MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 165


__ADS_3

Setelah menemui Anes dan bilang kalau Alex sedang keluar karena ada urusan penting, bu Ratna menemui Amel di ruang ICU tempat David di rawat. Terlihat Amel sedang tertidur sambil tangannya tetap menggenggam tangan David.


Bu Ratna tidak tega untuk membangunkannya, ia tahu pasti Amel sangat lelah karena terus menangis dan semalaman ia tidak tidur sama sekali. Kalaupun sekarang ia tidur pasti bukan sengaja tapi ketiduran.


Bu Ratna memutuskan untuk kembali ke ruang perawatan Anes dan akan kembali menemui Amel nanti.


"Mana Amel ma?" tanya Anes pada Bu Mira yang baru saja masuk.


"Di sedang tidur sayang, mama nggak tega banguninnya, nanti saja mama ke sana lagi," jawab Bu Ratna.


"Kasihan Amel, pasti di kelelahan. Tapi Anes salut sama dia ma, Amel sangat tegar, dia sudah begitu banyak melewati kesulitan. Mulai dari mendapati kedua orang tuanya yang tidak pernah saling mencintai hingga akhirnya bercerai karena papanya memiliki istri dan anak lain. Di bihongi oleh Dimas mantannya dan di tuduh sebagai perebut suami orang. Tante Mira juga sangat jarang di rumah, dia bahkan tidak tahu apa yang terjadi dengan Amel akhir-akhir ini karena sibuk dengan bisnisnya di luar kota,"


Ya, di balik sikapnya yang ceria dan selalu bawel, masalah datang silih berganti menghampirinya Amel. Namun, ia selalu berusaha untuk bangkit dan tidak terpaku dengan satu Maslah saja, karena bagi Amel, hidup memang begitu, harus ada lika-liku yang harus ia hadapi, walaupun tidak ia pungkiri juga bahwa sering kali hatinya terluka dan hancur.


"Amel.." ucap pak Hari yang menyadari bahwa Amel baru saja masuk ke ruangan tersebut.


Bu Ratna dan Anes menoleh ke arah pintu. Di sana sudah ada Amel yang sedang menutup pintu kembali.


"Amel,," ucap Anes.


Amel langsung menghampiri Anes yang sedang duduk di ranjang lalu memeluknya.


"Mama tadi ke ruang ICU ya? tadi aku ketiduran,begitu bangun mama pas udah keluar," ucap Amel menoleh ke arah Bu Ratna.


"Iya sayang, mama ganggu kamu ya tadi? Maaf ya kamu jadi kebangun gara-gara mama," timpal bu Ratna.


"Enggak kok ma, tadi emang aku cuma ketiduran sebentar dan bangun," ucap Amel dengan menyunggingkan senyumnya.


"Bagaimana keadaan kamu Nes?" tanya Amel.


"Aku baik Mel, justru aku khawatir sama kamu, kamu yang sabar ya, ada kita semua di sini," sahut Anes.


"Iya Nes, aku harus kuat demi David, aku yakin dia bakal sembuh, aku akan menunggunya. Dia udah janji sama aku, dia nggak akan ninggalin aku, dan aku percaya kata-katanya," ucap Amel meski dalam hatinya ada sedikit keputusan asaan, akankah David menepati janjinya untuk tetap berada disisinya dan tidak akan meninggalkannya.


"Kamu makan makan dulu gih, mama udah bawain makan tuh buat kamu, sama bawa baju ganti juga kan ma?" Anes menoleh ke arah Bu Ratna.


"Iya sayang, kamu makan dulu ya, tapi mama bawa bajunya Anes yang ada di rumah, nggak sempat ke rumah kamu buat ambil, nggak apa-apa kan pakai baju Anes? Ukuran kalian kan sama," Bu Ratna mengambil paper bag yang berisi pakaian lalu menyodorkan ke Amel.


"Nggak apa-apa ma, Amel ganti baju dulu ya?"


"Terus makan oke?"


"Iya Nes," akhirnya Amel mengganti bajunya yang kotor dan ada noda darah dari luka David tersebut.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Alex terus melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia sudah tidak sabar untuk sampai ke kantor polisi dan melihat wajah tersangka.


Karena kecepatannya melajukan mobil, Alex tidak menyadari lampu merah di depannya, ia main serobot lampu merah tersebut, beruntung tidak ada mobil atau kendaraan lain yang berlawanan arah dengannya.


Namun, di belakangnya ada motor polisi yang mengejar mobil Alex hingga akhirnya berhenti tepat di depan mobil Alex.


"Ah sial!" umpat Alex memukul setir mobilnya.

__ADS_1


Alex membuka kaca pintu mobilnya karena diketuk-ketuk oleh polisi tersebut.


"Maaf tuan, apa Anda tidak melihat lampu merah di sana tadi?" ucap polisi sopan.


"Maaf pak, saya buru-buru jadi tadi kurang memperhatikan rambu-rambu lalu lintas," jawab Alex jujur.


"Maaf tuan, apa Saya bisa melihat kelengkapan surat dan identitas Anda?"


Alex pun menyerahkan apa yang di minta oleh polisi tersebut. Setelah mengeceknya, polisi tersebut langsung berubah mimik mukanya.


"Maaf tuan Parvis, silahkan Anda melanjutkan perjalanan Anda," ucap polisi tersebut menunduk tangannya menyodorkan surat-surat itu kembali kepada Alex.


Alex menerimanya dan langsung melajukan mobilnya kembali.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Tiga puluh menit kemudian, Alex sampai di kantor polisi.


"Tuan Parvis," sapa seorang polisi.


"Mana orangnya?" tanya Alex tegas.


"Begini tuan, orang itu adalah suruhan seseorang, dan kami sudah melakukan penangkapan terhadap dalang dari semua ini," Jelas polisi.


"Sudah ku duga," gumam Alex.


"Cepat bawa orang itu kemari!" pinta Alex.


" Pelaku penusukan atau dalangnya tuan?"


"Tapi tuan harap jangan emosi, karena orang itu adalah...."


"Cepat bawa kemari! aku tidak peduli siapapun orangnya, kalau perlu aku akan bunuh dia sekarang juga!" teriak Alex.


Akhirnya polisi itu menyuruh bawahannya untuk membawa Alex bertemu dengan dalang di balik percobaan pembunuhan tersebut.


"Lex,,, aku tahu kamu pasti akan datang, pasti kamu tidak akan membiarkan polisi-polisi itu menangkapi kan?" ucap Rania yang baru saja di bawa oleh polisi untuk menemui Alex. Posisi Alex kini masih membelakangi Rania.


Mendengar suara Rania membuat rahang Alex mengeras. Ia mengepalkan kedua tangannya serta mengerakkan giginya.


"Ternyata benar wanita ini dalangnya," batin Alex.


"Lex," Rania berusaha menyentuh tangan Alex namun langsung ditepis kasar oleh Alex.


"Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu itu Rania," ucap Alex dengan suara penuh amarah sembari memutar badannya menghadap wanita tersebut.


"Lex,"


"Kenapa? kenapa kamu lakuin semua ini kepadaku Rania?" tanya Alex menahan amarahnya.


Rania diam tak menjawab. Membuat Alex semakin geram.


"Jawab Rania! Dulu kamu sendiri yang memutuskan untuk pergi dariku, tapi kenapa sekarang kamu melakukan semua ini padaku?"

__ADS_1


"Kamu tanya kenapa Lex? tentu saja karena aku masih sanagt mencintai kamu dan aku tidak akan membiarkan siapapun memiliki kamu kecuali aku!" jawab Rania lantang.


"Jangan pernah bilang cinta di depanku, aku muak mendengarnya dari mulutmu itu," ucap Alex.


"Kamu sendiri yang bilang kemarin, kalau hanya maut yang akan memisahkan kamu dengan wanita sialan itu Lex, aku hanya mempermudah jalan untuk kalian berpisah. Namun sayang, David sialan itu malah sok jadi pahlawan kesiangan dan menghalanginya," ucap Rania tersenyum sinis membayangkan.


Alex mencengkeram rahang Rania hingga wanita itu kesulitan bernapas.Rania meronta-ronta minta di lepaskan, hingga akhirnya Alex lepaskan cengkeramannya.


"Selama ini aku terlalu baik kepadamu Rania, sehingga kamu dengan mudahnya menyakiti orang-orang yang aku cintai, tapi sekarang tidak lagi! Akan aku pastikan kamu akan membusuk di penjara!"


"Lex, kenapa kamu berubah menjadi kejam seperti ini hiks hiks hiks, aku tahu kamu pasti tidak akan tega melihatku di penjara, iya kan?"


"Bukan aku yang berubah Rania, tapi kamu! kamu yang sudah menghancurkan hidup kamu sendiri, jadi berhenti menyalahkan dan menyakiti orang lain, atau kamu akan terima akibat dari keserakahanmu itu!"


"Itu semua karena aku cinta sama kamu Lex,"


"Cih, cinta kamu bilang? jangan jadikan cinta sebagai alasan kelakuan jahatmu Rania. Itu bukan cinta, tapi obsesi yang berlebihan!"


"Lex,"


"Berhenti memanggil namaku Rania!" bentak Alex.


"Kamu tahu, hal yang paling aku sesali di Dumai ini adalah pernah bertemu dengan wanita licik seperti kamu Rania, kalau bisa memilih lebih baik aku tidak pernah hadir ke dunia ini sehingga aku tidak perlu bertemu denganmu dalam hidupku,"


"Jangan bilang begitu Lex, aku tidak percaya kamu bilang menyesal,"


"Cih, sepertinya otak kamu itu prematur! sehingga tidak bisa berpikir! Bagaimana mungkin kamu punya pikiran kalau aku akan kembali ke kami setelah semua yang kamu lakukan? Dasar sakit jiwa,"


"Lex, apa kamu sebenci itu kepadaku?"


"Ya, aku sangat membenci kamu Rania, dan aku sangat-sangat menyesal pernah menempatkan kamu dalam hatiku,"


Air mata Rania sudah membanjiri wajahnya. Dia bisa melihat dengan jelas kebencian dan kekecewaan dari mantan kekasihnya tersebut.


"Kamu benar-benar tidak peduli denganku lagi Lex?" masih berharap.


"Sama sekali," jawab Alex. Laki-laki itu sudah menahan amarahnya sejak tadi, kalau saja tidak ada polisi yang mengawasinya, mungkin saja dia akan menghabisi Rania.


"Sekalipun aku mati?"


"Ya, sekalipun kamu mati aku tidak peduli," jawab Alex dingin.


"Baiklah, sebaiknya kamu pergi Lex,"


"Aku juga tidak ingin berlama-lama di sini, aku jij*k melihatmu Rania, hanya akan menambah kebencian ku terhadapmu kalau aku terus di sini,"


"Pak bawa saya ke dalam lagi," pinta Rania kepada petugas polisi.


"Kalau terjadi sesuatu kepada David, aku tidak segan-segan membunuhmu dengan tanganku sendiri Rania, ingat itu!" Alex memberi peringatan kepada Rania sebelum akhirnya dia meninggalkan wanita tersebut yang masih terus menangis.


"Bawa dia pak, dan pastikan dia membusuk di penjara!" perintah Alex kepada petugas polisi yang di lewatinya.


Rania hanya mampu menatap kosong ke arah mantan kekasihnya tersebut dengan derai air mata.

__ADS_1


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


๐Ÿ’ jangan lupa like n votenya dong sayangnya author ๐Ÿ˜โค๏ธ๐Ÿ’ 


__ADS_2