
"Aarggghhhh!!!!" teriak Alex di dalam mobilnya. Ia menjambak rambutnya kasar. Benar-benar tidak percaya, kalau wanita yang dulu sangat di pujanya itu, kini berubah menjadi seorang berhati iblis, yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang menjadi obsesinya.
"Seharusnya aku menyingkirkan wanita itu sejak dulu, sebelum semuanya berakhir seperti ini," gumam Alex dengan memukul setir mobil berkali-kali sambil terus melakukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Tak henti-hentinya Alex mengumpat dan menyumpahi Rania. Alex benar-benar kecewa, bahkan ia menyalahkan dirinya sendiri yang pernah bertemu dan mengenal wanita rubah itu. Pak Arya meninggal memang sebuah takdir, tapi perantaranya juga gara-gara Rania, dan sekarang David terbaring koma, entah mampu bertahan atau tidak juga gara-gara Rania.
Alex mengendarai mobilnya dengan cepat karena ingin segera sampai rumah sakit dan menemui sahabatnya, David. Tanpa Alex sadari ada seseorang yang hendak menyebrang jalan dan hampir saja tertabrak oleh mobil yang Alex kendarai. Alex berhasil mengerem mobilnya tepat waktu namun kepalanya membentur setir mobil hingga keningnya berdarah.
"Sial!" umpat Alex sembari menyentuh keningnya yang terluka.
"Tok tok tok!" pintu mobil Alex di ketuk seseorang dari luar.
"Tuan, apakah Anda baik-baik saja?" tanya orang tersebut.
"Ya saya baik-baik saja, bagaimana orang yang hendak menyebrang tadi? Apakah dia terluka?" tanya Alex.
"Tidak tuan, dia baik-baik saja," jawab orang tersebut.
Alex mengeluarkan cek dan menuliskan sejumlah nominal pada cek tersebut, lalu menyerahkan kepada orang yang masih berada di samping mobilnya tersebut.
"Tolong serahkan ini untuk orang itu sebagai permintaan maafku, dan ini untuk Anda," ucap Alex menyertakan beberapa lembar uang ratusan ribu sebagai tips kepada orang tersebut.
"Maaf saya buru-buru," Alex langsung melajukan mobilnya kembali. Namun, kali ini ia mengemudi dengan lebih pelan dan hati-hati, karena ia masih ingin bersama dengan orang-orang yang ia cintai. Ingin melihat David sembuh dan ingin melihatnya menikah dengan orang yang ia cintai. Dan yang paling utama adalah ia masih ingin membesarkan anaknya bersama dengan istrinya tercinta.
Ya, kejadian yang di alami oleh David dan kejadian barusan membuat Alex lebih menghargai dan menyayangi nyawanya.
Alex bersyukur dirinya masih bisa selamat dan tidak melukai orang yang menyebrang tadi.
🌼🌼🌼
Alex masuk ke ruang perawatan Anes, di lihatnya Anes sedang tertidur mungkin karena efek obat yang di berikan oleh dokter.
Alex menarik kursi lalu duduk di samping ranjang tempat istrinya tidur.
Alex membelai rambut Anes. Di pandanginya wajah ayu sang istri yang terlihat masih bengkak di area matanya.
Alex tidak bisa membayangkan bagaimana jika tusukan pisau itu mengenai perut Anes, bukan hanya Anesnya gambar akan terluka tapi kemungkinan besar janin yang ada dalam perut Anes juga akan menjadi korban. Karena memang itu tujuan Rania, melenyapkan Anes dan juga anaknya.
Tanpa terasa air setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Alex. David dan Anes adalah orang terpenting dalam hidupnya kini. Dalam hatinya, Alex benar-benar tidak siap dan tidak sanggup jika David tiba-tiba meninggalkannya. Selama ini, ia sangat bergantung kepada laki-laki yang sangat berdedikasi tinggi tersebut.
Air mata yang jatuh menimpa tangan Anes, membuatnya mengerjapkan matanya.
"Mas,," panggil Anes lirih. Dengan cepat Alex menepis air matanya.
"Eh sayang, udah bangun?" ucap Alex menampakkan senyum di bibirnya.
"Iya, mas nangis ya?"
"Enggak kok sayang, ini bukan air mata," jawab Alex.
__ADS_1
"Terus?"
"Air liur mas sayang, maaf ya,"
"Ih mas jijik deh," sahut Anes sambil mengelap-elapkan tangannya di baju Alex.
"Kening mas terluka? Apa yang terjadi?" tanya Anes khawatir melihat kening Alex yang terluka.
"Owh ini, cuma luka kecil sayang, tadi nggak sengaja kebentur setir mobil," jawab Alex sambil menyentuh lukanya.
Anes langsung memanggil perawat untuk meminta membalut luka Alex.
"Biar istri saya saja sus yang membalutnya, Aya alergi kalau di sentuh perempuan lain," ucap Alex. Suster yang mendengar ucapan Alex hanya tersenyum simpul sambil mengernyitkan dahinya.
"Tidak usah dengerin dia sus, sini biar saya saja yang mengobati lukanya, suster boleh pergi," ucap Anes.
"Baiklah kalau begitu tuan, nyonya saya permisi," pamit suster sekilas ia melirik ke arah Alex.
"Tampan, tapi sayang tidak tersentuh," batin suster tersebut sebelum akhirnya melangkahkan kakinya pergi.
"Mas apaan sih, jangan begitu, bilang alergi segala," Anes membersihkan luka di kening Alex.
"Aw! pekik Alex.
"Mas nggak mau di sentuh wanita lain sayang selain kamu," lanjut Alex
"Jangan lebay deh," ucap Anes sambil memasangkan plester di kening Alex.
"Mereka tadi bilang mau melihat pak David di ruang ICU, dan langsung pulang, di sini juga mau ngapain kan? aku juga baik-baik saja, cuma suami aku yang belum ngijinin aku keluar, kayak tahanan aja, padahal cuma mau jenguk panjang David aja nggak boleh," sindir Anes. Tiba-tiba ia menjadi kesal sendiri kepada Alex.
"Oh, Amel bagiamana? Tadi dia mau makan kan?" Alex mengalihkan pembicaraan.
Anes mendengus kesal, sebenarnya ia sudah tidak sabar menjenguk David, tapi Alex masih belum mengijinkannya.
"Hem," jawab Anes singkat.
"Terus istri mas sendiri udah makan siang belum? Ini udah waktunya makan siang loh,"
"Hem,"
"Sayang..."
"Hem,"
"Mas ganteng kan?"
"Hem,"
"Anes jelek ya?"
__ADS_1
"Hem,.. eh" langsung nabok lengan sang suami.
"Oke baiklah nanti mas ajak kamu jenguk David,"
"Hem," Sahut Anes yang masih belum menyimak ucapan Alex.
"Ham hem ham hem, berati nggak mau jenguk David?" goda Alex.
"Hem,"
"Eh mau!" seru Anes.
"Tapi dengan satu syarat,"
"Nggak jadi, kalau nggak boleh bilang aja, pakai syarat segala," ketus Anes.
"Mau tidak?"
"Apa?"
"Kamu harus janji, nanti begitu melihat kondisi David di sana, kamu tidak oleh menyalahkan diri kamu sendiri. Kamu tidak boleh down apalagi merutuki diri kamu sendiri," Alex mewanti-wanti Anes, karena ia tahu, selembut apa hati istrinya tersebut. Anes pasti akan shock melihat keadaan David yang sangat lemah, terbaring di ranjang pesakitan dengan alat-alat yang menempel di badannya. Dan yang pasti Anes akan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang mengakibatkan David seperti sekarang ini.
"Demi David, demi Amel, demi mas dan demi anak kita, kamu harus kuat nanti," lanjut Alex.
"Iya, aku janji," sahut Anes.
Mereka pun mengobrol, Alex menceritakan dari mana dirinya tadi sampai pergi tidak pamit hanya mengirim pesan lewat sang mama.
"Kenapa ada manusia seperti Rania di dunia ini mas, benar-benar jahat, tega melakukan itu semua dengan mengatasnamakan cinta sebagai alasan," ucap Anes setelah mendengar cerita Alex.
"Dunia memang begitu sayang, beragam jenis manusia hidup di dunia ini, dan seperti Rania salah satu contohnya. Mungkin di luar sana masih banyak Rania-Rania yang lain, hanya saja yang kita hadapi Rania mantan mas. Hah bahkan mas sendiri tidak sudi menyebutnya sebagai mantan," sahut Alex.
"Kasihan kamu mas, tidak punya mantan terindah,"
"Tidak ada namanya mantan terindah sayang, semua mantan pasti meninggalkan bekas luka, kalau terindah tidak akan jadi mantan," timpal Alex.
"Ada mas, buktinya mantanku terindah, mantan pacarku yang kini jadi suamiku, kan setatusnya jadi suami bukan pacar lagi,"
"Mas bukan mantan kamu sayang, kita tidak pernah pacaran sebelumnya,"
"Ah iya, aku lupa!" Anes menepuk jidatnya sendiri.
Alex yang mendengar ucapan Anes menjadi gemas, ia meraih kepala Anes ke dalam pelukannya.
"Mas upayakan buat kesembuhan pak David ya mas," ucap Anes sembari membuat garis abstrak di dada Alex.
"Pasti sayang," janji Alex.
🌼🌼🌼
__ADS_1
💠jangan lupa like n votenya, marilah saling menguntungkan dengan simbiosis mutualisme. O ya, ada yang mau gabung grup chat author tidak? bisa sharing dan saling berbagi pengalaman di sana, dan juga bagi yang mau promo novel di lapak author, monggo silahkan.. untuk visual David, jujur sampai detik ini author belum menemukan yang cocok, kalau ada saran, menurut kalian siapa yang cocok sebagai visual David bisa bisik-bisik ke author ya sayang. Salam hangat author❤️❤️💠