MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 53


__ADS_3

Baru saja sampai di tempat pesta, Anes dan Alex di sambut oleh pak Arya dan istrinya, Rania.


"Kalian sudah sampai Nak," sapa pak Arya.


"Pa, iya kami baru saja sampai. Maaf, Anes dan mas Alex belum sempat berkunjung ke rumah setelah menikah," sahut Anes.


"Tidak apa-apa sayang, papa mengerti kesibukan kalian, lain kali kalau ada waktu datanglah kerumah, papa tunggu," timpal pak Arya.


"Iya pa, Alex usahakan secepatnya," balas Alex.


"Ma?" Anes menyapa Rania dengan memeluknya dengan berat hati Rania membalas pelukan Anes.


"Ya udah kalian nikmati acara ini, mungkin akan segera di mulai, papa mau menemui teman papa dulu,"ucap pak Arya.


"Ayo sayang," pak Arya mengajak istrinya.


"Saya permisi dulu ya Nes, Lex," ucap Rania.


Anes mengangguk dengan senyum ramah, sedangkan Alex tak bergeming sama sekali.


"Bos, saya juga permisi sebentar, ada hal yang harus saya urus," pamit David.


"Hem," jawab Alex singkat.


Banyak pria yang menatap dan mengagumi kecantikan Anes, membuat Alex kesal.


"Kenapa dia dandan secantik itu sih, dan kenapa dia pakai gaun itu. Rambutnya juga, kenapa di cepol keatas, leher jenjangnya kan jadi kelihatan," batin Alex.


"Kamu tunggu disini, aku mau ambil minum sebentar," ucap Alex kepada Anes.


"Huh, semuanya pergi," keluh Anes.


🌼🌼🌼


Anes sedang sendirian di tempat yang sepi, sengaja menghindar dari keramaian, karena ia tidak begitu menyukai keramaian. Seorang perempuan dan laki-laki menghampirinya.


"Anes? iya kan benar ini kamu, kenapa kamu bisa di sini, ini kan acara kalangan atas, hanya orang-orang tertentu yang berada disini," ucap perempuan itu dengan sinis.


"Oh hai Jesica, apa kabar, lama tidak bertemu," sapa Anes.

__ADS_1


"Duh kenapa Jesica juga berada disini sih,"


Jesica adalah teman sekolah Anes waktu di SMA, lebih tepatnya sih dibilang musuh ya, karena Jesica selalu merendahkan Anes yang bukan dari keluarga kaya seperti dirinya, terlebih lagi cowok yang Jesica sukai, ternyata lebih memilih mengejar-ngejar Anes, walaupun Anes menolaknya, tetap saja Jesica membencinya.


"Seperti yang kamu lihat sekarang, aku baik, sangat baik, o ya kenalkan ini suami aku, seorang pengusaha, dia anak dari pak Hutama, pemilik Hutama company, tahu kan? itu perusahaan besar lho, pasti tahu," sombong Jesica. Sedangkan suaminya, hanya diam mendengarkan dengan tersenyum bangga.


Anes hanya membalas ucapan Jesica dengan senyuman.


"Ternyata kamu tidak berubah Jesica, masih suka memamerkan kekayaan, padahal perusahaan suami kamu itu nggak ada apa-apanya dibanding Parvis Group milik suamiku."


"O ya, apa kamu sudah menikah? suami kamu kerja dimana? apa kamu juga bekerja?"


" Aku sudah menikah, suamiku dan aku bekerja di Parvis Group," jawab Anes.


"Duh mas Alex mana sih, nggak balik-balik katanya mau ambil minum, emang ngambilnya di Jombor, lama amat. Aku malas meladeni kesombongan Juga," Anes clingak-clinguk mencari Alex.


"Itu perusahaan besar, ah tapi kamu dan suami kamu kan cuma bekerja disana, nggak mungkin bisa diundang ke acara ini, jangan-jangan kamu menjadi simpanan seorang pengusaha om-om ya, makanya cari suami yang kaya, jangan yang sama-sama karyawan, hah lagian mana ada ya seorang laki-laki muda, pengusaha yang mau sama perempuan seperti kamu," Jesica terus menghina Anes..


"Udah ngomongnya? atau mau aku kasih mikrofon biar semua yang di sini mendengar ucapan kamu? kamu nggak berubah ya, masih suka menghina orang, dan sayangnya aku juga nggak berubah, masih nggak takut sama kamu, katanya orang kaya tapi kelakuan minus," balas Anes yang jengah dengan penghinaan Jesica, apalagi dia dibilang menjadi simpanan om-om. Air mata hampir saja jatuh membasahi pipinya, namu ia tahan.


"Apa sehina itu aku di mata kamu Jesica, aku memang bukan anak orang kaya, tapi aku punya harga diri,"


"Sayang udah, malu kalau ada yang lihat," ucap suami Jesica.


Beruntung tempat itu cukup sepi, jadi tidak ada yang melihat mereka bertengkar.


"Kamu diam sayang, biar aku kasih wanita murahan ini pelajaran," ucap Jesica sambil mengangkat tangannya untuk menampar Anes.


"Siapa yang Anda katakan wanita murahan Nona?" Alex menahan tangan Jesica dan menepisnya dengan kasar.


"Mas Alex," ucap Anes.


Alex mendekati Anes dan meraih pinggang Anes supaya lebih dekat dengannya.


"Tu, tuan muda Parvis," ucap suami Jesica gugup, karena ternyata perempuan yang dihina oleh istrinya adalah wanitanya pewaris tunggal Parvis Group.


"Anda tahu, siap wanita yang Anda sebut murahan ini?" Alex tampak sangat marah.


"Maafkan istri saya Tuan, dia tidak bermaksud bilang begitu," ucap suami Jesica namun Alex tak bergeming sama sekali.

__ADS_1


"Dia siapa sayang, kenapa kamu begitu takut padanya?" tanya Jesica pada suaminya.


"Dia adalah istri sah saya, Alex Abraham Parvis!" Alex kembali bersuara sebelum suami Jesica menjawab pertanyaan Jesica.


"Berani menyakitinya walaupun hanya seujung kuku, jangan harap anda bisa bernafas dengan bebas," ancam Alex serius.


"Jadi Anes ini istri dari pewaris tunggal Parvis Group?" Jesica tak percaya.


"Sayang cepat minta maaf, atau perusahaannya bisa kena masalah besar," ucap suami Jesica.


"Sa, saya minta maaf Tuan, saya tidak tahu kalau Anes adalah istri Anda," Jesica minta maaf, wajahnya tampak pucat mengingat setiap perkataan yang ia tujukan kepada Anes.


Alex tak menggali permintaan maaf Jesica sama sekali, ia mengajak Anes untuk pergi meninggalkan Jesica dan suaminya.


"Sebaiknya ajari istri Anda untuk menghargai orang lain Tuan. O ya, bukankah Hutama company sedang ada masalah internal? Bahakan banyak tindak korupsi di perusahaan milik keluarga Hutama tersebut, secepatnya anda akan menerima surat pemutusan hubungan kerja sama dengan Parvis Group," ucap David datar dan acuh lalu berlenggang meninggalkan sepasang suami istri tersebut. Ia tak peduli dengan wajah keduanya yang berubah drastis tidak seperti tadi saat menghina Anes. Kini wajah mereka terlihat sangat pucat dan putus asa.


"Ta, tapi tuan,,," ucap suami Jesica.


David tetap melangkah dengan mengangkat kedua bahunya tanda ia tak peduli lagi, dengan apa yang akan diucapkan laki-laki itu.


"Aduh gimana ini sayang, kenapa jadi begini?" Jesica cemas.


"Kamu sih, nggak hati-hati kalau bicara, bagaimana kalau mereka memutuskan kerja sama dengan kita?"


"Aku kan nggak tahu kalau Anes istrinya tuan muda Parvis, kalau aku tahu aku nggak akan menghina dia, tapi justru aku akan baik-baik dia," ucap Jesica.


"Ah sudahlah, lagian mereka sudah tahu kalau perusahaan kita sedang dalam masalah, tentu saja mereka akan membatalkan kerja sama dengan perusahaan kita," ucap suami Jesica frustasi, ia mengusap wajahnya kasar.


"Ayo pulang!" ajak suami Jesica.


"Tapi acaranya belum dimulai," sahut Jesica.


"Ah sudahlah, aku udh nggak mood buat ikut acara ini, lagian kita hanya tinggal menunggu jatuh miskin kalau Parvis Group benar-benar membatalkan kerja sama dengan Hutama Company,"


"Tapi aku nggak mau makin sayang,"


"Udahlah, mau gimana lagi, nasi udah jadi bubur,"


Suami istri itu terus saja berargumen hingga tidak tampak lagi batang hidungnya karena telah meninggalkan acara tersebut.

__ADS_1


__ADS_2