
Ucapan David selalu membayangi pikiran Alex akhir-akhir ini. Ia akui memang kurang cepat bergerak dalam urusan cintanya sama Anes, dia lupa bahwa Anes juga bisa saja meninggalkannya dan berpaling ke laki-laki lain, karena dia sendiri belum memastikan bagaimana perasaan Anes untuknya yang sebenarnya.
"Mas kenapa, kayaknya akhir-akhir ini banyak pikiran, apa ada masalah?" tanya Anes.
"Sini duduk," ucap Alex sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya. Mereka kini sedang berada di ruang keluarga.
Anes duduk di samping Alex.
"Enggak, aku nggak mikirin apa-apa," lanjut Alex.
"Beneran?" tanya Anes seolah tak percaya.
"Hem," jawab Alex sambil merapatkan duduknya dengan Anes dan menjatuhkan dagunya di pundak Anes.
"Sepertinya David benar, aku harus segera mengungkapkan perasaanku, tapi nanti setelah pesta amal di laksanakan, aku akan mempersiapkan sebuah moment yang romantis lagi. Kalau sekarang, David pasti lagi sibuk dengan urusan pesta amal itu, jadi aku nggak bisa minta bantuannya. Nantilah cari waktu yang tepat," batin Alex. Ia tampak seperti sedang menonton televisi, namun sebenarnya otaknya kemana-mana.
๐ผ๐ผ๐ผ
Anes tampak sibuk memilih gaun yang akan ia kenakan di pesta amal untuk menemani Alex malam ini.
"Aku pakai yang mana ya, temanya kan Merah atau Putih, ini ada banyak sekali gaun berwarna merah dan putih yang belum aku pakai sama sekali, hah emangnya mau aku pakai kemana gaun sebanyak ini," gumam Anes yang sedang berada di closet room.
"Kenapa? apa tidak ada yang cocok kamu pakai, atau tidak ada yang kamu suka? biar aku telepon David untuk mencarikan gaun yang lain," tiba-tiba Alex muncul dan mengagetkan Anes.
"Selalu bikin kaget, kayak jelangkung, datang tak diundang, untuk ni jantung buatan Tuhan,"
"Hem nggak usah mas, ini aja udah banyak banget, aku sampai bingung mau pakai yang mana, semuanya bagus kok aku suka," jawab Anes.
"Malah mau beliin lagi, hei tuan, emangnya mau di pakai kemana, ini aja baru yang warna merah sama putih belum warna yang lain yang belum aku pakai, nggak buka butik sekalian? hah?" Anes ingin berteriak seperti itu, tapi hanya mampu dalam hatinya.
"Pakailah yang mana pun kamu suka dan nyaman di tubuh kamu," saran Alex.
"Mmm baiklah, o ya mas mau pakai jas warna merah atau putih malam ini?" tanya Anes.
"Terserah kamu, apapun yang kamu siapkan akan aku pakai," jawab Alex.
"Mmm baiklah, nanti akan aku siapkan," sahut Anes.
"Hem."
__ADS_1
๐ผ๐ผ๐ผ
Alex sudah siap untuk berangkat ke acara pesta amal dengan setelan jas berwarna merah yang dipilihkan oleh Anes. Dia sedang menunggu Anes yang masih bersiap-siap di closet room.
"Aku harus tampil cantik malam ini, jangan sampai nanti dikira mas Alex jalan sama pembantunya," batin Anes sambil memoles wajahnya di depan cermin.
Selesai berdandan, Anes keluar dan menghampiri Alex yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Mas, ayo berangkat, aku udah siap," Anes berdiri didepan Alex dengan senyum.
Alex langsung berdiri melihat Anes yang mengenakan gaun berwarna merah senada dengan jas yang Alex kenakan. Rambutnya di cepol, sehingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Anes tampak cantik dengan balutan gaun tersebut. Gaun merah tersebut ia padankan dengan sebuah clutch yang juga berwarna merah.
"Gimana Mas?" Anes meminta pendapat Alex tentang penampilannya malam ini.
"Cantik sekali," puji Alex. Untuk pertama kalinya Alex berkata jujur. Biasanya, dia hanya akan bilang lumayan bahkan sering juga bilang jelek, padahal dalam hatinya, ia selalu memuji kecantikan sang istri.
Anes sangat senang mendengar pujian yang dilontarkan oleh suaminya. Senyum bahagia tersungging dari bibirnya.
"Mas juga ganteng banget pakai jas itu," Anes balas memuji Alex. Anes sengaja memilih jas berwarna merah, senada dengan warna gaun yang ia kenakan.
"Aku memang ganteng dari sananya," Alex narsis.
"Huh, narsisnya kumat," Anes mencubit pinggang Alex.
"Aduh, emang benar kan, kalau nggak ganteng mana mau kamu menikah sama aku."
"Ya ya terserah apa kata Anda, sekarang mau berangkat atau mau terus memuji diri sendiri di sini, hem?"
"Ya udah, ayo berangkat!" ajak Alex.
๐ผ๐ผ๐ผ
Sesampainya di tempat acara, Alex dan Anes sudah ditunggu oleh David yang sampai duluan.
Para wartawan yang sudah menunggu kedatangan Alex di depan hotel di selenggaraknnya pesta amal, langsung mengelilingi Alex dan Anes dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan pribadi Alex.
__ADS_1
"Tuan muda Parvis, siapa wanita cantik yang datang bersama Anda ini?," tanya seorang wartawan.
"Menurut rumor yang beredar, Anda sudah menikah, apakah itu benar, dan apakah dia istri Anda?" tanya wartawan lain. Dan masih banyak lagi pertanya-pertanyaan yang ditujukan kepadanya.
Alex tak menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, ia tidak suka jika kehidupan pribadinya menjadi konsumsi publik.
"Nona, apakah benar Anda istri dari Tuan muda Parvis? kalau benar, kapan tepatnya kalian menikah?"
"Kenapa pernikahan kalian harus dirahasiakan, apa yang sebenarnya terjadi?"
Karena Alex tak menjawab, para wartawan beralih ke Anes mereka mencerca Anes dengan berbagai pertanyaan. Anes merasa gugup, canggung dan tidak nyaman karena begitu banyak kamera yang menyorotinya.
Anes mengeratkan pegangannya pada lengan Alex, ia berusaha menyembunyikan wajahnya yang disorot kamera. Sungguh ini adalah pengalaman pertama baginya,berdiri didepan begitu banyak kamera.
"Aku bukan selebriti, kenapa kalian pengen tahu kehidupan pribadiku sih," batin Anes.
Mengerti akan ketidak nyamanan istrinya, Alex menggenggam erat tangan Anes dan mengajaknya terus berjalan masuk ke dalam. Alex menatap David, dan dibalas dengan sebuah anggukan oleh David.
"Tolong kalian untuk tidak mengambil gambar apapun tentang nona muda Parvis, dan jangan muat berita tentang tuan dan nona muda Parvis kalau kalian masih ingin bekerja sebagai wartawan. Kalau Sampai ada berita atau gambar sedikitpun tentang nona muda Parvis di media, saya pastikan akan menuntut perusahaan tempat kalian bekerja," David memperingatkan para wartawan, sebelum ia menyusul Alex dan Anes masuk.
"Mas, bagaiman kalau mereka membuat berita tentang kita yang bukan-bukan, aku tidak mau photoku tersebar di media," Anes nampak begitu cemas.
"Tenang saja, David akan membereskannya," sahut Alex.
"Bagaiman?" tanya Alex kepada David yang baru saja menyusul mereka.
"Saya sudah memperingatkan mereka untuk tidak mengambil gambar ataupun menyebar berita tentang nona Anes sedikitpun, atau mereka akan kehilangan pekerjaan," jelas David.
"Dengar sendiri kan? percayalah tidak akan ada berita atau gosip tentang kamu, tunggu saja besok bisa kami cek sendiri," ucap Alex kepada Anes, berharap istrinya bisa rileks malam ini.
"Apa mereka akan mengindahkan peringatan pak David?"
"Nggak usah dipikirkan, mereka nggak akan berani melawan peringatan yang sudah David berikan, percayalah David bisa diandalkan."
"Kalau kamu tidak nyaman berada disini, kita pulang saja," lanjut Alex.
"Nggak mas, aku tidak apa-apa kok."
"Yakin?"
__ADS_1
"Hem" Anes menyunggingkan senyum manisnya.
๐ผ๐ผ๐ผ