MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 190


__ADS_3

David melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia merasa tidak tenang jika tidak bertemu Amel malam ini. Ia mengemudikan mobilnya menuju ke rumah Amel.


Sesampainya di depan rumah Amel, David menghentikan mobilnya. Sejenak dia diam lalu membuka kaca mobilnya.


"Apa yang aku lakukan? sudah selarut ini, apa yang aku harapkan? Amel juga pasti sudah tidur," gumam David.


Mata David tertuju pada sebuah kamar di lantai atas yang lampunya masih menyala terang. Ya, siapa lagi kalau bukan kamar Amel. David membuka pintu mobil, ia keluar dari mobil dan menyenderkan badannya di sisi mobil sambil terus mengamati kamar yang masih terang tersebut.


David melihat jam tangan merk Patek Philippe yang melingkar di tangannya.


"Kenapa dia belum tidur jam segini? Apa yang sedang dia lakukan?" gumam David. David ingin menelepon Amel, tapi Amel dengan sengaja memblokir nomor David.


David tak kehabisan akal, ia mencoba menghubungi nomor telepon rumah Amel. Sungguh David tak bisa menahannya lagi, kerinduannya terhadap sang kekasih sudah memuncak. Apalagi setelah ia bisa mengingat semuanya, semua kenangannya bersama Amel.


"Halo," ucap Amel dari seberang telepon.


David merasa sangat senang bisa mendengar suara pujaan hatinya tersebut walaupun hanya dari telepon saja. Sesaat David merutuki dirinya sendiri, betapa bodohnya dia hingga melupakan sosok wanita yang kini sedang di teleponnya tersebut.


"Halo, ini siapa?" tanya Amel karena orang yang menelepon masih belum bersuara setelah beberapa saat ia mengangkat teleponnya.


"Halooo, ini siapa ya? Ada perlu apa malam-malam begini telepon? Kalau tidak mau bicara, saya tutup teleponnya, selamat malam!" Amel hendak menutup teleponnya tapi ia mengurungkannya ketika mendengar suara orang yang meneleponnya.


"Mel, ini aku," David akhirnya bersuara.


"David? Ada apa malam-malam begini telepon?" tanya Amel yang paham dengan suara David.


"Ada yang ingin aku bicarakan Mel sama kamu, kenapa kamu menghindar terus dariku Mel?"


"Besok aja Dave kalau mau bicara, ini sudah malam, aku mau istirahat," sahut Amel.


"Tapi Mel, aku mau bilang kalau aku.." belum David selesai bicara Amel sudah menyahutnya.


"Dave, tolong, besok saja kalau mau bicara, di kantor. Selamat malam," Amel langsung menutup teleponnya. Ia tidak tahu kalau sekarang David sedang berada di luar rumahnya.


"Baiklah, selamat malam Amel sayang, selamat istirahat," gumam David yang masih enggan mengalihkan pandangannya ke arah kamar Amel. Ia belum mau beranjak sebelum Amel benar-benar tidur.


Di dalam kamarnya, Amel sedang memegangi ponselnya, melihat potretnya bersama David. Tanpa terasa air matanya jatuh dari sudut matanya.


"Maaf Dave jika aku egois, Aku merindukanmu," gumam Amel.


Kemudian, Amel membuka kontak David yang masuk ke dalam daftar bocknya.

__ADS_1


"Apa aku terlalu kejam Dave? Hingga memblokir nomor kamu? Apa aku keterlaluan?" Amel berniat untuk membatalkan pemblokirannya terhadap kontak David, namun sebelum ia melakukannya ponselnya keburu mati karena kehabisan baterai.


Amel membuang nafasnya kasar, lalu menghubungkan ponselnya ke charger dan meletakkannya di atas nakas. Amel mematikan lampu kamarnya lalu tidur.


David yang melihat kamar Amel sudah gelap, memutuskan untuk kembali ke apartemennya.


"Selamat tidur Mel, mimpi indah," gumam David sebelum akhirnya ia melajukan mobilnya dan kembali ke apartemennya.


"Ternyata seperti ini rasanya patah hati, sakit tapi tak berdarah seperti yang di katakan nona Anes dulu, pantas saja bos Alex selalu kelimpungan jika nona merajuk. Sekarang aku mengerti," David langsung menghempaskan badannya ke atas tempat tidur begitu sampai di apartemennya. Kedua tangannya ia gunakan sebagai bantalan kepalanya, matanya masih enggan terpejam, ia terus menatap langit-langit kamarnya. Lama kelamaan, David memejamkan matanya dan menuju ke alam mimpi, berharap bertemu dengan Amel di sana.


🌼🌼🌼


Keesokan harinya...


Alex dan Anes sedang menikmati sarapan mereka seperti biasanya sebelum Alex berangkat ke kantor.


"Mas, nanti aku ke acara reuniannya sama Amel aja ya? mas lembur kan?"


"Memang acaranya jam berapa sayang?" tanya Alex.


"Jam malam mas, nanti aku berangkat paling jam setengah tujuh," jawab Anes.


"Nanti mas usahakan pulang cepat, kalau bisa mas datang, tapi kalau tidak bisa kamu nggak marah kan?" Karena memang Alex dan David sedang di sibukkan dengan beberapa proyek baru dan besar.


"O ya, soal David semalam dia bilang kalau ingatannya,,,"


"Pagi pak Alex, pagi kak Anes," sapa Dila, membuat Alex tidak melanjutkan bicaranya. Padahal ia ingin memberi tahu kepada Anes kalau David sudah pulih ingatannya.


"Eh Dila, udah siap ke kantor?" Anes menyapa Dila yang mendekati meja makan.


"Iya kak," sahut Dila tersenyum.


"Sini, sarapan dulu," tawar Anes.


"Makasih kak," sahut Dila, ia menarik kursi untuk di duduki.


Alex yang merasa tidak nyaman, langsung memundurkan kursinya dan berdiri.


"Sayang, mas berangkat dulu ya?" ucap Alex, ia mendekat ke arah Anes dan mencium bibirnya.


"Kenapa buru-buru mas?" tanya Anes.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, mas hanya nggak suka ada orang yang tidak tahu diri!" jawab Alex.


Anes mengerti arah pembicaraan Alex, ia juga tidak bisa menyalahkan Alex, karena memang sifat suaminya seperti itu, dingin dan cuek terhadap orang lain, apalagi orang yang tidak ia sukai.


"Baiklah, ayo aku antar ke depan. Dil, aku antar mas Alex ke depan dulu ya?"


"Iya kak," sahut Dila tersenyum.


Anes mengantar Alex sampai ke mobil yang sudah di siapkan oleh sopir.


"Kamu hati-hati sama Dila sayang, dia tidak sepolos pemikiran kamu, setidaknya mas sudah memperingatkan kamu," pesan Alex sebelum ia masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya hingga berangsur menghilang dari pandangan Anes.


"Apa maksud ucapan mas Alex? Sial nggak sepolos itu? Kenapa mas Alex minta aku buat hati-hati?" batin Anes sambil berjalan kembali masuk menghampiri Dila.


"Lanjut makan lagi kak," ajak Dila.


"Eh iya Dil," sahut Anes masih kepikiran dengan ucapan Alex.


"Em, Dila Apa kamu udah punya pacar?" tanya Anes penasaran.


"Baru putus kemarin kak, dia selingkuh sama sahabat aku sendiri. Aku tinggal magang di sini, eh dia malah asyik selingkuh di sana, aku putusin aja lewat wa. Lagian dia orangnya kasar kak. Beda sama pak Alex dan Abang, mereka laki-laki yang baik, pasti jadi incaran banyak wanita. Kak Anes beruntung punya suami kayak pak Alex. Kak Amel juga, meskipun band David amnesia, tapi hatinya tetap masih setia sama kak Amel. Andai saja aku bisa mendapatkan laki-laki seperti mereka, jadi yang kedua pun aku rela kak," ucap Dila.


"Uhuk! uhuk!" Anes tersedak mendengar ucapan Dila yang di luar dugaannya tersebut.


"Hati-hati kak, ini minum dulu!" Dila menyodorkan minum kepada Anes.


"Terima kasih," ucap Anes setelah meneguk air putih yang di berikan Dila.


"Kamu tadi bilang rela jadi yang kedua? Maksudnya?" Anes menyelidik.


"Tidak seperti yang kakak pikirkan, aku tidak berniat untuk menjadi yang kedua buat pak Alex, tidak sama sekali. Aku hanya berumpama kak, karena percuma jadi yang pertama kalau laki-lakinya tidak baik, tapi kalau sesempurna pak Alex, jadi yang keberapapun pasti banyak yang antri. Hati-hati loh kak, jangan sampai pak Alex tergoda wanita lain,"


"Emang iya sih, tapi aku percaya kok sama mas Alex. Aku tahu seperti apa suamiku, kamu jangan khawatir," sahut Anes dengan senyum penuh arti.


"Sepertinya memang benar yang di katakan mas Alex, aku harus waspada sama Dila, tapi untuk mengusirnya dari sini aku tidak bisa melakukannya begitu saja. Tidak bisa gegabah kalau tidak ada bukti dan hanya sebatas persepsi mas Alex dan aku saja. Aku juga harus menjaga perasaan Abang," batin Anes.


"Udah yuk lanjut makan, nanti kamu telat ke kantornya," ucap Anes tetap tersenyum seramah mungkin.


"Iya kak," sahut Dila.


,🌼🌼🌼

__ADS_1


💠Jangan lupa like dan votenya setelah membaca, terima kasih 🙏 salam hangat author ❤️❤️💠


__ADS_2