MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
Chapter 213


__ADS_3

Dokter Irene sudah menyuruh Anes untuk berbaring di atas brankar untuk kemudian akan ia periksa kehamilannya. Namun, Alex dan David masih tetap saja berdebat.


"Tunggu dok! Jangan buka perut istri saya dulu, biarkan laki-laki yang satu ini keluar terlebih dahulu," ucap Alex menghentikan dokter Irene yang sudah siap mengoleskan gel khusus ke erut Anes.


"Lanjutkan saja dok!" ucap David yang tak mau keluar.


Alex lebih mendekat ke arah David dan berisik, "Keluar atau aku akan bilang sama Anes kalau kamu mau resign?"


David tak mau kalah, ia juga membalas ucapan Alex, " Bilang saja bos, toh kenyataannya saya tidak jadi resign, saya yakin nona akan mendengarkan penjelasan saya," ujar David bernisik.


Alex mencebikkan bibirnya sambil melirik sinus ke arah David.


" Mel, bawa dia keluar, dasar laki-laki mesum, mau banget gitu liatin perut istri bosnya,"


Amel dan Anes kehabisan kata-kata untuk menanggapi ucapan Alex yang overdosis tersebut.


David tetap tak bergeming dan masa bodoh dengan ocehan-ocehan Alex. Ia ingin sekali melihat wajah lucu dari sang ponakan yang sudah loading sekitar 80 persen tersebut, yang tidak lama lagi akan lounching.


Ya, walaupun hanya melalui layar usg dan tidak jelas, namun tetap saja rasa penasarannya tinggi, seperti apa rupanya apakah sengeselin dan searogan bosnya atau secantik dan semanis adik angkatnya, Anes.


"Saya juga mau nemenin Anes pak, penasaran sama foto copy kalian," jawab Amel yang sudah berdiri di samping ranjang tempat pemeriksaan.


"Ck, dasar pasangan nggak ada akhlak! Orang suaminya sudah menolak dan menyuruh keluar tapi kalian tetap muka tembok!" cebik Alex.


Anes sungguh gemas dengan tingkah suaminya, kenapa sih setiap kali periksa kehamilan ada aja tingkahnya yang menggemaskan sekaligus menjengkelkan.


Daripada pemeriksaan ya lama akhirnya Anes yang sedari tadi hanya geleng-geleng kepala melihat dua laki-laki yang ia sayangi dalam versi berbeda tersebut membuka suaranya, karena ia juga sudah malu kepada dokter Irene. Ruangan tersebut menjadi gaduh karena mereka.


"Tolong keluar, biar pemeriksaannya cepat," ucap Anes.


"Dengar tuh Dave, istriku aja nggak mau kamu ada di sini, cepat sana keluar, tunggu di luar!" ucap Alex percaya diri.


"Mas Alex juga!" seru Anes.


"Eh..?" Alex masih tak mengerti maksud Anes.


"Iya mas Alex juga keluar, kalian berdua keluar dan tunggu di luar, biar Amel aja yang nemenin aku di sini," jelas Anes.

__ADS_1


David tersenyum mengjekek ke arah Alex.


"Bos juga di suruh keluar," gumamnya.


"Sayang? Mas ini suami kamu loh? Yakin nggak mau mas temenin?"


"Enggak, cepat kalian keluar, dari pada di dalam pada ribut mulu, malu sama dokter,"


"Ta tapi.." ucap Alex dan David serempak.


Anes melotot melihat keduanya, membuat dua laki-laki tersebut menciut nyalinya.


"Bang, bawa mas Alex keluar!" pinta Anes kepada David.


"Baik nona," jawab David tanpa perlawanan.


"Ayo bos!" ajak David.


"Nggk mau!" tolak Alex.


"Enggak keluar nggak boleh jenguk dedek sampai lahir," ancam Anes.


"Nah loh! Daripada si tongkat sun go kong punya bos belingsatan nantinya mending kita keluar deh bos, kalau lawan macan mah emang nggak akan berhasil,"


"Benar kamu Dave, lebih baik kita mengalah, daripada anacondaku cuma bisa bangun tapi nggak bisa tidur nantinya, ayo!" ucap Alex lalu berkalan keluar mendahului David sambil bermacam pinggang.


Anes, amel dan dokter Irene, terkekeh melihat dua laki-laki terhormat tersebut keluar ruangan karena di usir dan tak mampu memberikan perlawanan seperti kepada orang lain.


Akhirnya emeriksaan pun di lanjutkan oleh dokter Irene. Saat melihat si kecil yang bergerak-gerak dari monitor, amel sangat merasa ecxited sekali, ini kali pertama ia melihat dan mendengar detang jantung dari keponakan ya tersebut. Ia hanya mampu melongo takjub.


"Jadi pengen punya sendiri," gumam Amel tanpa sengaja.


"Makanya cepat deh nikah sama abang, nunggu apa lagi hem?" ucap Anes.


"Nunggu David ngelamar akulah Nes," sahut Amel.


"Emang kamu udah siap sekarang buat nikah?"

__ADS_1


"Siap nggak siap sih nes, traumaku masih sedikit tersisa tapi aku juga pengen membina rumah tangga sama David dan memiliki anak seperti kalian, apalagi saat David koma dan aku hampir kehilangan dia. Saay itu aku bilang kalau seandainya David sadar dan melamar aku, akan langsung aku terima, tapi sampai sekarang dia belum lamar aku juga,"


" Apa perlu ku bantu? Buat bilang sama abang?"


" Eh jangan dong Nes, malulah beb," amel menolak penawaran Anes.


" Eh btw itu anak kamu cewek atau cowok sih?" tanya Amel penasaran.


" Rahasia," Jawab Anes.


" Aku sama mas Alex nggak pernah nanya jenis kelaminnya, biar jadi kejutan aja nanti, mau cowok atau cewek sama aja, lagian setiap periksa dedek ya selalu membelakangi kita, jadi kadang nggak kelihatan itu burung atau sarangnya" lanjutnya.


"Tapi sekarang dia sedang tidak membelakangi kita nyonya, apa mau tahu jenis kelaminnya?" tanya dokter.


"Aneh, biasanya kalau sama mas Alex dia cuma liatin biokongnya, em enggaklah dok, sesuai permintaan suami saya," kata Anes.


"Wakakaka kalau ini mah fix! melebihi bapaknya kayaknya sikap acuh dan dinginnya. Dan Songongnya. Lihat saja, liat muka bapaknya aja dia nggak mau cuma memb*k*nginya , mereka pasti mirip Wkwkwk. Kalau cewek jangan jutek-jutek sayang, nanti cowok-cowok pada keder lagi mau mendekat," Amel mengusap perut Anes.


" Sial kamu mel!" timpal Anes.


🌼🌼🌼


Sementara itu di luar, Alex dan David tampak sudah akur, mereka tidak ernah benar-benar memakai hati saat berdebat, hanya sebatas di bibir saja.


Alex tiba-tiba ingat ucapan Anes yang minta Alex buat menikahkan Amel dan David secepatnya.


"Dave, apa kamu tidak memiliki rencana ingin mengajak Amel menikah dalam waktu dekat ini?" tanya Alex, di tidak peduli mereka sekarang sedang ada di mana, mumpung dia ingat, pikir Alex.


"Maksud bos?"


"Apa tidak sebaiknya kamu sama Amel menikah secepatnya? Udah saatnya kamu berkeluarga Dave, saatnya kamu menyempurnakan hidup kamu, saatnya kamu memikirkan kebahagiaan kamu sendiri Dave, lihatlah Juna saja sudah mau menikah, apa lagi yang kamu tunggu Dave, aku ingin melihat kamu menikah dan punya keluarga, biar kita bisa sama-sama bahagia dengan keluarga kecil kita,"


" Iya bos, saya juga sudah memikirkannya. Sekarang ini kita sedang sibuk dengan proyek baru bersama tuan Anggara, nanti kalau sudah sedikit senggang, saya akan mengagendakannya bos,"


" Lebih cepat lebih baik, jangan biarkan Amel terlalu lama menunggu," Alex menepuk pundak David. Ia merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan David yang sudah ia anggap adik sendiri tersebut.


"Tapi, apa amel sudah siap? Dia selalu bilang masih trauma akan hancurnya rumah tangga kedua orang tuanya," batin David.

__ADS_1


🌼🌼🌼


💠Jangan lupa like, komen dan votenya, terima kasih🙏 salm hangat author❤️❤️💠


__ADS_2