
Sudah pukul 00.06 waktu Sydney Australia, tapi David masih belum juga tidur. Ia masih di sibukkan dengan pekerjaan di ruang belajarnya.
Amel yang sedang tertidur pulas, tiba-tiba bangun karena merasa haus. Ia keluar menuju ke dapur untuk mengambil minum.
"Pak David belum tidur ya? Lampu di ruang belajarnya masih menyala. Apa dia masih bekerja jam segini?" gumam Amel saat melihat ruang belajar David masih terang.
Tak lama kemudian, Amel mengetuk pintu ruang belajar David.
"Siapa yang mengetuk pintu?" gumam David. Dia sedikit agak merinding, karena tengah malam begini ada yang mengetuk pintu ruang belajarnya. Ia pikir ada hantu, apalagi beberapa hari yang lalu katanya tetangga apartemennya mati bunuh diri.
Sisi lain yang tidak orang ketahui kalau sebenarnya David seorang penakut. Orang tidak akan percaya jika tahu orang seperti David takut hantu. Tapi itulah kenyataannya yang selalu berhasil ia sembunyikan. Ia lupa kalau Amel juga ada di apartemen tersebut, jadi dia tidak berpikir kalau itu adalah Amel.
"Si siapa?" tanya David agak gugup.
"Ceklek!" pintu dibuka oleh Amel.
Melihat Amel yang membuka pintu, David bernafas lega.
"Kenapa aku bisa lupa ada Amel di sini?" batin David.
"Ada apa?" tanya David.
"Saya lihat ruang belajar pak David masih terang, saya pikir pak David masih bekerja, ternyata benar. Ini saya buatkan teh buat Bapak, kebetulan tadi saya ke dapur buat minum dan sekalian buatin teh buat Bapak," sahut Amel mendekati meja dan meletakkan secangkir teh di atasnya.
"Terima kasih. Kembalilah tidur, ini masih malam," ucap David.
"Em pak David belum mau tidur?" tanya Amel.
"Masih ada sedikit pekerjaan yang harus di selesaikan," sahut David yang tetap fokus pada pekerjaannya.
"Em kalau begitu saya temani ya Pak? Saya juga belum mengantuk lagi karena terbangun tadi," tawar Amel.
"Hem, tapi jangan mengganggu saya bekerja," jawab David datar. Padahal dalam hatinya jingkrak-jingkrak kegirangan. Baru kali ini ada yang perhatian, bahkan mau menemaninya lembur bekerja seperti itu.
"Siap Pak!" seru Amel.
Satu jam kemudian, Amel sudah merasa mengantuk, tapi David belum juga selesai dengan pekerjaannya.
"Belum selesai ya? aku udah ngantuk, huh kasihan pak David bekerja harus sampai selarut ini. Anes, ini semua pasti karena suami kamu, yang membuat pak David selalu bekerja keras," batin Amel sambil memperhatikan David yang kini duduk di depannya.
"Ganteng banget ya, kalau di lihat dari dekat begini," batinnya lagi
"Apa Bapak setiap hari lembur seperti ini?" tanya Amel sambil menguap.
"Tidak setiap hari. Tapi ini sedang ada sedikit masalah jadi harus sering lembur," jawab David.
Amel sudah tidak kuat lagi menahan kantuknya. Ia meletakkan kepalanya di atas meja dengan tangannya sendiri sebagai bantal.
"Ck. Dasar! Katanya nggak mengantuk, mau menemani aku kerja, tapi malah udah tepar duluan," gumam David. Ia menutup dokumen terkahir yang harus ia periksa lalu beranjak mendekati Amel.
David mendekatkan wajahnya ke wajah Amel yang sedang tidur.
__ADS_1
"Manis juga kalau sedang tidur begini," batin David. Ia merasakan detak jantungnya berdetak sangat cepat dan kencang.
"Hah kenapa jantungku berdetak kencang seperti ini? Seperti suara beduk takbiran," batinnya lagi sambil menyentuh dadanya sendiri.
Entah dapat dorongan atau bisikkan dari mana, David mengecup bibir Amel.
"Cup!"
David langsung berdiri kaku sambil menyentuh bibirnya. membayangkan apa yang barusan ia lakukan. Jantungnya semakin tak karuan seperti benderang yang ditabuh.
David merutuki dirinya sendiri yang telah lancang mencium Amel secara diam-diam. Untung gadis itu tidurnya terlalu lelap sehingga tidak tahu kalau David menciumnya. Kalau Amel tahu, entah bagaimana reaksinya.
Setelah berhasil menguasai dirinya sendiri, David membangunkan Amel.
"Mel bangun, cepat pindah ke kamar," ucap David sambil mengetuk-ngetuk meja di depan muka Amel menggunakan jari telunjuknya.
Beberapa kali di bangunkan Amel tidak bangun juga, ia hanya menggeliat dan kembali terlelap.
"Ini anak, tidur atau pingsan sih?" gumam David sambil menggendong Amel.
"Badan kecil tapi berat! Apa dia makan batu? menyusahkan saja," David terus menggendong Amel sampai di kamarnya.
Dengan hati-hati, David merebahkan Amel di tempat tidurnya, tak lupa ia menyelimuti gadis tersebut.
Sekilas ia memperhatikan wajah gadis itu kembali sebelum meninggalkannya. David merapikan rambut Amel ke belakang telinganya lalu tersenyum.
Kemudian, ia mematikan kamar yang Amel tempati dan keluar.
🌼🌼🌼
Jika di Sydney pukul 01.00 dinihari, berarti di Jakarta sekitar pukul 21.00 Wib. Waktu di Sydney 4 jam lebih cepat dari Jakarta.
Alex baru saja pulang dari kantor karena hari ini ia harus lembur.
"Mas sudah pulang?" Anes menyambut hangat kepulangan Alex dengan mengalami dan mencium punggung tangan Alex.
"Iya sayang, maaf mas baru pulang karena harus lembur," sahut Alex sambil melonggarkan dasinya. Jasnya sudah ia tenteng dengan tangan kirinya dan kemejanya ia lipat sebatas siku. Tampak dari wajahnya kalau ia sangat lelah.
"Ya udah, ayo mas mandi dulu, habis itu kita makan. Mas pasti sudah lapar kan?" Anes mengambil alih jas yang di pegang Alex.
"Hem, kamu pasti juga belum makan kan?"
"Kan nungguin mas, makan berdua lebih enak," jawab Anes.
"Bi, tolong panaskan makan malam dan siapkan di meja makan," perintah Anes kepada salah satu Asisten rumah tangganya.
"Baik nyonya,"
Anes dan Alex berjalan menuju ke lift khusus menuju lantai atas. Sebenarnya lift tersebut jarang di gunakan, mereka lebih suka naik turun lewat tangga. Namun, berhubung Alex sedang capek. Jadi mereka memanfaatkannya.
Selesai mandi, mereka menuju ke meja makan.
__ADS_1
"Amel beneran mas kirim ke Australia?" tanya Anes sambil mengambilkan nasi dan lauk buat Alex.
"Hem, dan kamu tahu apa tanggapan Amel tadi?"
"Apa?" sahut Anes sambil meletakkan piring berisi nasi dan pelengkapnya di depan Alex.
"Dia pikir mas mau membuangnya ke luar negeri atau menjadikannya seorang TKW. Konyol kan? Entah dapat pikiran dari mana tuh anak,"
"Haha ada-ada aja tuh bocah. Kadang-kadang dia memang suka berpikir polos begitu mas,"
"Teman kamu tuh,"
"Calon istri pak David," sahut Anes nyengir.
"Ck. Terlalu percaya diri, belum tentu David menyukai dan mau dengannya," ucap Alex meremehkan.
"Belum tentu juga Amel mau dengan pak David yang kaku itu," Anes membela sahabatnya.
"Tapi aku yakin, suatu saat mereka pasti akan menikah," lanjut Anes penuh keyakinan.
"Ck. Yakin sekali!" sahut Alex lalu memasukkan sesendok nasi ke mulutnya.
"Harus yakin dong. Ya, walaupun jodoh ada di tangan Tuhan," balas Anes yang juga memasukkan sesendok nasi ke mulutnya.
Alex hanya tersenyum menanggapi ucapan istrinya.
"Sayang, habis ini tolong pijitin mas ya, badan mas pegal semua," pinta Alex.
"Siap!" sahut Anes.
🌼🌼🌼
"Pijatan istri mas emang nggak ada duanya. Enak bener," puji Alex.
"Huh dasar lebay!" seru Anes sambil terus memijat punggung suaminya yang kini sedang tengkurap di bawahnya. Sementara Anes duduk di atas pantat Alex.
"Mas apa tidak apa-apa membiarkan Amel dan pak David tinggal bersama di sana?" tiba-tiba Anes khawatir dengan Amel. Biar bagaimanapun kan mereka laki-laki sama perempuan dan belum menikah lagi. Takutnya ada hal-hal yang tidak di inginkan.
"Kamu tenang saja, David bisa di percaya. Dia tidak akan macam-macam sama Amel. Dia tidak akan melakukan apapun tanpa persetujuan Amel," sahut Alex sambil menikmati pijatan Anes.
"Semoga saja begitu. Takutnya saat Amel lengah, pak David menggunakan kesempatan buat macam-macam. Amel kalau udah tidur kaya kebo soalnya, apalagi kalau kelelahan persis kayak orang pingsan," Anes sedikit cemas.
Hening, tak ada sahutan dari Alex.
"Mas, kok diam?"
Anes menengok ke wajah Alex yang hanya terlihat setengah karena setengahnya lagi terbenam ke bantal.
"Ya elah malah tidur. Enak bener di pijit sampai tertidur. Capek sekali kelihatannya," Anes turun dari pantat Alex dan menyelimuti suaminya tersebut dan menyusul masuk ke dalam selimut.
🌼🌼🌼
__ADS_1
💠Jangan lupa like, komen n votenya😁✌️💠