
Alex telah sampai di rumahnya. Namun, tidak ada sambutan dari Anes seperti biasanya. Rumah pun terasa sepi. Ia langsung menuju ke kamarnya, namun di sana juga tidak ia temukan keberadaan Anes.
Alex kembali turun ke lantai bawah, dan menyusuri setiap sudut rumah mewahnya tersebut.
"Pasti sedang di taman belakang sibuk sama bunga-bunganya, kenapa nggak kepikiran dari tadi sih," gumam Alex. Ia langsung menuju ke taman belakang untuk menemui istri yang sudah sangat ia rindukan itu.
"Nyonya muda, sudah ayo turun non. Nanti kalau jatuh bagaimana? sudah non, biarkan saja di sana burungnya," ucap bina khawatir.
"Iya nyonya, nanti kalau nyonya kenapa-napa kami semua bisa di pecat sama tuan muda nyonya," tambah asisten yang lain.
"Iya nyonya muda, ayo turun," tambahan yang lain lagi.
"Ada apa ini? kenapa ribut-ribut di sini?" tanya Alex yang baru saja datang dan masih belum sadar akan situasi yang ada.
"Astaga sayang! kenapa kamu bergelantungan di situ seperti monyet," Alex yang baru menyadari langsung berlari menuju ke bawah pohon di mana kini Anes sedang bergelantungan ingin memanjat pohon tersebut.
"Aku mau naruh burung ini ke sarangnya mas, kasihan jatuh ke bawah tadi, dia baru saja menetas kayaknya, jadi belum bisa terbang. Kasihan, tapi aku juga bingung ini posisi aku seperti ini bagaimana bisa naik ke atas," sahut Anes s
"Tapi jangan kamu juga dong sayang yang manjat. Ayo turun pelan-pelan. Biar mas yang menaruhnya kembali ke sarangnya. Sekarang kamu turun ya, ingat ada anak kita di perut kamu, kalau kenapa-napa bagaimana?"
"Astaga! aku lupa mas kalau sedang hamil, bantuin aku turun mas cepat," sahut Anes yang merasa panik.
Dengan sigap Alex membantu Anes turun. Dan dia memanjat pohon itu untuk menaruh baby burung kembali ke sarangnya.
"Kamu nggak kenapa-kenapa kan sayang?" tanya Alex memastikan.
"Aku nggak apa-apa mas, sayang maafin mommy ya," Anes mengusap-usap perutnya.
"Kenapa kalian cuma menonton saja melihat nyonya muda kalian seperti tadi hah?" teriak Alex kepada para asisten rumah tangganya.
"Kalian tahu kalau nyonya muda sedang hamil, bagaimana bisa kalian membiarkan dia memanjat pohon sendiri. Di mana otak kalian?" lanjutnya masih dengan nada yang tinggi.
"Ma maaf tuan, kami sudah berusaha mencegah nyonya muda, tapi beliau tetap kekeh untuk memanjat," jawab bi Ina.
"Jadi kalian menyalahkan istri saya?" bentak Alex. Mereka hanya diam tidak berani berkomentar lagi.
"Mas udah, ini bukan salah mereka. Aku yang salah," ucap Anes, sambil memegang tangan Alex.
"Mereka juga salah sayang, mereka ini jumlahnya ada berapa, kenapa tidak ada yang membantu kamu sama sekali, malah berteriak-teriak tapi tetap diam di tempat. Di kira lagi nonton pertandingan bola apa,"
"Kalian, kenapa bukan kalian yang manjat tapi malah membiarkan nyonya manjat sendiri,"
"Maaf tuan muda, kami semua tidak bisa memanjat," jawab bi Ina, menunduk tidak berani menatap majikannya.
"Jadi kalian hanya bisa di panjat tapi tidak bisa memanjat? tidak berguna!" menunjuk para Art perempuan.
"Kalian yang laki-laki, tidak ada yang bisa memanjat pohon? Ganti saja celana kalian dengan rok!" ledek Alex dengan arogannya kepada Art laki-laki.
Mereka hanya diam, bingung dengan maksud ucapan tuan muda mereka hanya bisa di panjat tapi tidak bisa memanjat.
__ADS_1
Dan yang mengerti bahasa Alex hanya Anes, karena itu kata-kata yang sering ia dan Alex ucapkan di tempat tidur sebagai kode ganti posisi.
"Mas, bukan ke arah situ seharusnya bicaranya, sudahlah nggak usah di perpanjang. Mereka juga nggak salah. Lihat muka mereka sudah pucat seperti itu,"
"Mas nggak bisa sayang, mereka terlalu sepele, lagian ada tangga kenapa membiarkan kamu manjat tanpa tangga," sahut Alex dengan intonasi yang rendah.
"Maaf tuan muda, saking paniknya melihat nyonya memanjat kami jadi lupa akan keberadaan tangganya," ucap bi Ina yang mendengar ucapan Alex.
"Jadi kalian hanya bisa berteriak-teriak begitu maksudnya?" sarkas Alex.
"Maafkan kami Tuan muda,"
" Sudah bi, kalian semua bubar dan lanjutkan pekerjaan masing-masing," ucap Anes.
"Mas belum selesai dengan mereka sayang,"
"Mas diam, aku yang salah bukan mereka, jadi aku yang putuskan. Kalian kembali ke dalam dan lanjutkan pekerjaan. Biar saya yang mengurus burung yang satu ini," ucap Anes melirik sinis kepada Alex.
Para asisten rumah tangga pun membubarkan diri.
"Besok kalian kursus manjat, terutama yang laki-laki jangan bisanya cuma manjat istrinya di kasur doang!" teriak Alex.
"Mas diam!" Anes membungkam mulut Alex menggunakan tangannya.
Alex mengajak Anes duduk.
"Untung mas pulang, kalau nggak kamu pasti masih bergelantungan di sana sayang," menunjuk pohon tadi.
"Maaf mas, aku melihat burung itu tadi jatuh jadi kasihan," sahut Anes.
"Karena mau ngurusin burung suami, burungnya nggak mau. Udah lupa kali sama sarangnya. Aku kasihan sama sarang burung tadi, takut kalau di lupain juga," sindir Anes lalu pergi meninggalkan Alex di tempat duduknya.
"Siapa yang lupa sih sama sarang ternyaman itu? mas juga sangat merindukannya tahu," batin Alex lalu segera menyusul Anes ke dalam rumah.
๐ผ๐ผ๐ผ
Alex sudah berganti baju santai dan siap untuk memasakkan nasi goreng seafood seperti yang di minta oleh Anes di telepon tadi. Sebenarnya Alex masih tidak bisa mencium bau bawang goreng, tapi demi istri tercintanya ia tetap mau memasak.
Hidungnya ia jepit dengan penjepit jemuran. Dan sesekali Alex bernafas menggunakan mulutnya.
Anes makan dengan lahapnya. Membuat Alex merasa sangat senang, karena tidak sia-sia dia memasak.
"Mas hidung kamu kenapa merah begitu?" tanya Anes.
"Oh ini, tadi saat masak mas jepit pakai penjepit jemuran, supaya nggak bau waktu goreng bawangnya sayang," jawab Alex.
"Maaf ya mas," Anes menjadi merasa bersalah.
"Kenapa minta maaf, kamu kan nggak salah sayang. Udah lanjutin makannya, sini mas suapi," Alex mengambil alih sendok yang di pegang oleh Anes.
๐ผ๐ผ๐ผ
__ADS_1
Malam harinya, Alex dan Anes sedang asyik mengobrol di atas tempat tidur. Anes menyenderkan badannya ke senderan tempat tidur, sedangkan Alex tiduran di paha Anes.
Alex menceritakan kejadian memalukan di kantor ketika rapat tadi. Anes tertawa setelah mendengar cerita dari suaminya. Ia membayangkan bagaimana ekspresi wajah suaminya tadi di kantor.
"Kamu sih nggak mengingatkan mas tadi,"
"Aku udah ingetin mas, tapi masnya aja yang nggak dengerin main ngeloyor aja, lagian kemarin kan udah mau aku hapus, tapi mas nggak boleh," ucap Anes sambil memainkan dagu Alex.
"Sayang, maafin Daddy ya? kamu nggak malu kan punya ayah kayak Daddy?" Alex mencium perut Anes dari luar piyama yang Anes kenakan.
"Nggak malu Daddy, justlu aku bangga cama Daddy, Daddy yang telbaik pokokna," sahut Anes menirukan suara anak kecil yang cadel.
"Ih sayang, jadi gemes deh, pengen cepat-cepat kamu lahir," ucap Alex mengusel-usel perut Anes.
"Mas ah geli,"
"Sayang, nanti kalau anak kita laki-laki kita kasih nama Axel ya, kalau perempuan Alexa. Bagus kan?" ucap Alex.
"Nggak mau!"
"Kenapa?"
"Axel, Alexa, Alex? itu sama aja, cuma di bolak-balik. nggak adil dong, namanya sama kayak mas Alex,"
"Terus maunya di kasih nama siapa?"
"Nanti aja kalau udah tahu jenis kelaminnya, baru kita cari sama-sama," jawab Anes.
"Cari sekarang aja nggak apa-apa, siapkan dua nama. Siapa tahu nanti kecebongnya membelah diri jadi dua, kan nggak pusing nyari nama lagi," kata Alex.
"Amuba kali ah membleah diri," sungut Anes.
"Lagian mas ini, kecebang-kecebong. Emang mas katak? anaknya jadi kecebong?"
"Kan benihnya mirip kecebong sayang, ada ekornya, kamu lupa ya pelajaran biologi? Pasti tidur nih kalau pas pelajaran soal kecebong,"
"Tahu ah, aku ngantuk mau tidur, mas tumben nggak nonton Upin Ipin atau Spongebob,"
"Belum ada episode baru sayang, mas bosan. Nanti kalau udah di kirimi sama David episode yang baru, baru mas nonton lagi," jawab Alex.
"Rainbow Rubby juga belum ada yang baru?" tanya Anes.
"Hem, sekarang tidurlah. Mas akan ke ruang belajar dulu sebentar, ada hal yang harus mas urus," ucap Alex yang sudah berdiri di samping tempat tidur.
"Kelonin!" pinta Anes menarik-nariknujung kaos yang Alex kenakan.
Alex tersenyum, lalu kembali naik ke tempat tidur.
"Sini!"
Anes langsung beringsut masuk ke dalam pelukannya sang suami. Menjadikan dada bidang Alex sebagainya tempat terhangat dan ternyamannya untuk menyambut mimpi.
__ADS_1
Setelah Anes terlelap, Alex pelan-pelan melepas pelukannya, dan memindahkan kepala Anes ke bantal. Lalu ia turun dan menuju ke ruang belajarnya.
๐ผ๐ผ๐ผ