MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 184


__ADS_3

David kehilangan jejak mobil yang di kemudikan oleh sopir pribadi Aldo karena terjebak lampu merah.


"Ah sial!" umpat David memukul setir mobilnya sendiri.


David terus mencari keberadaan Amel dan Aldo. Dia tidak akan merasa tenang sebelum menemukan mereka. Namun, bukan David namanya jika tidak bisa menemukan dimana Amel dan Aldo berada.


Tak butuh waktu lama, David menemukan restoran tempat dimana Amel dan Aldo makan siang.


"Itu mereka," gumam David. Kemudian, ia memilih tempat duduk yang cukup strategis untuk memantau kedua orang yang sedang duduk berhadapan tersebut.


David menggunakan list menu untuk menutupi wajahnya supaya tidak ketahuan, membuat pelayan restauran yang melihay kebingungan.


"Tu tuan, maaf Anda ingin pesan apa?" tanya pelayan yang membawa note blok kecil serta bolpoin di tangannya dengan ramah.


David sedikit menurunkan list menu book dari wajahnya, melihat ke arah pelayan sekilas.


"Apa yang mereka pesan?" tanya David menunjuk ke arah Amel dan Aldo.


"Aku tanya dia mau pesan apa, tapi kenapa dia malah tanya apa pesanan orang yang ada di sana?" batin pelayan heran.


"Tidak bisa jawab?" tanya David dingin.


"Anu tuan, mereka pesan xxxxx," jawab pelayan.


"Ya udah, saya pesan itu juga," ucap David tanpa berpikir.


"Semua tuan?" seakan tak percaya.


"Kenapa?" menatap sinis ke arah pelayan.


"Apa tuan yakin bisa menghabiskan makanan sebanyak itu, mengingat Tuan sendirian datang ke sini, nanti takutnya mubazir," ucap pelayan dengan hati-hati.


"Kamu mau bilang kalau aku jomblo dan tidak punya pasangan begitu?" sarkas David.


"Ti, tidak tuan bukan itu maksud saya," jawab pelayan gugup.


"Aih kenapa orang ini baperan sih, ada masalah hidup apa sampai segitunya, aku ngomong apa dia nanggepinnya apa," batin pelayan.


"Mau mubazir atau tidak itu urusan saya, seharusnya kalian senang saya pesan makanan banyak. Yang penting kan saya bayar, cepat pergi dan antarkan pesanan saya!" ucap David dengan nada pelan tapi tetap penuh penekanan dan arogan.


"Baik tuan," pelayan itu pun pergi.


David kembali fokus untuk mengamati Amel dan Aldo. Dia meradang setiap kali melihat Amel tertawa lepas karena laki-laki bernama Aldo tersebut.


"Dia bisa tertawa selepas itu hanya karena laki-laki tidak jelas itu? Sebenarnya laki-laki itu siapa? Dan ada hubungan apa di antara mereka?" gumam David dalam hati.


David jadi kepikiran dengan perkataan Juna, bisa saja Amel lelah menunggunya dan akan berpaling, menyandarkan hatinya kepada laki-laki yang bisa membuatnya tersenyum. Tidak seperti dia yang selalu cuek.

__ADS_1


Pelayan datang ke meja David, mengantarkan pesanannya. David melongo melihat apa yang tersaji di depannya sekarang.


"Apa ini?" tanyanya pada pelayan.


"Ini pesanan Tuan, Tuan yang memesan ini semua," jawab pelayan.


"Iya, tapi makanan apa ini?" David memandangi seluruh pesanannya, tidak ada yang masuk dalam daftar makanan yang ia kenal, semua terlihat asing baginya.


"Ini semua makanan ala-ala Korea Tuan. Kalau begitu saya permisi Tuan, silahkan dinikmati," pamit pelayan.


"Tunggu!"


"Ya tuan?" menoleh.


"Apa tidak ada menu makan lainnya di sini?" tanya David.


"Ini restoran khas Korea Tuan, menunya ya yang berbau Korea semua Tuan, apa ada masalah Tuan?"


"Ya sudah pergilah!" perintah David acuh.


David mengusap wajahnya kasar, ia merutuki kebodohannya. Hanya karena merasa cemburu, dia mengikuti apa yang mereka pesan. Itu konyol!


"Mereka memesan sebanyak ini? Apa tidak enek, ah Amel kan paling suka yang berbau-bau Korea," gumam David. Tanpa ia sadari ia sudah mengingat sedikit tentang Amel, tentang apa yang wanita itu sukai.


"Tunggu! Amel suka Korea? Dari mana aku tahu?" batinnya mulai menerka-nerka.


"Ah ini ada ramen, setidaknya aku bisa makan ini, waktu itu Amel pernah membuatkannya untukku," gumamnya lagi. Lagi-lagi ia tercengang, bagaimana bisa ia ingat kejadian waktu Amel ke rumahnya dan membuatkan ramen?.


"Sial!" umpatnya lumayan keras.


Tanpa David sadari, Amel dan Aldo mendengar umpatan David barusan. Amel yang tidak asing dengan suara umpatan tersebut menoleh ke arah David, namun ia tidak melihatnya dengan jelas, karena David langsung menutupi wajahnya menggunakan list menu book lagi.


Berbeda dengan Aldo yang dari tadi melihat tingkah aneh David, dia terus memperhatikan David karena posisi duduknya bisa melihat jelas ke arah David.


Aldo tersenyum simpul, lalu menjentikkan jarinya kepada Amel, supaya Amel mendekatkan wajahnya ke arah Aldo.


"Ada apa?" tanya Amel.


"Ssssat, sepertinya itu pacarmu, dia mengikuti kita ke sini," bisik Aldo sambil melirik kan matanya ke arah David.


"Mana mungkin?" Amel tidak percaya.


"Kita buktikan saja, laki-laki di balik list menu itu pacarmu atau bukan?" Aldo mendongakkan kepalanya ke arah David.


"Caranya?"


Aldo menyodorkan makanannya kepada Amel. Awalnya Amel menolak, sungguh dia risih dengan kelakuan Aldo.

__ADS_1


"Cepat buka mulutmu, biar pacar kamu semakin panas," ucap Aldo.


Amel menurut, ia menerima suapan dari Aldo dan gantian dia yang menyuapi Aldo. Ada sisa makanan di sudut bibir Amel, dengan sengaja Aldo membersihkannya menggunakan tangannya.


"Aldo jangan kurang ajar dong, kita kan cuma teman," bisik Amel kesal.


"Biar lebih menghayati Mel, hehe tenang aja, tidak ada maksud apa-apa," jawab Aldo santai.


Mereka mengobrol santai kembali dengan di bumbui candaan-candaan receh.


David semakin meradang melihat kedekatan Amel dan Aldo.


"Baru beberapa hari yang lalu dia selalu menempel padaku dan bilang kalau aku kekasihnya, tapi sekarang? Dia sudah bermesraan dengan laki-laki itu," kesal David tanpa mengalihkan pandangan tajamnya ke arah mereka.


"Apa aku jatuh cinta kepada Amel? Apa sebelumnya aku juga begini?" tanyanya dalam hati. Tiba-tiba ingatan tentang Amel sedikit muncul.


"Mulai sekarang kamu pacarku, aku tidak butuh persetujuanmu, saya akan mengantar pacar saya pulang bos," kata-kata itu terlintas dalam pikirannya. Kepala David menjadi sedikit pusing.


"Mel sepertinya anting kamu mau lepas," Aldo menunjuk ke arah telinga Amel.


Amel meraba telinganya, mencoba untuk membenarkan antingnya tapi antingnya malah lepas dan jatuh ke bawah meja.


Refleks, Aldo dan Amel membungkuk ke bawah meja untuk mencari anting Amel.


David yang melihatnya, berpikir mereka berdua akan macam-macam di bawah meja, minimal berciumanlah menurut David.


David langsung ambil langkah seribu berjalan menuju ke meja Amel dan Aldo. Dia menarik baju Aldo dan..


"Bug! bug!" David memukul wajah Aldo.


"David! apa yang kamu lakukan?" teriak Amel.


"Aku mau kasih pelajaran kepada laki-laki br*ngs*k ini, dia berani mau kurang ajar sama kamu dan kamu mau meladeninya? kamu sendiri yang bilang kalau aku pacar kamu. Belum ada kata putus di antara kita, tapi kamu sudah jelang dan bermesraan dengan laki-laki lain," ucap David tanpa merasa bersalah karena telah memukul Aldo hingga sudut bibirnya berdarah.


"Kamu yang br*ngs*k Dave! Aku dan dia cuma teman!" kesal Amel.


Aldo hanya tersenyum smirk sambil mengusap sudut bibirnya menggunakan jempolnya.


"Buk! buk!" Aldo membalas pukulan David.


"Aldo sudah cukup! kalau kalian masih mau terus saling memukul aku pergi!" Amel mengambil tasnya lalu membalik badannya untuk pergi.


Namun, David segera memegang pergelangan tangan Amel dan menariknya keluar dari restoran.


"Lepaskan Dave! aku bisa jalan sendiri!" David tak menghiraukannya. Ia terus menarik tangan Amel. Rasa cemburunya sudah memuncak.


"Lain kali, kalau bertemu lagi jangan maen pukul woi!! Atau aku akan tuntut kamu, Aku artis kau tahu itu? Hah memangnya kamu siapa, main pukul aja. Kalau aku ada waktu kita bisa makan bareng lagi Mel, kita tetap teman, jangan lupa hubungi aku, kalau laki-laki itu menyakiti kamu lagi!" Teriak Aldo yang masih memegangi wajahnya yang bonyok.

__ADS_1


"Aih, mukaku yang ganteng, kampret memang, aku rela bonyok begini, karena perempuan yang baru aku kenal? Apa aku terlalu baik atau terlalu bodoh jadi orang. Bisa gawat kalau ada wartawan tahu, oh mukaku yang mulus, ini aset ku, aku tidak harus operasi plastik kan setelah ini?" gumam Aldo.


🌼🌼🌼


__ADS_2