MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 178


__ADS_3

Hari sudah mulai petang, mereka semua berpamitan kepada David, tiba-tiba Amel kembali masuk ke dalam.


"Ngapain kamu kembali?" tanya David dengan kening berkerut.


"Nggak usah GR Dave, aku cuma mau ngasih ponsel kamu nih," Amel menyodorkan ponsel David yang selama ini ada padanya.


"Kenapa ada di kamu ponselku?" tanya David curiga.


"Aku cuma bantu mengamankannya selama kamu terbaring koma. Ya udah aku balik dulu ya Dave, kamu istirahat. Kalau butuh apa-apa bilang aja sama suster. Kalau kamu mau sih aku bisa nemenin kamu, hehe,"


"Tidak usah, kamu pulanglah, besok kamu kan harus kerja, tidak usah khawatir, ada dokter juga suster disini," sahut David.


"Em kalau weekend boleh dong berati menemani kamu menginap?" tanya Amel antusias.


"Aku takut kamu akan memperkosaku kalau bermalam di sini Mel,"


Mendengar ucapan David, Amel hanya mencebikkan bibirnya.


"Ya udah ya, aku balik beneran nih, pak Alex udah nunggu soalnya," Amel mendekati ke arah David hendak menciumnya.


"Mau ngapain?" tanya David sedikit memundurkan badannya.


"Cium," sahut Amel tanpa malu.


"Ck.dasar! jaim dikit Napa jadi cewek, nggak ada malunya, udah sana pulang, jangan buat bos lama menunggu," David mengacak-acak rambut Amel.


"Dasar pelit!" sarkas Amel dan langsung membalikkan badannya.


David tersenyum melihat Amel hilang di balik pintu.


David membuka ponselnya, di lihatnya wallpaper di ponselnya adalah photo Amel.


"Ck dasar, bisa-bisanya dia lancang mengganti wallpaper ponselku," David berdecak kesal. Padahal wallpaper tersebut dulu dia sendiri yang pilih.


Di bukanya galery, di sana juga banyak photo-photo Amel yang dulu sering ia ambil secara diam-diam.


"Niat banget mau jadi pacarku, pasti sengaja photo-photo pakai ponselku, menuh-menuhin memory aja," David hendak menghapus photo-photo tersebut namun ia urungkan.


"Biarin ajalah, buat nakut-nakutin virus yang mau menyerang ponsel ini," gumamnya lagi.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Tiga Minggu kemudian...


Hari bergulir begitu saja, kini usia kandungan Anes sudah memasuki Minggu ke dua puluh, perutnya semakin terlihat membuncit.


David sudah keluar dari rumah sakit dua Minggu yang lalu, dan kini ia sudah kembali bekerja di Parvis group sejak seminggu terkahir.


Di kantor Amel selalu memberikan perhatiannya kepada David, meskipun kadang laki-laki itu menolak perhatiannya. l Kadang Amel merasa lelah dan ingin menyerah saja. Namun, setiap kali melihat senyum David, hatinya enggan untuk menyerah.


Pagi hari di kediaman Alex, Alex tampak sedang membaca koran di taman belakang. Karena weekend, dia masih saja bersantai meskipun sudah jam Delapan pagi.


"Tehnya mas," ucap Anes yang baru saja datang membawa secangkir teh dan juga camilan, ia meletakkannya di meja depan Alex, lalu menyentuh pelipis sang suami dari belakang dan di pijatnya dengan pelan.


"Masih pusing mas?" tanya Anes, karena semalam Alex mengeluh sakit kepalanya.


"Udah mendingan sayang," sahut Alex sembari menyentuh tangan Anes yang memijit pelipisnya.


"Hari ini mas rencananya mau ngapain?" tanya Anes.


"Kenapa? Apa kamu bosan di rumah? Mau jalan-jalan?" tawar Alex.


"Em aku mau pergi sama Amel mas, mau lihat-lihat koleksi perlengkapan bayi, kalau mas ijinin sih," sahut Anes.


"Mas nggak ijinin," sahut Alex, lalu ia menyeruput teh buatan Anes.

__ADS_1


Anes menghela nafasnya kasar, kecewa dengan jawaban sang suami yang tidak memberinya ijin, matanya melotot menatap Alex yang tampak cuek.


"Sayang jangan melotot begitu sama suami, dosa tahu," ujar Alex.


"Habis mas terlalu posesif, mau jalan sama Amel aja nggak boleh, nggak asyik!" Anes masih menatap tajam ke arah Alex.


"Ck, bercanda sayang, emang kapan sih mas larang kami jalan sama Amel hem? Bahkan kalau Amel sedang bekerja pun mas selalu kasih ijin dia buat nemenin kamu jalan kan?" ucap Alex lembut.


"Mas tuh, paling bisa ngerjain aku, udah tahu aku lagi hamil masih aja suka iseng," dengus Anes.


"Udah jangan manyun gitu, jelek tahu. Em tapi belanjanya apa nggak mau sama mas aja?"


"Aku mau lihat-lihat dulu mas, nanti belanjanya sama mas aja kalau udah tujuh bulan. Hari ini cuma mau jalan-jalan sekalian cuci mata," jawab Anes.


"Baiklah, asal kamu senang sayang. Rencana mas hari ini mau main golf sama David, apa kalian mau ikut?" tanya Alex.


"Nggak ah mas, panas. Nanti jemput aku aja ya, di cafe biasanya," jawab Anes. Ia melingkarkan tangannya ke leher Alex dari belakang, dan menempelkan pipinya dengan pipi Alex.


"Tuan muda," panggil salah seorang art,


Anes dan Alex menoleh ke arah sumber suara


"Ada apa?" tanya Alex.


"Itu tuan, Tuan David sudah datang," jawab bibi sambil menunduk, ia tahu Alex paling tidak suka di ganggu ketika sedang berduaan dengan Anes.


"Suruh dia menungguku di ruang belajar, aku akan ke sana sebentar lagi,"


"Baik tuan," Jawab bibi lalu pergi.


"Tuan David, tuan muda menyuruh Anda menunggunya di ruang belajar, beliau akan menyusul ke sana," ucap bibi menyampaikan pesan Alex.


"Baiklah bi, terima kasih," sahut David yang langsung menuju ke ruang belajar Alex.


Beberapa saat kemudian, Alex masuk ke dalam ruang belajarnya.


"Pagi sekali kamu udah datang Dave, baru jam delapan," ucap Alex.


"Nggak papa bos, kebetulan saya belum sarapan,"


"Ck, dasar," Alex mencebikkan bibirnya.


"Udah sana makan dulu!"


"Bos dan nona udah sarapan?" tanya David.


"Udah tadi, pantesan Anes menyisihkan masakannya tadi, jadi kamu sudah bersekongkol dengan istriku untuk numpang sarapan di sini?" tanya Alex.


"Hehe, nona yang meminta saya datang pagi ini bos, kemarin nona mengirim pesan kepada saya, sebelum kita berencana pergi main golf," sahut David santai.


"Bukankah Anda senang jika istri tua dan istri muda akur," goda David.


"Jangan sebut Anes istri tua, masih muda dan cantik begitu. Udah sana makan, minta bibi buat panasin lagi kalau udah dingin makanannya, aku akan periksa beberapa email yang masuk dulu," ucap Alex.


"Baik bos," David membalik badannya menuju ke ruang makan.


Di sana sudah terlihat Anes sedang menyiapkan sarapan untuk David.


"Nona," sapa David.


"Eh, Abang, sarapan dulu bang, Anes sudah siapin makananya," ucap Anes yang kini memanggil David Abang, setelah David bilang kalau Anes boleh menganggapnya seperti kakak sendiri.


"Nona tidak perlu menyiapkannya, saya bisa menyiapkannya sendiri," balsa David yang kini sudah duduk.


"Nanti kalau bos tahu, dia akan cemburu, saya tidak enak," lanjut David.

__ADS_1


"Eleh biarin aja bang, kalau nggak cemburu bukan mas Alex namanya," balas Anes santai, dia sudah khatam dengan watak sang suami.


"Itu tandanya bos sangat mencintai nona," ucap David.


"Aku tahu bang, siniin piringnya, biar aku ambilin nasinya," Anes menyodorkan tangannya.


"Tidak usah nona, saya akan mengambilnya sendiri," tolak David.


"Mas Alex mana? kenapa nggak ikut ke sini?" tanya Anes.


"Bos sedang mengecek beberapa email nona," David mengambil sayur dan lauk sebagai pelengkap nasinya.


"Heran sama hidup orang kaya, hari libur juga masih aja mikirin kerjaan," Anes mencebikkan bibirnya, duduk bersandar pada kursi dan menghilangkan kedua tangannya di dada.


"Bukannya nona sekarang juga orang kaya?" ucap David sambil makan.


"Suamiku yang Kayan bang, bukan aku," sahut Anes.


"Sama saja nona, apa yang bos punya adalah milik nona, begitu sebaliknya, bos bekerja keras juga buat nona dan bos kecil, untuk masa depan bos kecil nantinya,"


"Aku tahu bang, udah lanjutin makannya, aku mau ke kamar dulu. Mau pergi sama Amel, bentar lagi dia sampai, aku mau siap-siap dulu,"


"Hem, silahkan nona," sahut David. Anes hanya berdecak mendengar David yang terlalu datar, padahal ia berharap dengan menyebutkan nama Amel, David akan bereaksi.


"Dave, Anes mana?" tanya Alex sambil menarik kursi untuk duduk.


"Nona sedang siap-siap bos, katanya mau jalan sama Amel," jawab David.


"Oh," Alex sibuk dengan ponselnya.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Beberapa saat kemudian, Amel datang. Ia langsung masuk menuju ke ruang keluarga di mana David dan Alex sedang ngobrol. Ia menyapa keduanya dan ikut duduk di sana sembari menunggu Anes turun.


"Kita berangkat sekarang bos?" tanya David.


"Tunggu Anes dan Amel berangkat dulu, baru kita berangkat," sahut Alex.


"Kalian mau kemana?" tanya Amel yang penasaran.


"Main golf," sahut David. Amel hanya ber-oh-ria sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"O ya bos, adik saya dari rumah singgah, Ada yang mendaftar menjadi karyawan magang di Parvis Group. Lusa dia akan mulai bekerja,"


"Bukannya masih sekitar 2 bulan lagi Dave? waktu itu Dila bilang 2 atau 3 bulan lagi," Amel ikut bersuara.


"Saya juga tidak tahu, katanya di percepat, Onya, bagaimana kamu tahu hal itu? Kamu kenal Dila?"


"Waktu itu kan kamu ajak aku ke rumah singgah punyamu Dave," jawab Amel,


"Terus, Dila mau tinggal sama kamu selama di di Jakarta?" tanya Amel.


"Kepo!" sahut David.


"Sebaiknya dia suruh nginap di sini aja bang, nggak baik kalau kalian tinggal bersama, biar bagaimanapun kalian sudah dewasa dan tidak ada hubungan darah, takutnya terjadi sesuatu yang tidak di inginkan," ucap Anes yang baru saja bergabung.


"Benar tuh kata Anes, Atau kalau mau suruh tinggal sama aku aja," Amel mendukung ucapan Anes, ia tak ingin ada wanita lain dekat-dekat dengan David.


"Rumah kamu kan lumayan jauh Mel dari kantor, biar...siapa namanya tadi?"


"Dila,"


"Ah iya, biar Dila tinggal sementara di sini saja, biar bisa nemenin aku juga, kan enak ada teman di rumah, bagaimana mas?" Anes mengalihkan pandangan ke arah Alex.


"Terserah kamu saja, yang penting tidak mengganggu kita," jawab Alex. Yang sebenarnya keberatan jika ada wanita lain di rumahnya, apalagi tidak ada hubungan apa-apa. Tapi berhubung Dila adalah adik angkat David, Alex tidak bisa menolak.

__ADS_1


Amel dan Anes berangkat jalan-jalan di antar oleh pak Anton. Sementara David dan Alex berangkat ke lapangan golf setelahnya.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


__ADS_2