
Sudah satu Minggu sejak Alex dan Anes kembali bekerja di kantor, semua berjalan dengan lancar, begitu pula dengan setatus pernikahan Alex dan Anes yang masih menjadi sebuah rahasia.
Pagi itu seperti biasa, Anes bangun lebih awal untuk menyiapkan keperluan Alex dan memasak.
Mereka memulai aktivitas pagi mereka dengan bersiap-siap untuk bekerja dan sarapan dengan menu yang sudah disiapkan oleh Anes tentunya.
"Acara pesta amal tahunan akan segera di laksanakan, persiapkan dirimu!" ucap Alex membuka perbincangan.
"Aku?harus menyiapkan apa emang?" menatap Alex bingung.
"Apa aku harus ikut ke acara itu?" tanyanya.
"Tentu saja, kamu istriku, apa kamu lupa?"
"Tentu saja aku ingat, tidak perlu diingatkan." batin Anes.
"Tapi, yang aku dengar acara itu hanya dihadiri oleh orang-orang kalangan elite, para pemilik perusahaan dan sosialita."
"Terus?"
"Ya aku nggak pedelah, kalau harus berjalan sejajar denganmu mas, di kantor saja para karyawan ngejudge kalau aku nggak selevel sama kamu, nggak pantas buat kamu dan black black bla, apa lagi orang-orang kalangan atas itu, bisa-bisa mereka mengira kamu sedang berjalan dengan pembantu."
"Apa aku pantas berada dalam acara tersebut? aku sering mendengar tentang acara tersebut karena Parvis Group selalu menjadi sponsor tunggal diadakannya acara amal itu, tapi ya hanya sebatas mendengar saja, bahkan tidak ada satu pun karyawan kantor yang pernah terlibat dalam acara tersebut, hanya para pemegang saham dan direktur saja kan yang hadir dalam acara tersebut," ucap Anes panjang lebar.
"S**ebenarnya mengarah kemana sih omongannya istri ajaibku ini?" batin Alex.
"Terus?" ucap Alex sambil tetap mengunyah makanannya.
"Kan di kantor nggak ada yang tahu kalau aku istri mas, apa tanggapan para pemegang saham dan direktur-direktur lainnya?"
"Terus?"
"Apa tidak sebaiknya mas pergi sama pak David saja?"
"Istriku itu kamu, bukan David."
"Terus?"
"Ih mas Alex terus terus, nabrak baru tahu rasa!" ucap Anes sewot. Ia kesal karena Alex hanya menanggapinya dengan satu kata 'terus'.
Alex meletakkan sendok dan garpunya dia atas piring, kemudian ia mulai bicara menanggapi omongan Anes.
__ADS_1
"Pertama, memang acara tersebut hanya untuk kalangan pengusaha dan sosialita, dan kamu termasuk karena kamu istriku sekarang. Kedua, kenapa aku harus pergi bersama David, istriku itu kamu bukan dia. Ke tiga, kamu nggak usah khawatir dengan para pemegang saham dan direktur di kantor, mereka sudah tahu tentang pernikahan kita, aku sudah minta papa Arya mengumumkan pada rapat direksi saat kita honeymoon. Tapi, kamu jangan khawatir mereka sudah berjanji tidak akan komentar atau membuka suara perihal pernikahan kita, jika itu membuat kamu tidak nyaman bekerja di kantor dan takut karyawan yang lain mengetahui setatus kamu sebagai istriku. Kalau kamu berpikiran kamu tidak pantas mendampingiku dalam acara tersebut, lalu siapa yang pantas? tidak ada! kamu adalah satu-satunya yang pantas, buang pikiran-pikiran negatifmu itu. Apa itu sudah cukup menjelaskan?" Alex bicara panjang lebar dan Anes hanya diam mendengarkan dengan seksama.
Setelah Alex selesai bicara, Anes hanya menatap kagum pada suaminya. Untuk pertama kalinya Alex bicara begitu panjang kepadanya dan itu seperti memenangkan sebuah lotre, secara suaminya itu kan suka irit bicara.
🌼🌼🌼
Usai sarapan mereka langsung berangkat ke kantor. Dan sudah menjadi rutinitas Anes beberapa hari ini, turun dari mobil sebelum sampai di kantor dan memilih berjalan kaki.
Ketika ia memasuki lobby kantor, banyak mata yang menatap aneh pada Anes.
"Kenapa mereka menatapku seperti itu?apa ada yang salah denganku?" batin Anes.
"Eh tau nggak, tadi aku lihat Anes turun dari mobil pak Alex di persimpangan jalan sana," ucap Siska yang sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Anes.
"Ah yang bener, kebetulan searah terus dikasih tumpangan kali sama pak Alex," timpal Vina.
"Searah bagaimana? jelas-jelas rumah mereka beda arah kok, lagian kalau numpang kenapa mesti turun dijalan, kenapa nggak langsung sampai kantor, malah mencurigakan kan?" ucap Siska sambil melirik ke arah Anes.
"Iya ya, aneh," timpal yang lain.
"Duh, kenapa Siska pake acara lihat aku turun dari mobil segala sih," batin Anes.
"Nes, bener tadi kamu bareng pak Alex kesini atau aku salah lihat?" Siska terang-terangan bertanya.
"Bukannya rumah kalian nggak searah ya? kok bisa pak Alex lewat depan rumah kamu, atau sengaja menjemput kamu?" nada bicara Siska sudah mulai mengintimidasi Anes.
"Ya, mana aku tahu, mungkin kebetulan beliau dari suatu tempat yang searah rumahku," Anes berusaha setenang mungkin menjawabnya.
"Kamu pikir kita nggak punya mata, setiap hari gelagat pak Alex sama kamu tu mencurigakan tahu nggak, atau jangan-jangan kalian ada main lagi dibelakang. Hati-hati kamu nes jangan coba-coba main api, pak Alex tu baru aja nikah," nona Vanya yang baru saja datang pun ikut ambil suara.
"Aku curiga, waktu itu sempat lihat kamu keluar dari ruangan pak Alex dengan rambut yang sedikit berantakan, jangan-jangan waktu itu kamu habis merayu pak Alex," lanjut nona Vanya lagi.
"Jelas-jelas situ yang selalu mencoba merayu dan caper sama suamiku, huft aku mau jawab apa ini males banget ngeladenin mulut-mulut nggak berfaedah kayak gini," batin Anes.
"Waah kayaknya seru nih, siapa yang mencoba merayu Presdir? nona Vanya? Anda?" ucap Amel yang juga baru datang.
"Kamu! tutup mulut kamu! jangan ikut campur!" sahut Vanya.
"Oopps sory, kalau saya benar nona Vanya, habisnya saya kalau lihat Anda mau ke ruangan pak Alex, Anda pasti membuka satu kancing baju yang anda kenakan, supaya apa terlihat belahan dada Anda kan, tapi sayang, Anda selalu keluar dengan wajah kecewa." entah memiliki keberanian dari mana Amel mengatakan itu semua kepada Vanya, yang dia tahu hanya ingin membela sahabatnya sekaligus istri dari bosnya tersebut.
Vanya sangat merasa kesal dengan perkataan Amel, apalagi kini semua mata juga tertuju padanya, menatapnya penuh curiga.
__ADS_1
"Sial" umpat Vanya dalam hati.
"Kurang ajar sekali kamu, berani-beraninya menuduhku seperti itu!" Vanya mendorong tubuh Amel karena kesal hingga Amel sedikit terpental dan hampir jatuh, namun beruntung sepasang tangan kokoh menahannya dari belakang.
"Amel!" teriak Anes yang melihat sahabatnya didorong oleh Vanya.
"Ada apa ini?" ucap pak David yang sedang memegang kedua lengan Amel dari belakang agar tidak jatuh.
"Pak David" ucap Anes dan Amel serentak. Semua yang ada disana pun menjadi diam tak berani bersuara.
"Nona Amel, Anda baik-baik saja?"
Amel menjawab pertanyaan David dengan anggukan.
"Kalian disini digaji buat bekerja, bukan bergosip. Otak kalian yang dibutuhkan disini bukan mulut kalian yang nyiyir. Berani sekali kalian bergosip tentang Presdir seperti itu, apa kalian sudah bosan bekerja disini?" lanjut David dengan nada masih tinggi.
"Berani kalian menyebar gosip tentang Presdir lagi, saya pastikan kalian akan mendapat SP, ah tidak, langsung surat pemecatan akan kalian terima, mengerti!"
"Tapi pak David, kami hanya...." Vanya memberanikan diri membuka suaranya, padahal ia tahu, ucapan David sama saja mewakili ucapan Alex.
"Hanya apa nona Vanya, Anda tidak tahu berurusan dengan siapa? apa Anda sudah tidak menginginkan bekerja disini lagi?"
"Huh, dasar asisten sialan, dia pikir siapa, Presdir? dan apa bagusnya wanita ini sampai-sampai banyak yang ingin menjadi pahlawan kesiangan buat dia, lebih baik aku cari aman saja sambil mencari bukti kalau Anes memang wanita ******, perkataan David berarti ucapan Presdir, dari pada aku di pecat," batin Vanya.
"Kenapa Anda diam nona Vanya?"
"Duh, gawat nih, kalau pak David sampai emosi dan membongkar semuanya," batin Anes.
"Mmm pak David, semua ini hanya salah paham kok, iya kan nona Vanya?" ucap Anes berharap David tidak melanjutkan kemarahannya.
"Eh iya pak David," dengan berat hati Vanya mengiyakan perkataan Anes.
"Tapi nona Anes..."
Anes menatap tajam kepada David sebelum laki-laki itu melanjutkan kalimatnya.
"Sekarang kalian bubar dan ingat kata-kata saya tadi!"
"Ayo cepat-cepat bubar, daripada nanti pak David lebih marah lagi, bisa-bisa kita jadi pengangguran beneran," bisik karyawan.
Dan semua pun membubarkan diri termasuk Vanya. Ia sangat kesal karena David tidak membelanya tetapi malah membela Anes, itu berati jalannya untuk mendekati Alex semakin sulit.
__ADS_1
"Tamengnya aja nggak berpihak sama aku, bagaiman aku bisa mendekati pak Alex, Pasti si David sialan itu akan menghalangiku" batin Vanya kesal.
💠jangan lupa like,komen n votenya ya...💠