
Langit yang tadinya cerah tiba-tiba menjadi mendung, seakan-akan ikut merasakan kesedihan atas kepergian pak Arya. Semua yang ikut ke pemakaman pak Arya mulai meninggalkan makam satu persatu, karena acara pemakaman telah selesai.
Para sahabat Alex pun sudah pulang terlebih dahulu ke rumah Alex.
"Sayang, ayo kita pulang!" ajak bu Ratna kepada Anes.
"Mama pulang saja duluan, nanti Anes menyusul. Anes mau menemani mas Alex di sini," sahut Anes sambil memandangi suaminya yang berjongkok di tengah-tengah makam kedua orang tuanya.
"Kalau begitu, mama sama papa pulang duluan ya?" pamit bu Ratna.
"Iya ma, kalian hati-hati," sahut Anes.
"Nyonya Rania, mari kita pulang!" ajak bu Ratna kepada Rania.
Rania yang dari tadi menangis akhirnya ikut pak hari dan Bu Ratna pulang ke rumah Alex.
"Mel, kamu juga pulang duluan saja, pak David bisa mengajak Amel pulang sekarang, biar nanti saya pulang sama mas Alex," ucap Anes dengan melihat ke arah Amel dan bergantian ke arah David.
"Tidak nona, saya akan menunggu bos di sini. Mel, kamu pulang bareng tuan Hari dan nyonya Ratna nggak apa-apa kan?"
"Tidak, aku juga akan menunggu di sini, nanti kita pulang sama-sama," sahut Amel.
Alex hanya diam sambil terus memandangi makam kedua orang tuanya bergantian. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya.
"Pa, ma, kenapa kalian meninggalkan Alex sendiri di dunia ni? bukankah papa sering bilang sama Alex, papa nggak akan ninggalin Alex sendiri? Apa kalian sekarang sudah bertemu? Apakah kalian sekarang sudah bahagia di sana? Alex akan selalu mendoakan kalian dari sini," ucap Alex dalam hati.
"Mas, kita pulang yuk?" Anes berjongkok dan mengajak Alex pulang.
__ADS_1
Alex mengiyakan ajakan istrinya dan mereka berempat kembali ke rumah Alex.
🌼🌼🌼
Di rumah Alex, sudah ada banyak karangan bunga yang di kirim oleh kerabat dan juga rekan bisnis Parvis Group sebagai ungkapan bela sungkawa. Ada juga yang dikirim oleh para petinggi negara. Para pelayat pun sudah mulai banyak yang berdatangan mendatangi kediaman Alex karena memang rumah Alex yang di jadikan sebagai rumah duka sesuai keinginannya.
Alex langsung melewati para kerabat dan sahabatnya yang sudah menunggunya di rumah, ia terus berjalan menuju ke kamarnya tanpa ingin menyapa mereka terlebih dahulu.
Anes, Rania, pak Hari dan bu Ratna beserta kerabat dekat dari kedua keluarga yang menyapa para pelayat yang datang. Mereka bisa mengerti kondisi Alex yang sedang tidak ingin di ganggu saat ini.
Setelah rumah mulai sepi karena para pelayat yang datang sudah mulai berpamitan, Anes pamit kepada orang tua dan sahabatnya untuk menyusul Alex ke kamar. Ia sangat khawatir, karena dari tadi Alex tak juga keluar dari kamarnya.
"Semuanya, aku pamit ke kamar dulu ya, ingin melihat mas Alex," ucap Anes.
"Iya, sayang. Kamu juga perlu istirahat," sahut bu Ratna. Anes meninggalkan mereka dan menuju ke kamarnya.
"Kenapa papa pergi begitu cepat, bahkan Alex belum mengabulkan keinginan papa untuk memiliki cucu dari Alex dan Anes," gumam Alex lirih.
Alex berbalik badan saat mendengar Anes memanggilnya. Ia meletakan photo pak Arya dan Bu Widya kembali ke atas nakas.
"Mas baik-baik saja sayang, kamu jangan khawatir," ucap Alex sendu.
Anes duduk di menyerong di tempat tidur menghadap ke arah Alex. Ia meraih kedua tangan Alex dan menggenggamnya erat. Anes menatap mata Alex dalam-dalam. Terlihat jelas rasa kehilangan yang amat sangat di sana.
Sekuat apapun Alex berusaha menyembunyikan kesedihannya, rasanya ia tak kuasa menahannya lagi. Ia langsung mendekap dan membenamkan wajahnya di pelukan sang istri, mencari tempat ternyaman untuknya mencurahkan segala kegundahan dan kesedihan di hatinya.
"Kenapa papa pergi secepat ini sayang, mas belum sempat membahagiakannya. Sekarang mas sudah tidak punya siapa-siapa lagi, sepertinya papa lebih mencintai mama, makanya dia menyusul mama dan meninggalkan mas sendiri di dunia ini," ucap Alex dengan suara yang berat.
__ADS_1
Kesedihan sangat jelas terukir di wajahnya. Saat pak Arya sakit hingga di makamkan Alex tak mengeluarkan air matanya sama sekali meskipun guratan sedih terlihat jelas. Pak Arya memang selalu mengajarkan Alex untuk tidak menjadi laki-laki cengeng, ia harus kuat dan mandiri karena sewaktu kecil pak Arya jarang memiliki waktu untuk Alex. Walaupun jatuh dan sakit, Alex tidak pernah menangis. Ia tak pernah menunjukkan air matanya di depan orang lain, kalaupun menangis, ia menangis dalam hatinya.
Namun, berbeda saat ini, Alex menitikkan air matanya tanpa bisa ia cegah. Bagaimanapun Alex hanya manusia biasa, sedingin dan se datar apapun orangnya, ia juga bisa menangis, apalagi mengingat ia tidak akan bertemu kembali dengan orang tuanya untuk selamanya. Dengan cepat Alex menepis air matanya.
"Menangislah jika mas ingin menangis, jangan mas tahan-tahan lagi. Keluarkan apapun yang mas rasakan saat ini," ucap Anes sambil mengusap punggung suaminya.
Mendengar ucapan Anes, Alex tak lagi menahan air matanya, ia luapkan seluruh kesedihannya dalam air matanya hingga sedikit membasahi baju yang Anes kenakan. Anes juga ikut menangis dan semakin erat memeluk sang suami.
Anes melepaskan pelukannya. Ia mengajak Alex untuk turun dan makan karena dari pagi belum ada makanan yang masuk ke perut Alex sama sekali. Namun, Alex menolaknya.
"Mas tidak lapar," Uje Alex.
"Kalau mas nggak mau turun, aku bawa mesin aja ya makannya?" ucap Anes.
"Tidak usah, mas tidak lapar. Sekarang mas lagi pengen sendiri. Kamu turunlah dan temui mereka," kata Alex.
"Tapi mas,"
"Sayang please!"
"Baiklah aku akan keluar, mas istirahat saja di sini, nanti aku akan ke sini membawakan mas makan malam," ucap Anes.
"Hem," sahut Alex singkat.
Dengan berat hati Anes meniggalkan Alex sendiri lagi di dalam kamarnya. Di depan pintu, ia berhenti sebentar mengingat kembali ucapan Alex soal anak ketiak ia memandangi photo kedua orang tuanya.
Jika Anes tahu pak Arya akan pergi secepat ini, ia akan mengajak Alex berkonsultasi kepada dokter sejak dulu. Namun, nyatanya sampai sekarang belum ia lakukan, rencana yang di ucapkan Alex untuk menemui dokter kandungan pun sepertinya harus ia undur, mengingat kini suaminya sedang dalam keadaan berduka.
__ADS_1
Anes mengusap air matanya dan melanjutkan langkahnya untuk berbaur dengan para sahabat dan orang tuanya.
🌼🌼🌼