MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
Chapter 226


__ADS_3

Anes menggeliat lalu membuka matanya, untung saja saat Anes membuka kedua matanya sempurna, Alex sudah berada tepat di depannya.


"Huh untung saja tepat waktu, selamat!" Alex mengelus dadanya sendiri sambil mengatur napasnya yang tak beraturan.


"Mas kenapa kayak habis ngejar maling begitu?" tanya Anes sambil mengucek matanya.


"Enggak apa-apa sayang, ayo pulang!" ajak Alex.


"Tidak bisa di bayangkan kalau Anes terbangun sebelum aku kembali ke sini, bisa-bisa di pecat jadi suami nih," batin Alex.


Anes melihat ke sekililing, sudah sepi, sudah tak nampak lagi batang hidung para geng gesrek di sana.


"Mereka sudah jalan duluan ke mobil, lamarannya sudah selesai," ucap Alex mengerti kebingungan yang terpancar dari wajah sang istrinya.


"Terus, terus diterima? Aku ketinggalan moment nih,"


"Tentu saja di terima dong sayang, mana ada yang bisa menolak lamaran David," sahut Alex.


"Kalau begitu, aku mau ngucapin selamat buat abang,"


"Besok aja sayang, jangan ganggu makan malam romantis mereka, sekarang kita pulang. Mau jalan sendiri atau mas gendong?" tanya Alex.


"Jalan sendiri aja mas, bawa tuh kursinya," Anes menunjuk ke arah kursi yang ia bawa dari rumah tadi.


"Biarin aja, nggak usah di bawa pulang," ucap Alex, ia menuntun Anes dan mengajaknya berjalan menuju ke mobil mereka.


🌼 🌼 🌼


Keesokan harinya...

__ADS_1


Matahari sudah mulai menampakkan sinarnya, namun Amel masih enggan untuk bangun karena semalam ia benar-benar tidak bisa tidur, ia terus memandanhi cincin yang kini tetasang di jari manisnya tersebut. Hingga menjelang subuh ia baru bisa tertidur. Untung saja hari ini libur, jadi dia tak perlu buru-buru bangun untuk bekerja.


Terdengar pintu kamar Amel di ketuk oleh embak yng sudah datang. Amel hanya menggeliat dan kembali meneruskan tidurnya.


"Non, itu nyonya sudah pulang, Non Amel sudah di tunggu buat sarapan!" ucap embak dengan sedikit berteriak.


"Ia mbak, sebentar lagi saya turun, bilang sama mama suruh makan duluan saja!" balas Amel dengan malas.


Embak pun tidak bersuara lagi, Amel kembali menyusup ke dalam selimut.


Saat bu Mira sedang menikmati sarapannya, tiba-tiba embak datang dan mengatakan ada tamubyang ingin bertemu dengannya. Embak hanya menjawab den ganteng yang datang, ketika dintanya siapa yang datang oleh bu Mira.


"Selamat pagi nyonya Mira," sapa David yang sudah berada di ruang tamu dengan sopan.


"Bukannya ini teman dekatnya Amel? Ada apa dia mencariku? " batin bu Mira, ia tak begitu tahu soal urusan asmara sang anak karena terlalu sibuk dengan bisnis cateringnya yang sedang berkembang. Dilihatnya, di atas meja sudah ada beberapa buah tangan yang di bawa oleh David.


"Silahkan duduk Tuan,"


David menghela napasnya panjang, sebelum akhirnya memuli membuka suara tentang niatnya datang pagi-pagi ke kediaman bu Mira, yaitu untuk melamar putrinya, Amel.


"Begini nyonya,,,,"


"Panggil Tante saja," bu Mira langsung memotong kalimat David.


"Begini tante, mungkin Anda bingun dengan kedatangan saya pagi-pagi begini ke kediaman Tante dan ingin bicara kepada tante," sebenarnya David taju, mungkin waktunya tidak tepat, tapi mengingat bu Mira yang jarang di rumah, David tidak ingin menyia-nyiakan waktu begitu saja


David kembali menghembuskan napasnya untuk meminimalisir ketegangannya. Melamar anak gadis kepada orang tuanya ternyata tak semudah saat melamar anaknya.


" Maksud kedatangan saya ke sini adalah untuk meminta ijin kepada tante, supaya saya diterima menjadi salah satu anggota keluarga dari tante Mira, dengan kata lain, saya ingin melamar putri anda, Amel, untuk menjadi istri saya. Saya tahu, mungkin anda kaget kenapa saya tiba-tiba muncul dan langsung melamar Amel, akan tetapi, selama ini saya dan Amel sudah menjalin hubungan sebagai kekasih, dan saya tidak ingin berlama-lama menggantung setatusnya hanya sebagai kekasih, saya ingin Amel menjadi istri dan ibu dari anak-anak saya, besar harapan saya agar tante bisa menerima saya untuk menjadi menantu tante," ucap David dengan sedikit kaku dan berkeringat. Kalau Alex melihatnya, mungkin laki-laki itu akan menertawakannya.

__ADS_1


Mira memang sedikit terkejut dengan lamaran dadakan dsri David, ia baru saja pulang dan tahu-tahu putrinya di lamar. Kadang ia memang mendengar dari embak kalau Amel dekat dan sering jalan dengan laki-laki tampan, dia adaah asisten pribadinya Alex, suami sahabat majikannya.


"Dia datang sendiri? Apa dia tidak bicara terlebih dahulu kepada orang tuanya? Atau dia tidak memiliki keluarga?" bu Mira bertanya tanya dalam hati, tapi itu bukan poin yang saat ini ingin ia ketahui.


"Begini nak David, Amel adalah anak perempuan saya satu-satunya, saya tidak bisa menyerahkan anak saya ke sembarang laki-laki. Saya ingin tahu, kamu punya apa untuk menjamin kebahagiaan anak saya kedepannya? Saya tidak ingin Amel menderita seperti saya, hingga akhirnya gagal dalam berumah tangga. Saya minta maaf, saya sudah mempunyai calon suami untuk putri saya, dia anak sahabat saya dan dia mencintai Amel, saya sudah tahu dan mengenalnya lama, tahu kalau dia menyukai dan mencintai Amel sudah lama, saya akan menjodohkan mereka. Sedangkan kamu, saya belum memiliki pandangan apapun tentang kamu yang bisa membuat saya yakin untuk menerima kamu sebagai suami anak saya, sekali lagi saya minta maaf. Jika kamu tahu apa yang saya maksud, kamu pasti akan mengerti, saya melakukannya demi Amel, saya tidak ingin salah dalam mengambil keputusan," ucap bu Mira panjang lebar. Sebenarnya ia juga berat untuk mengatakan hal tersebut.


David terdiam sejenak, ia seolah mengerti dan memahami maksud dari ucapan bu Mira. Mungkn memang David kurang memepersiapakan semuanya, dia terburu-buru dan gegabah, sehingga membuat bu Mira meragukannya bahkan menolaknya. David belum berpengalaman tentang hal ini, tapi dia main lamar saja tanpa persiapan. Dia juga tidak bisa memaksa bu Mira untuk menerimanya, akan tetapi kata-kata bu Mira yang mengatakan kalau Amel akan di jodohkan dengan anak sahabatnya, membuat David meradang, kecewa dan sakit.


"Baiklah, saya mengerti tante, saya minta maaf atas kelancangan saya, tapi apakah Amel akan bahagia jika menikah dengan laki-lakinyang tidak ia cintai tante?" ya David mengkhawatirkan Amel, meskipun tidak ia pungkiri, ia juga akan hancur jika harus melihat Amel bersanding dengan laki-laki lain.


" Jika kamu benar-benar mencintainya kamu akan mengerti David, lebih baik di cintai dari pada mencintai, sedangkan kamu, saya masih belum bisa tahu sejauh mana kamu mencintai anak saya, kasihan jika dia yang mencintai kamu terlalu dalam. Semua ini saya lakukan untuk Amel. Kalau sudah tidak ada yang ingin di bicarakan lagi, saya ingin beristirahat, saya baru saja pulang. Amel juga masih tidur,"


" Baiklah kalau begitu saya permisi tante," pamit David kemudian.


" Eh dia beneran mau langsung pamit? Segini saja cintanya buat Amel?"


" Baiklah, sekali lagi tante minta maaf, "


" Saya mengerti tante," balas David. Kemudian, berbalik badan dan pergi.


" Saya tidak akan menyerah begitu saja," batin David, ia mengealkan kedua tangannya sambil berjalan menuju ke mobilnya.


Sementara Amel yang ingat jika David pagi ini akan datang kerumah dan melamarnya kepada bu Mira, langsung bangun dan bersiap-siap. Ia berdandan cantik untuk menyambut calon suaminya. Ia tak tahu menahu tentang apa yang sedang terjadi di ruang tamu, ia tidak tahu jika David sudah datang dan bahkan sudah pamit pulang dengan perasaan kecewa.


🌼 🌼 🌼


💠Jangan lupa like, komen dan votenya


O ya, novel baru author sudah rilis lho, jangn lupa mampir ya, judulnya "Ibu untuk anak-anakku" klik saja profil author untuk mencarinya. terima kasih🙏🙏

__ADS_1


Salam hangat atuthor❤️❤️💠


__ADS_2