MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 135


__ADS_3

Di kantor...


Karena merasa sedikit kewalahan, akhirnya David meminta Amel untuk membantunya, karena kebetulan pekerjaan Amel tidak banyak.


"Tidak di sangka , ternyata otaknya main juga nih anak, tadinya aku sempat ragu meminta bantuannya, ku kira karena mulutnya yang nyaring, otaknya kosong. Astaga Dav, jaga mulutmu, untuk si doi nggak dengar, kalau dengar mamalia kamu, bakalan kalah sebelum berperang," monolog David dalam hati, tersenyum melirik ke gadis di depannya itu.


Amel tampak serius sekali memeriksa dokumen di tangannya. Sesekali ia melaporkan kepada David jika ada sesuatu yang menurutnya janggal atau tidak benar dari dokumen yang ia periksa, untuk di periksa ulang oleh David.


David duduk di sofa, sedangkan Amel duduk lesehan di lantai, menghadap dan memeluk meja di depannya.


"Dav, ini sepertinya kurang..." Amel menoleh ke atas ke arah David yang ternyata sedari tadi memperhatikannya. Pandangan mereka bertemu. David mendekatkan wajahnya ke wajah Amel, semakin dekat dan dekat dan hampir berciuman.


" Aduh mataku ternodai!! Kalaupacaran jangan di sini," goda Alex yang baru saja datang dan masuk ke ruangan David.


David dan Amel kaget dan langsung menjauhkan wajah mereka satu sama lain.


"Bos, Anda sudah datang? tidak seperti yang Anda pikirkan, kami tidak sedang pacaran di sini. Ini tadi saya meminta sedikit bantuan Amel, untuk memeriksa dokumen yang tidak terlalu penting. Kalau yang sangat penting, saya memeriksanya sendiri," ucap David mencoba menjelaskan.


"Hahaha mau pacaran juga bukan urusanku. Yang penting aku sedang happy, mau jadi Daddy cuy!" seru Alex langsung berkacak pinggang meninggalkan dua insan yang sedang dalam kecanggungan tersebut.


"Duk!" Alex menabrak pintu ruangan David.


"Siapa yang memasang pintu di sini! besok suruh orang pindahkan," ucap Alex menutupi rasa malunya.


"Antar dokumennya ke ruanganku!" teriak Alex kemudian menghilang dari pandangan.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Di rumah....


Anes merasa bosan, tak tahu mau melakukan apa. Semenjak resign aktivitasnya di nilainya monoton. Hanya taman belakang rumah yang selalu jadi kesibukannya. Mau bekerja lagi juga tidak ingin Alex mengijinkannya, apalagi sekarang dia sedang hamil muda. Sahabat yang paling dekat dengannya juga sibuk bekerja dan pedekate sama David.


Di tengah rasa bosannya, tiba-tiba ponselnya berdering.


"Nomor tak di kenal," gumam Anes ketika melihat nama si pemanggil, yang tadinya ia pikir Alex yang menelepon.


"Halo Nes, ini aku Rangga," ucap seseorang id seberang telepon yang ternyata Rangga.


"Kak Rangga? bagaiman bisa dia tahu nomor ponselku?" batin Anes yang terkejut mendengar suara Rangga.


"Kak Rangga? Kakak dapat nomorku dari mana?" tanya Anes.

__ADS_1


"Itu tidak penting Nes, aku cuma mau ngajak kamu ketemu di cafe xx, sebentar saja," sahut Rangga.


"Maaf kak, aku nggak bisa," ucap Anes.


"Ayolah Nes, aku cuma mau berpamitan sama kamu sebelum aku ke luar negeri dan entah kapan akan kembali. Mungkin juga tidak akan kembali," Rangga memohon.


"Bagaimana ini? bagaimanapun juga aku mau menjaga hubungan baik dengan kak Rangga," batin Anes bingung.


"Baiklah kak,"


"Oke,"


Tut..Tut..panggilan berakhir.


"Em sebaiknya aku bilang sama mas Alex dulu. Kalau dia nggak ngijinin aku nggak berangkat," gumam Anes. Ia langsung menghubungi Alex, namun tidak di jawab.


"Sebaiknya kirim pesan aja, nanti kalau udah nggak sibuk pasti di balas," gumamnya lagi. Kemudian, Anes mengambil tasnya dan meminta pak Anton untuk mengantarnya.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Di kantor..


"Bos, ini berkas yang harus Anda periksa. Onya, tadi itu tidak seperti yang anda lihat, saya hanya,,,"


David diam, tak ingin berdebat, ia tak ingin merusak mood bosnya yang sedang bahagia tersebut.


"Dav, sini," Alex meminta David mendekatkan telinganya.


"Ada apa bos?" tanya David penasaran.


"Menurutmu, aku harus puasa dulukah mengajak Anes berolah raga di ranjang? aku takut akan menyakiti anakku kalau aku melakukannya. Dokter bilang tidak apa-apa asal hati hati, tapi aku tetap khawatir," bisik Alex.


"Kalau begitu, bos puasa saja dulu kalau tidak yakin. Jangan di paksakan," sahut David asal. Ia juga tak mengerti soal begituan.


"Begitu ya? Terus aku harus bagaimana? sepertinya aku akan sulit menahannya, apa kamu punya solusinya?" tanya Alex.


David tampak berpikir sejenak,


"Saya punya ide bos," ucap David kemudian. Ia membisikkan sesuatu hal rahasia kepada Alex, Alex banyak manggut-manggut sambil mendengarkan.


"Tapi, bagaimana kalau Anes mengetahuinya? Bisa-bisa aku di pecat jadi suaminya," tanya Alex.

__ADS_1


"Nanti bisa di atur," sahut David.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Anes telah sampai di cafe yang di maksud Rangga.


"Anes," sapa Rangga.


"Ada apa kak, aku tidak punya banyak waktu," ucap Anes sambil duduk.


"Duduk dulu, aku sudah memesankan makanan buat kamu," ucap Rangga.


"Katakan saja apa yang ingin kakak katakan, tidak usah bertele-tele,"


"Iya, tapi kita makan dulu, sayang kan makanannya kalau nggak di makan,"


Anes hanya menurut. Ia makan makanan yang di pesan Rangga, supaya urusannya cepat selesai.


Tiba-tiba Rangga mengambil tisu dan mencoba mengusap sudut bibir Anes, namun Anes segera menghindar.


"Aku bisa membersihkannya sendiri. Maaf aku ke toilet sebentar," ucap Anes.


Beberapa saat kemudian, Anes kembali dan melanjutkan makannya.


"Sudah selesai kak, sekarang katakan!" ucap Anes datar.


"Aku cuma ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja dan bahagia Nes dengan suami kamu. Aku khawatir sama kamu, kamu menikah karena di jodohkan. Pasti kamu terpaksa kan menjalaninya. Sebelum aku pergi, aku hanya ingin memastikan kalau kamu benar-benar hidup dengan baik bersama tuan muda Parvis,"


"Kak Rangga tidak perlu khawatir, aku hidup dengan sangat baik dan bahagia. Suamiku sangat mencintaiku dan begitupun aku mencintainya, perjodohan kami hanya sebagai jalan untuk kami bersama, bahkan sekarang aku sedang mengandung anaknya. Kak Rangga tidak perlu repot-repot mengkhawatirkan rumah tanggaku. Toh, kita tidak pernah terikat hubungan apapun, jalani saja hidup kak Rangga dengan baik, dan carilah pasangan hidup yang bisa membahagiakan kakak,"


"Baiklah aku mengerti. Sekarang aku benar-benar yakin, kalau kita memang tidak berjodoh. Semoga kamu bahagia selalu. Aku akan pergi besok. Aku berharap suatu saat kita bisa bertemu kembali," ucap Rangga.


"Iya kak, terima kasih. Semoga kak Rangga juga bahagia selalu dan segera mendapatkan pendamping," sahut Anes.


"Kalau begitu, biar aku antar kamu pulang,"


"Tidak perlu!" seru Alex yang ternyata sejak tadi sudah berada di sana dan mendengarkan obrolan mereka.


"Mas Alex," Anes khawatir suaminya akan salah paham.


"Tidak perlu mengantar istri saya tuan Rangga, saya sudah datang menjemputnya," ucap Alex sambil mendekati Anes.

__ADS_1


"Tuan Parvis, tolong jangan salah paham Saya hanya,,,"


"Saya mengerti tuan Rangga, terima kasih sudah mengkhawatirkan istri saya, tapi Anda jangan khawatir, saya pasti akan sellau membahagiakannya," ucap Alex sambil memeluk pinggang Anes dari samping.


__ADS_2