MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 116


__ADS_3

Hari sudah malam, semua sudah pulang ke rumah masing-masing, kini Anes hanya sendiri setelah mengantarkan ke dua orang tuanya sampai depan pintu. Sepi sekali Anes rasakan.


Benar kata orang, saat anggota keluarga meninggal, rasa sedih begitu lebih terasa saat orang itu sudah di kubur. Apalagi saat keadaan rumah sudah sepi, saat itu akan sangat terasa sekali kehilangan, bayangan-bayangan orang yang meninggalkan kita akan sangat jelas di pelupuk mata dan semakin menambah kerinduan kita terhadapnya. Ya, meskipun semasa hidupnya pak Arya tidak tinggal di rumah tersebut, namun tetap saja rasanya ada yang hilang dari rumah tersebut.


Anes naik ke kamarnya dengan membawa nampan berisi makan malam untuk Alex. Ia mengkhawatirkan kesehatan sang suami, padahal ia sendiri juga belum makan dari pagi tadi. Karena rencananya ia akan sarapan bersama Alex di rumah sakit tapi semua di luar rencananya.


"Mas makan dulu, ini sudah malam. Dari pagi mas belum makan sama sekali nanti mas sakit," ucap Anes sambil mendekati Alex. Namun, ternyata Alex sudah tidur. Anes meletakkan makanan yang ia bawa dan menyusul suaminya tidur karena ia juga merasa sangat lelah.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Sudah satu Minggu semenjak kepergian pak Arya, Alex selalu menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bekerja, sebagai pelampiasan kesedihannya. Ia sampai mengesampingkan keberadaan Anes.


Pagi-pagi sekali Alex sudah siap berangkat bekerja sebelum Anes selesai menyiapkan sarapan.


"Mas berangkat dulu," pamit Alex ketika Anes menyiapkan sarapan di meja makan.


"Tapi mas belum sarapan, ayo kita sarapan dulu," sahut Anes.


"Kami sarapan sendiri saja, mas buru-buru," ucap Alex sambil mencium puncak kepala Anes dan langsung pergi.


Anes hanya menarik nafasnya panjang melihat punggung Alex yang berjalan semakin menjauh.


"Sudah seminggu kamu seperti ini terus mas, kamu bahkan sepertinya lupa ada aku di sini," batin Anes tanpa terasa air matanya menetes. Ia sangat merindukan sosok Alex yang dulu.


Anes juga tak berselera makan, ia memutuskan untuk ke taman belakang.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Di kantor...


"Mel, temui aku di koridor kantor sekarang," Amel yang baru saja tiba di kantor dan menaruh tasnya di meja kerjanya, langsung mendapat pesan singkat dari David.


"Mau ngapain? kalau ada perlu kenapa nggak nyamperin aku ke sini? aku baru saja sampai," balas Amel.


"Cepat ke sini, aku tunggu 3 menit," balas David


"Huh mau ngapain sih nih orang," batin Amel, ia langsung beranjak menuju ke tempat yang di maksud.


"Apa? kenapa nggak nyamperin ke kubikel aku kalau ada yang mau di omongin?" tanya Amel begitu sampai di koridor.


"Pekerjaan kamu hari ini biar aku handle, kamu ajak jalan-jalan nona Anes, kasihan sepertinya bos Alex masih bersedih dan mengabaikan nona Anes. Pasti dia sedih," ucap David.

__ADS_1


Amel hanya menatap David dengan tatapan yang susah di tebak.


"Kenapa malah lihatin kayak gitu?" tanya David.


"Ternyata kamu perhatian ya sama Anes, aku jadi curiga, jangan-jangan kamu ada hati sama dia," canda Amel.


"Kenapa? cemburu? mau aku perhatiin juga?" balas David.


"Tentu saja mau," sahut Amel keceplosan dan langsung menutup mulutnya.


"Maksud ku,,," Amel menjadi salah tingkah


"Kamu bisa nyetir mobil kan?" tanya David.


"Bisa dong, aku kan juga sering bawa mobil mama," jawab Amel. Ya, sesekali ia memang membawa mobil ibunya yang seorang pengusaha catering tersebut. Namun, Amel selalu menolak jika ingin di belikan mobil sendiri oleh ibunya.


"Kalau, begitu bawa mobilku," ucap David menyerahkan kunci mobil kepada Amel.


"Oke, tapi jangan salahkan aku kalau nanti mobilmu lecet karena aku," Amel menerima kunci mobil yang di berikan David.


David hanya mengangkat satu alisnya untuk menanggapi ucapan Amel.


"Tapi nanti kamu pulangnya bagaimana?" tanya Amel.


"Itu soal gampang, udah sana pergi banyak tanya!"


"Iya, iya aku pergi," sewot Amel langsung berbalik badan.


"Tunggu!" seru David.


"Apa lagi sih?" Amel menoleh ke arah David sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ini!" David menyodorkan sebuah kartu kredit kepada Amel.


"Apa ini?" tanya Amel sambil menerimanya.


"Tidak cuma bawel, tapi ternyata kamu bodoh ya, kenapa bisa bekerja di Parvis Group, kalau kartu kredit saja nggak tahu," ledek David.


"Kampret! aku juga tahu ini kartu kredit, tapi untuk apa kamu berikan ini sama aku?"


"Terserah mau buat apa, kamu bisa menggunakannya hari ini, jangan lupa di kembalikan," ujar David santai.

__ADS_1


"Wah Anda baik sekali tuan David, tapi sayangnya aku bukan cewek matre!" sungut Amel.


"Ya udah kalau nggak mau, padahal aku ikhlas ngasihnya," David menarik kembali kartu kreditnya untuk di masukkan ke dalam dompetnya kembali.


"Tapi boleh dong sekali-kali traktir aku," Amel merebut kembali kartu kredit itu sebelum masuk ke dalam dompet David.


"Tapi jangan salahkan aku ya, kalau nanti aku habisin sampai over limit," canda Amel.


"Coba saja kalau bisa, walaupun nggak unlimited, tapi aku yakin kamu akan kewalahan menghabiskannya," sahut David.


"Oke, oke menarik juga. Tuan David baik banget sih, beruntung banget nanti cewek yang jadi istrinya," ucap Amel sambil mengedipkan matanya lalu pergi meninggalkan David di tempatnya.


"Ck, dasar, main pergi saja, nggak tanya dulu nomor PINnya, cewek aneh," gumam David sambil tersenyum.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


"Nona Amel, silahkan masuk," sapa Bi Ina.


"Terima kasih Bi," Amel melangkahkan kakinya memasuki rumah Anes yang besar dan mewah itu.


"Nyonya muda ada di taman belakang nona, mari saya antar," ucap Bi Ina yang sudah tahu kalau Amel ke sana paati untuk menemui Anes. Karena bisa Ina yang menghubungi David dan meminta David untuk menyuruh Amel ke sana. Karena bisa Ina tidak tega melihat nyonya mudanya bersedih terus. Mungkin Amel bisa sedikit menghiburnya pikir bisa Ina.


"Tidak usah Bi, biar saya ke sana sendiri saja, bibi bisa melanjutkan pekerjaan bibi," sahut Amel.


"Baiklah kalau begitu nona, saya permisi," pamit bi Ina.


Amel langsung menuju ke taman belakang di mana Anes sering menghabiskan waktunya jika Alex sedang tidak ada di rumah.


"Heh, cantik-cantik melamun. Ntar Kesamben lho!" ucap Amel yang melihat Anes sedang duduk melamun.


"Eh Mel, kamu ke sini? memangnya nggak kerja?" tanya Anes.


"Lha ini aku lagi kerja," jawab Amel.


"Maksudnya?" Anes tidak mengerti ucapan sahabatnya tersebut.


"Iya, aku sekarang sedang bekerja menjadi asistenya istri si bos, yang siap mengantar dan menemani jalan-jalan. Yuk ah, siap-siap kita cabut. Gabut kan di rumah terus?" Amel menarik Anes dari duduknya.


"Tapi Mel?"


"Udah jangan banyak protes, sana siap-siap," Amel mendorong pelan punggung Anes menggiringnya untuk masuk. Anes hanya menurut. Sebenarnya ia juga butuh sedikit penyegaran, untuk mengusir rasa bosan dan sedihnya karena di cuekin oleh Alex.

__ADS_1


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


__ADS_2