MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 171


__ADS_3

Alex, Anes dan Amel berjalan beriringan meninggalkan ruang perawatan David. Sampai di depan ruang dokter kandungan, Alex menghentikan langkahnya.


"Sayang tunggu!" Alex menarik tangan Anes supaya berhenti.


"Kenapa mas?" tanya Anes menoleh ke belakang. Amel ikut menghentikan langkah kakinya.


"Kita periksa kandungan kamu yuk, bukannya kalau udah 17 Minggu udah bisa lihat jenis kelaminnya ya? Mas penasaran anak kita laki-laki atau perempuan," ucap Alex.


"Em, baiklah, tapi Amel?"


"Nggak papa Nes, aku tunggu aja di parkiran," sahut Amel.


"Baiklah kalau begitu, yuk mas kita ambil antrian dulu, sudah jam segini masih banyak yang antri," Anes menarik tangan Alex.


"Nggak perlu mengantri sayang, kamu lupa siapa suami kamu ini?" ucap Alex dengan arogannya.


"Ck, jangan suka memanfaatkan kekuasaan begitu, ayo antri," sahut Anes.


"Baiklah nyonya muda Parvis, tapi kalau memanfaatkan ketampanan mas boleh dong?" ucap Alex sambil tersenyum penuh arti.


"Maksudnya?"


"Lihat saja, suami kamu ini akan beraksi, tunggu di sini ya, duduk yang manis, nanti kalau udah giliran kita mas akan panggil kamu,"


" Ck, Apaan sih, nggak jelas!" decak Anes.


Alex mengambil nomor antrian, kemudian dia menghampiri para ibu-ibu hamil yang juga sedang mengantri.


Anes hanya memperhatikan suaminya sambil duduk.


Alex seperti mengajak bicara seorang wanita muda yang sedang hamil, entah apa yang mereka bicarakan hingga akhirnya Anes melihat Alex mengusap-usap perut wanita itu, terlihat jelas raut senang dari wanita yang sedang hamil tersebut. Lalu mereka bertukar nomor antrian.


Selanjutnya Alex mendekati perempuan lain yang juga hamil, di perkirakan usianya masih 20 tahunan, masih sangat muda. Dengan sedikit trik, akhirnya Alex berhasil kembali menukar nomor antriannya. Wanita itu mencubit pipi Alex dengan gemasnya.


Anes hanya menghentak-hentakkan kakinya karena cemburu.


"Enak sekali pegang-pegang pipi suami orang, suami situ nggak punya pipi apa, mas Alex juga katanya alergi kalau di sentuh wanita lain, dasar buaya buntung," umpat Anes dalam hati.


Alex melakukannya hingga beberapa kali, Bahkan ada yang meminta Alex mencium perutnya, tentu saja Alex tolak, tapi Alex ganti dengan cara lain, yaitu duit. Ya, kalau duit sudah bicara, apapun bisa ia taklukkan.


Alex kembali mendekati Anes yang sedari tadi menatapnya tajam, sambil mendengus kesal melihat tingkah konyol sang suami.


"Ayo sayang, sekarang giliran kita!" ajak Alex.

__ADS_1


Karena tak ingin ribut, Anes hanya menurutinya, dan mereka pun masuk ke ruang Obgyn.


"Oh, tuan muda Parvis, selamat datang, suatu kehormatan bagi saya karena tuan muda mau memeriksakan kehamilan istri di sini," sambut dokter.


"Dokternya anda?" tanya Alex.


"Iya tuan, ada yang salah?" tanya dokter tersebut.


"Iya salah, karena Anda laki-laki, kami tidak jadi periksa kalau dokternya laki-laki, ayo sayang, kita keluar!"


"Mas jangan gitu," Merasa tidak enak dengan dokter yang menatap aneh kepada Alex.


"Tidak masalah kan dok? Atau dokter mau protes?" tanya Alex dingin.


"Tidak tuan, tidak masalah, wajar jika seorang suami ingin istrinya di periksa oleh dokter perempuan," jawab dokter tersebut dengan senyum terpaksa.


"Tuh kan sayang, dia aja nggak keberatan, ayo!" Alex menarik tangan Anes.


"Dokter maaf ya," Anes meminta maaf.


"Tidak masalah nyonya,"


"Oya, lain kali suruh rumah sakit siapkan dua dokter, laki-laki sama perempuan," ucap Alex sebelum keluar.


"Tidak janji," sahut Alex yang langsung keluar sambil menggenggam tangan Anes.


Dokter tersebut bengong dan tidak tahu harus berkata apa-apa lagi.


"Mas Alex apa-apaan sih, katanya mau tahu jenis kelamin anak kita tapi malah kayak gitu!" protes Anes, ia mengerucutkan bibirnya sambil bersedekap tangan dan terus berjalan di samping Alex menuju parkiran.


"Sayang, dokternya laki-laki," jawab Alex dengan entengnya..


"Aku tahu dia laki-laki bukan banci,"sungut Anes.


"Mas nggak mau ya kamu di sentuh laki-laki lain," ujar Alex tanpa dosa.


"Mas nggak mau aku di sentuh laki-laki lain, sekalipun itu seorang dokter kandungan. Helooooowww terus tadi mas apa? Tebar-tebar pesona sama wanita-wanita hamil tadi, mana mereka masih muda dan cantik-cantik lagi. Beruntung nggak di bogem ma suami mereka," kesal Anes.


"Cemburu ni yeee?"


"Tahu ah!"


"Sayang, tadi kan mas cuma usaha buat tukar nomor antrian biar dapat duluan, kan kasihan Amel kalau harus nunggu lama,"

__ADS_1


"Alasan!"


"Serius, swear!" sahut Alex yang kini sudah berdiri di depan Anes dan menghentikan langkah sang istri.


"Minggir aku mau jalan,"


"Istri mas kalau cemburu, kadar kecantikannya naik 1 level ya?" goda Alex.


"Garing! udah sana elus-elus tuh perut mereka, atau selfie-selfie ria sana sama mereka!"


"Jangan gitu dong sayang, kan mereka lagi hamil, mas tahu rasanya ngidam seperti apa. Takutnya kalau nanti anak mereka lahir, ileran lagi, kan kasihan. Siapa tahu di antara mereka ada yang jadi besan kita, dan anak yang mereka kandung itu siapa tahu calon menantu kita kan?" ucap Alex.


Anes hanya mampu menelan ludahnya kasar mendengar ucapan Alex.


"Ya ya ya, terserah mas ajalah! Ayo Amel pasti udah menunggu," ucap Anes sambil memutar bola matanya. Ada-ada saja isi dalam kepalanya suaminya tersebut. Bahkan sudah berpikir sejauh itu? calon besan? calon menantu? haddeh kadang Anes ingin merutuki ya kalau tidak ingat dia itu suaminya tercintanya.


🌼🌼🌼


"Katanya mau periksa dulu? Kok cuma sebentar?" tanya Amel.


"Dokternya salah," balas Anes.


"Salah bagaimana? bukan Obgyn begitu?" tanya Amel.


"Dokternya laki-laki," Alex yang menjawab.


Amel mengerutkan keningnya, bukankah dokter kandungan laki-laki itu udah biasa ya. Lalu di mana salahnya? Amel merasa bingung sendiri.


"Nggak jadi tahu dong jenis kelamin anak kalian cowok apa cewek," ucap Amel kecewa.


"Nggak apa-apa, biarlah itu jadi kejutan saja ya mas, toh mau cewek atau cowok tidak masalah, yang penting sehat dan tanpa kekurangan suatu apapun," ucap Anes.


"Iya sayang," sahut Alex.


Dan Amel pun hanya bisa mengamini ucapan Anes.


"Udah ah, ayo cepetan masuk, kita pulang. Aku juga udah capek," ujar Anes.


"Nanti mas pijitin sampai rumah," ucap Alex.


"janji ya?"


"Iya sayang, kapan sih mas bohong?" sahut Alex lalu membukakan pintu mobil untuk Anes. Kemudian ia memutari mobil lalu masuk dan melajukan mobilnya untuk mengantar Amel ke rumahnya.

__ADS_1


🌼🌼🌼


__ADS_2