MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
Chapter 234 (End)


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, David langsung menuju ke resepsionis untuk menanyakan keberadaan Anes. Resepsionis menjawab kalau Anes sudah masuk ke dalam ruangan bersalin. Tanpa aba-aba lagi, Alex langsung berlari menuju ke ruangan yang di maksud dan di susul oleh David dan Amel.


Di luar ruangan, terlihat pak Hari dan bi Ina.


"Cepat lah masuk, Anes membutuhkan kamu," ucap pak Hari, ketika Alex menyalaminya.


Alex langsung membuka pintu dan masuk, di lihatnya Anes tengah memiringkan badannya ke kiri, berharap proses pembukaanya akan semakin cepat. Bu Ratna tampak sedang mengelus-elus punggung Anes.


Mendengar ada yang datang, Anes langsung menoleh.


"Sayang maafkan mas, karena mas lama pulangnya," ucap Alex. Di raihnya tangan Anes lalau dikecupnya dengan lembut punggung tangan istrinya tersebut.


"Enggak apa-apa mas, yang penting sekarang mas udah ada di sini," balas Anes sambil tersenyum.


Karena Alex sudah datang, bu Ratna pamit keluar, karena dokter hanya memperbolehkan Alex yang berada di dalam ruangan tersebut untuk menemani Anes.


"Apa sakit sekali sayang?" tanya Ales ketika melihat Anes meringis menahan sakit ketika kontraksi, padahal ia sendiri juga merasakan sakit itu, tapi demi sang istri ia mengabaikan rasa sakit itu.


Anes tersenyum, ia melihat jelas guratan kekhawatiran di wajah suaminya tersebut.


" Enggak mas, mas nggak usah khawatir, berdoa aja yang terbaik," ucapnya.


Alex terus mengelus-elus punggung Anes. Sambil menunggu bertambahnya pembukaan.


Delapan jam sudah berlalu, Anes semakin sering merasakan sakit. Namun, pembukaannya belum juga bertambah dari yang sebelumnya pembukaan dua.


Setelah menunggu kurang lebih 14 jam, baby el belum juga mau lahir, masih pembukaan empat. Akhirnya Anes disuntik epidural untuk mengurangi rasa sakitnya.


Alex yang merasa sudah kehilangan tenaga karena mulas yang ia rasakan di tambah lagi melihat istrinya kesakitan terus berusaha kuat demi istri dan calon anaknya.


Semua yang menunggu di luar ruangan pun ikut cemas dan khawatir.


Dokter memberi dosis epidural sampai empat kali namun tidak di lanjutkan karena kondisi Anes yang mual dan muntah.


Tentu saja Alex semakin kehilangan akal sehatnya, melihat istrinya berjuang antara hidup dan mati seperti itu. Kalau saja ia bisa menggantikan posisi Anes, sudah pasti ia lakukan. Ia hanya bisa terus berdoa dan berdoa, sambil sesekali mengajak anaknya bicara supaya cepat lahir.


"Nak, daddy sama mommy sudah sangat merindukan kehadiran kamu sayang, cepatlah temui kami, jangan biarkan momy kesakitan lebih lama lagi," ucap Alex, tanpa terasa air matanya keluar begitu saja dari sudut matanya, dan langsung ia seka dengan tangannya. Dalam keadaan seperti ini, ia tak ingin kelihatan lemah di mata Anes, tapi justru ia harus menjadi penguat buat Anes yang sama sekali tidak mengeluh atas rasa sakitnya.


25 jam sudah berlalu,...


"Mas," panggil Anes lirih, meski tak mengeluh, tapi telihat jelas rasa sakit yang ia rasakan.


"Iya sayang, mas di sini, kamu harus kuat demi anak kita, demi mas juga," ucap Alex sambil terus memegang tangan Anes.


"Sakit! aku udah nggak kuat mas," akhirnya kata itu keluar dari bibir Anes, ia merasa sudah sangat lelah dan tidak kuat lagi.


"Tidak, kamu harus kuat, kamu pasti bisa sayang, kamu pasti bisa," hati Alex semakin tak karuan rasanya. Ada rasa takut kehilangan yang tak bisa ia utarakan.


"Dokter bagaimana ini? Apa tidak ada cara supaya istri saya cepat melahirkan, kenapa sampai sekarang belum juga lahir anak saya," tanya Alex cemas.


Dokter mengatakan kalau mereka akan melakukan operasi cesar pada Anes. Mendengarnya, Alex langsung bereaksi.


"Kalau memang pada akhirnya harus operasi, kenapa harus menyiksa istri saya dulu dok? Kenapa tidak dari awal saja kalian mengoperasinya? Setidaknya itu tidak akan membuat istri saya kesakitan terlalu lama!" ucap Alex dengan nada tinggi.


"Maaf tuan, Nyonya muda sendiri yang menginginkan untuk melahirkan secara normal apapun yang terjadi, ketika beliau masuk ke rumah sakit ini kemarin. Tapi mengingat kondisinya sekarang, operasi adalah jalan satu-satunya yang harus kami ambil," jelas dokter.


Alex pun hanya bisa pasrah, ia juga sudah kehabisan tenaga rasanya untuk mendebat dokter tersebut. Dia hanya ingin anak dan istrinya selamat.


๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ


Dokter bersiap menyuntik punggung Anes. Dan setelah setengah badan Anes mati rasa, dokter mulai melakukan operasi.


Alex tetap setia menemani Anes di ruang operasi, meskipun dia takut melihat darah. Diabtidk berani melihat ke arah perut Anes yang tengah di bedah oleh dokter.


Penantian dan perjuangan panjang Anes dan Alex pun akhirnya terbalaskan dengan suara tangisan sang buah hati yang baru saja di lahirkan melalui operadi secar tersebut.


Perasaan lega dan haru menyelimuti keduanya. Tak henti-hentinya Alex menciumi wajah Anes karena bahagia.


"Terima kasih sayang, kamu sudah berjuang, terima kasih sudah melahirkan seorang pangeran buat mas," ucap Alex mengecup kening Anes.


"Iya mas, terima kasih sudah menemaniku, meskipun aku tahu itu juga sulit buat mas. Terima kasih karena sudah menjadi penguat untukku," balas Anes.


Keduanya pun tak kuasa menahan tangis bahagia.


Beberaa saat kemudian, setelah di periksa dan di bersihkan, baby El di letakkan di dada Anes untuk Inisiasi menyusui dini. Sementara dokter masih menyelesaikan prosedur operasi.


Anes mendekap bayi mungil itu dengan mata berkaca-kaca. Pun dengan Alex yang tampak sangat bahagia melihat bayinya lahir dengan selamat.


Baby El bergerak aktif untuk mencari sumber asinya. Alex yang melihatnya sangat gemas.


"Itu sayang sebelah situ, ih mau daddy bantu?" ucap Alex gemas.


"Jangan tuan, biar dia mencari sendiri, biar interaksi antara nyonya muda dengan tuan muda kecil berjalan secara alami," cegah perawat.


Alex mencebik dan kembali diam, ia hanya menyaksikan tingkah menggemaskan sang anak di dada Anes.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Kini Anes dan juga bayinya sudah berada di ruang perawatan. Ruangan tersebut ramai karena para sahabat Alex, datang berkunjung. Mereka ingin melihat copian dari Sultan Parvis tersebut.

__ADS_1


"Bagaiamana? Ganteng kan seperti daddynya?" ucap Alex bangga ketika Juna dan lainnya melihat baby El untuk pertama kali.


"Gantengan dia bro, soalnya udah ada campuran Anesnya," jawab Juna.


"Eh ngomong-ngomong, siapa nama baby tampan ini nes?" tanya Evelyn yang juga berada di sana.


"Baby El," jawab Anes.


"El doang? Pelit amat ngasih nama anak lex," ledek Bryan.


"Erlangga Abraham Parvis," Balas Alex.


"Kalian bisa memanggilnya Elang," imbuhnya.


"Welcome to the world baby El," ucap Evelyn menyentuh pipi baby El gemas.


"Halo baby El sayangnya onty. Ih menggemaskan sekali sih Elang. Dave, mau satu kayak gini," ucap Amel yang mengalihkan pandangan dari bayi bernama Elang tersebut kepada David dengan manjanya.


"Iya, nanti kita buat lagi sampai berhasil," jawab David sambil menatap gemas kepada ada baby El.


"Hajar Dave, gaspoll terus, jangan kasih kendor," celetuk Alex.


"Siap bos," balas David.


"Eh im, nggak pengen tuh? Cepat halalin makanya, jangan cuma di jadikna tunangan doang, jadiin istri dan ibu dari anak-anak kamu juga," ucap Alex sambil menunjuk anaknya yang terlelap di dalam box bayi.


"Iya im, nikah tuh enak tahu!" imbuh Juna.


"Akunya udah ngebet tapi dianya masih belum mau, gimana dong. Mau selesain kuliahnya dulu, baru mau aku halalin," jawab Baim.


"Hadeh, lagian nyari yang masih bocah,"ledek Juna.


" Namanya juga cinta Jun, Nggak masalah nunggu satu atau dua tahun lagi,"


"Ya ya ya, selamat menunggu tuan, nanti jangan iri kalau melihat kita-kita punya baby duluan nyusul Alex," ucap Bryan.


"Tenang, nanti kalau udh halal, aku susul kalian langsung gaspol deh, kalau perlu aku salip nanti," balas Baim.


Merekapun terus mengobrol sambil sesekali di selingi dengan candaan yang membuat ruang perawatan tersebut semakin ramai, sebelum akhirnya para pasukan geng gesreknya pada membubarkan diri satu persatu dan suasana kamar perawatan kembali hening, hanya suara tangis dari baby El yang memenuhi ruangan tersebut.


"Sayang baby El nangis tuh, tolong gendong bawa sini dong, mungkin dia lapar," ucp Anes.


Dengan pelan-pelan dan masih kaku Alex berusaha menggendong baby El untuk di berikan kepada Anes.


Melihat baby El begitu kuat minum asinya membuat Alex menelan ludahnya.


" Sayang, jangan dihabisin dong, sisain sedikit buat daddy nanti, udah kamu ambil alih itu eh mau dihabisin pula" ucap Alex.


"Hehehe,"


"Oya sayang, baby El kan udah lahir, berarti udah bisa bebas dong olah raganya, ehem!"


"Siapa bilang mas, mas masih harus puasa, dan kali ini puasa total dan lama, heran deh istri baru lahiran tetap aja yang bawah yang dipikirin," jawab Anes.


"Berapa lama?" tanya Alex.


"Dua tahun," jawab Anes asal.


"Astaga, bisa mati rasa ini kalau segitu lamanya, nggak bisa di nego sayang?"


"Emang apaan di nego segala,"


"Yaudah deh nggakpapa. Mas juga masih gimana gitu, kalau ingat perjuangan kamu buat melahirkan anak kita. Tapi, kalau nanti dia lupa jalannya kamu tanggung jawab buat mengarahkannya ke jalan yang benar loh ya,"


Mendengarnya, Anes berusaha menahan tawanya. Apa suaminya sebegitu lugunya sampai mengira harus puasa beneran selama dua tahun.


" Kok malah gitu sih, mas serius sayang," ucap Alex.


" Tolong gendong dan letakkan baby El ke box lagi dong mas, "pinta Anes setelah baby El kembali tidur. Alex melakukan perintah Anes dn kembali duduk di samping istrinya.


" Aku cuma bercanda tadi mas, paling lama juga dua bulan nanti udah bisa," jelas Anes.


" Beneran? Yah walaupun dua bulan juga lama sih, tapi mendinglah daripada dua tahun. sabar ya tong, baik-baik di sana, tunggu sampai waktunya berbuka puasa tiba. Ntar boleh dah minta menu apapun saat berbuka," ucap Alex melihat ke bawah.


Anes tak kuasa menahan tawanya mendengar ucapan Alex. Di satu sisi ia merasa lucu tapi, disisi lain ia juga merasa kasihan kepada suaminya tersebut.


" Eh lihat deh baby El mas, manisnya. Mirip banget sama kamu mas," Anes mengalihkan pembicaraan.


"Iyalah aku daddynya, masa mau mirip David, mirip akulah,"


"Eleh, tahu nggak kata orang kalau wajahnya mirip daddynya berati pas buat, daddnya yang mendominasi permainan,"


"Masa sih, perasaan kamu deh yang lebih aktif," goda Alex.


"Ih mas Alex!" Anes mencubit pinggang Alex gemas, membuat Alex kegelian bukan sakit.


"Kenapa di situ sih nyubitnya, kenapa nggak ini aja," menunjuk bawahnya.


"Tahu ah, dasar mesum!" anes mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Hehehe becnda kali sayang, iya iya, mas yang suka mendominasi, mas yang suka aktif pokonya semua mas, kamu kebanyakan pasrah dan menerima. Mas yang nggak bisa ngontrol diri. Jangan manyun lagi, ntar mas kuncir loh mulutnya pakai karet bekas buat tali minyak tanah, sini peluk!" Alex langsung mendekap sang istri ke dalam pelukannya.


" Ehem! Pa, kita pulang aja yuk, di sini silau, ada dua sejoli yang sedang berkilau auranya, "ucap bu Ratna yang baru saja masuk bersama pak Hari.


" Ih mama apaan sih, beneran mau pulang? Yaudah sana, nggak mau lihat cucu kesayangannya nih?" ucap Anes yang langsung melepas pelukan suaminya.


" Iya, iya, kalian lanjutkan aja. Anggap kami nggak di sini, kita main sama cucu kita aja yuk pa," bu Ratna langsung mendekati box bayi dan menggendong baby El.


" Hem cucu oma, gantengnya oma, baru ditinggal pulang berapa jam, udah ngangenin aja sih. Ntar kita pulangnya ke rumah oma aja ya,"


" Eh ya jangan dong ma, kalau baby El pulang kerumah mama, kita gimana dong?" protes Anes.


"Ya buat lagi," jawab bu Ratna enteng.


"Tidak semudah itu ma, Alex masih harus puasa ini, lagian Alex masih takut kalau ingat kemarin Anes saat kesakitan, meskipun dia nggak banyak ngeluh tapi Alex tahu betapa dia menahan sakitnya ma, sampai dia lemas kehabisan tenaga, alex sudah kebayg yang enggak-enggak," protes Alex.


"Sekarang tahu kan, gimana perjuangan seorang istri untuk melahirkan, untuk menjadi seorang ibu. Makanya pesan mama, jangan pernah sakitin hati istri kamu, sayangi dan hargai dia, langgeng dan harmonis sampai tua," pesan Bu Ratna.


"Seperti papa sama mama, ya kan ma?" imbuh Pak Hari.


"Iya, ma, pa. Alex janji kedepannya akan mencintai dan memperlakukan Anak dan istri Alex dengan lebih baik lagi," ujar Alex.


๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ


Dua bulan kemudian....


Setelah kelahirna baby El, kediaman Parvis menjadi lebih berwarna dan penuh kebahagiaan.


Anes dengan telaten mengurus baby El tanpa bantuan baby sitter, ia ingin merawat baby El dengan tangannya sendiri.


Alex juga menjadi ayah siaga buat baby El. Di sela-sela kesibukkannya di kantor, ia tetap membantu Anes mengurusi baby El, ia selalu menemani Anes bergadang malam harinya, bahkan terkadang ia sampai ketiduran di kantor keesokan harinya. Namun, ia dan Anes sangat menikmati peran baru mereka sebagai orang tua untuk baby El.


Baby El menjadi obat penghilang lelah buat Alex. Selelah apapun dia, kalau sudah sampai rumah dan melihat sang buah hati, semua rasa lelah itu lenyap begitu saja dan beganti bahagia.


Malam ini, semua teman dan para sahabat Alex dan Anes sedang bekumpul di taman belakang kediaman Parvis, mereka mengadakan pesta barbeque di sana.


Hanya Bryan yang tidak tampak batang hidungnya karena istrinya baru saja melahirkan, sehingga ia juga sedang menjadi ayah siaga seperti Alex.


Kebahagiaan juga tengah menyelimuti pasangan David dan Amel, karena kini Amel tengah hamil enam minggu. Sementara Juna dan Evelyn masih harus lebih bersabar lagi, karena belum ada tanda-tanda adanya janin kandungannya.


Baim sendiri tetap masih menyandang setatus sebagai tunangan, dan belum naik level menjadi seorang suami karena ini baru dua bulan, belum dua tahun.


Setelah baby El terlelap, Anes menidurkannya ke dalam box bayi. Ia titipkan baby El kepada bu Ratna yang kebetulan malam itu akan menginap di rumah Alex dan Anes.


Anes mngehampiri Alex yang tengah asyik berbincang-bincang dengan David dan yang lainnya.


Anes menyapa para sahabatnya lalu membungkuk dan berbisik tepat di telinga Alex.


"Beneran sayang? Udah bisa?" Alex menoleh dan menatap Anes dengan raut wajah bahagia dan penuh harap.


Anes hanya mengangguk dan tersenyum untuk meyakinkan suaminya.


Alex langsung berdiri dan menarik tangan Anes.


"Yaudah ayuk sekarang aja, mumpung baby El bobok!" ucap Alex penuh semangat.


"Mau kemana woi! acaranya belum selesai!" tanya Juna berteriak.


"Buka puasa!" jawab Alex tanpa menoleh dan terus melanjutkan langkahnya.


"Bener-bener nggak ada akhlak emang, teman masih ada di sini, malah di tinggal ngamar," seru juna.


"Selamat berbuka puasa dengan yang manis-manis bos. Jangan lupa berdoa sebelum berbuka!" teriak David.


"Semoga lancar bro!" imbuh Baim, dan Alex hanya melambaikan tangannya untuk menanggapi teriakan-tetiakan para sahabatnya.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


"Sayang, terima kasih untuk semuanya. Terima kasih karena udah hadir dalam hidup mas, terima kasih karena telah menjadi bagian dari hidup mas, terima kasih karena sudah melahirkan seorang pangeran yang begitu menggemaskan dan tampan. Terima kasih sudah memberikan mas keluarga yang sesungguhnya, keluarga yang utuh, dan terima kasih untuk cinta dan ketulusan kamu buat mas, " ucap Alex setelah ia dan Anes melakukan olahraga untuk pertama kali setelah kelahiran baby El.


" Iya mas, aku bahagia menajdi bagian dari hidup mas, aku bahagia menjadi istri mas Alex. bersyukur punya suami kamu mas, terima kasih kepada kakek yang telah menjodohkan kita," sahut Anes, yang kini masih berada dalam dekapan Alex dan sedang membuat pola hati di dada bidang suaminya tersebu.


"Percayalah, tanpa wasiat dari kakek, kamu tetap akan menjadi istri mas, itu tekad mas dari awal. Tuhan sudah mentakdirkan kita hidup bersama. Tapi, karena wasiat itu, membuat langkah mas menjadikan kamu salah satu dari dua orang y paling berharga dalam hidup mas menjadi semakin mudah,"


"Kok salah satu?"


"Karena sekarang ada baby El, jadi kalian berdualah kehidupan mas, sumber kebahagian mas, kalian adala hidup mas. David nomor tiga" jelas Alex.


"Hemm, i love you, i love you and love you more!" Anes semakin mengeratkan pelukannya.


"I love you more and more!" Alex mencium. Kening Anes dengan lembut.


๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ


ย 


๐Ÿ’žTAMAT๐Ÿ’ž


ย 

__ADS_1



__ADS_2