MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 186


__ADS_3

Waktu pulang kantor pun tiba, David menawarkan untuk mengantar Amel pulang, tapi perempuan tersebut menolaknya.


"Kamu antar saja Dila, tidak usah pedulikan aku Dave. Dil aku duluan ya?" Amel mengalihkan pandangannya ke arah Dila.


"Yakin nggak mau di antar abang aja kak?" tanya Dila.


"Enggak, aku masih ada urusan," jawab Amel berbohong.


"Urusan apa?" selidik David.


"Bukan urusan kamu, aku pergi dulu," Amel segera berjalan dan menghentikan sebuah taksi yang lewat.


"Abang lagi ada masalah ya sama kak Amel, tidak biasanya kak Amel begini?" tanya Dila menoleh ke arah David.


"Kamu tidak perlu ikut campur urusanku, ayo aku antar pulang," jawab David.


"Pak Alex belum pulang bang? Aku bisa bareng beliau aja kan kita serumah," sahut Dila.


"Jangan mengganggu bos Dil, berangkat dan pulanglah sendiri. Jangan menyusahkan bos, kamu harus tahu batasan, lagian bos sudah pulang tadi,"


"Sekarang aku antar kamu pulang, kebetulan aku ada urusan di dekat rumah bos," lanjutnya.


"Baik bang," Dila tidak berani melawan ucapan David.


David pun mengantarkan Dila pulang.


"Tidak masuk dulu bang?" tanya Dila.


"Lain kali saja, aku masih ada urusan, salam buat nona Anes," ucap David dan di balas anggukan dan juga senyuman dari bibir Dila.


Dila melihat mobil yang di kemudikan Alex sudah berjajar rapi dengan mobil lainnya. Ia berjalan masuk. Ternyata Alex juga baru saja sampai dan menghampiri Anes yang sedang duduk sambil memakan buah strawberry kesukaannya.


Saat hendak memasukkan strawberry kemulutnya, tiba-tiba Alex menyerobot strawberry tersebut menggunakan mulutnya.


"Mas Alex, kebiasaan deh!" Anes menabok lengan sang suami.


"Kamu juga kebiasaan sayang, mas pulang suka nggak ngeh, asyik sendiri," balas Alex.


"Hehe maaf," Anes nyengir, menampakkan gigi putihnya.


"Masam sayang strawberrinya , mas butuh yang manis-manis," ucap Alex langsung mendaratkan bibirnya ke bibir Anes dan mel*m*tnya.


Dila yang baru saja masuk pun melihatnya.


"Romantis sekali sih, bikin iri, beda sama pacarku yang suka kasar dan bentak-bentak," batin Dila.


Dila langsung menuju ke kamarnya, Anes tidak menyadari kalau Dila melewati dia dan Alex yang sedang berciuman, sambil sesekali Dila melirik ke arah mereka. Sedangkan Alex menyadarinya namun ia cuek, ia memang tidak banyak berinteraksi dengan Dila di rumah, hanya seperlunya saja itupun jika Dila yang mengajaknya bicara duluan. Hanya akan di balas satu atau dua kata.


Hal itu yang membuat Dila semakin kagum dengan Alex, laki-laki itu dingin dan cuek terhadap perempuan lain, tapi sangat hangat dan perhatian dengan istrinya.

__ADS_1


Karena sudah merasa kehabisan oksigen, Alex mengakhiri ciumannya.


"Nih, tadi mas beli susu hamil buat kamu sayang, tadi mas mampir supermarket," Alex memperlihatkan paper bag berisi banyak susu untuk ibu hamil.


"Susuku kan masih banyak mas," sahut Anes.


"Nggak papa sayang, buat stok," Alex melompati sofa yang di duduki Anes dan mendaratkan pantatnya di samping Anes.


"Terus pesanan aku mana?" Anes menengadahkan satu tangannya.


"Pesanan apa?"


"Tahu gejrot mas, tadi kan aku telepon dan bilang mas pulangnya beliin aku tahu gejrot, gimana sih," Anes mulai kesal.


"Astaga! mas lupa! maaf sayang," Alex menangkupkan kedua tangannya sebagai tanda minta maaf.


"Di suruh beliin kayak gitu aja lupa, mas itu masih muda kok udah pikun, ngeselin deh!" Anes memanyunkan bibirnya.


"Maaf, maaf, habis ini mas mandi dan ganti baju, setelah itu mas beliin oke?" Alex yang niatnya pengen nyenengin Anes dengan membelikannya susu hamil, eh malah kena omelan karena salah taktik.


"Ya udah sana mandi!" pinta Anes.


Alex pun langsung mandi dan setelah itu ia langsung OTW mencari tukang tahu gejrot yang diinginkan Anes.


"Kamu suka selkali makan sayang, padahal waktu aku sampai rumah tadi kamu lagi ngemil," gumam Alex sembari mengemudikan mobilnya. Ya, saat ia sampai rumah tadi, alex melihat ada puding, buah dan beberapa camilan yang sudah ludes tinggal bungkusnya saja.


"Aku jadi curiga, jangan-jangan anak kita nggak cuma satu, kamu makannya banyak banget," monolog Alex sambil membelokkan mobilnya karena sudah menemukan penjual tahu gejrot yang di maksud Anes.


🌼🌼🌼


"Ini beneran mas Alex yang bikin bumbunya kan?" tanya Anes sedikit curiga, mana mau suaminya tersebut melakukannya.


"Tentu saja sayang, sesuai permintaan nyonya Parvis," jawab Alex tersenyum.


Anes masih tak percaya, ia melihat ke arah tahu gejrot yang ada di dalam plastik dan beralih ke arah Alex.


"Huh, mas tahu kamu nggak akan percaya, untung mas udah mempersiapkan bukti kalau mas yang membuatnya sendiri," Alex mengeluarkan ponsel dari sakunya dan memperlihatkan video dirinya saat sedang mengulek bumbu mengikuti arahan penjual tahu gejrot tersebut.


"Percaya sekarang?" tanya Alex.


"Hehe percaya mas, makasih ya?"


"Cuma makasih doang nih?" Alex menunjuk bibirnya sendiri dan langsung di kecup oleh Anes dan berlatih ke pipi, kening dan hidung seperti biasanya.


"Sengaja mas nggak bikin pedas-pedas amat, kan kamu lagi hamil, nggak baik kalau terlalu pedas," ucap Alex.


"Hem, Bi tolong ambilkan piring ya Bi,"


"Baik nyonya!" sahut bibi.

__ADS_1


Anes pun menikmati tahu gejrot buatan sang suami sambil menonton televisi dan menyandarkan badannya ke badan Alex yang duduk di sofa.


Dila menghampiri Anes dan Alex.


"Kak, aku keluar sebentar ya, ada yang mau aku beli," ucap Dila.


"Oh iya Dil, minta pak Anton buat antar aja Dil,"


"Nggak kak, aku naik taksi saja, aku pergi dulu,"


"Baiklah kalau begitu, hati-hati, pulangnya jangan malam-malam," pesan Anes.


"Iya kak, pak Alex saya pergi dulu," Dila melihat ke arah Alex yang sibuk membelai rambut Anes.


"Pergilah!" balas Alex cuek tanpa melihat Dila.


"Mas jutek amat sih? Nggak boleh gitu, dia itu adik angkatnya bang David, ramah sedikit kenapa mas?" ucap Anes sambil menyuapkan tahu gejrot ke mulut Alex. Tanpa Alex sadari ia mau memakannya, padahal sejak tadi Anes menawarinya, selalu di tolak.


"Mas kan memang seperti ini sayang," jawab Alex sambil mengunyah tahu gejrot tanpa sadar.


"Ya tapi, kurangi dikitlah mas, kadar keangkuhan dan kedinginanmu itu, bikin orang takut tahu nggak kalau belum kenal kamu,"


"Udah dari sananya mas begini, mau gimana lagi?" sahut Alex santai.


"Kamu nggak lihat sayang, dia melihat mas dengan tatapan berbeda, mas nggak ingin memberi celah untuknya," batin Alex.


"Gimana? enak kan tahu gejrotnya?"


"Eh? Ehek Hem, huek-huek!" Alex berusaha mengeluarkan tahu gejrot yang udah ia telan.


"Udah nggak usah lebay, udah masuk ke perut juga tuh tahu gejrot, pakai sok menolak, Akui aja kalau enak mas," ucap Anes lalu mengambil remote televisi untuk mengganti salurannya.


"Biasanya jam segini ada drakor," gumam Anes.


"Tapi tetap saja lebih enak makan kamu sayang," bisa Alex.


"Dasar fiktor! Apa-apa di sangkut pautkan dengan begituan," dengus Anes.


"Fiktor siapa? mas kan Alex, sejak kapan nama mas ganti jadi fiktor? kapan kamu mengadakan selamatan untuk mengganti nama mas? Sembarangan aja!" Alex menoel hidung Anes karena gemas.


"Iya fiktor! fikiran kotor!" seru Anes.


Alex hanya geleng-geleng kepala dan memeluk erat Anes karena gemas, gemas dan gemas.


🌼🌼🌼


calon macan (mommy cantik)


__ADS_1


calon hot Daddy



__ADS_2