
Saat Amel dan dua temannya mengobrol, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang masuk ke dalam.
"Maaf, apa kalian bisa keluar sebentar? aku ingin bicara dengan Adikku," ucap laki-laki tersebut.
"Kakak!" seru Amel saat melihat siapa yang masuk ke dalam kamarnya. Ia langsung berlari dan memeluk Aksa, kakaknya.
Aksa membalas pelukan Amel dengan senyum.
"Aku kira kakak beneran tidak akan pulang di hari pernikahanku, hiks,"
"Hei, bagaimana mungkin kakak tidak pulang, adik kesayangan kakak satu-satunya akan menikah, tentu saja kakak harus ada di momen bahagia ini. Sudah jangan menangis, masa calon pengantin nangis, ntar make upnya luntur, kan nggak lucu dek," Aksa mengusap lembut pipi Amel.
Ternyata, David tak hanya berhasil membuat ayah Amel datang ke pernikahannya, akan tetapi juga berhasil membawa kakak dan keluarganya kembali.
" Kapan kakak sampai? Bukannya kakak bilang nggak bisa pulang karena acara pernikahanku mendadak? Di mana kakak ipar dan Cyla? Apa mereka juga ikut pulang?"
" Kemarin kakak sampainya, tapi ingin buat kejutan buat kamu makanya kakak baru muncul sekarang, mereka sedang bersama mama," balas Aksa.
Setelah sedikit berbincang-bincang, Aksa kembali meninggalkan Amel untuk menemui David di kamarnya.
" Boleh aku masuk?" tanya Aksa tiba-tiba sambil membuka pintu kamar hotel tempat David dan teman-temannya sedang berbincang.
"Oh bang Aksa, silahkan masuk bang," sahut David ramah kepada calon kakak iparnya tersebut.
Juna, Bryan dan Baim pun memilih untuk meninggalkan mereka berdua di dalam kamar. Mereka cukup tahu diri untuk tidak menguping pembicaraan dua laki-laki tersebut, meskipun keduanya tidak keberatan jika mereka tetap berada di sana.
"Abang sudah menemui Amel?" tanya David setelah sebelumnya mereka berdua menatap punggung para sahabat yang keluar dari kamar tersebut.
"Sudah barusan, dia tampak senang sekali sampai menangis, dia pikir aku benar-benar tidak pulang," jawab Aksa.
"O ya Dave, aku ke sini cuma mau bilang kalau aku titip adik aku sama kamu. Kamu tahu, selama ini aku nggak bisa menjaganya karena aku harus tinggal di luar negeri bersama anak dan istriku karena pekerjaan, bahkan saat-saat tersulitnya aku tidak bisa berada di sampingnya. Setiap kali telepon, Amel selalu menceritakan tentang kamu, tentang kamu yang selalu mengalihkan dunianya. Selalu mengisi hari-harinya, aku bisa tahu dari situ, betapa Amel sangat mencintai kamu. Jadi, aku berharap kamu akan memperlakukannya dengan baik kelak..."
__ADS_1
Aksa menghentikan kalimatnya, pandangannya dan juga David beralih kearah pintu yang baru saja di buka oleh seseorang, Alex orang yang membuka pintunya.
Namun, bukan Alex namanya kalau sampai harus merasa canggung karena telah mengganggu pembicaraan dua laki-laki tersebut.
"Ada apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Alex santai.
"Em, kenalkan bos, ini Bang Aksa, kakaknya Amel," David memperkenalkan Aksa Yang kepada Alex.
"Halo tuan Parvis, senang bisa melihat Anda secara langsung," ucap Aksa ramah.
"Huh, berasa kayak artis aja," Batin Alex.
"Hem," balas Alex dengan sedikit senyum terulas dari bibirnya.
"Dave, sebantar lagi akad akan di mulai, aku tunggu di bawah," ucap Alex melihat kearah David.
"Baik bos," sahut David.
"Yaudah, ayo siap-siap, udah nggak sabar jadi adik iparku kan," Aksa menepuk bahu David.
"Eh, iya bang"
"Pesanku cuma satu Dave, jangan pernah kamua sakiti adik aku, apapun alasannya. Atau aku akan membawanya pergi jika itu terjadi. Aku dan papa tidak bisa menjadi papa dan kakak yang baik buat dia, tidak bisa selalu ada untuknya, jadi kamulah satu-satunya harapan dalam hidupnya,"ucap Aksa sebelum akhirnya ia berdiri dan meninggalkan David sendiri, tak lupa satu tepukan tangannya juga kembali ia layangkan ke pundak calon adik iparnya tersebut.
Sementara itu di kamar lain, Ayahnya Amel tampak sedang meminta maaf terhadap putrinya tersebut. Ia tahu, selama ini ia sudah sangat mengecewakan anak bungsunya bersama bu Mira tersebut. Apalagi semenjak bercerai dengan bu Mira, ia tak pernah sekalipun menemui atau sekedar menanyakan keadaan putrinya tersebut. Namun, saat David datang menemuinya untuk menjadi wali untuk Amel di pernikahannya, membuatnya merasa senang sekaligus bersalah. Selama ini ia tak begitu peduli dengan Amel, tapi perempuan tersebut tetap saja menginginkan kehadirannya, bahkan ia selalu merindukan sosok ayahnya tersebut.
Ya, Amel sudah melupakan dan mengikhlaskan perpisahan kedua orang tuanya. Bagaimanapun juga rasa kecewanya terhadap sang ayah, dia tetaplah ayah kandungnya, darahnya mengalir dalam diri Amel dan juga Aksa. Dengan tulus ia memaafkan sang ayah.
Bu Mira yang tanpa sengaja mendengar percakapan mereka tak bisa menahan air matanya. Dengan segera bu Mira menghapus air matanya dan menghampiri mereka yang tidak sadar akan datangnya bu Mira di sana.
"Sayang, apa kamu udah siap?" tanya bu Mira.
__ADS_1
Amel dan ayahnya langsung menoleh ke arah bu Mira.
"Em, udah ma," jawab Amel.
"Yuk, segera turun, semuanya sudah menunggu," ajak bu Mira.
Amel melihat pantulan dirinya ke cermin sebentar untuk memastikan kalau penampilannya sempurna sebelum akhirnya ia dan kedua orang tuanya meninggalkan kamar tersebut.
🌼 🌼 🌼
Saat Amel tiba di tempat Akad, David dan yang lainnya sudah menunggu di sana. David yang awalnya duduk, langsung berdiri begitu melihat calon istrinya datang. Ia terpana dengan kecantikan calon istrinya tersebut yang tampak cantik dan anggun dengam balutan kebaya berwana putih tersebut.
Melihat daving bengong, Alex langsung menepuk bahunya.
"Jaga matamu Dave, sebentar lagi ijab, para malaikat menyaksikan dan ikut mendoakan, jangan kamu buat mereka tidak jadi mendoakanmu, nanti kalau udah sah bebas bebasin dah tuh lihatinnya. Nggak cuma lihat, yang lainnya juga boleh," bisik Alex di telinga David.
Mendengar bisikan Alex, David sedikit mencebikkan bibirnya.
"Ck, dasar bos, paling benar kalau nasehatin orang, sendirinya nggak nyadar atau amnesia, gimana dulu waktu melihat nona ketika menikah. Bahkan bola matanya udah mau copot aja waktu itu karena terpana melihat kecantikan nona," batin David protes.
"Udah sih mas, namanya juga lihat calon istrinya yang cantik, nggak usah rewel deh tuh mulut, ini harinya mereka mas," bisik anes yang ternyata mendengar ucapan suaminya.
Setelah semuanya lengkap, penghulu juga sudah datang, tibalah saat yang paling menegangkan dalam hidup David dan Amel.
Semua yang hadir untuk menyaksikan dan mendoakan keduanya serempak bilang SAH ketika David berhasil mengucap Qabulnya denga hanya sekali tarikan napas.
David dan Amel serempak menghela napas lega, setelah mendengar para saksi bilang sah. Sekarang mereka telah sah menjadi pasangan suami istri.
Ada rasa haru dan bangga tersendiri dalam diri Alex yang menyaksikan laki-laki yang sudah ia anggap sebagai adik tersebut, pada akhirnya menyusulnya Alex mendapatkan gelar sebagai seorang suami, dan ia berharap gelar sebagai hot daddy juga akan segera menyusul
🌼 🌼 🌼
__ADS_1