MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 85


__ADS_3

"Dav, bagaimana? apa kamu mendengar sesuatu yang mengerikan? suara jeritan atau apa gitu?" Bryan mendekati David yang yang mondar-mandir di bawah tangga. ada guratan cemas dari wajahnya.


"Tidak tuan, saya tidak mendengar apapun dari tadi," jawab David sambil melihat ke atas.


"Hahaha tentu saja kau tidak akan mendengar apa-apa. Apa kau bodoh, kamar bosmu itu kan kedap suara, jadi mau ada suara sekencang apapun dari sana kami tidak akan mendengarnya. Kecuali pintu kamarnya terbuka lebar, mungkin kamu bisa sedikit mendengar jika ada suara. Hah kau ini. Sepertinya bekerja pada Alex membuat hidupmu penuh tekanan, sehingga sedikit mengurangi kadar kecerdasan kamu, sabar bro," Bryan menepuk pundak David.


"Sebaiknya kita pergi saja sekarang tuan, sepertinya mereka butuh waktu untuk berdua," ucap David.


"Kau benar juga, ayo kita pulang saja!" Bryan merangkul dan mengajak kedua temannya untuk pergi.


"Sayang, kita pulang juga yuk, ngapain di sini kalau yang punya rumah lagi berantem. Kan nggak enak," ucap Dimas kepada Amel. Amel bangun dan mengambil tasnya. "Ayo!" serunya.


"Terus acaranya?" tanya Juna yang sudah ditarik oleh Baim untuk jalan.


"Batal!" sahut Bryan singkat.


"Yah, nggak jadi makan-makan dong, padahal dari tadi cacing di perut udah meronta-ronta minta jatah," ucap Juna.


"Perut aja terus yang dipikirin! ayo cepat!"


"Mau kemana kalian?" suara bariton Alex terdengar jelas oleh mereka.


Serentak, mereka menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Anes menggandeng lengan Alex.


"Berani sekali kalian pergi setelah membuat kekacauan di apartemenku, selangkah saja kalian keluar dari sini, aku pastikan kalian tidak bisa masuk ke sini selamanya. Acaranya bahkan belum mulai, tapi kalian sudah mau pulang! Ayo cepat aku udah nggak sabar pengen tiup lilin!" hardik Alex.


ucapan Alex yang terdengar menghardik itu mampu membuat mereka semua bernafas lega. Kedengarannya saja kasar, tapi sebenarnya maksud dari ucapannya adalah ia ingin melanjutkan acara bersama teman-temannya.


"Nona, Anda memang luar biasa! dua jempol buat Anda. Ah tidak, di tambah jempol kaki, jadi empat jempol buat Anda!"puji David dalam hati karena Anes berhasil membuat Alex berubah.


"Anes benar-benar lain dari yang lain, lihat dia berhasil mengubah pemikiran Alex selama ini," bisik Bryan kepada Baim.


Akhirnya mereka merayakan ulang tahun Alex yang ke 29 dengan sebuah pesta kecil yang sudah di siapkan oleh sang istri.


🌼🌼🌼


Setelah acara tiup lilin, giliran Alex memberikan potongan kue pertamanya.


"Pasti buat aku!" celetuk Juna tanpa dosa.


"Hah mimpi!" hardik Bryan.


Alex tak menghiraukan celotehan sahabatnya itu. Ia menyuapkan potongan kue pertamanya untuk Anes. Sengaja ia menyuapi Anes dengan potongan kue yang agak besar sehingga tidak masuk semua ke dalam mulut Anes. Dengan cepat Alex menempelkan bibirnya ke bibir Anes dan memakan kue yang belum masuk ke dalam mulut Anes.


"Wah wah wah, sepertinya kita harus pindah ke dunia lain. Karena dunia ini serasa milik mereka berdua," celetuk Bryan yang melihat kemesraan antara sepasang suami istri tersebut.


"Syirik aja! makanya cepetan pada kawin!" ucap Alex datar.


"Nikah dulu dong, baru kawin," sahut Baim.


"Iya pak ustadz!" sahut Juna dan Bryan serempak.


"Sudah ku bilang, aku bukan ustadz!" Baim protes.


"Hahaha," yang ada di sana pun terkekeh.


"Seharusnya tadi kamu memberikan potongan kue itu kepadaku Lex, aku kan sahabat terbaikmu," protes Juna mengungkit kejadian tadi saat Alex memberikan suapan pertama kue


"Eh dasar! otak taruh mana? jelas-jelas ada Anes istrinya, ngapain juga Alex ngasih kuenya buat kamu? kadang-kadang otak nggak dipakai mikir ma ni bocah," Bryan menjitak kepala Juna.

__ADS_1


"Bercanda kali Bray, serius amat nanggepinnya. Aku juga tahu kali, nggak mungkin kuenya buatku. Dasar baperan!" balas Juna.


"Udah, udah jangan bertengkar, ayo kita lanjut makan. Aku udah masak buat kalian," Anes mengajak semuanya untuk makan.


"Wah, masakan Anes benar-benar enak. Jadi pengen di masakin setiap hari," kata Juna dengan makanan penuh di mulutnya.


"Kalian boleh kok sering-sering datang ke sini, nanti aku akan masakin buat kalian," sahut Anes.


"Wah beneran nih? kalau begitu sepertinya aku harus stay di Indonesia nih, biar bisa memperbaiki gizi," sahut Bryan.


"Tidak boleh! Hari ini aja kalian boleh menikmati masakan istriku. Lain kali jangan harap! Hanya aku yang akan makan makanan Anes," ucap Alex kelihatan serius, tapi sebenarnya ia bercanda.


"Dasar posesif! Pelit!" umpat Juna.


Alex tak menimpali umpatan Juna, ia hanya mengangkat satu sudut bibirnya ke atas sambil terus makan.


Setelah makan malam selesai, di lanjutkan acara santai. Anes melihat David yang sejak tadi memperhatikan kemesraan Amel dan Dimas . Tangan David sesekali mengepal seolah ingin menghantam sesuatu, namun wajahnya tetap tampak datar tanpa ekspresi.


Anes mendekati David yang tengah mengambil minum, jauh dari yang lainnya.


"Pak David baik-baik saja kan?" Anes memastikan.


"Maksud nona?" David tak mengerti


"Ya, maksudnya hati pak David, baik-baik saja kan, melihat pemandangan itu?" ucap Anes sambil menunjuk ke arah Amel dan Dimas.


"Kenapa nona bertanya seperti itu sama saya? apa hubungannya sama saya? tentu saja saya baik-baik saja," jawab David kikuk.


"Yakin baik-baik saja? Pasti di sini sakit tapi tak berdarah ia kan?" ucap Anes Anes menunjuk dada David.


"Nona,"


"Omongan Anda barusan seperti singkong di rebus," ucap David.


"maksudnya?" Anes tak mengerti.


"Empuk tapi bikin seret," jawab David. Kemudian, ia meninggalkan Anes yang kelihatan bingung dengan kata-kata David barusan.


"Dia ngomong apa sih? singkong rebus apa coba? nggak ngerti," batin Anes.


"Nes kenapa bengong di sini?" Amel menyadarkan lamunan Anes dengan menepuk pundaknya.


"Eh Mel, bikin kaget aja!" sahut Anes


"Ye, habisnya kamu bengong sih. Ntar ayam tetangga mati loh kalau di potong sama yang punya.


"Ya iyalah mati Mel, orang ayamnya di potong kok."


"Hehe makanya, eh malah ngomongin ayam tetangga, aku balik ya Nes? Dimas udah minta balik dari tadi," pamit Amel.


"Ya udah Mel, aku ngerti kok, pasti dimasnya nggak nyaman dan canggung berada di antara mereka karena dia belum kenal mereka sebelumnya," Anes mengerti maksud Amel.


Anes mengantar Amel dan Dimas sampai depan pintu.


"Aku balik ya?" ucap Amel sambil memeluk Anes.


"Hem, makasih ya udah mau datang. Ya, walaupun awalnya gagal surprisenya," sahut Anes tersenyum.


"Dimas, makasih ya, dan tolong antar Amel sampai rumah dalam keadaan utuh tanpa ada yang kurang sedikitpun," Anes melihat ke arah Dimas.

__ADS_1


"Siap Nes, kami permisi dulu," sahut Dimas.


Setelah Amel dan Dimas pamit, Anes menutup pintu dan menghampiri Alex dan teman-temannya yang masih asyik mengobrol. Anes bisa mengerti, karena mereka jarang memiliki waktu untuk ngumpul.


"Kalian lanjutin aja ngobrolnya ya, aku mau ke atas dulu," ucap Anes.


"Nggak kok sayang, kita udah selesai ngobrolnya. Dan mereka akan pulang sekarang, iya kan?" ucap Alex sambil mengedipkan matanya kepada para sahabatnya tersebut.


"Eh, iya nona kami akan pulang sekarang," sahut David yang mengerti maksud dari omongan Alex.


"Hei Dav, kalau mau pulang, ya sana pulang sendiri. Kita masih ingin di sini, iya kan?" ucap Juna yang tak mengerti maksud omongan Alex.


"Nggak!" sahut Baim dan Bryan serentak.


"Kalian juga mau pulang sekarang? Ya udah sana , aku masih mau di sini, nggak papa kan Nes?"


"Iya nggak papa kok," Anes tidak keberatan sama sekali.


"Dasar brandal nggak peka amat sih!" Alex mengernyitkan dahinya, menatap jengah pada Juna.


"Ayo pulang!" Bryan menarik paksa Juna


"Ta tapi,,,"


"Dasar nggak peka! Alex pasti ingin menghabiskan malam ini bersama Anes," bisik Baim sambil merangkul Juna.


"Kalau begitu, saya juga permisi bos," pamit David.


"Hem," sahut Alex singkat.


"Pak David, terima kasih ya buat semuanya," ucap Anes dengan senyum ramahnya.


"Sama-sama nona," balas David lalu meninggalkan Alex dan Anes berdua.


"Kenapa mas tadi ngomong gitu sih? sepertinya mereka belum mau pulang tadi," tanya Anes setelah semuanya menghilang dari pandangan mereka.


"Karena kalau mereka masih di sini, mereka akan mengganggu kita," jawab Anes.


"Mengganggu bagaimana?" tanya Anes.


"Karena sekarang mas mau minta hadiah ulang tahun mas," Alex menggendong tubuh Anes ala bridal style. Refleks Anes langsung mengalungkan tangannya di leher Alex.


"Hadiah, tapi aku tidak punya hadiah apa-apa buat mas. Maaf aku nggak kepikiran buat beli sesuatu buat mas," sahut Anes lesu.


"Mas nggak butuh hadiah barang,"


"Terus?"


"Mas butuh ini," Alex langsung mencium bibir Anes dengan penuh gairah sambil terus menaiki anak tangga.


Sampai di kamar, Alex langsung merebahkan tubuh Anes Pelang tanpa melepaskan ciumannya. Dan malam yang panjang dan panas pun kembali terjadi. Berkali-kali Alex menggagahi istrinya dengan berbagai macam posisi, membuat Anes sedikit kewalahan. Sampai pelepasan di babak terkahir mengakhiri kegiatan malam mereka.


Anes yang kelelahan, tidur duluan dengan hanya berbalut selimut tanpa memakai kembali pakaiannya. Alex tersenyum melihat istrinya sudah tidur karena kelelahan.Ia melihat ponsel Anes yang retak dan tergeletak di lantai. Ia mengingat kembali kejadian di mana ia sudah bersikap kasar kepada Anes.


"Maafin mas sayang, dan terima kasih untuk semuanya," Alex mengecup kening Anes.


"Dav, besok carikan ponsel model terbaru buat Anes. Yang sama persis dengan punyaku," Alex mengirim pesan kepada David dan langsung menyusul Anes ke dalam alam mimpinya tanpa menunggu balasan dari David.


"Baik bos," balas David yang ternyata belum bisa memejamkan matanya.

__ADS_1


🌼🌼🌼


__ADS_2