
Sore harinya...
Rumah Bu Ratna dan pak Hari sudah ramai, para tetangga dan juga anak yatim dari panti asuhan yang berada di dekat rumahnya sudah memenuhi rumah tersebut.
Anes tampak mondar-mandir menunggu kedatangan suaminya di depan pintu.
"Kok belum datang sih, acaranya kan udah mau mulai," gumam Anes.
"Anes, mana suami kamu? kok nggak kelihatan di acara penting begini?" tanya tetangga bu Ratna yang bernama bu Maemunah.
"Suami saya kerja Bu, ini mungkin lagi di jalan menuju ke sini," sahut Anes dengan ramah.
"Eleh, orang kaya mah gitu ya, gila kerja, acara udah mau mulai belum juga datang, kayak nggak niat bikin syukuran buat calon anak aja,"
"Maaf ya Bu, mungkin di jalan sedang macet, jadi belum sampai. Acaranya juga belum di mulai kan Bu, masih ada waktu," Anes berusaha tetap sabar menghadapi tetangga ibunya yang emang asal nyeplos kalau ngomong itu.
"Kamu sih, dulu nolak waktu saya mau jodohkan dengan anak saya. Kalau anak saya yang jadi suami kamu pasti dia akan perhatian sama kamu, apalagi saat kamu hamil begini. Hati-hati Nes, bisa-bisa suami kamu nggak bergairah lagi sama kamu karena kamu hamil dan jadi gendut, jadi di matanya kamu nggak menarik lagi,"
Deg! hati Anes mendadak sakit mendengar ucapan Bu Maemunah. Benar saja suaminya tidak pernah mengajaknya untuk bercinta setelah ia hamil. Terkahir kali mereka melakukannya sebelum periksa ke dokter.
Anes berusaha menahan emosinya. Ia mengelus-elus perutnya.
"Amit-amit jabang bayi, jangan dengerin omongannya ya sayang," batin Anes.
Bu Ratna yang ingin memanggil Anes untuk masuk pun mendengar ucapan bu Maemunah dan ia tak terima.
"Maksud Bu Maemunah apa? Maaf ya anak menantu saya itu adalah menantu terbaik, dia sangat perhatian dan mencintai anak saya. Bukan hanya anak saya, tapi terhadap kami mertuanya saja dia sangat baik dan perhatian. Menantu saya sekarang belum datang itu bukan berati dia tidak peduli dengan anak dan istrinya. Mohon maaf nih ya, bukannya anak Anda itu yang perempuan hamil duluan ya? dan anak laki-laki Anda yang tadi Anda banggakan itu sekarang sedang kena kasus KDRT terhadap istrinya kan? jadi tolong ya kaca di rumah itu di pakai, jangan cuma buat pajangan!" ucap Bu Ratna pasang badan untuk membela Anes.
"Bu Ratna tahu dari mana tentang masalah itu, jangan asal bicara?" tanya Bu Maemunah, wajahnya sudah merah kerena marah tapi juga malu.
"Ma udah, jangan di terusin, malu kalau di lihat orang. Ayo masuk, nggak enak yang lain udah pada nunggu di dalam," Anes mencoba melerai sebelum kedua ibu-ibu tersebut saling adu jambak, kan malu kalau itu terjadi di acara syukuran kehamilannya lagi.
Bu Ratna menghela nafas dalam dan masuk ke dalam dimana orang-orang sudah duduk menunggu acara di mulai.
"Maafkan mama saya ya Bu, tolong jangan di ambil hati. Mari silahkan kembali masuk ke dalam, acaranya akan di mulai sebentar lagi," ucap Anes dengan ramahnya kepada Bu Maemunah.
Ada rasa menyesal dalam diri Bu Maemunah, bagaimana bisa Anes tetap memperlakukannya dengan baik padahal baru saja ia sakiti hatinya. Namun karena gengsi, ia tetap tidak mau minta maaf.
__ADS_1
Ketika Anes ingin masuk, mobil Alex dan David memasuki halaman rumah pak Hari.
"Itu suami saya datang Bu, silahkan masuk duluan biar saya menunggu suami saya," ucap Anes.
Tanpa menyahut, Bu Maemunah masuk ke dalam.
"Sayang, maaf mas terlambat, tadi sedikit macet di jalan," ucap Anes sambil mengecup kening Anes.
"Nggak papa mas," sambut Anes.
"Anes!" Amel langsung menggeser tubuh Alex dengan menyenggol badannya hingga Alex sedikit terhuyung dan memeluk sahabatnya itu.
"Maaf pak nggak sengaja hehe," ucap Amel begitu menyadari aura marah dari Alex. Alex hanya mengernyitkan dahinya.
"Bagaimana kamu bisa tahan dengan gadis seperti itu Dav?" bisik Alex di telinga David.
"Saya juga tidak tahu bos," sahut David berbisik juga.
"Sepertinya kamu di pelet sama dia Dav,"
"Bisa jadi bos," sahut David asal.
"Jangan bos,"
"Kenapa?"
"Karena saya suka di pelet dia," sahut David.
"Ck.dasar!" sarkas Alex.
"Kalian bisik-bisik apa sih?" tanya Anes penasaran.
"Iya nih, main bisik-bisik, ngomongin apaan sih?" Amel ikut penasaran.
"Itu, aku tanya ke David kok dia bisa sih ber..."
"Itu nona, masalah pekerjaan yang tadi kita bicarakan," David menerobos dengan cepat ucapan Alex.
__ADS_1
"Jangan bilang jujur bos, atau nanti saya tidak akan dapat jatah sun," bisik David.
"Emang kamu bayi makan sun segala? kenapa sejak pacaran dengan Amel kamu jadi aneh, makan bayi segala di makan," bisik Alex.
"Iya bos, karena sunnya enak," balas David.
"Kalau begitu nanti aku beli pabriknya biar kamu puas makannya,"
"Tidak perlu bos, saya lebih suka sun yang di berikan Amel," sahut David. Ia malas untuk menjelaskan sun apa yang ia maksud. Tidak seperti yang ada dalam otak bosnya yang polos tersebut.
"Mau bisik-bisik terus atau mau masuk nih?" tanya Anes.
"Masuk sayang," sahut Alex dengan cepat, karena ia sudah merasakan aura jutek dan kesal dari sang istri.
"Ya udah ayo masuk, acara akan segera di mulai," ajak Anes. Dan mereka pun masuk ke dalam.
Di dalam, ibu-ibu yang melihat kedatangan dua pria tampan tersebut terpesona dengan kegantengan mereka. Ini kali pertama mereka melihat suami Anes dari dekat.
"Maaf Alex terlambat Pa, Ma" Alex menyapa kedua mertuanya dan menyalami tangan mereka.
"Nggak papa nak, kami mengerti kok," sahut pak Hari.
Bu Ratna melihat sinis ke arah Bu Maemunah, seolah-olah bilang nih mantu gue, ganteng kan? baik, kaya lagi, mau apa Lo?
Bu Maemunah yang menyadari tatapan Bu Ratna hanya bisa diam, karena dia sebenarnya juga terpana dengan ketampanan Alex.
"Itu bukannya pengusaha yang kadang muncul di televisi ya? dia beneran suaminya Anes? beruntung banget ya Anes," bisik salah satu ibu-ibu.
"Iya ya, nggak nyangka, besok kita suruh anak perempuan kita berguru sama Anes saja, bagaimana cara memikat suami ganteng, baik, kaya lagi," bisik-bisik para ibu-ibu.
"Yang satu siapa ya?" tanya yang lain.
"Itu asistennya,"
"Ganteng juga ya, cuma kalah kaya, hihi,"
"Tapi tetap okelah di jadikan menantu,"
__ADS_1
Ibu-ibu itu terus saja berbisik hingga pak ustadz menyuruh untuk diam dan memulai acaranya.
🌼🌼🌼