MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
Chapter 229


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Anes langsung turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Alex pikir, Anes baru marah kepadanya, karena selama perjalanan kerumah, anes hanya diam saja.


"Sayang tunggu!" Alex buru-buru mengejar Anes ke dalam rumah.


Anes tak menghiraukannya, ia terus berjalan dengan cepat dan naik ke atas menggunakan lift. Alex ingin ikut masuk ke dalam lift, namun tidak keburu, jadi dia memilih berlari ke atas melalui tangga. Sungguh, iantak inhin Anes ngambek lagi.


Alex sampai di kamarnya tepat setelah Anes masuk. Alex mengatur napasnya yang ngap-ngapan karena berlari.


Anes hanya meliriknya sekilas, lalu buru-buru ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, Anes keluar dari kamar mandi dengan wajah penuh kelegaan.


"Sayang, marah ya sama mas? Maaf tadi mas hanya sedikit menggertak ibunya Amel, mas nggak suka dia sok-sokan nolak David, pakai diuji coba segala, emang perempuan cuma anaknya doang , banyak yang lain, yang lebih lebih dari Amel,"


Anes memicingkan matanya, ia berdecak kesal mendengar Alex bicara seperti itu, bisa-bisanya dia lemes begitu. Di depan orang begiti cool, nggak bisa dibantah, tapi di depan Anes dia membuang kejaimannya, dia bebas mengekspresikan perasaannya yang sesungguhnya tanpa harus merasa jatuh harga dirinya. Bukankah suami istri memang begitu, mereka adalah pakaian bagi pasangannya, dan itu berlaku untuk pasangan tersebut. Tahu dalam-dalamnya, jelek-jeleknya tapi tetap menutupi.


Dalam hati Anes tertawa geli, pasalnya sepanjang jalan ia diam karena menahan sesuatu yang sudah berada diujung dan memdesak untuk di keluarkan dari perutnya. Ya, dia diam karena menahan panggilan alam. Anes tajut jika dia banyak bicara dan bergerak, ia akan los kontrol dan sesuati yang mendesak tersebut akan keluar begitu saja, tentu saja ia tidak mau membaui mobil mahal suaminya.


"Jadi, dia kira aku marah gara-gara tadi? Padahal aku kebelet, eh tapi kesal juga sih sama arogannya tadi. Kerjain ah!" anes dalam hatinya.


"Dasar arogan, bar bar, itu bukan melamar tapi malak orang buat ngasih anaknya! Minta anak orang kok kayak minta permen " ucap Anes sambil menabok dan mencubit pinggang Alex.


"Nanti kalau baby el minta di lamarin perempuan dan mas masih kayak gitu, dah kabur duluan tuh calon mantu sama besan, dasar arogan, mau menang sendiri, nyebelin," Anes tetus merutuki suaminya sambil terus menabok lengan dan pingganganya.


"Terus sayang naboknya, kebawah dikit!" seru Alex ketika Anes menabok perutnya.


"Puk puk puk," Anes semakin gemas, dan saat tabgannya tanpa sengaja menabok Alex junior, tangan Anes langsung ditahan oleh tangan Alex, alhasil tabgan Anes berhenti di benda keramat milik Alex tersebut.


"Kalau yang ini jangan ditabok sayang, di elus-elus aja, kalau di tabok ntar teler lagi, kan kamu juga yang repot kalau dia nggak bisa bangun lagi, nggak bisa gagahin kamu lagi nanti," ucap Alex, sambil tangannya menggerakkan tangan Anes di area tersebut.


Paham dengan maksud Alex, Anes langsung menarik tangannya.

__ADS_1


" Dasar mesum!" umpatnya.


" Hehe, maklumlah, udah beberapa hari dia ngga dibelai sama pawangnya. Udah, jangan ngambek lagi. Besok kalau melamar calon menantu mas nggak kayak gitu, mas akan seramah mungkin, janji. Jangan ngambek ya ya ya?" mencolek-colek dagu Anes dengan genitnya.


"Udah ah, aku mau mandi lagi, gerah," ucap Anes, kemudian menuu ke kamar mandi lagi.


"Belum juga olahraga, udah gerah aja sayang!"


Anes berhenti sejenak lalu menoleh kearah suaminya.


"Bawel! Mesum!" cebiknya lalu ia benar-benar masuk ke kamar mandi.


"Mandinya nggak usah lama-lama! Mas buatin susu dulu!" teriak Alex namun tidak di sahut oleh Anes.


🌼 🌼 🌼


Beberaa saat kemudian, anes keluar kamar mandi, dilihatnya Alex sedang memangku laptopnya. Laki-laki tersebut, tampak sangat serius menatap layar laptopnya, sampai keberadaan Anes tak ia hiraukan.


Anes tersenyum, perhatian kecil seperti inilah yang selalu membuat Anes merasa bahagia. Di balik sosok suaminyabyang angkuh dan dingin di depan orang lain, dan kadang konyol jika dihadapannya, dia adalah sosok laki-laki yang hangat dan penuh perhatian.


Anes mengambil gelas berisi susu tersebut lalu ia minum sampai habis, kemudian ia menuju ke walk in closet untuk berganti baju tidur , karena saat ini ia masih mengenakan handuk kimono.


Selesai gabti baju, anes kembali menghamoiri Alex, laki-laki iti masih saja sibuk dengan laptopnya. Anes merangkak naik ke atas tempat tidur. Tanpa bersuara, ia langsung menyusup ke ketiak Alex hingga akhirnya bersandar di dada bidangnya.


Alex tersenyum dan langsung mencium puncak kepala Anes. Kini satu tangannya memeluk anes sedang yang satu masih sibuk memainkan benda pipih tersebut.


"Mas sedang lihatin apa sih, dari tadi aku perhatiin serius banget mukanya, apa ada masalah sama pekerjaan?" Anes yang penasaran akhirnya bertanya juga.


"Mas sedang melihat perkembangan pasar saham sayang, sepertinya mas harus menambah pundi-pundi rupiah kita, mas ingin menyiapkan semuanya untuk masa depan anak-anak kita nanti,"


"Apa mas bangkrut?" tanya Anes dengan polosnya.

__ADS_1


"Bangkrut ?"


"Ya, secara dalam waktu tidak ada satu bulan aja mas harus mengeluarkan banyak uang untuk biaya pernikahan Arjuna dan abang, mas juga mau belijn abang rumah kan? Apa itu menguras tabungan mas?"


Mendengar ucapan Anes, alex hanya berdecak. Bagaimana mungkin dirinya akan bangkrut hanya karena membiayai dua sahabatnya itu menikah, justru perusahaanya semakin berkembang pesat, dan semakin tak tertandingi.


" Kenapa? Apa kamu takut mas jatuh miskin?" alex menutup laptopnya dan meletakkannya di atas nakas, ia kembali menyandarkan kepala anes di dadanya, dipeluknya anes dengan erat.


"Tidak, bukan seperti itu, mas nggak punya apa-apapun aku tetap mencintai mas, aku hanya tidak ingin mas terlalu bekerja keras, kesehatan mas nomor satu, dan lagi biaya ernikahan mewah dan juga rumah mewah iti kan sangat mahal. Takutnya mas meninggalkan hutang banyak untukku dan anak kita nanti, "


Alex terkekeh mendengarnya. Ia membenarkan posisinya yang dirasa kurang nyaman.


"Ih mas malah ketawa, ada yang lucu?" anes mendongak, meraba rahang suaminya dengan gemas.


"Ya karena kamu memang lucu sayang, sini mas cium emmuah. Kenapa bisa berpikir mas bangkrut sih, hanya karena ngeluarin uang segitu. Udah berapa lama sih jadi istri mas, kenapa masih belum tahu sekaya apa suami kamu yang gantengnya mutlak ini? Kalkulator saja akan jebol menghitungnya sayang, Bahkan mas berencana mengehdiahi anak kita pesawat jet jika sudah lahir nanti."


"Eleh narsis!"


"Biarin narsis yang penting kaya, ada yang di sombongin," sahut Alex terkekeh.


"Eh tunggu, tadi kamu bilang apa? Takut mas ninggalin kamu dan anak kita hutang? Kamu nyumpahin mas cepat innalillah?"


"Ya kan jaga-jaga mas, penyakit orang kaya kan serem-serem dan terkadang orang kaya hutangnya juga banyak kan?" canda Anes.


"Oh tentu saja itu tidak berlaku untuk sultan Parvis sayang,"


Anes hanya mendesis mendengarnya.


"Jangan mendesis sayang, kamu macan bukan ular," ucap Alex yang mana membuat Anes menatap aneh kepadanya.


🌼 🌼🌼

__ADS_1


💠Jangan lupa like, komen dan votenya, tetima kasih🙏 salam hangat author❤️❤️💠


__ADS_2