MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 48


__ADS_3

Alex dan pak Hari sedang asyik bermain catur, sedangkan Anes dan Bu Ratna memasak di dapur untuk makan siang nanti.


"Wah, ternyata kamu pintar sekali main catur, papa kalah terus. Ayo main lagi, papa belum nyerah kalau belum bisa mengalahkan kamu," ucap pak Hari semangat.


"Hah apa? main terus sampai aku kalah? mau sampai kapan ini, lebih baik aku mengalah saja kali ini, biar papa senang," batin Alex.


Mereka melanjutkan permainan catur hingga pak Hari menang beberapa kali, karena Alex sengaja mengalah untuk menyenangkan papa mertuanya tersebut.


Bu Ratna yang sudah selesai dengan urusan dapur, menghampiri Alex dan pak Hari yang sedang serius memandangi pion caturnya.


"Kalian serius sekali, siapa yang menang?" tanya Bu Ratna yang mengalihkan fokus kedua orang yang sedang berhadapan tersebut.


"Eh mama, dari tadi Alex terus yang menang, tapi akhirnya papa bisa mengalahkannya beberapa kali," ucap pak Hari bangga.


"Eleh, papa yang menang atau menantu mama yang mengalah hem?" ledek bu Ratna.


"Yah mama, papa juga tahu kalau Alex mengalah, biar papa nggak kehilangan muka," jawab pak Hari jujur.


"Nggak kok pa, Alex memang kalah, Alex kurang fokus di permainan-permainan terakhir," sahut Alex bohong.


"Tuh ma, dengar sendiri kan ternyata Alex emang kalah," pak Hari melakukan pembelaan diri, walaupun tetap saja dalam hatinya tahu menantunya ini bohong demi menyenangkan hatinya.


"Iya iya mama percaya!" ucap bu Ratna.


Mereka pun saling berbincang dan bergurau. Entah kenapa, Alex merasa senang sekali melihat kedua mertuanya terlihat romantis, walaupun dibumbui-bumbui dengan perdebatan dan pertengkaran kecil, namun malah terlihat romantis. Walaupun dia kebanyakan diam dan hanya menjadi penonton kelakuan kedua mertuanya.


"Ih papa, udah bercandanya, malu tahu ada nak Alex, coba lihat dia malah diam dan memperhatikan kita, malu sama yang muda, udah tua juga, pasti nak Alex mikir tua-tua nggak tahu malu" ucap Bu Ratna tersipu.


"Eh jangan salah ma, biar anak dan menantu kita nanti juga seperti kita, biarpun tua, tetap romantis, iya kan Lex?" pak Hari menimpali ucapan Bu Ratna.


"Iya pa, semoga sampai tua nanti aku sama Anes bisa terus seperti mama sama papa, bahkan lebih dan lebih romantis" ucap Alex dalam hati.


"Iya pa," hanya itu yang keluar dari mulut Alex, padahal dalam hatinya banyak sekali ia merangkai kata. Huh emang dasar Alex ckckck.


Alex celingukan melihat sekitar, mencari keberadaan istrinya, tapi, tidak juga nampak batang hidungnya.


Pak hari dan bu Ratna yang melihat tingkah menantunya pun saling menatap sambil tersenyum.


"Tuh lihat pa, baru sebentar saja nggak lihat istrinya udah rindu aja," goda bu Ratna pada Alex.


"Hahaha" tawa meledak dari mulut pak Hari.


Alex hanya menggaruk tengkuknya sebagai respon dari ucapan mertuanya.


"Udah sana susul istrimu, sepertinya dia di kamar, tadi katanya mau rebahan capek dan ngantuk, sekalian panggil buat makan siang," ucap Bu Ratna.


"Capek? ngantuk? baru jam segini, memangnya tadi malam sampai jam berapa lemburnya, sampai berapa ronde?" ledek pak Hari.


"Papa! jangan bikin menantu mama malu, dasar!"


"Hahaha papa bercanda ma, bukan menantu mama saja, tapi menantu papa juga, iya kan Lex."

__ADS_1


"Iya pa, ma, kalau begitu Alex panggil Anes dulu sebentar," ucap Alex langsung mengangkat pantatnya yang sudah terasa kebas karena dari tadi duduk menemani pak Hari main catur.


"Tu kan, papa sih, dia jadi salah tingkah begitu" bisik bu Ratna.


"Hihi, biarin aja ma, namanya juga masih pengantin baru, baru anget-angetnya," timpal pak Hari berbisik juga.


🌼🌼🌼


Sampai kedalam kamar, Alex tidak menemukan Anes disana.


"Kemana dia, tadi mama bilang dia di kamar?" gumamnya.


Karena tidak ada istrinya disana, dia putuskan untuk menunggu sambil melihat-lihat isi kamar istrinya. Waktu menikah dia sempat masuk kekamar itu sih, tapi tidak begitu memperhatikan karena hanya sebentar.


Ia mengedarkan pandangannya, malihat sekeliling kamar yang didominasi warna putih tersebut.


"Apa seperti ini kamar perempuan, banyak barang-barang yang tidak berguna dan penting," menurutnya.


Tiba-tiba matanya fokus kepada sebuah photo yang menempel didinding kamar istrinya.


"Itu foto siapa? kenapa ada photo laki-laki lain di kamar ini, bukannya photonya suaminya, bahkan photo pernikahan kita pun nggak ada.


Siapa sih laki-laki ini? Mana di photo Anes tersenyum lagi, seperti dia senang photo bersama laki-laki itu, apa dia mantannya, kenapa masih di pajang, tapi bukannya David bilang dia belum pernah pacaran, terus siapa laki-laki ini, kenapa mereka kelihatan dekat, saling tersenyum seperti bahagia saat photo ini diambil, sial berani-beraninya dia memegang bahu Anes " gumam Alex dalam hati sambil mengepalkan tangannya. Ada rasa kesal dan cemburu dalam dirinya.


Dia meninggalkan photo tersebut. Duduk di tempat tidur dan mengambil sebuah album photo di nakas samping tempat tidurnya.


Alex membuka lembar perlembar album tersebut sambil tersenyum. melihat potret sang istri dari orok sampai dewasa, bahan photo USGnya waktu dalam kandungan Bu Ratna juga ada disana.


Kemudian ia membalik lagi lembar album tersebut, dia melihat photo Anes waktu masih sekolah menengah atas dengan rambut di kuncir dua.



"Manis sekali, menggemaskan!" gumamnya.


Alex mengambil photo tersebut dan menyimpannya dalam dompetnya bersama dengan photo pernikahannya dan Anes.


Ia meletakkan kembali album photo itu ketempat yang semula.


"Menghilang kemana sih Anes?" ucapnya.


"Kenapa nyari aku mas? takut aku hilang hem? baru juga sebentar nggak ketemu," tiba-tiba Anes masuk kedalam dan menghampiri suaminya. Ia duduk disamping suaminya dan menyenderkan kepalanya di bahu Alex.


"Mas ngapain disini?" tanya Anes.


"Kamu dari mana? aku nyariin kamu, tadi mama bilang kamu dikamar tapi nggak ada," sahut Alex sambil membelai rambut Anes.


"Tadi perut aku sakit jadi aku ke kamar mandi," jawab Anes.


"Ayo, papa sama Mama pasti udah nunggu buat makan siang," ajak Anes.


"Tunggu, kamu punya hutang penjelasan sama aku," ucap Alex. Wajahnya berubah menjadi serius.

__ADS_1


"Ada apa? kenapa? kenapa mukanya berubah seperti itu, apa aku punya salah?" batin Anes.


"Penjelasan soal apa?" tanya Anes.


Alex tak menjawab, dia hanya mengalihkan pandangannya kearah photo yang menggantung didinding, photo Anes bersama seorang laki-laki tampan lainnya menurutnya.


Anes mengerti maksud dari suaminya.


"Mas nggak tahu laki-laki itu siapa?"


"Nggak!" jawab Alex datar.


"Serius? dia itu..."


"Mantan kamu? sudah kuduga," sahut Alex kesal dan dipenuhi api cemburu.


"Eh tapi kan dia nggak punya mantan, ah bodoh amat!" batin Alex.


"Hahahaha" Anes tertawa.


Melihat istrinya tertawa, membuat Alex semakin kesal dan mengepalkan tangannya.


"Dengerin dulu aku ngomong makanya, mas itu lahir tahun berapa, kenapa aktor sefenomenal dan setampan Lee Min Ho nggak tahu mas?" jelas Anes menahan tawa.


"Aktor? jadi dia aktor?"


"Waktu itu, aku nemenin Amel nonton ketika Lee Min Ho datang ke Indonesia, dia kan tergila-gila tu sama oppa-oppa Korea, dan aku punya kesempatan photo sama dia, udah deh dicetak sama Amel dan dia pajang disitu. itu Amel yang cetak dan taruh situ, buat kenang-kenangan katanya, serius," lanjut Anes lagi.


"Hahaha mas cemburu ya?"


"Tentu saja aku cemburu, mau artis sekalipun tetap saja dia laki-laki," batin Alex.


"Nggak usah dipajang disitu, merusak pemandangan, ganti sama photo kita berdua!" ucapnya lalu berlalu keluar sambil menahan malu.


"Iya iya nanti aku minta mama turunin photo itu, jangan marah ya?" Anes menyusul langkah Alex. kemudian, meraih lengan suaminya tersebut dan mereka menuju ke ruang makan. Di sana mereka sudah ditunggu pak Hari dan bu Ratna.


"Duh nempel terus kayak perangko!" ledek pak Hari.


"Maklum pa, pengantin baru," timpal bu Ratna.


Anes yang malu pun langsung melepas pegangannya pada lengan Alex. Mereka duduk dan makan siang bersama.


"Ma, habis makan siang aku dan mas Alex pamit ya, mau belanja sekalian soalnya," ucap Anes.


"Nggak mau menginap?" tanya Bu Ratna.


"Lain kali aja ma," jawab Anes.


"Ya udah lanjutin dulu makannya, jangan buru-buru," jawab bu Ratna.


"Iya ma," jawab Anes dan Alex serentak.

__ADS_1


🌼🌼🌼


__ADS_2