
Satu bulan kemudian..
Dila merasa semakin hari ia tinggal di rumah Parvis, semakin ia penasaran dengan sosok laki-laki yang tak tersentuh oleh wanita lain tersebut. Siapa lagi kalau bukan Alex, laki-laki yang terkenal dingin terhadap perempuan lain tapi sangat hangat kepada istrinya.
Dila mencoba berbagai cara untuk menggoda Alex, namun usahanya Selakau gagal. Bukannya Alex dan Anes tidak tahu akan gelagat Dila, meskipun dia tidak secara terang-terangan mendekati Alex, namun dari gelagat dan tingkah lakunya sudah membuat Anes semakin yakin kalau ada yang tidak beres dengan adik angkat David tersebut.
Anes hanya berpura-pura tidak menyadarinya, Ia ingin tahu sejauh mana gadis tersebut akan bertingkah.
Sore itu Anes sedang sibuk di dapur untuk membuat kue sambil menunggu kepulangan Alex dari kantor.
Alex pulang dengan membawa buket bunga mawar merah untuk mengejutkan sang istri.
Saat pintu rumahnya terbuka, Alex yang sengaja membelakangi pintu langsung berputar.
"Tara! Bunga mawar spesial buat istri mas tercinta, sebagai permintaan maaf karena semalam mas terlalu liar saat olah raga," ucap Alex dengan cepat sambil berputar, senyum semanis mungkin ia sunggingkan dari sudut bibirnya.
"Maaf tuan?"
"Astaga! Bibi!" teriak Alex kaget karena ternyata yang membukakan pintu dan menyambutnya adalah bisa Ina, bukan Anes.
"Iya tuan, ini saya. Maaf tuan," ucap bi Ina menunduk, ia sebisa mungkin menahan tawanya di deapan majikannya tersebut.
Alex pun berhasil menyembunyikan rasa malunya di depan bibi dengan tetap memasang wajah andalannya, datar dan tanpa ekspresi.
"Nyonya di mana?" tanya Alex kemudian.
"Di dapur tuan muda, sedang membuat kue," jawab bi Ina.
Alex langsung menuju ke dapur di mana Anes sedang sibuk dengan adonan kuenya.
Alex meletakkan bunga mawar ya di meja dapur, ia langsung mendekati Anes.
"Baunya enak sekali," ucap Alex seraya menjatuhkan dagunya di pundak Anes. kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana kerjanya.
__ADS_1
"Mas sudah pulang?" Anes menoleh.
"Hem," sahut Alex masih dengan posisinya.
"Maaf ya aku keasyikan bikin kue dari tadi, sampai lupa waktu," ucap Anes.
Dila yang baru saja pulang dari kantor dan langsung ingin mengambil minum di dapur melihat adegan romantis di depannya tersebut.
"Setiap hari di suguhkan pemandangan kayak gini, lama-lama bikin muak. Apa sih bagusnya kak Anes? Sampai pak Alex tergila-gila begitu. Makin penasaran sama pak Alex,
Nggak yakin kalau pak Alex nggak bisa tergoda oleh perempuan lain, apalagi istrinya lagi hamil begitu, pasti kurang menarik di mata pak Alex sekarang," batin Dila yang kini berdiri di ambang pintu.
"Mas tolong angkat kue yang ada di oven dong. Aku lagi sibuk sama adonan yang ini," pinta Anes.
"Sun dulu!" Alex semakin mendekatkan pipinya ke wajah Anes dan Anes langsung menoleh mencium pipi Alex.
"Yes, makasih!" seru Alex.
Alex langsung melakukan apa yang di minta oleh Anes.
Bi Ina, menarik tangan Dila untuk menjauh dari tempatnya berdiri.
"Apaan sih bi? Aku cuma mau ambil minum," ucap dila kepada bibi.
"Bibi kan sudah pernah bilang sama non Dila, jika tuan muda dan nyonya muda sedang ada di dapur, siapapun tidak boleh mendekati area dapur dan sekitarnya. Tolong jaga sikap nona, jangan karena nona adalah adik angkat Tian David, nona bisa seenaknya di sini. Jadilah tamu yang punya etika nona! Di sini nona numpang tinggal sama tuan dan nyonya, jadi mohon untuk tahu diri sebelum menyesal. Atau kelakuan nona selama ini akan bibi laporkan kepada tuan David?" bibi memperingatkan Dila ke dua kalinya.
"Kelakuan apa maksud bibi?" jawab Dila membusungkan dadanya kepada Bu Ina.
"Jangan di kira bibi bodoh nona, bibi tahu semuanya,"
"Ih dasar, pembantu aja belagu! Awas ya! Nanti kalau aku sudah berhasil menjadi nyonya Parvis, aku pastikan bibi orang pertama uang saya usir dari sini!" ancam Dila sambil mengacungkan jari telunjuknya kepada bibi.
"Saya akan senang hati angkat kaki dari sini nona, jika sampai Anda menjadi nyonya di sini. Karena saya tidak sudi mempunyai majikan seperti Anda," balas bibi tegas.
"Awas ya, kalau sampai bibi buka mulut kepada Abang, aku pastikan kak Anes yang menanggungnya," ucap Dila dan langsung meninggalkan bisa Ina di tempatnya.
__ADS_1
"Astaga! Kasihan sekali tuan David, laki-laki sebaik itu harus memiliki adik angkat manusia berhati iblis seperti itu. Ya maklumlah, nggak ada ikatan darah di antara mereka, jadi sikap dan kelakuan bisa jauh sekali beda. Yang sedarah saja bisa berbeda," ucap bi Ina sambil mengelus dadanya.
🌼🌼🌼
Keesokan harinya..
Anes dan Alex sedang menonton tv karena hari ini adalah weekend, jadi Alex tak harus ke kantor. Seharian dia menghabiskan waktunya untuk Anes di rumah.
Sore hari, Mereka menonton televisi sambil membicarakan acara tujuh bulanan yang akan di adakan sekitar dua Minggu lagi. Kali ini acaranya akan di adakan di rumah mereka bukan di tempat Bu Ratna seperti dulu.
"Mas nanti aku jadi ke rumah mama ya? Mau ngomongin soal acara tujuh bulanan itu. Mama kan lebih berpengalaman," ucap Anes sambil ngemil keripik kentang kesukaannya.
"Hem, tapi nanti berangkatnya di antar pak Anton ya, mas ada pekerjaan sedikit. Kalau udah selesai mas akan jemput kamu," sahut Alex yang sibuk membuat pola cinta di perut Anes karena posisinya kini tengah tiduran miring dengan bantalan paha Anes dengan kepala menghadap ke perut Anes. Seperti biasa itu adalah posisi favoritnya untuk mengajak debay ngobrol dan bercanda. Ia tidak fokus dengan televisi yang menyala.
"Iya, aku kan ke sananya Ama Dila. Kemarin Dila bilang pengen ikut ke sana," ucap Anes, tangannya berusaha menjangkau gelas di meja, namun terhalang perut dan kepala Alex.
Dengan sigap Alex langsung mengambilkannya untuk Anes dan kembali ke posisinya lagi.
"Dil, jadi kan ikut ke rumah mama? Habis ini kita berangkat ya? Nanti makan malam di rumah mama aja," ucap Anes sedikit teriak yang kebetulan melihat Dila lewat.
"Sama pak Alex juga kak?" tanya Dila.
Alex yang mendengarnya hanya mengernyit.
"Enggak, mas Alex nanti nyusul, masih ada urusan di rumah," jawab Anes, dalam hatinya ia merasa Dila semakin hari semakin aneh. Kenapa coba harus bertanya dengan suaminya atau tidak mereka pergi.
"Em, itu kak, maaf kayaknya aku nggak jadi ikut kak. Ini aku mau keluar sebentar mau beli obat kak, kepalaku sedikit pusing," balas Dila.
"Kalau pusing aku panggilkan dokter ya? Atau minum obat aja, di rumah ada kok di kotak p3k," ucap Anes.
"Enggak usah kak, nanti minum obat juga sembuh. Nggak perlu panggil dokter. Tapi obat Yanga dan di kotak p3k tidak ada yang biasa aku minum kak, nanti aku beli saja. Ya udah kak, aku ke kamar dulu mau ambil tas," Dila langsung menuju ke kamarnya.
"Aneh! Kelihatannya dia baik-baik saja, Lagian ada banyak obat di rumah, apa nggak ada yang cocok? Obat apa yang biasa dia minum?" batin Anes semakin curiga.
🌼🌼🌼
__ADS_1