
Dua minggu kemudian...
Matahari sudah menampakkan sinarnya, bahkan cahaya hangatnya sudah menyeruak masuk ke dalam kamar utama kediaman Parvis tersebut, namun Anes masih saja terlelap karena kelelahan, mengingat semalam di adakan acara tujuh bulanan di rumah tersebut.
Alex yang sudah terlebih dahulu bangun ini tengah sibuk bermain dengan perut buncit Anes, ia asyik bercanda ria sambil terus mengajak ngobrol anak yang masih di dalam kandungan Anes tersebut.
"Hei tampan! Apa kamu mendengar suara daddy?" Alex mendekatkan mulutnya di perut Anes. Detik kemudian, perut Anes bergerak, membuat Alex girang bukan main. Ia mengasumsikan hal itu sebagai pertanda bahwa anaknya mendengar dan merespon ucapannya.
Alex terus saja mengajak calon anaknya berbicara, tanpa mengganggu Anes yang masih terlelap. Semenjak kahamilannya membesar ia memang menjadi sering merasa cepat lelah. Belum lagi kalau harus melayani Alex di tempat tidur, tenaganya akan habis terkuras. Makanya Alex tak pernah memaksa ya untuk melakukan pekerjaan seperti memasak untuknya, jika memang kondisi Anes sedang tidak fit.
Perut Anes terus saja bergelombang setiap kali Alex mengajaknya bicara. Membuat Alex terkekeh karena senang dan gemas. Saking gemasnya, secara tidak sengaja Alex mencubit perut Anes, membuat Anes membuka matanya. Namun, Anes masih diam, ia ingin tahu apa yang sedang suaminya lakukan.
Anes kembali memejamkan matanya, sebisa mungkin ia menahan tawanya ketika mendengar monolog Alex.
"Lihatlah nak, kamu belum lahir saja daddy udah sangat bahagia, bagaimana kalau kamu sudah lahir?" gumam Anes dalam hati.
Tiba-tiba, Anes mengernyitkan alisnya ketika mendengar apa yang Alex ucapkan kali ini,
"Hah apa? Babby El kangen sama daddy? Minta daddy datang berkunjung? Tapi ini masih pagi sayang, dan daddy belum mandi?" ucap Alex, kemudian ia mendekatkan telinganya ke perut Anes, seolah mendengarkan apa yang anaknya katakan.
"Owh tidak masalah? Baiklah daddy akan mengunjungimu, pasti udah kangen berat ya seminggu ini daddy nggak jenguk kamu, sama daddy juga kangen," ucap Alex kepada calon anaknya yang akhir-akhir ini ia panggil Babby El tersebut.
Perut Anes kembali bergerak.
"Apa? Babby El minta daddy datang? Tapi mommy masih bobok sayang, tidak masalah ya? Baiklah, kalau mommy marah Babby el yang tanggung ya," Alex mulai menyingkap dress piyama yang Anes sedikit demi sedikit sambil mencium perutnya.
"Dasar modus, pakai bilang Babby El kangen," batin Anes.
Ketika dress piyama yang Anes kenakan hampi tersingkap semua ke atas, dan tangan Alex sudah sampai ke salah satu area favoritnya, tangan Anes menampel tangan Alex yang nakal tersebut. Tapi tak membuat Alex mengalihkan tangannya.
"Dasar mesum!" sarkas Anes, Alex terkekeh mendengar ucapan Anes.
"Hehe udah bangun nyonya muda Parvis?" ujar Alex, tangannya masih berada di area favoritnya tersebut. Di tekannya dengan gemas area tersebut.
"Mas Alex!" teriak Anes.
"Hehe, anak kita kangen sama mas katanya sayang, minta di jenguk," goda Alex.
"Modus!" Anes mengangsur tubuhnya hingga duduk bersandar di sandaran tempat tidur. Alex langsung mendaratkan satu kecupan di kening dan bibir Anes.
"Yuk mandi bareng, habis itu sarapan. Nanti mas akan ajak kamu ke suatu tempat," ajak Alex.
"Kemana?"
"Katanya pengen photo maternity?" jawab Alex.
" Sekarang mas? Aku kan bilang baru kemarin, dan nggak harus sekarang juga kok,"
"Yang penting mandi dulu, mama Ratna udah masak tuh,"
"Mama sama papa jadi menginap di sini?" tanya Anes yang memang setelah acar selesai, ia langsung naik ke atas dan langsung tidur.
"Hem," sahut Alex singkat, ia langsung saja membopong tubuh Anes karena menurutnya kelamaan jika harus berargumen terus dengan istrinya tersebut.
๐ผ๐ผ๐ผ
Selesai mandi, mereka berduapun turun untuk menemui kedua orang tua Anes yang sudah menunggu di meja makan.
"Pagi ma, pa," saa Anes dan Alex.
Pak hari yang sedang membaca koran sambil menunggu mereka turun pun langsung melipat korannya setelah mendengar suara anak dan menantunya.
" Pagi sayang, ayo makan dulu sini, mama udah madakin makanan kesukaan kalian!"ajak mama Ratna yang sudah siap mengambilkan mereka makanan. Setelah selesai mengambilkan pak Hari, bu Ratna berniat untuk mengambilkan juga buat Alex.
__ADS_1
" Biar mas Alex aku yang ambilin ma, mama ambiln papa aja," pinta Anes.
Bu Ratna tersenyum dan menyerahkan piring yang ia pegang kepada Anes.
Selesai sarapan, Alex menyuruh Anes untuk bersiap-siap, karena seharian ini ia akan mengajak Anes melakukan sesi photo maternity.
Sampai di tempat pemotretan Anes dan Alex langsung di arahkan untuk berganti kostum yang sudah di sediakan menyesuaikan dengan temanya.
Sebenarnya Alex tidak suka jika harus berpose layaknya seorang model, apa lagi ia sangat tidak suka jika ada orang yang memerintahnya seperti sekarang ini. Tapi, demi menyenangkan hati Anes yang ingin mengabadikan momen bahagia saat kehamilannya, maka Alex memilih mengalah dan menuruti keinginan sang istri.
Alex dan Anes sudah berganti kostum dan siap untuk melakukan sesi photo yang pertama.
Alex yang memang orangnya kaku, harus berkali kali ganti pose seperti yang di arahkan oleh photographer untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Tentu saja Alex harus menahan kekesalannya karena terus-terusan di perintah oleh photographer.
"Sedikit ke kanan tuan, dan tolong pegang pinggang nnyony dengan mesra,"
"Tidak tuan, bukan seperti itu, lebih dekat lagi,"
" Yak, sedikit lagi kepalanya sedikit geser tuan, dan tolong mukanya lebih ekspresi, tatap nyonya dengan cinta,"
" Yak terus seperti itu, pertahankan tuan, satu dua, tiga,"
"Ah kenapa berkedip tuan? Hasilnya jadi jelek ini, ayo kita ambil sekali lagi ya," photographer terus saja mengoceh mengarahkan Alex yang memang terkesan cuek tersebut.
"Hei apa aku harus terus meloto lt sampai mataku keluar, hah?" hardik Alex karena merasa kesal, sejak tadi photographer seolah tidak puas dengan hasil jepretannya. Padahal dalam hatinya ia sangat memuji Alex yang sangat photogenik tersebut, ia hanya ingin mengambil photo mereka sebanyak mungkin.
" Sayang seksi ika harus segera berakhir," batin photographer tersebut, ia ingin lebih dan lebih lagi mengambil photo mereka berdua.
" Tidak tuan muda, saya hanya mau mengambil hasil yang terbaik,"
Alex hanya mencoba bersabar dengan mengusap wajahnya kasar, baru kali in ada yang berani mengatur dia begitu, dia kembali berpose seperti arahan photographer.
"Cepat! Udah belum? Pegal nih leher!" teriak Alex yang dari tadi harus mempertahankan posisi ya dengan kepala sedikit miring.
"Sudah tuan muda, sekarang ganti pose,"
"Tunggu! Pertahankan Tuan, yak begitu yang mesra. Satu dua cekrek!" seru sang photographer.
"Berisik!" umpat Alex. Ia mengakhiri pose tersebut dengan mengecup bibir Anes masih dalam posisi yang sama, kesempatan itu tak di sia-sialan oleh photographer, kapan lagi bisa mengabadikan kemesraan antara tuan dan nyonya Parvis.
๐ผ๐ผ๐ผ
Baru sesi pertama tapi, Alex hampir saja menyudahi acara pemotretan karena kesal, tidak tahan dengan ocrhan sang photographer yang menyakiti telinga.
Sesi pertama yang di lakukan di luar ruangan tersebut akhirnya selesai dan berganti di dalam studio.
Alex dan Anes di minta untuk berganti kostum lagi, kali ini Anes memakai gaun yang sangat seksi, lekuk tubuhnya jelas terlihat dan membuatnya terlihat seksi. Bahkan gaun tersebut terlihat transparan di beberapa titik membuat yang melihatnya bisa salah fokus.
Melihat Anes keluar dari ruang ganti dengan pakaian seperti itu, kening Alex langsung berkerut.
"Siapa yang menyuruh istri saya memakai pakaian sperti itu?" Alex terhenyak dari duduknya.
"Kenapa, apa ada yang salah tuan? Bukankah nyonya muda Parvis terlihat sangat cantik?" jawab seorang wanita transgender yang menyiapkan kostum Anes, sedangkan yang membantu Anes ganti kostum tentu saja perempuan, sesuai request Alex.
"Ganti!" perintah Alex.
"Aneh! Istrinya di pakein baju bagus begini kok nggak suka, suruh aja pakai baju kurung kalau gitu," ledeknya.
"Saya suaminya, saya wajib mengingatkan jika ada yang salah dengan istri saya," tegas Alex.
"Ih tuan, emangnya kenapa kalau pakai yang ini, kan terlihat seksi. Pasti orang kaya sperti tuan kan senang dengan yang seksi-seksi. Apalagi wanita seksi seperti saya,"
__ADS_1
"Saya tidak suka wanita jadi-jadian!" ucap Alex.
" Ih tuan muda ini, ganteng-ganteng mulutnya kayak makan cabe sekilo, pedas! Ngaku deh, palingan Anda juga langganan wanita seperti saya, iya kan? "ucap wanita tersebut yang memang pekerjaannya nyambi sebagai penghibur om-om hidung belang.
Mendengar ucapan wanita jadi-jadian tersebut, membuat Alex naik darah seketika.
" Keluar kamu! Setelah ini saya pastikan kamu tidak bisa bekerja lagi, bahkan bekerja menggoyang tubuh laki-laki seperti yang kaku bilang tadi pun kamu tidak akan bisa! Satu lagi, saya nggak doyan wanita jadi-jadian seperti kamu, cepat keluar!"
"Tapi tuan, saya kan cuma bercanda tuan, jangan masukkan ke hatilah tuan, ampuni saya," mohonnya. Alex diam tak bergeming.
"Tolong Anda keluar kak! Saya juga tidak suka Anda berkata seperti itu kepada suami saya, suami saya bukan laki-laki seperti itu," ucap Anes yang juga marah dan tidak suka suaminya di katai berlangganan wanita penghida di luar sana.
"Tapi saya cuma bercanda nyonya,"
"Sekalipun bercanda, saya tidak suka kak. Ini suami saya sudah berbaik hati dengan hanya mengusir Anda dan tidak membuat Anda tidak bisa bernapas lagi,"
" Aduh, metong dong?" wanita tersebut langsung keluar karena ketakutan.
Sedangkan yang lain hanya bisa diam, mereka tidak berani ikut campur ketika Alex marah atau bakal panjang urusan.
" Tuan muda, maafkan kami, ini kelalaian kami dalam melayani tuan, kalian menunggu apa? Cepat bantu nyonya Parvis ganti kostum," ucap seorang wanita yang ternyata dia adalh pemilik tempat tersebut, ia yang tadi berada di luar bersama kru lainnya, langsung masuk ketik mendengar ada keributan di ruang ganti.
" Saya akan memecat orang yang telah lancang terhadap Anda tadi tuan,"
Alex hanya diam karena marah, melirik wanita asli yang cantik dan seksi lainnya saja ia tak sudi, apalagi sampai berlangganan wanita jadi-jadian seperti itu, sungguh menghina harga dirinya.
Beberapa saat kemudian, Anes keluar dengan sudah berganti kostum, dan itu membuat Alex mengakat satu sudut bibirnya ke atas. Kecantikan istrinya memang tiada nomor duanya buat Alex.
"Kalian tolong keluar dulu, saya mau bicara sam suami saya," pinta Anes.
"Baik nyonya, tapi tolong bujuk tuan muda supaya memaafkan kami nyonya," ucap pemilik studio pemotretan yang sudah sangat terkenal tersebut sebelum ia dan para pegawai ya keluar dari ruang ganti tersebut. Ia tahu siapa tuan Parvis, bisa saja setelah ini studionya akan di tutup permanen oleh Alex.
Anes hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Anes mendekat ke arah Alex yang masih terlihat marah.
"Mas, jangan marah lagi, bukankah kita kesini untuk berphoto? Untuk membuat kenangan tentang kehamilan babby El? Ayo keluar dan segera selesaikan sesi photonya," njuk Anes dengan lembut.
"Atau mas mau kita pulang saja? Kalau mau pulang juga nggak apa-apa," lanjut Anes sebelum Alex bersuara. Ia tahu suasana hati Alex sedang tidak baik.
Alex menghembuskan nafasnya kasar lalu memegang tangan Anes.
"Ayo kita keluar dan lanjutkan photonya!" ajak Alex, ia tak ingin membuat Anes kecewa.
Anes pun tersenyum senang karena suaminya selalu pengertian dan bisa mengalahkan egonya jika berhadapan dengan nya.
๐ผ๐ผ๐ผ
Pemotretan pun di lanjutkan beberapa sesi. Photografer tampak cerewet sekali ketika mengarahkan Alex untuk pose yang luwes dan bagus. Padahal sebenarnya Alex tampak luwe sekali, hanya saja sang photograoher selalu tidak puas dan ingin mengambil photo yang lebih baik lagi, seperti ada kepuasan tersendiri bisa mengambil photo pria tampan tersebut.
Pemotretan tersebut memakan waktu yang cukup lama hingga tak terasa hari sudah sore. Dan Alex meminta untuk selanjutnya adalah sesi photo terakhir. Karena ia tahu Anes sudah kelelahan.
Pada sesi terakhir, dengan luwesnya Alex berpose bak seorang model profesional. Membuat yang ada di ruangan tersebut takjub dan kaget, ternyata Alex bisa juga berpose dan sangat photogenik tanpa di arahkan.
"Tuan, nyonya, ini hasil photo hari ini, sangat bagus sekali, kalian sangat serasi dan hasilnya sangat menakjubkan, bolehkah kami nanti memajang salah satu photo kalian di studio kami sebagai referensi?" ucap photographer sambil memperlihatkan hasil jepretannya tersebut di dalam laptopnya.
" Tidak! Saya tidak mau photo saya dan istri saya jadi konsumsi publik!" jawab Alex dengan tegas sambil memegang lehernya yang terasa pegal.
๐ผ๐ผ๐ผ
๐๐๐๐
__ADS_1
๐ . Maaf kalau part ini kurang menarik๐Jangan lup like komen dan votenya, terima kasih ๐๐ salam hangat author โค๏ธโค๏ธ๐