
Semakin hari, hubungan Alex dan Anes semakin mesra. Bahkan, hubungan mereka sudah menjadi rahasia umum. Gosip tentang Anes sebagai penggoda pun semakin panas. Mereka hanya tahu kedekatan Anes dan Alex, tapi masih belum tahu setatus hubungan mereka yang sebenarnya.
Seperti biasa, Alex dan Anes berangkat ke kantor bersama. Baru juga memasuki kantor, Anes sudah di suguhkan dengan tatapan-tatapan benci dari para karyawan, khususnya karyawan perempuan. Tapi, mereka tidak berani secara terang-terangan menuduh Anes, karena mereka takut kalau sampai Alex maupun David mengetahuinya. Maka, menjadi pengangguran adalah taruhannya.
"Aku udah jengah dengan omongan mereka yang setiap hari hanya menuduhku sebagai orang ketiga. Sekarang sepertinya aku harus meluruskan berita tersebut sebelum mas Alex mendengarnya," batin Anes.
"Mas, mas duluan aja ya naiknya, aku mau ketemu Amel dulu sebentar. Ada yang mau aku omongin sama dia," Anes mencari alasan agar Alex mau ke ruangannya terlebih dahulu. Iya bicara sangat pelan agar tidak ada yang mendengar.
"Baiklah," sahut Alex sambil tersenyum.
Sebenarnya, bukannya Alex tidak mengetahui gosip-gosip yang beredar. Namun, dia masih diam saja selama Anes masih baik-baik saja dan tidak peduli dengan gosip tersebut. Karena, merahasiakan pernikahan mereka adalah keinginan Anes sendiri. Alex hanya bisa menurutinya karena dia mencintai Anes, dan menunggu sampai Anes sendiri yang berkeinginan untuk mengungkapkan pernikahan mereka.
Ketika Alex sudah memasuki lift menuju ke ruangannya, Anes berjalan kearah kerumunan yang sedang membicarakannya.
"Wah, ini dia si ****** yang sukanya menggoda suami orang!" ucap Siska dengan berani.
"Siska, tolong jaga ucapan kamu, jangan asal menuduh kalau belum juga memiliki bukti!" sahut Anes dengan kesal.
"Bukti? Bukti apa? Bukti seperti ini maksudnya?" ucap Vanya sambil menghampiri mereka.
Kemudian, Vanya memperlihatkan ponselnya. Di sana, ada sebuah photo yang menunjukkan kalau Anes hendak mencium Alex di dalam mobilnya.
"Ya ampun! kenapa dia bisa punya photo kayak gitu sih?
__ADS_1
"Sekarang kurang bukti apalagi hah? ini udah jelas membuktikan kalau kamu benar-benar ada hubungan dengan pak Alex. Padahal jelas-jelas pak Alex sudah menikah." Vanya sedikit berteriak.
"Wah, ternyata benar kan dugaan kita selama ini. Ih dasar pelakor! Kelihatannya aja wanita baik-baik, kuliah sampai luar negeri dapat beasiswa, ternyata kelakuan udah kayak ******," cibir Siska.
"Siapa yang ******? Kalian kalau ngomong di saring dulu kenapa? hati-hati ucapan bisa jadi Boomerang buat diri kita sendiri!" Amel yang baru saja datang langsung nimbrung dan turut bersuara.
"Cih! ada pahlawan kesiangan rupanya," sindir Vanya.
Amel hanya melirik sinis kepada Vanya.
"Anes kamu nggakpapa?" Tanya Amel kepada Anes.
"Aku nggakpapa Mel, biar aku jelasin kepada mereka yang sebenarnya, mungkin sekarang saatnya mereka tahu," ucap Anes. Amel mengangguk dan tidak bicara lagi.
"Aku sudah tidak peduli lagi kali mereka tahu pernikahanku sama mas Alex. Toh, aku juga udah mendapatkan dukungan cinta dari mas Alex. Aku nggak perlu takut lagi dengan para fansgirlnya ini "
"Hah, masih saja mau cari alasan, kenapa? Malu ketahuan memiliki hubungan terlarang dengan Presdir hem?," Vanya memotong ucapan Anes.
"Kalian dengarkan penjelasanku dulu. Dan Anda nona Vanya, tolong dengarkan saya berbicara terlebih dahulu,"
"Penjelasan apa lagi? bukti ini sudah sangat jelas. Masih mau mengelak? Kasihan orang tua kamu, mendidik dan membesarkan anak hanya untuk menjadi pelajar!"
"Cukup nona Vanya! Anda bisa menghina saya sesuka hati Anda. Tapi, jangan pernah bawa-bawa kedua orang tua saya. Anda sudah melampaui batas kesabaran saya." teriak Anes tak terima orang tuanya disebut-sebut.
Vanya dan yang lainnya hanya memandang rendah Anes.
__ADS_1
"Saya tahu nona Vanya, sebenarnya Anda merasa kalah saing kan sama saya? kalau bukan saya yang menjadi pelakor, pasti Anda yang akan menjadi pelakor kan? Seandainya pak Alex mau sama Anda, pasti anda juga tidak akan menolak di jadikan ketiga bahkan mungkin di jadikan yang ke sekian. Jangan Anda kira saya tidak tahu setiap kali Anda juga berusaha menggoda pak Alex. Namun sayang, pak Alex tidak pernah meresponnya. Bahkan melirik Anda pun Beliau tidak sudi! Anda merasa kalah dari saya sehingga Anda membenci saya, iya kan? Lalu, sekarang yang munafik saya atau Anda hah? Dan juga kalian semua, pasti kalian juga tidak akan menolak kalau pak Alex mau sama kalian kan? lalu, kenapa kalian menuduh dan menghakimi aku seperti itu!" Anes benar-benar sudah tidak bisa menahan amarahnya. Sesekali ia menunjuk dan mengedarkan pandangannya ke arah karyawan lain.
"Kurang ajar sekali kamu! berani mengatainya seperti itu, dasar!" sahut Vanya kesal mendengar ucapan Anes.
"Plak," satu tamparan mendarat di pipi Anes. Sudut bibirnya sedikit berdarah. Anes menyentuh sudut bibirnya yang terluka, lalu tersenyum sinis.
"Anes!" seru Amel saat melihat sahabatnya kena tampar.
"Nona Vanya! Anda benar-benar keterlaluan!" teriak Amel.
"Diam kamu! jangan ikut campur, ini urusanku dengan wanita kurang ajar ini!" sahut Vanya.
Kini kerumunan semakin bertambah, tanpa terkecuali Ricko. Laki-laki yang sudah di tolak sebelum menyatakan cintanya secara resmi tersebut, ingin sekali menolong Anes. Namun, dia terlalu pengecut untuk melakukan hal itu. Ia hanya bisa menahan amarahnya ketika Amel di hina bahkan di tampar oleh Vanya.
"Hah, jangan Anda kira hanya karena satu tamparan Anda, membuat saya takut terhadap Anda nona Vanya. Selama ini saya diam, kalau Anda dan juga kalian mengatai saya, menghina saya, itu karena saya hanya ingin bekerja secara profesional. Saya tidak ingin ada masalah. Tapi ternyata, diamnya saya justru membuat kalian bebas bergosip di belakang. Anda tidak lebih baik dari saya nona Vanya, penggoda kok teriak penggoda!" ucap Anes dengan nada sedikit bergetar.
"Ka kamu!" Vanya semakin naik pitam.
"Kenapa nona Vanya? sekarang bagaimana tanggapan kalian kalau saya bilang saya adalah istri dari pak Alex?"
"Hah, istri kamu bilang? dasar halu!"
"Iya ya, percaya diri banget Anes bilang kayak gitu, padahal udah ketahuan, udah jelas ada bukti, eh malah mencari-cari alasan nggak masuk akal," bisik-bisik karyawan.
"Terserah kalian mau percaya atau tidak. Yang jelas di sini, yang menjadi penggoda suami orang layaknya seorang ****** adalah Anda nona Vanya bukan saya!"
__ADS_1
"Ayo Mel, pergi dari sini! Aku rasa percuma juga capek-capek menjelaskan kepada mereka, kalau yang ada dalam pikiran mereka hanya menghina dan merendahkan. Penjelasan apapun tidak akan membuat mereka menerima sebuah kenyataan." Anes menarik tangan Amel dan mengajaknya meninggalkan tempat itu.