
Sudah terhitung lima hari Anes pergi dari rumahnya. Alex sempat berpikir Anes kabur ke luar negeri, tapi begitu ia mengecek paspornya ia bernafas lega karena masih ada di tempatnya. Ponsel Anes pun di matikan hingga Alex tak bisa melacaknya.
Sesekali Anes berkirim pesan kepada orang tuanya menggunakan ponsel Amel, dengan alasan ponselnya lowbat dan dia kebetulan sedang bersama Amel. Memastikan Alex tidak mencarinya ke ruangan orang tuanya, dan ternyata benar, karena orang tua Anes tidak membahas soal masalahnya dengan Alex sama sekali. Anes tahu, Alex paham akan hal yang ia khawatirkan tersebut, tidak ingin terlalu melibatkan orang tua dalam masalah rumah tangganya, selama mereka bisa mengatasinya.
Alex baru saja mengetahui di mana keberadaan Anes. David tak tega melihat bosnya terus kelimpungan mencari sang istri yang ternyata berada tak jauh darinya hingga ia lupa mengurus dirinya sensiri. Seperti perkirakan David, begitu mendengarnya Alex langsung tancap gas untuk menemui Anes.
"Beri aku penjelasan yang memuaskan besok! kenapa kamu tidak memberi tahuku dari kemarin-kemarin di mana Anes berada? Ck. dasar!" begitulah tanggapan Alex saat David memberi tahunya. Ia tak benar-benar marah pada David, karena Alex tahu David selalu melakukan yang terbaik untuknya.
"Tapi sebaiknya biarkan nona Anes di sana dulu sampai dia merasa lebih baik bos. Mungkin dia masih butuh waktu," saran David.
"Aku tidak peduli!" Alex langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah Amel.
Alex berusaha menemui Anes, namun Anes selalu menolaknya. Ia masih tidak ingin bertemu dengan Alex apalagi untuk mendengarkan penjelasan dari Alex. Alex terus menunggu di depan rumah Amel padahal saat itu sedang hujan.
Alex tak bergeming sama sekali dari tempatnya, hingga akhirnya Anes menyuruh Amel untuk keluar menemui Alex.
"Anes masih belum mau menemui Anda, dia bilang masih butuh waktu. Dia menitipkan ini untuk Anda," Amel menyerahkan secuil kertas berisi tulisan tangan Anes.
"Aku masih ingin di sini, berikan aku waktu sebentar lagi. Kalau mas memang benar-benar mencintaiku, pulanglah! hujannya sangat lebat. Jangan datang ke sini lagi, aku mohon beri aku waktu. Dan juga jangan salahkan pak David ataupun Amel. Mereka tidak ada sangkut pautnya dengan masalah rumah tangga kita. Istrimu, Anes," Alex membaca pesan yang di tiap oleh Anes.
"Sebaiknya Bapak pulang saja, Anes baik-baik saja di sini," ucap Amel.
"Baiklah, saya akan pulang, saya titip Anes, katakan padanya saya merindukannya dan akan menunggunya pulang," ucap Alex kemudian dengan terpaksa meninggalkan rumah Amel.
๐ผ๐ผ๐ผ
Dua hari kemudian...
"Ngapain pagi-pagi kamu ke sini?" tanya Amel jutek. Karena David sudah nangkring di depan rumahnya pagi itu. Ia masih kesal karena David sudah memberi tahu Alex keberadaan Anes.
"Pengkhianat!" kesal Amel.
David tak menanggapinya serius. Ia tahu Amel hanya kesal kepadanya, dan dia bisa memakluminya.
"Mau ketemu nona Anes, sekalian jemput kamu buat berangkat kerja bareng," jawab David jujur.
"Tidak mau! aku bisa berangkat sendiri," sahut Amel cuek.
"Cepat biarkan aku masuk, aku sudah janji mau ketemu dengannya," ucap David bohong, ia langsung ngeloyor masuk sebelum di persilahkan oleh pemilik rumah.
"Dasar nggak punya sopan santun! main masuk aja!" ucap Amel yang kini duduk di sofa seberang David sambil bersidakep.
"Tolong panggilkan nona Anes," pinta David.
"Kamu beneran udah janjian sama dia? kalau begitu aku panggilin sebentar," sahut Amel.
"Nes, di tunggu David tuh, katanya kalian udah janjian," ucap Amel kepada Anes.
"Siapa bilang, aku nggak janjian, kan ponselku mati,"
"Huh, berati aku di bohongi sama dia," kesal Amel.
"Ya udah nggak apa-apa, mungkin ada hal penting kalau sampai dia yang turun tangan, aku akan menemuinya," ucap Anes.
Lalu mereka menemui David di ruang tamu.
"Pak David," sapa Anes.
"Nona, apakah nona baik-baik saja?" David berdiri dan langsung bertanya kabar Anes.
"Iya saya baik," sahut Anes singkat.
"Syukurlah, bos sangat mengkhawatirkan Anda nona," padahal David selalu memantau Anes, dan dia tahu belahan jiwa bosnya itu baik-baik saja. Yang tidak baik justru bosnya sendiri.
"Kalau pak David ke sini hanya untuk membahas soal mas Alex, saya tidak tertarik," ucap Anes berbohong, kenyataannya, ia sangat merindukannya.
__ADS_1
"Tolong beri saya waktu sebentar saja buat menjelaskan nona, setelah itu terserah bagaimana keputusan nona," sahut David.
"Saya harus turun tangan. Karena suami Anda tidak bisa di andalkan kalau sudah menyangkut perasaan."
Anes diam, karena ia juga ingin mendengar apa yang akan David katakan.
David menjelaskan panjang lebar masalah yang sebenarnya terjadi antara Alex dan Rania, tanpa di tambah atau pun di kurangi.
"Mel,?" David memanggil Amel di sela-sela ceritanya.
"Apa?" tanya Amel.
"Haus," sahut David.
"Huh menyusahkan," Amel bangkit dari duduknya dan menuju ke dapur untuk mengambilkan minum.
"Nih!" Amel menyodorkan segelas air putih kepada David.
"Bening amat, nggak ada yang berwarna?" tanya David.
"Cepat minum dan lanjutkan," sahut Amel yang sudah kembali duduk di dekat Anes.
David meneruskaan ceritanya.
"Jadi begitulah ceritanya nona, sejak saat itu, bos memutuskan untuk pergi ke Australia dan mengubur dalam-dalam semua kenangannya bersama nyonya Rania. Bos sangat menyayangi tuan besar, sehingga dia lebih memilih memendam semuanya sendiri,"
"Kenapa mas Alex tidak jujur saja sama papa?" Anes mulai menanggapi cerita David.
"Tuan besar memiliki sakit jantung nona, bos tidak ingin mengambil resiko jika tuan besar tahu, karena tuan besar sangat mencintai nyonya Rania. Dan Yang ditakutkan bos menjadi kenyataan kemarin, bahkan sampai tuan besar meninggal," jawab David.
"Jadi, waktu itu papa masuk rumah sakit karena tahu yang sebenarnya?" tanya Anes sedikit kaget.
Amel hanya mendengarkan David dan Anes bicara, ia mengagumi setiap kata yang diucapkan laki-laki yang sedang berusaha merebut hatinya tersebut. Mulut David yang komat-kamit seperti mantra yang menyihirnya.
"Betul nona," David meneguk air putih di depannya kembali.
"Bos juga semakin takut, nona akan meninggalkannya setelah mengetahui yang sebenarnya," lanjut David.
"Ck. Dasar mas Alex bodoh! dia pikir cintaku buat dia nggak cukup kuat apa? hingga aku dengan mudahnya akan meninggalkan dia," batin Anes kesal dengan pemikiran sang suami.
"Terus soal yang Anda lihat di kantor, itu hanya sebuah ke salah pahaman, kenyataannya nyonya Rania mencoba mendekatkan wajahnya kepada bos Alex jadi terlihat seolah-olah mereka sedang berciuman, bos Alex langsung menghindar namun Anda keburu melihatny dan salah paham, Kalau tidak percaya Anda bisa tanyakan rekaman Cctv kepada bos Alex, karena Cctv ruangan tersebut privacy, jadi hanya bos Alex yang bisa melihatnya," lanjut David.
"Saya juga tidak yakin dengan apa yang saya lihat pak David, tapi yang buat saya kecewa dan sakit hati kenapa saya harus tahu kenyataannya dengan cara seperti itu? Kenapa mas Alex tidak cerita dari awal, malah bikin saya jadi salah paham kan sekarang,"
"Kalau itu, nona bisa bicarakan baik-baik dengan bos. Di sini saya hanya mencoba menengahi,"
"Kenapa sekarang pak Alex tidak menjelaskan sendiri kepada Anes, malah mengutus kamu ke sini," ketus Amel.
"Bukannya nona Anes tidak ingin menemui bos Alex? bagaimana bisa dia menjelaskannya, nona Anes juga tidak mau mendengar penjelasannya kan kemarin langsung pergi?"
"Saya terbawa emosi pak David waktu itu," sahut Anes menyesal.
"Dia tidak memutuskan ke sini Mel, ini inisiatif ku sendiri," menjelaskan kepada Amel.
"Siapa yang peduli? Aku siap-siap dulu, tinggi aku," sahut Amel yang langsung pergi untuk siap-siap bekerja. Sungguh David gemas dibuatnya.
"Sekarang Anda sudah tidak emosi kan nona? jadi Anda bisa membicarakan ini baik-baik dengan bos, itu saja yang ingin saya sampaikan, selanjutnya bagaimana terserah nona,"
"Saya akan memikirkannya pak David, kalau sudah tidak ada yang di bicarakan lagi, saya permisi," Anes berdiri dan menyusul Amel ke kamarnya.
"Apalagi yang mau di pikirkan sih?" batin David. Dia hendak minum lagi tapi ternyata gelas yang diangkatnya sudah kosong. Ia menghela nafasnya panjang lalu meletakkan kembali ke meja.
"Mel, menurut kamu aku harus bagaimana?" tanya Anes.
"Menurutku kamu harus mengikuti kata hati kamu Nes, jangan biarkan masalah ini berlarut-larut. Nggak baik, apalagi sekarang kamu sedang hamil. Daddynya juga berhak tahu. Dari pada, pak Alex frustasi terus minum-minum dan mabuk, terus ketemu wanita penggoda dan terjadi hal yang tidak di inginkan?"
"Mas Alex bukan orang seperti itu Mel," protes Anes namun.
__ADS_1
"Ya siapa tahu, namanya juga putus asa, udah ah aku berangkat dulu, titip rumah, bye!" Amel meninggalkan Anes sendiri di kamarnya.
"Apa yang di katakan Amel benar, aku tidak boleh membiarkan wanita lain menggodanya, aku tidak akan membiarkannya!" batin Anes.
๐ผ๐ผ๐ผ
Flashback on
Alex tampak memasang wajah bahagianya, pasalnya hari ini ia akan menceritakan kepada Rania, gadis yang kini mengisi hari-harinya tentang siapa dia sebenarnya. Dulu dia berjanji pada dirinya sendiri, jika ia sudah lulus kuliah, ia akan berterus terang kepada kekasihnya, dan ia akan mengajak kekasihnya bertunangan sebelum ia melanjutkan kuliahnya di Australia.
Sore itu, ia mengajak Rania ketemu di tempat biasa mereka bertemu, cafe yang letaknya tidak jauh dari kampus mereka. Kebetulan Rania juga bilang ada hal yang ingin dia katakan kepada Alex.
Alex telah sampai duluan di tempat janjian, ia sudah menyiapkan bunga untuk Rania. Tak lama kemudian, Rania datang.
"Lex, aku ingin bicara sesuatu hal yang penting sama kamu," ucap Rania yang baru saja tiba.
"Kami duduk dulu, aku juga ingin mengatakan sesuatu sama kamu," sahut Alex.
" Biar aku yang bicara dulu," ucap Rania setelah duduk. Alex merasa ada yang aneh dengan Rania
"Bicaralah, akan aku dengarkan dengan baik," Alex mengukir senyum di bibirnya.
"Aku mau kita putus!"
"Deg!" Alex terkejut mendengar ucapan Rania.
"Jangan bercanda," Alex berusaha mencairkan suasana.
"Aku serius, aku akan segera menikah. Selama ini di belakang kamu aku memiliki kekasih lain, yang jauh lebih kaya, " ucap Rania bergetar.
"Ini tidak lucu Rania, kenapa kamu tega lakukan ini?" tanya Alex berusaha tidak terpancing emosi.
"Aku tidak bisa terus menunggu kamu sampai kamu menjadi sukses dan kaya Lex. Aku tidak yakin kamu bisa sukses dalam waktu yang cepat. Aku tidak bisa menunggu,"
"Rania, aku,,"
"Cukup Lex, tidak ada yang perlu dibahas lagi, keputusanku sudah bulat, sebaiknya kamu melupakan aku, itu saja yang ingin aku katakan. Semoga kamu mendapatkan yang lebih baik dariku yang bisa menerima kamu apa adanya," Rania mengakhiri kalimatnya dan segera meninggalkan Alex.
"Ternyata kamu melihat pria dari hartanya Rania, aku sudah salah menilai mu selama ini," Alex menggerakkan giginya, tangannya mengepal penuh emosi dan hatinya merasa hancur.
_________
Satu Minggu kemudian,..
"Lex, kenalkan ini Rania calon istri papa," pak Arya mengenalkan calon istrinya kepada Alex yang saat itu sedang duduk di meja makan. Menunggu seseorang yang ayahnya katakan sebagai calon istrinya tersebut.
Alex berdiri, dan terkejut melihat Rania yang di bawa ayahnya pulang. Begitupun Rania, ia tak percaya kalau ia akan bertemu dengan Alex, sebagai calon ibu tirinya.
"Kalian sudah saling kenal? tidak heran sih kan kalian satu kampus," ucap pak Arya yang menyadari perubahan ekspresi wajah keduanya.
Dengan cepat Alex menjawab," Tidak pa, Alex tidak mengenalnya, silahkan kalian makan, Alex sudah kenyang, permisi!" Alex langsung meninggalkan meja makan.
"Anak itu! sayang maaf ya, jangan di masukkan ke hati," ucap pak Arya kepada Rania.
"I iya mas," sahut Rania yang masih syok.
"Jadi? selama ini huruf P pada nama belakang Alex adalah Parvis? Kenapa aku tidak pernah menyadari hal itu, nama mas Arya, Arya Abraham Parvis, dan Alex? Alex Abraham p? Parvis? batin Rania.
Setelah pertandingan itu, Rania terus berusaha menemui Alex untuk minta balikan. Ia berjanji akan meninggalkan pak Arya demi dia. Alex sangat murka mendengar ucapan Rania, seenaknya mempermainkan perasaannya dan juga ayahnya.
Alex ingin mengatakan yang sebenarnya kepada ayahnya, namun sebelum ia bilang pak Arya kena serangan jantung, Alex mengurungkan niatnya dan lebih memilih pergi setelah pak Arya dan Rania menikah.
Rania sendiri tetap menikah dengan pak Arya karena saat itu Alex menolak untuk kembali, lebih baik dia menikahi pak Arya dari pada tidak dapat apa-apa pikirnya.
**flashback off
๐ผ๐ผ๐ผ**
__ADS_1