
Selesai sudah Anes memasak berbagai menu makanan kesukaan Alex. Ia menatanya di atas meja dengan rapi. Ia melihat ke arah jam.
"sudah jam 8 ternyata, tapi mas Alex belum pulang juga," gumam Anes.
Anes menunggu Alex di ruang tamu sambil membaca majalah fashion yang baru saja ia beli tadi siang. Tanpa terasa Anes ketiduran di sofa tersebut.
Anes terbangun ketika waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 Wib.
"sudah jam sepuluh, mas Alex belum pulang juga," gumam Anes.
Dengan langkah kecewa, ia menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya.
"Nyonya tidak makan malam dulu?" tanya bi Ina.
Anes menoleh ke arah bi Ina yang berdiri di bawah tangga.
"Tidak bi, saya tidak lapar, nanti kalau mas Alex pulang tolong di panasin lagi ya Bi, saya mau ke kamar dulu," jawab Anes langsung melanjutkan jalannya.
"Baik nyonya muda," sahut Bi Ina.
๐ผ๐ผ๐ผ
Di kantor, Alex sangat sibuk sejak pagi hingga ia tak menyadari ada banyak motif panggilan dan pesan dari Anes di ponselnya yang sengaja ia silent mode.
"Bos, sudah malam, sebaiknya Anda pulang, nona Anes pasti sudah menunggu Anda di rumah," ucap David.
Alex berhenti sebentar dari kegiatannya, ia melihat jam yang melekat di tangan kirinya.
"Sebentar lagi Dav, ini masih jam sepuluh," sahut Alex kemudian.
"Bos, sepertinya akhir-akhir ini nona Anes sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja," David memberanikan diri untuk memulai pembicaraan soal rumah tangga Alex.
"Benarkah? Kenapa aku tidak menyadari hal itu? sepertinya Anes baik-baik saja," sahut Alex tanpa merasa bersalah.
"Apakah bos yakin nona Anes baik-baik saja? Apakah Anda melihatnya makan dengan baik, tidur dengan baik atau melihat senyumnya seperti dulu?" David menyekak Alex dengan pertanyaan yang tak bisa ia jawab.
Alex terhenyak sesaat mendengar pertanyaan David.
"Ya, dia selalu masak dan dia bilang akan makan, dan dia selalu tersenyum kepadaku seperti biasa," sahut Alex mengingat-ingat.
"Bos yakin nona Anes akan makan setelah dia bilang akan makan? dan bos yakin itu senyum bahagia bukan senyum kecewa? Apakah bos sadar sudah mengabaikan nona Anes akhir-akhir ini? Semenjak kepergian tuan besar, sudah berapa kali Anda mengajak bicara nona Anes? tanya David lagi.
__ADS_1
Alex tertegun mendengar pertanyaan menohok dari David.
"Tadi pagi, Bi Ina menelpon saya, katanya akhir-akhir ini nona Anes tidak berselera makan, di bahkan sering menyendiri dan melamun di taman belakang, makanya tadi saya menyuruh Amel untuk mengajaknya jalan-jalan," lanjut David.
"Ah kenapa kau tidak bilang dari tadi, bertele-tele!" Alex mengambil jas yang ia letakkan di sandaran kursinya dan langsung meninggalkan David tanpa bicara lagi.
"Satu masalah mungkin sakan segera selesai, tapi masih ada yang saya takutkan bos, Anda terlalu fokus dan menikmati kebahagiaan bersama nona Anes, sehingga Anda lupa masih ada masalah yang menjadi momok dalam rumah tangga kalian, apalagi sekarang tuan besar sudah tidak ada," desah David dalam hatinya.
๐ผ๐ผ๐ผ
Sepanjang jalan, Alex terus membunyikan klakson mobilnya. Ia ingin segera sampai kerumah dan memastikan semua pertanyaan David yang memojokkannya itu salah.
Mobil yang Alex kendarai pun sampai di depan rumahnya, Alex keluar dan langsung melempar kunci mobilnya ke pak Anton yang sudah siap menunggu Alex keluar dari mobilnya. Dengan segera, pak Anton masuk ke mobil untuk memarkirkannya.
"Tuan muda sudah pulang?" sapa Bi Ina.
"Di mana istriku?" tanya Alex.
"Nyonya muda ada di kamarnya tuan," jawab bi Ina.
Tak menyahut, Alex langsung melangkahkan kakinya.
"Maaf tuan," ucap bi Ina.
"Ada apa?" tanya Alex datar.
"Nyonya muda tadi sudah masak banyak makanan kesukaan tuan muda. Dan meminta saya untuk memanaskannya kembali kalau tuan sudah pulang, apa Anda mau saya panaskan sekarang tuan?" ucap bi Ina dengan hati-hati.
"Tidak usah, tadi saya sudah makan di kantor," sahut Alex sambil melangkah lagi.
"Tapi tuan,"
"Apa lagi?" sarkas Alex.
"Nyonya muda belum makan tuan, akhir-akhir ini nyonya muda jarang sekali makan tuan, kalaupun makan cuma sedikit, beliau juga sering melamun dan menangis tuan," ucap bi Ina takut-takut kalau Alex akan marah.
"Kenapa tidak ada yang memberitahuku hal ini?" Alex meninggikan suaranya.
"Maaf tuan,"
"Hah tidak berguna!" hardik Alex, ia langsung menuju ke lift untuk cepat sampai ke kamarnya.
__ADS_1
Alex masuk ke dalam kamarnya, di lihatnya Anes sudah tidur meringkuk di ranjang. ia mendekati Anes. Anes yang sebenarnya belum tidur, pura-pura memejamkan matanya.
Alex menyelipkan anak rambut Anes ke telinganya lalu mencium keningnya.
"Maafkan mas sayang," gumam Alex lirih.
Kemudian, Alex menarik selimut untuk menutupi tubuh Anes yang meringkuk tersebut.
Alex menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Anes membuka matanya ketika Alex sudah menghilang tertelan pintu kamar mandi.
"Kamu harus di kasih pelajaran mas, biar sadar," batin Anes.
Selesai mandi, Alex menyusul Anes untuk tidur.
Baru juga Alex mau memejamkan matanya, Anes beranjak dari tidurnya membuat Alex membuka matanya kembali karena kaget.
"Sayang, mau kemana?" tanya Alex.
"Aku mau tidur di kamar tamu! aku tidak bisa tidur bersama orang yang menganggap aku sebagai patung. Aku bukan patung yang bisa mas abaikan dan acuhkan begitu saja atau hanya di jadikan sebagai pajangan, yang kalau mas senang akan di lihat, tapi kalau mas tidak senang akan di acuhkan. Aku manusia yang punya perasaan dan juga rasa sakit,"
"Sayang," lirih Alex
"Apa? mas ingat memanggilku sekarang? mas sudah sadar aku bukan benda mati yang tidak akan bereaksi jika di abaikan, dan mas diamkan? Aku tahu mas sedih atas meninggalnya papa. Aku pun sama, aku juga sedih mas, tapi bukan dengan cara seperti ini, apa aku sebegitu nggak berartinya buat mas?"
"Tidak sayang, jangan bicara seperti itu, mas hanya,,"
"Hanya apa mas? hanya melampiaskan kesedihan mas dengan cara menghukumku seperti ini? Konyol! mas begitu menikmati kesedihan mas, hingga mas lupa kalau di sini masih ada yang hidup, dan perlu di perhatikan, apa aku harus mati dulu biar mas sadar akan keberadaanku? silahkan mas nikmati sendiri kesedihan mas jika memang tak ingin berbagi beban dengan istrimu ini," ucap Anes dengan derai air mata. Anes melangkahkan kakinya menjauhi Alex.
Dengan segera Alex mencegah Anes dengan meraih tangannya.
"Aw!" pekik Anes.
"Tangan kamu kenapa sayang?"
"Tidak apa-apa, hanya teriris pisau karena memikirkan orang yang sepertinya tidak memikirkan aku," sindir Anes.
"Sayang,"
"Stop mas, apa tidak ada kata kata-kata lain yang ingin mas ucapkan? Lepaskan!" Anes menepis kasar tangan Alex lalu membuka pintu dan pergi menuju ke kamar tamu.
__ADS_1
"Maafkan aku mas," batin Anes ketika sampai di kamar tamu dan mengunci pintunya dari dalam.
๐ผ๐ผ๐ผ