MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
Chapter 228


__ADS_3

Malam harinya, Amel masih saja melototi layar ponselnya berharap David menelepon atau sekedar mengiriminya pesan untuk sedikit mengurangi rasa rindunya. Namun, harapannya sia-sia. Tak ada telepon ataupun pesan, hingga ia mendemgar suara klakson mobil dari halaman rumahnya. Amel pikir itu adalah teman mamanya, ia tidak berniat sedikitpun untuk turun dan melihatnya.


"Awas saja kalau itu laki-aki yang mau menikahiku, aku kabur aja kali ya. David brengs*k! Kenapa malah hilang di saat seperti ini sih, nanti kalau aku menikah sama laki-laki lain baru tahu rasa!" kesal Amel. Cairan bening kembali lolos dari matanya, ia pikir David sudah tidak peduli dengannya.


Ponsel Amel bergetar, dilihatnya ada panggilan video dari David. Amel mengusap air matanya dan menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


" David! Kenapa memgabaikan aku, kenapa menjauhi aku, kenapa tega sama aku, yang menolak kamu itu mama bukan aku, kenapa kamu balas dendamnya sama aku, kamu jahat, kamu nggak benar-benar cinta sama aku, aku benci kamu, benci! Hiks hiks hiks," Amel langsung menyerang David dengan umpatan.


David hanya tersenyum mennggapinya, satu kata maaf pun lolos dari bibir David yang tersenyum. Yang mana, membuat hati Amel meleleh seketika.


" Jangan tersenyum begitu, melemahkan imanku saja. Tahu nggak, sekarang di bawah sepertinya ada tamu, mungkin laki-lak yang akan di jodohkan denganku, hiks aku nggak mau Dave, bawa aku lari Dave. Kamu dimana dave?"


"Maaf beb, tapi sepertinya kali ini aku mendukung jika mama kamu menerima laki-laki yang ada di rumah kamu," ucap David.


"Apa maksud kamu? Jahat! Tega! Setidaknya kalau kamu udah nggak cinta jangan dorong aku ke laki-laki lain Dave, itu membuat semakin sakit,"


"Dengar dulu mel, coba perhatikan sekarang aku ada di mana?" David mengedarkan ponselnya ke sekeliling, sejurus kemudian Amel langsung berlari menuju ke ruang tamu.


Tanpa aba-aba, Amel langsung memeluk laki-laki yang sudah berdiri untuk menyapanya di ruang tamu tersebut. David membalas pelukan Amel dengan erat, betapa dia juga merindukan kekasih bawelnya tersebut.


Ya, David kembali mendatangi rumah Amel, kali ini ia tidak akan pulang sebelum mendengar kata 'ya' dari bu Mira.


"Amel! Jaim sedikit jadi perempuan, jangan asal nyosor," seru bu Mira yang yang baru saja datang setelah di panggil oleh pembantunya.


"Mama, ma kali ini jangan usir David ya ma, dia laki-laki yang baik, kalau mama usir dia, Amel akan ikut dia pergi!"


"Kamu diamlah dulu, baik atau tidaknya buat kamu, mama yang putuskan. Silahkan duduk nak David,"


Mereka bertiga duduk, David dan Amel duduk bersebelahan, sedang bu mira duduk bersebrangan dengan mereka.


"Pokoknya kalau mama menolaknya lagi, Amel akan kawin lari saja,,"


"Diam dulu, belum tentu dia kesini buat melamar kamu lagi, kecuali dia tidak punya malu,"


"Ma!"


"Mel, biar aku yang bicara sama mama kamu, kamu tenang saja," David menyentuh tangan Amel lembut, menyalurkan energi positif kepadanya.


Bu mira yang melihatnya tersenyum dalam hati.

__ADS_1


"Begini tante, saya mungkin memang tidak punya malu karena berani datang kesini lagi dengan tujuan untuk melamar Amel kembali," ucap David. Ia menghela napasnya dan melanjutkan bicara.


"Tante pernah menanyakan apa yang saya miliki untuk menjamin masa depan Amel bakal bahagia bersama saya," David menyodorkan dokumen-dokumen tentang kepemilikannya atas beberapa aset, seperti mall, beberapa apartemen, tanah, dan beberapa usaha lainnya, serta saham di Parvis Group.


"Ini sebagian yang saya miliki, dan beberapa sudah atas nama Amel, nanti kalau perlu semua yang saya miliki akan saya rubah menjadi atas namanya," jelas David.


Ya, dia seminggu belakangan sibuk untuk mengurus semua itu, selain karena memang pekerjaan di kantor sangat banyak.


"Dave, aku nggak butuh semua itu, yang aku butuhkan cuma kamu," ucap Amel. Dia cukup terkejut, ia tak tahu jika David sekaya itu, yang ia tahu, pekerjaan David hanya sebagai orang paling dipercaya oleh Alex.


"Yang sebenarnya ingin saya tunjukkan bukan ini semua, ini hanya sebagai bukti kalau Amel tidak akan kekurangan materi nantinya, saya akan terus bekerja keras untuk membahagiakannya. Dan yang lebih penting lagi adalah besarnya cinta saya kepada Amel, saya sangat mencintai putri tante, dia sangat berati buat saya, semua yang saya miliki tidak ada artinya tanpa Amel, dia segalanya buat saya, saya lebih rela jika harus kehilangan semua ini daripada saya harus kehilangan Amel. Awalnya saya tidak memiliki tujuan dalam bekerja, saya hanya fokus untuk membantu dan mengabdi yang kepada bos saya, saya juga tidak tahu, semua yang saya miliki ini buat apa, tetapi sekarang saya memiliki tujuan lain yaitu untuk membahagaiakan Amel, "lanjut David, ia menjeda sebentar untuk mengatur napasnya sebelum akhirnya kembali bicara.


Bu mira dan Amel hanya mendengarkan, masih menunggu David melanjutkan bicaranya.


" Tante bilang, lebih baik hidup dengan di cintai, tapi bagi saya, hanya di cintai saja tidak cukup, itu hanya akan membuat keduanya menderita. Seharusnya, kita hidup dengan orang yang mencintai dan juga kita cintai, baru akan bahagia. Dan saya tahu, Amel hanya mencintai saya, tidak ada laki-laki yang bisa mencintai Amel seperti saya mencintai Amel, saya tidak akan membiarkan Amel menderita. Kalau tante masih bersikeras ingin menjodohkan Amel, maka saya terpaksa akan membawa Amel pergi bersama saya. Saya hanya ingin tante memberikan restu kepada kami," David berbicara sangat lancar dan tegas, tidak seperti sebelumnya. Karena dia benar-benar tidk ingin kehilangan Amel.


Bu Mira masih diam, ia cukup syok dan tak menyangka, calon menantunya bukanlah orang biasa, seperti yang ia pikirkan. Sebenarnya, bu Mira hanya ingin sedikit menguji seberapa besar David mencintai anaknya. Ya, ia melakukan itu karena benar-benar trauma dengan pernikahannya dengan suaminya.


Orang yang akhir-akhir ini ia tunggu sebenarnya adalah David, ia khawatir setelah penolakannya waktu itu, David akan benar-benar menyerah, namun kini ia merasa lega karena David benar-benar laki-laki bertanggung jawab dan bisa di percaya. Bu Mira bisa melihat dengan jelas ketulusan seorang David.


"Begini nak David, sebelumnya tante minta maaf atas sikap tante tempo hari. Sebenarnya tante waktu itu hanya ingin sedikit menguji kesungguhan kamu dalam mencintai anak tante. Dan masalah perjodohan itu sebenarnya tidak ada, tante hanya ingin tahu sejauh mana kamu akan berjuang untuk Amel. Kamu tahu kan bagaimana kisah rumah tangga tante yang harus berakhir di pengadilan agama. Tante tidak ingin Amel mengulangi kisah rumah tangga tante. Tante benar-benar trauma dan takut, kalau Amel akan menikahi laki-laki yang salah," bu Mira mulai bicara untuk menjelaskan yang sebenarnya keada David dan juga Amel.


" Iya sayang, maafin mama. Selama ini mama memang jarang ada waktu buat kamu. Mama terlalu sibuk dengan urusan mama sendiri, mama sampai lupa kalau anak mama sudah dewasa, hingga waktu itu David datang untuk melamar kamu. Mama tahu, Mama bukanlah ibu yang baik buat kamu, tapi dalam hal jodoh, mama ingin yang terbaik buat kamu sayang. Jujur, mama khawatir David akan menyerah begitu saja ketika mama bilang tidak setuju, kalau sampai itu terjadi, mama akan merasa sangat menyesal. Tapi, sekarang mama lega, karena kamu memilih laki-laki yang tepat," ucap bu Mira panjang lebar.


" Ahhh mama, maafin Amel karena udah salah paham sama mama, " Amel langsung berhambur memeluk bu Mira.


" Iya tante, sebenarnya saya tahu apa yang tante maksud waktu itu, dan saya menunjukkan ini semua bukan bermaksud untuk menyombongkan diri, saya hanya ingin tidak ada yang saya tutup-tutupi, saya hanya ingin Amel tahu semua tentang saya, saya sangat mencintai Amel," ucap David kemudian.


" Tapi nak David, kenapa kamu selalu datang sendiri, apa kamu sudah memberi tahu kedua orang tuamu kalau kamu akan menikahi Amel? Di mana orang tua kamu?" tanya bu Mira, yang memang belum tahu sepenuhnya tentang David dan masih menyisakan sedikit keraguan terhadap laki-laki tersebut. Takutnya hanya David yang menginginkan anaknya, tapi keluarganya tidak.


" Begini tante, sebenarnya saya tidak memiliki orang tua. Saya di besarkan di panti asuhan, saya tidak pernah tahu siapa dan dimana orang tua saya," jawab David jujur. Ia sedikit khawatir, jika latar belakangnya akan mempengaruhi keputusan akhir bu Mira.


" Jadi kamu tidak memiliki keluarga?" tanya bu Mira penuh selidik. Keraguannya kembali terlihat dengan jelas.


" Siapa bilang David tidak memiliki keluarga?" suara bariton Alex terdengar sangat jelas, ia datang bersama dengan Anes yang menggandeng lengan Alex.


" Bos, nona" David berdiri dan menyapa Alex.


Sedangkan Amel langsung memeluk Anes.

__ADS_1


"Dasar. Bocah! Melamar anak orang nggak bilang-bilang, sok nggak punya keluarga, sok berani melakukan sendiri, mau jadi pendekar kamu Dave?" ucap Alex mencebikkan bibirnya.


"Maaf bos,"


"Oh tuan Parvis , nak Anes, mari silahkan duduk!" ucap bu mira canggung. Ia tak menyangka seorang tuan muda Parvis mau berkunjung kerumahnya, dan secara tidak langsung mengatakan kalau David adalah keluarganya. Benar-benar membuat bu Mira terkejut.


"Saya datang kesini secara khusus untuk melamar anak anda Amel, untuk adik saya David, dan saya tidak ingin mendengar penolakan dari Anda nyonya Mira. Jika Anda mempertanyakan siapa dan dimana keluarga David, maka yang ada di depan Anda sekarang ini adalah keluarganya. Jadi, bagaimana? Apa Anda masih ingin menguji David lagi, tapi jika Anda masih tak merestui mereka, maka Anak anda yang akan menyesal, jadi cepat katakan iya, sebelum saya berubah pikiran dan akan menikahkan David dengan gadis lain, di kira hanya Amel apanyang mau sama David, yang lain antri," ucap Alex setelah ia mendaratkan pantatnya dengan sempurna. Kedua kakinya ia silangkan dan kedua tangannya bersedekap, wajahnya tampak datar, sungguh pemandangan yang arogan.


Anes berkali-kali mencubit pinggang Alex, saat Alex bicara dengan arogan untuk melamarkan Amel untuk David.


" Ini mas Alex melamar anak orang apa malak sih?" batin Anes gemas, karena terdengar jelas jika kata-kata Alex penuh paksaan.


"Ba baik, eh maksudnya i iya tuan Parvis, maafkan saya kemarin tidak bermaksud menolak David," sahut bu Mira, ia tak menyangka kalau Alex sendiri yang melamar anaknya untuk David. Namun, dalam hatinya ia bersorak.


"Hehe untung saja waktu itu aku tolak, kalau langsung aki terima, kan nggak mungkin tun Parvis datang ke sini untuk melamar hari ini, haruanya tadi aku siapin hp nih buat merekam momen penting ini, bisa buat pamer ke teman-teman, calon mantu ganteng dan kaya, uang lamarin tuan Parvis lagi, pasti pada meronta-ronta jiwa kehaluan mereka hihi" batin bu Mira.


"Baiklah, kalau begitu berati Anda setuju kan? Pernikahan mereka akan di laksanakn satu. minggu lagi, jangan protes dan jangan membantah!"


Anes kembali mencubit pinggang Alex. Karena Alex main memutuskan seenakanya, yang mau menikah David dan Amel tapi kenapa dia yang heboh sendiri.


"Mas, jangan asal memutuskan, biar mereka berdiskusi dulu," bisik Anes.


Yang lainnya hanya bengong, termasuk David. Alex benar-benar tidak memberi kesempatan mereka bicara.


"Apa ada yang berani keberatan?" tanya Alex, dengan wajah dinginnya.


"Ti tidak, " sahut bu Mira.


"Lagian mana berani menolak tuan muda yang satu ini," batin bu Mira.


"Astaga, lamaran macam apaan ini," batin David.


"Huh, yang mau nikah siapa yang heboh siapa, dasar mas Alex suheri," Anes mencebikkan bibirnya.


"Suheri? Sejak kapan nama mas ganti suheri?" tanya Alex.


"Iya nama itu lebih cocok,. Su he ri. Suka heboh sendiri!"


Dan yang ada dalam ruangan tersebut tertawa. Akhirnya, lamaran David kali ini di terima,. Meskipun gaya Alex melamar Amel terkesan arogan dan memaksa, namun semua berjalan lancar, bahkan tak di sangka ia dan anes sudah menyiapkan seserahan untuk lamaran. Membuat David senang sekaligus terharu, mereka benar-benar keluarganya, meskipun tanpa ikatan darah.

__ADS_1


🌼 🌼 🌼


__ADS_2