
Setelah makan siang, Alex dan Anes langsung pamit kepada kedua orangtuanya.
Anes mengajak Alex berhenti di sebuah pasar yang letaknya lumayan dekat dari rumah orang tuanya.
"Mau ngapain kesini?" tanya Alex, ketika Anes mengajaknya masuk kedalam pasar.
"Ya mau belanja dong mas," jawab Anes.
"Belanja?disini?dipasar?"
"Iya, ayo jangan banyak tanya" Anes menarik tangan suaminya.
"Kenapa nggak di supermarket aja sih?" Alex menghentikan langkahnya.
"Di sini lebih murah, lagian sekalian kan dekat sama rumah mama, dulu Anes sering kesini sama mama."
"Ayolah belanja di Supermarket aja, lebih bersih," Alex berusaha menolak.
"Nggak, jangan salah disini juga bersih kok, nggak usah merengek kayak anak kecil, ikut aja ok?" mulut Anes mulai mengerucut seperti bebek.
"H**ah dari pada dia ngambek, repot nanti."
"Naik nona muda Parvis, suami Anda siap mengantar Anda belanja dipasar, puas Hem?"
"Yups, ayo!" Anes melanjutkan langkah kakinya. Sementara Alex masih diam ditempat tidak yakin untuk melangkah.
"Ayo tuan muda Parvis!" Anes menghampiri suaminya dan menggandeng tangan suaminya lagi dengan tersenyum.
"Huh demi kamu, my sweet duck," desah Alex dalam hati.
๐ผ๐ผ๐ผ
"Eh neng Anes, tumben ke pasar Neng, lama tidak kesini, biasanya bu Ratna belanja sendiri kesini," sapa ibu-ibu penjual sayur.
"Iya Bu, saya sibuk akhir-akhir ini, cabainya sekilo ya Bu, sekalian sama bawang merah dan putihnya, terus wortel sama brokoli juga sama sayurannya apa aja deh Bu sekalian seperti biasa."
"Bawang merah putihnya berapa Neng?" tanya penjual sambil menimbang.
"Satu kilo satu kilo aja Bu, nanti gampang beli lagi kalau habis," sahut Anes.
"Eh ini siapa Neng, ibu nggak pernah lihat?" tanya penjual sayur langganan Anes dan mamanya tersebut sambil melihat kearah Alex.
"Oh ini bos saya Bu, kebetulan tadi ada pekerjaan disekitar sini jadi sekalian saya meminta beliau mengantar saya belanja" jawab Anes sengaja ingin melihat ekspresi Alex.
"Apa bos? aku suami kamu?" batin Alex sambil menatap tajam kearah Anes.
"Apa, benarkan kamu itu bos aku?" batin Anes menatap balik Alex tak lupa bibirnya manyun.
"Coba aja nggak di pasar kayak gini, udah aku cium kamu, " batin Alex.
"Wah, bosnya baik sekali, mau mengantar karyawan belanja ke pasar, atau jangan-jangan bosnya suka lagi sama neng Anes, kalian cocok sekali, satu cantik satu ganteng"
"Saya sudah punya istri Bu dan tak ingin berpaling," jawab Alex sambil melirik ke Anes. Dan Anes hanya tersenyum mendengar jawaban mengintimidasi suaminya.
"Oh maaf ya Tuan, saya tidak tahu, anggap saja tadi saya bercanda, mulut saya emang suka keceplosan, saya asal bicara, emang begini dasar mulut nggak ada saringannya," penjual sayur merasa takut kalau Alex marah.
Alex hanya membalas si penjual sayur dengan sebuah senyuman.
"Jadi total semuanya jadi berapa Bu?" tanya Anes.
"Semua jadi 365ribu Neng."
__ADS_1
"Yah, diskon dong Bu 350 aja ya kan udah langganan," tawar Anes.
"Baiklah Neng, anggap sebagai permintaan maaf atas ucapan ibu tadi ya, semoga neng Anes dapat jodoh yang baik seperti bosnya ini. Eh tu kan ibu ngawur lagi. maaf ya Neng."
"Ah nggakpapa Bu," sahut Anes ramah.
Anes melihat Alex seolah matanya mengatakan ayo bayar.
Alex langsung mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan uang 400ribu.
"Wah baik sekali bosnya Neng, mau bayarin belanjaannya."
"Oh itu, kebetulan saya belum digaji bulan ini Bu," jawab Anes asal. Alex yang mendengarnya hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.Alex menatap gemas istrinya itu.
"Bisa-bisanya dia bilang belum digaji, bahkan ATM dan kartu kredit unlimited udah aku kasih ke dia, kalau urusan gaji dikantor bukan urusanku."
"Hehe maaf-maaf," batin Anes sambil menunjukkan wajah memelas.
"Benar-benar pengen aku cium rasanya!" batin Alex.
"Sebentar Tuan, saya ambil kembaliannya dulu."
"Tidak usah Bu, buat ibu saja," sahut Alex yang langsung menenteng tas kresek yang berisi belanjaan dan melangkahkan kakinya.
"Terima kasih Tuan, neng sering-sering ajak bosnya kesini hihi." ucap penjual sayur kepada Anes girang.
"Eh iya Bu, saya permisi dulu," ucap Anes.
๐ผ๐ผ๐ผ
Kini mereka sudah berada di tukang daging.
"Kangen?apa-apaan dia, nggak lihat Anes sama suaminya?" batin Alex kesal.
"Ah Abang bisa aja, daging sapinya sekilo ya bang" sahut Anes. Dia sudah menyadari aura negatif dari sang suami dan ingin cepat-cepat pergi dari sana.
"Eh dia siapa Nes, serem amat mukanya," bisik abang penjual daging bernama Agus tersebut. Ya, saat ini Alex memasang wajah horor karena rasa cemburunya.
"Dia bosku Bang, udah biarin aja," bisik Anes.
"Mereka bisik-bisik apa sih, sok akrab, semua orang terlihat akrab sama Anes, laki-laki ini walaupun cuma penjual daging, tapi tampangnya lumayan, dan sepertinya dia menyukai Anes, mau saingan hah, jangan harap!" umpat Alex dalam hati.
"Berapa Bang?" tanya Anes.
"125ribu Neng, ini sekalian saya kasih bonus buat neng Anes yang cantik," jawab Agus.
"Nggak bisa kurang apa Bang, diskon dikit lah Bang," tawar Anes.
"Oke deh buat neng Anes jadi 115ribu aja nggakpapa," sahut Agus si penjual daging.
Alex langsung mengeluarkan dua lembar uang ratusan ribu.
"Sebentar kembaliannya,"
"Nggak usah, ambil aja, itung-itung bayar bonusnya," ucap Alex dingin dan jutek.
"Sepertinya dia benar-benar kesal ," batin Anes.
Dan setiap kali Anes belanja dan berhasil menawar belanjaannya, Alex selalu membayar dengan uang lebih. Anes merasa kesal dengan ulah suaminya tersebut.
Setelah selesai berbelanja di pasar, Anes dan Alex kembali ke mobil dengan wajah Anes yang cemberut.
__ADS_1
"Dia kenapa sih, harusnya aku yang kesal karena nggak diakui sebagai suami."
"Mas nyebelin!" sungut Alex dengan bibir kerucutnya.
"Kok aku yang nyebelin?" batin Alex.
"Nyebelin kenapa hem?" tanya Alex berusaha setenang mungkin. Tangannya membelai rambut Anes.
"Aku tuh tadi udah capek-capek nawar tapi mas selalu ngasih uanganya lebih, percuma kan aku nawar! tau gitu nggak usah ditawar," ucap Anes kesal.
"Nggakpapa kan itung-itung itu tip buat mereka, lagian harganya jauh lebih murah daripada di Supermarket, masih ditawar pula, aku jadi kasihan sama mereka," jawab Alex.
"Kasihan? mereka menjual harga segitu udah dapat untung kali Mas, kalau nggak untung nggak mungkin mereka boleh ditawar segitu, dan itu gunanya belanja di pasar harga lebih murah dan terjangkau dan yang penting masih bisa ditawar. " Anes menyilangkan tangannya di dada.
"Lebih terjangkau, kamu lupa siapa suami kamu? mau belanja apapun dan dimana pun dengan harga berapapun aku sanggup membayarnya," balas Alex.
"Ya ya ya Sultan mah bebas!"
"Udah dong, jangan manyun gitu, ntar aku cium lho kalau manyun terus kayak bebek gitu."
"Coba aja kalau berani!" tantang Anes.
Terang saja Alex langsung mencium bibir Anes tanpa permisi.
"Cup, ini karena kamu tidak mengakui aku sebagai suami," ucap Alex setelah mencium bibir Anes.
"Cup, ini karena tadi kamu akrab sama tukang daging itu," lanjutnya lagi.
"Cup, ini karena aku udah bawain belanjaan kamu."
"Cup, karena bibir kamu yang seperti bebek itu mengundangku untuk menciumku."
Alex beberapa kali mencium bibir Anes membuat Anes merona dan melupakan kekesalannya.
"Cup, ini karena mas mau nemenin aku ke pasar," gantian Anes yang mencium suaminya.
"Cup, ini karena mas nggak marah waktu aku nggak bilang kalau mas suami aku"
"Cup, ini hukuman karena mas membuat aku sia-sia menawar."
Dalam kecupan terakhir Anes, Alex menahan tengkuk Anes dan mereka berciuman cukup lama sampai ciuman mereka terlepas karena mereka merasa masih butuh oksigen untuk bernafas.
"Ada yang ingin aku tanyakan dari tadi,"ucap Alex ketika mereka sudah bisa mengatur nafas.
"Apa?"
"Kenapa kamu nggak bilang kalau aku suami kamu tadi?" tanya Alex mengintimidasi.
"Hehe nggakpapa sih, iseng aja," jawab Anes nyengir.
"Sebenarnya aku nggak mau koar-koar tentang pernikahan kita sebelum aku yakin kamu mencintaiku dan tidak akan meninggalkanku mas, aku ingin memastikan terlebih dahulu perasaanmu padaku yang sebenarnya, " batin Anes.
Alex hanya mendesah mendengar ucapan istrinya, nggak habis pikir dengan tingkah istrinya.
"Uakin?bukan karena tukang daging ganjen tadi?" aura-aura cemburu muncul lagi.
"Ya nggak lah mas, suami aku tuh jauuuuuuh diatasnya, lebih ganteng, baik (mudah-mudahan), dan lebih kaya tentunya, kurang apa coba?nikmat mana lagi yang mau dikatakan hah?" jawab Anes sambil terkekeh, geli dengan ucapannya sendiri, berharap jawabannya bisa membuat suaminya senang dan tidak meneruskan kecemburuannya.
"Ck.dasar!" ucap Alex tersenyum dan mengacak-acak rambut Anes.
๐ Janga**n lupa like komen n tipnya ya, karena tip dari kalian sangat membantu author supaya lebih semangat lagi dalam berkarya..terima kasih,๐๐๐ **
__ADS_1