
Rania tak lagi bisa mengontrol dirinya. Ia tampak mondar mandir di dalam kamarnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu. Yang pasti, kini otaknya hanya di penuhi rasa cemburu terhadap kemesraan Alex dan Anes.
Setelah memastikan pak Arya sudah tidur pulas, ia keluar dari kamarnya menuju ke kamar Alex untuk menguping pembicaraan Alex dan Anes di kamarnya. Memastikan kalau kemesraan mereka hanyalah sandiwara belaka. Ia masih memiliki sebuah kepercayaan yaitu di hati Alex masih ada dirinya. Beruntung sekali, Alex lupa untuk mengunci pintu kamarnya sehingga Rania bisa dengan jelas mendengar apa yang terjadi di dalam kamar tersebut.
Rupanya, nasib baik tak berpihak kepada Rania, ia justru harus mendengar betapa romantis dan harmonisnya rumah tangga mantan pacarnya tersebut. Bahkan suara mereka saat sedang memadu kasih pun terdengar jelas di telinga Rania. Ia benar-benar merasakan sakit di dalam dadanya. Ia terus merutuki sepasang suami istri tersebut.
"Sekarang kamu boleh merasa senang Nes, tapi lihat saja, suatu saat aku akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku, hingga kamu lupa bagaimana rasanya di cintai," batin Rania.
"Sayang, mas haus. Mas mau ambil minum dulu sebentar di dapur," ucap Alex setelah ia menyelesaikan pekerjaannya memberi nafkah batin kepada Anes.
Mendengar ucapan Alex, Rania langsung bersembunyi.
"Sekalian tolong ambilkan buatku ya mas," Anes masih berada di bawah selimut.
Alex keluar dari kamarnya menuju ke dapur hanya mengenakan celana tanpa memakai baju. Sengaja ia tidak menyalakan lampu dapur karena meskipun gelap, masih bisa melihat dengan samar-samar.
Saat Alex meneguk air mineral yang baru
ia ambil dari dalam kulkas, tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.
"Sayang, kenapa kamu menyusul mas kesini?" ucap Alex yang mengira kalau orang yang memeluknya adalah Anes. Namun, dengan segera ia menyadari kalau orang itu bukanlah Anes. Dengan kasar Alex melepaskan pelukan orang tersebut dan langsung menyalakan lampu dapur.
"Apa yang kamu lakukan?" ucap Alex berusaha menahan amarahnya.
"Lex, aku, aku... hiks," Rania berusaha untuk memeluk Alex kembali namun dengan cepat Alex menolaknya.
"Kenapa? kenapa kamu setega itu sama aku Lex? kembalilah padaku, jangan siksa aku seperti ini Lex," ucap Rania dengan tidak tahu malunya.
__ADS_1
"Pergi dari sini!" ucap Alex tegas dengan tangan mengepal. Ia tidak ingin membuat keributan di rumah papanya. Sebisa mungkin ia menahan emosinya, mengingat kalau pak Arya memiliki sakit jantung.
"Tapi Lex, aku tahu kamu masih mencintaiku. Kamu seperti ini sama aku hanya karena papa kamu kan? iya kan Lex?"
"Cinta kamu bilang? mimpi!" ucap Alex dan langsung melangkah pergi meninggalkan Rania sendiri di dapur.
"Sa, sayang? kenapa kamu di sini?" Alex gugup ketika mendapati istrinya berada tak jauh dari dapur.
"Apa Anes mendengar ucapan Rania tadi?" batin Alex was-was. Ia benar-benar belum siap jika Anes tahu dan berdampak pada pernikahan mereka.
"Mas lama ambil minumnya, jadi aku menyusul ke sini," sahut Anes.
"Oh, ini mas baru mau naik ke atas."
"Mama? mama juga dari dapur?" tanya Anes yang melihat Rania keluar dari dapur.
"Oh begitu," Anes tidak menaruh curiga sedikitpun.
"Sayang, kamu harus lebih hati-hati. Banyak wanita yang berubah menjadi wanita licik demi hidup mewah sedang berkeliaran. Di depan pura-pura baik tapi di belakang menusuk dengan kejam," ucap Alex kepada Anes.
"Kenapa mas tiba-tiba ngomong kayak gitu?" tanya Anes.
"Enggak, mas cuma ngingetin kamu buat lebih hati-hati sayang kalau mengenal seseorang. Banyak yang munafik," jawab Alex.
Rania merasa tertampar mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Alex.
"Iya Nes kamu harus lebih hati-hati, terutama dalam menjaga suami. Jangan sampai suami kamu di rebut perempuan lain. Kalau kamu lengah, suami kamu pasti akan berpaling," ucap Rania dengan senyum terpaksa.
__ADS_1
Sekilas Anes teringat ucapan Rania ketika di acara amal waktu itu yang mengatakan kalau Alex pasti akan kembali pada cinta pertamanya.
"Sayang ayo kembali ke kamar," ajak Alex sebelum Anes membalas ucapan Rania. Karena Alex tahu apa yang di maksud Rania. Ia memeluk pinggang Anes dan menggiringnya untuk berjalan.
"Tapi, mas?"
"Udah nggak usah dengerin omongan wanita itu, dia hanya omong kosong," sahut Alex tanpa peduli terhadap Rania yang masih berdiri di tempatnya sambil menatap punggung mereka dengan tatapan nanar.
Anes menoleh ke belakang ke arah Rania, seketika Rania merubah ekspresi wajahnya dan tersenyum kepada Anes.
🌼🌼🌼
Rania masuk ke dalam kamarnya. Ia mendekati pak Arya yang tidur pulas. Ia menatap tajam laki-laki paruh baya yang menjadi suaminya kurang lebih sejak 6 tahun yang lalu itu.
"Kenapa dulu aku terlalu bodoh sampai mau menikah dengan laki-laki tua dan ini."
"Sayang, kamu belum tidur?" ucap pak Arya yang terbangun dan melihat istrinya belum juga tidur.
" Oh itu mas, tadi aku kebangun karena haus lalu mengambil minum di dapur," jawab Rania.
"Oh, ya udah ayo tidur lagi. Ini sudah larut malam," pak Arya menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya.
Dengan berat hati Rania naik ke tempat tidur dan memejamkan matanya. Matanya memang terpejam tapi pikirannya kemana-mana. Membayangkan waktu tadi ia mendengar Alex dan Anes sedang memadu kasih. Tanpa terasa air matanya mengalir menunjukkan betapa hatinya sakit bila mengingat hal itu.
Kenangan-kenangan waktu dulu dia dan Alex masih bersama sewaktu kuliah, membuatnya semakin terisak. Betapa dulu Alex selalu membuat hari-harinya bahagia karena cinta yang di berikan olehnya begitu besar dan tulus. Namun, diam-diam Rania menggaet laki-laki paruh baya kaya raya yaitu pak Arya, yang tak lain adalah ayah kandung dari Alex. Untung saja pak Arya sudah kembali pulas. Jadi, ia tak mendengar suara tangisan Rania.
Berkali-kali Rania merutuki nasibnya yang harus berakhir menjadi istri seorang laki-laki yang lebih pantas menjadi ayahnya daripada menjadi suaminya tersebut. Ya, semua itu adalah kesalahannya sendiri. Karena silau dengan kekayaan, ia rela meninggalkan laki-laki yang mencintainya dan ia cintai hanya karena ia berpikir kalau Alex adalah laki-laki dari keluarga biasa dan tidak bisa menjamin masa depannya. Menurutnya uang lebih penting dari hanya sekedar cinta.
__ADS_1
💠Jangan lupa like komen dan votenya setelah kalian membaca ya? serta pencet ❤️nya agar masuk ke dalam daftar favorit kalian. Salam hangat author ❤️❤️💠