MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 192


__ADS_3

"Nyonya muda, itu nona Amel sudah menunggu di bawah," ucap bibi sopan.


"Baiklah bi, saya akan segera turun,"sahut Anes.


Anes turun dan menghampiri Amel yang sedang berbincang dengan Dila.


"Sudah lama Mel nunggunya? Sorry, tadi aku video call dulu sama mas Alex," ucap Anes.


"Eleh, baru juga di tinggal berapa jam kerja, udah kangen aja buk, besok-besok ikut aja ke kantor, biar bisa nempel terus," goda Amel.


"Bisa aja deh kamu Mel, tadi aku cuma bilang udah mau berangkat, pamit sama suami. Nanti kalau kamu udah nikah sama Abang juga harus begitu, kalau pergi harus bilang-bilang suami," pesan Anes kepada Amel.


"Siap nyonya Parvis, terima kasih wejangannya. Emang ya sahabat aku ini istri idaman banget, pantas saja pak Alex cinta mati dan tidak bisa melirik wanita lain sedikitpun. Orang lagi hamil aja cantik begini," puji Amel yang melihat betapa cantiknya Anes .


Dila hanya mendengarkan Anes dan Amel berbincang.


"Lebay kamu Mel, udah ah yuk berangkat, nanti telat lagi," ajak Anes sambil melihat jam kecil berlapis berlian yang lebih mirip seperti sebuah gelang yang melingkar manis di tangan Anes. Membuat penampilannya semakin elegan.


"Ayuk!" seru Amel.


"Eh Dil, kami berangkat dulu ya?" pamit Anes kepada Dila.


"Kalian pergi cuma berdua? tidak sama bang David dan pak Alex?" tanya Dila penasaran.


"Mereka harus lembur," sahut Anes tersenyum.


"Oh begitu, ya udah kalian hati-hati," pesan Dila.


Anes dan Amel mengangguk tersenyum lalu pergi. Pak Anton sudah standby di depan, siap untuk membukakan pintu untuk Anes dan juga Amel.


"Enak ya jadi sahabat nyonya kaya, kita jadi ikut seperti tuan putri," celetuk Amel saat pak Anton membukakan pintu mobil untuknya.


"Ck.Dasar! Nanti kamu juga akan jadi nyonya August, dan itu artinya kamu juga akan jadi nyonya besar," timpal Anes.


"Nyonya besar apanya Nes, David kan hanya asisten," sahut Amel merendah.


"jangan salah, dia itu asisten terkaya tahu. Jangan bilang hanya, asisten itu cuma kerjaan sampingannya,"


"Emang dia punya pekerjaan lain?" Amel menjadi penasaran.


"Nggak tahu hehehe,"


"Anes! kirain beneran. Eh tapi kayaknya suami kamu gaji dia besar banget ya, sampai dia punya kartu ATM platinum dan itu ada beberapa, kartu kredit juga banyak, bahkan ada yang unlimited, emang sekaya itu ya dia? Jadi penasaran sama kekayaan suami kamu Nes,"


"Udah nggak usah penasaran, aku aja yang istrinya tidak penasaran, tinggal menikmati aja hasil kerja keras suami tanpa terlalu pusing memikirkan seberapa besar uangnya. Daripada mati penasaran kan? hidup terlalu indah jika habis hanya untuk kepo akan sesuatu yang tidak bisa kita jangkau dengan nalar kita,"


"Iya juga sih," sahut Amel sambil manggut-manggut.


🌼🌼🌼


Anes dan Amel sampai di tempat acara. Acaranya cukup ramai, mengingat acara ini tidak hanya untuk angkatannya saja melainkan beberapa angkatan sekaligus.


"Kayaknya cuma kita yang nggak bawa pasangan deh Nes," bisik Amel. Ia melihat ke sekeliling semua yang sudah hadir maupun yang baru datang tampak bersama pasangan mereka.

__ADS_1


"Udah santai aja, anggap kita berdua pasangan," sahut Anes berbisik.


Mereka masuk ke dalam gedung untuk menyapa beberapa teman mereka.


"Itu Anes dan Amel, aku ke sana dulu ya mau menyapa mereka," Sandra yang melihat dua sahabat itu masuk langsung ingin menghampiri mereka. Ia mengajak suaminya menyapa Anes dan Amel.


"Hai Nes, Mel, kalian sudah datang?" sapa Sandra ramah, ia menggandeng posesif lengan suaminya yang cukup tampan tersebut.


"Hai Sandra, iya kami baru saja datang," sahut Anes tak kalah ramahnya.


"O ya, kenalin ini suami aku," Sandra memperkenalkan suaminya.


"Rian," Suami Sandra mengulurkan tangannya kepada Anes.


"Anes," Anes membalas uluran tangan Rian, dan Rian beralih ke Amel.


"Rian," ucapnya.


"Amel," balas Amel.


"Eh ngomong-ngomong di mana suami kamu dan pacar kamu Mel, mereka tidak datang bersama kalian?" tanya Sandra.


"Mereka lagi sibuk San, harus lembur jadi tidak bisa ikut," jawab Amel sekenanya, padahal ia tidak tahu David sedang apa.


"Oh begitu ya, nggak papa, wajar ya Nes, suami kamu pasti sedang bekerja keras buat nabung, buat biaya melahirkan dan punya anak, kan tidak sedikit biaya yang di butuhkan di jaman seperti ini. Pacar kamu juga pasti sedang giat-giatnya bekerja supaya bisa cepat meminang kamu ya Mel, salut deh sama pasangan kalian," ucap Sandra menatap Anes bergantian ke arah Amel.


"Eh iya," jawab Anes dan Amel serempak sambil saling melempar pandang dan tersenyum.


"Tahu nggak yang? Suami Anes dan calon suami Amel ini, mereka juga bekerja di Parvis Group. Di kantor pusat. Ya, walaupun hanya sebagian staff biasa, tapi lumayan kan bisa bekerja di sana. Mereka berdua ini juga bekerja di sana, hanya saja setelah menikah Anes resign dari kantor," Sandra menjelaskan kepada Rian, suaminya.


"Mereka sudah tahu yang, aku sudah kasih tahu mereka," timpal Sandra.


"O ya, yuk sapa teman-teman yang lainnya, mereka pasti juga sudah kangen karena kita lama tidak bertemu," ajak Amel, mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Yuk!" jawab Sandra antusias.


"Hai, udah lama ya nggak ketemu," Sandra menyapa teman-teman mereka yang sedang mengobrol berkerumun.


Mereka kemudian mengobrol sambil menunggu acara.


"Eh Nes, udah berapa bukan kamu hamil?" tanya salah seorang temannya.


"Udah 5 bukan setengah Ken," sahut Anes kepada temannya yang bernama Niken tersebut.


"Wah, kamu dan Amel tambah cantik aja ya Nes, penampilan kalian juga wow! pasti pasangan kalian orang tajir deh," sambung temannya yang lain.


"Ah enggak kok, biasa aja," sahut Anes ramah.


"Suami Anes ini karyawan di perusahaan Parvis group, kekasih Amel juga kerja di sana, dan Amel juga. Ya bisa di bilang mereka cinlok lah. Kalian jangan terkecoh sama penampilan bermerk mereka, jaman sekarang yang KW kan banyak yang bagus iya nggak Nes, Mel?" Sandra yang menyahut ucapan temannya.


"Eh ini as..."


"Eh iya, pasangan kami cuma orang biasa kok," Anes dengan cepat menyahut.

__ADS_1


"Ini asli tahu Nes tasnya, waktu itu David yang beliin," bisik Amel melihat ke arah tas yang ia bawa.


"Aku tahu Mel, biarin aja," balas Anes berbisik.


"Kami permisi dulu ya, mau menyapa yang lain," Anes menarik tangan Amel menjauhi teman-temannya yang dulu suka sekali bergosip tersebut, dan sepertinya kebiasaan mereka sekolah dulu tidak berubah. Buktinya, setelah Amel dan Anes pergi, mereka masih membicarakan keduanya.


"Aku hampir tertipu tahu nggak sama penampilan mereka tadi, kirain beneran mereka wanitanya orang penting dan hebat. Untung kamu kasih tahu San. Demi terlihat wah, mereka sampai memakai barang KW ya. Beruntung aku punya suami kaya, ya walaupun barang branded ku bukan yang paling mahal tapi Asli lah, punya mereka tuh kalau ori harganya selangit loh,"


Sandra hanya nyengir, pasalnya barang yang ia kenakan juga KW, meskipun ia dan suaminya sama-sama bekerja, tapi untuk membeli barang ori yang sangat mahal harus berpikir dua kali.


"Sandra itu sebenarnya orangnya baik, tapi mulutnya lemes," bisik Amel setelah menjauh dari mereka.


"Makanya kamu nggak perlu ladenin mereka Mel, nggak perlulah buang-buang waktu hanya untuk menunjukkan siapa kita dan apa yang kita punya. Cukup kita nikmati saja sendiri. Toh mereka yang sukanya bergosip tidak akan puas dengan hanya kita bilang ini asli loh. Pasti mereka akan merembet kemana-mana," sahut Anes.


Anes dan Amel mengambil minum dan duduk di kursi yang berjejer melingkar mengelilingi meja.


"Benar juga kata kamu Nes," balas Amel.


"Eh Anes," sapa kakak kelas Anes yang datang menghampirinya.


"Eh Anda siapa ya?" tanya Anes yang lupa.


"Mereka kak Doni dan kak Samuel Nes, teman-temannya kak Rangga," bisik Amel.


"Oh kak Doni, kak Samuel, apa kabar?" tanya Anes ramah.


"Baik Nes, kamu makin cantik ya, mana Rangga? Kenapa kalian tidak datang bersama?" tanya Doni.


"Bukannya kalian teman dekatnya ya? kenapa tanya kepadaku dimana kak Rangga?" Anes balik bertanya.


"Lho bukannya kalian menikah ya? Kamu udah lama nggak pernah ketemu dan kontak lagi dengan dia setelah lulus, aku kira kalian sudah menikah, bahkan kamu sedang hamil kan sekarang?"


"Iya kak, tapi aku dan kak Rangga juga tidak pernah kontak lagi, dan suami aku bernama Alex bukan kak Rangga,"


"Oh sorry Nes, kita nggak tahu. Dulu kalian cocok banget, kami kira kalian ada hubungan, kemana-mana selalu bersama, cocok deh pokoknya," timpal Samuel.


"Udah-udah jangan bahas masa lalu kak, kan sekarang Anes sudah bahagia bersama suaminya," Amel ikut bersuara. Ia kesal kedua seniornya ini malah membahas Rangga, yang dulu jelas-jelas meninggalkan Anes tanpa pesan.


"Sorry Nes bukan maksud kita untuk mengungkit masa lalu,"


"Kita boleh ikut gabung nggak nih, hai kak Doni kak Samuel," Sandra menghampiri mereka bersama teman-temannya.


"Hai Sandra, Boleh dong, sini kita ngobrol bareng biar ramai," jawab Doni.


"Eh tadi kalian ngomongin kak Rangga ya? Yang aku dengar dia udah jadi pengusaha yang sukses loh, menggantikan posisi ayahnya, dan sekarang tinggal di luar negeri. Sayang sekali dia nggak berjodoh ya Nes sama kamu. Kalau kamu nikahnya sama dia kan enak, nggak perlu susah-susah tinggal duduk manis uang udah datang sendiri," ucap Sandra


"Bener-bener deh, mulutnya minta di rukiyah si Sandra," bisik Amel kepada Anes.


Anes hanya tersenyum, menanggapi bisikan Amel.


"Namanya juga nggak jodoh San," Anes membalas ucapan Sandra dengan santai dan elegan dengan tetap tersenyum ramah. Ia duduk dengan sangat anggun meskipun sedang hamil dan perutnya semakin buncit.


"Aku paling malas datang ke acara seperti ini, isinya hanya untuk pamer suami, kekayaan, koleksi barang-barang branded dan mahal ujung-ujungnya saling membatin dan menghina," gumam Anes dalam hati di sela-sela obrolan mereka.

__ADS_1


🌼🌼🌼


__ADS_2