat kamu mendesah enak," goda Alex lagi.


"Nanti biar mas cek, takutnya lumutan atau karatan," lanjutnya lagi sambil tersenyum smirk.


"Mas Alex!" Anes menabok suaminya yang otaknya mulai bekerja normal tersebut.


Wajah Anes semakin memerah mendengar ucapan Alex.


"Udah," Alex selesai membalut luka Anes, tidak lupa ia meninggalkan ciuman di jari-jari yang terbalut tersebut.


"Tadi perasaan pas bibi yang ngasih obat merah nggak perih, tapi kenapa pas mas yang ngasih perih banget, sama kayak orangnya Suak bikin perih," sindir Anes.


"Itu karena tadi pikiran kamu yang sedang tidak fokus, karena sedih di cuekin suami yang kami cintai ini kan?" ucap Alex narsis tanpa merasa di sindir.


"Hish mas terlalu percaya diri, perih karena mas yang beresin, sama kayak hati aku yang perih," sungut Anes.


"Hati atau ini?" Alex mengusap area sensitif Anes.


"Tahu ah gelap!"


"Udah jangan kesal lagi, semua mas yang salah. Sini peluk," menarik badan Anes ke dalam pelukannya.


"Sekarang kita makan ya? Kamu belum makan kan?" melepas pelukan, bangun dan mengulurkan tangan kepada Anes


"Silahkan tuan muda, nyonya muda, sudah bibi panaskan makanannya," ucap bi Ina. Ia tahu kalau kedua majikannya tersebut akan segera berbaikan, jadi dia berinisiatif memanaskan makanannya tanpa di suruh.


Alex makan dengan lahapnya. Semua yang istrinya masak, ia masukkan ke dalam perutnya tanpa terlewat satu pun. Anes sangat senang melihatnya.


"Mas, emang muat di perut mas, kenapa di makan semua?"


"Muat dong, perut mas kan kayak magic com, muat banyak," sahut Alex.


🌼🌼🌼


Anes sudah tertidur pulas, sementara Alex masih saja memandangi wajah sang istri. Betapa ia menyesal telah mengabaikannya akhir-akhir ini. Ia belai lembut pipi Anes sambil terus merutuki dirinya yang sudah menyakiti perasaan Anes tanpa sengaja.


Alex, seperti teringat sesuatu, kemudian ia mengambil ponselnya.


"Dav, atur jadwal konsultasi dengan dokter kandungan, dua dokter. Satu laki-laki-satu perempuan," Alex mengirim pesan kepada David.


🌼🌼🌼


💠Hai hai hai, author minta maaf ya kalau lama upnya, author selalu berusaha up setiap hari 1 atau 2 chapter setiap harinya. Jangan lupa votenya, salam hangat author ❤️❤️❤️💠

__ADS_1


__ADS_2