MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
Chapter 220


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, Alex mulai membuka matanya, ia memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.


Alex mengedarkan pandangannya ke sekitar, takutnya dia berada di dalam hotel, dan teman-teman somplaknya akan mengurungnya bersama wanita lain di hotel setelah mabuk dan kehilangan kesadarannya, namun, sejurus kemudian Alex bernafas lega karena ternyata dia berada di dalam kamarnya. Dia tahu, segesrek apapun teman-temannya tak mungkin melempar ya ke wanita penggoda, lebih-lebih David bersamanya semalam, laki-lai itu tidak akan membiarkan bosnya terkena masalah lebih parah lagi. Ia tahu, Alex mabuk saja merupakan masalah besar untuk bosnya tersebut.


"Matilah aku!" seru Alex menepuk jidatnya sendiri tatkala ia mengingat apa yang terjadi semalam.


Alex memang tidak di kerjai teman-temannya saat mabuk, tapi David melemparnya ke kandang macan, dan itu sama saja parahnya. Alex bergedik ngeri, membayangkan bagaimana macan kesayangannya akan mengeluarkan taringnya.


Kemudian, Alex menyentuh sebuah kertas di sampingnya,di ambikny lalu di bacanya dalam hati.


"Cepat mandi, cuci bersih badan mas, cuci bersih mulut mas yang bau itu, dan juga cuci baju, sprei dan selimut yang sudah terkontaminasi ini. Kalau nggak, aku nggak mau tidur seranjang sama mas. Ingat! Cuci sendiri menggunakan tangan!"


Alex menggaruk kepalanya yang tidak sakit setelah membaca tulisan dalam secarik kertas tersebut.


" Sekalian saja minta ganti ranjangnya karena udah aku tiduri saat mabuk, " decak Alex bergumam.


" Fix ini mah, macan mogok bicara sama aku kayaknya," ucap Alex dengan gusarnya. Ia segera ke kamar mandi, di sana sudah tersedia detergen dan juga bak untuk mencuci sprei dan selimut. Kening Alex berkerut.


"Bahkan bak dan alat mencuci lainnya sudah di siapkan?" Alex mengghela nafas panjang dan kembali lagi ke dalam kamar untuk mengambil sprei dan selimutnya.


"Baiklah tuan muda Parvis, jalani saja hukumanmu, itung-itung olah raga di kamar mandi, karena memang ini salahmu tuan. Oh tidak, ini salah mereka, teman nggak ada akhlak, dasar! Tapi, haruskah aku mencuci dikamar mandi?" monolog Alex sambil mengisi bak yang sudah Anes siapkan dengan air dan detergen.


Sengaja Anes menyuruh melakukan di dalam kamar mandinya, karena ia tidak ingin menjatuhkan harga diri sang suami di depan para asisten rumah tangganya. Biar urusan tersebut menjadi rahasianya dan juga suaminya.


Setelah selesai dengan urusan cuci mencuci dan membersihkan diri, Alex segera turun ke bawah untuk mencari Anes, dia harus meminta maaf secara langsung kepada istrinya tersebut.


Alex menemukan Anes sedang berada di dapur, ia segera menghampiri Anes dan langsung memeluk istrinya tersebut dari belakang.


"Maafin mas," ucap Alex seraya menjatuhkan dagunya di bahu Anes. Dengan cepat Anes menepis tangan Alex yang melingkar di atas perutnya yang buncit. Alex tidak melakukan perlawanan, karena memang ia merasa bersalah.


Anes berlalu meninggalkan Alex tanpa memeprdulikan rengekan Alex.


Alex segera menyusul Anes,


"Sayang, ayolah maafin mas, mas mohon. Yang semalam tidak akan mas ulangi lagi. Pleaseee!!!" Alex terus mensejajarkan langkahnya dengan langkah Anes sambil terus memohon, hingga Anes duduk di sofa ruang keluarga.


Alex duduk di sebelah Anes, namun Anes selalu menggeser duduknya menjauhi Alex. Dia terus mendiamkan Alex. Tidak semudah itu akan Anes maafkan.


Setiap kali Alex membuka suara, Anes selalu menutup hidungnya menggunakan punggung jari telunjuknya.


Melihat apa yang di lakukan Anes setiap kali ia bicara, Alex langsung menutup mulutnya.


"Mas udah mandi sayang, sudah tidak bau, bahkan sprei dan selimutnya sudah mas cuci," ucap Alex dengan tetap menutup mulutnya.


Anes tetap diam, ia meraih remote dan menyalakan televisi. Alex diam, suasana menjadi hening g dan tegang buat Alex.

__ADS_1


"Sayang," panggil Alex lirih. Ia kembali mendekati Anes dengan menggeser duduknya.


"Sayang,"


"Bisa diam nggak? Mulut mas bau minumn har*m," sahut Anes kemudian, karena ia tak tahan mendengar Alex terus saja mengoceh.


Alex kembali menutup mulutnya dan terdiam.


Alex beranjak dari duduknya dan segera kembali lagi dengan sudah mengenakan masker.


Anes hanya meliriknya sekilas lalu dahinya mengernyit.


"Mas tahu, mas salah. Mas pergi nggak pamit sama kamu. Percayalah, bukan mas nggak mau pamit, tapi kamu tidur pulas sekali, mas nggak tega bangunin kamu, karena mas tahu kamu pasti capek. Mas udah berpesan kepada bibi kan kalau misal kamu mencari mas," jelas Alex jujur.


Anes masih diam dengan tangan bersedekap.


"Masalah utamanya bukan itu mas, tapi kamu mabuk, itu yang jadi masalah besar buat aku," batin Anes.


"Mas pergi karena lusa kan Juna akan menikah, jadi dia mengadakan pesta lajang sebelum dia menikah. Sebagai sahabat, mas ikut senang, jadi mas ikut gabung, berkumpul bersama mereka, David juga ada," lanjut Alex, ia melihat ekspresi Anes masih sama, belum ada perubahan menjadi lebih ramah, tetap wajah garang macannya yang terpajang di wajah cantiknya.


Kemudian, Alex terus menjelaskan secara detail bagiamana dia bisa sampai mabuk.


" Mas nggak mungkin kan memuji wanita lain selain kamu," ucap Alex di akhir penjelasannya.


"Tapi mas nggak bisa kalau harus menyatakan cinta terhadap wanita lain, sekalipun itu hanya permainan, mas tidak mau!" tegas Alex.


"Tapi nggak harus minum juga kan mas?" Anes masih tersulut amarah, bila ingat suaminya mabuk.


"itu konsekuensinya sayang, mas harus sportif dalam permainan,"


"Ya udah kalau mas lebih mikirin harga diri mas yang selangit itu, silahkan minum aja terus, rusak-rusak deh! sepertinya mas memang pengen aku cepat jadi janda," kesal Anes.


"Astaghfirullah, jangan bicara seperti itu sayang, yang mas minum itu legal, yang berkelas dan aman, bukan oplosan,"


"Tapi tetap saja nggak baik buat kesehatan, lagian kenapa juga mas menuruti teman-teman mas, bergaul boleh sama siapa saja, tapi jangan ikut menjadi tidak baik. Mas merokok saja aku nggak suka, apalagi minum, keduanya sama-sama merusak dan hanya akan memperpendek umur,"


"Iya mas tahu mas salah, mas nggak akan mengulanginya lagi,"


"Bahkan mas lupa kalau aku istri mas, yang menyakitkan lagi mas lupa kalau aku sedang hamil anak mas. Heran deh, istri lagi hamil, kelakuan malah nggak bener, nggak kasihan sama aku? Nggak malu sama baby El?"


"Terus mas harus bagaimana? Bagaimana lagi mas harus minta maaf sayang?" Alex mulai kehilangan kesabarannya karena Anes terus menyalahkannya, ya memang salah sih.


"masalahnya bukan mas pergi nggak bilang atau kumpul sama teman, tapi hasil dari kumpul sama teman itu yang buat aku marah. Mas mabuk, dan itu dosa,"


"Mas tahu mas salah, yang dosa mas, karena mas yang melakukannya,"

__ADS_1


"Kalau saja bisa seperti itu, Tapi sayangnya aku juga harus ikut kena," sahut Anes.


"Surga seorang istri ada pada suami," lanjut Anes. Dan Alex langsung tertegun, mengerti apa yang di maksud oleh Anes. Ia menundukkan kepalanya, sangat menyesali perbuatannya. Ya, dia sudah membuat Anes benar-benar kecewa.


Alex beringsut, hendak menyentuh perut Anes namun lagi-ayu Anes langsung menepis nya.


"Jangka sentuh, dia anakku!" seru Anes.


"Mas ayahnya," sahut Alex lirih.


"Ya tuhan, bagaimana lagi aku harus menghadapi macan yang sedang ngamuk ini?" batin Alex frustrasi.


Alex menoleh ke arah jam, dia ingat kalau hari ini ada meeting yang penting.


"Sayang, mas harus ke kantor, mas ada meeting, selesai meeting mas langsung pulang," Alex berdiri dan langsung meninggalkan Anes untuk bersiap-siap. Ia berharap semoga nanti sepulang dari kantor istrinya akan sedikit mencair hatinya.


Selesai bersiap-siap, Alex mencari Anes untuk pamit, ternyata Anes sudah berpindah tempat ke taman belakang sambil ngemil buah-buahn yang tadi ia kupas dan iris di dapur.


"Sayang, mas berangkat dulu ya, secepatnya mas akan pulang,"pamit Alex.


" Tidak usah pulang, nginap saja di kantor," sahut Anes sewot, lalu memasukkan buah mangga yang segar ke mulutnya.


Alex hanya mendesah dan mencoba tetap tersenyum.


" Kamu lagi ngemil buah ya? Minta dong kayaknya enak,"


" Ini nggak cocok buat mas, mau aku bawain bekal camilan yang cocok buat mas?"


Alex tersenyum, sepertinya Anes sudah sedikit luluh hatinya, buktinya dia akan membekalinya ke kantor, pikir Alex.


"Mau, memang kamu mau kasih tau mas bekal apa?" tanya Alex tak sabar dan senang.


"Detergen!" sahut Anes tanpa ekspresi.


Mendengar ucapan Anes , Alex masih tak mengerti. Kenapa pula detergen, apa Anes menuyuruhnya mencuci di kantor?


"Detergen?"


"Ya, itu lebih cocok buat di jadikan camilan oleh mas, supaya mulut mas yang bau alkohol segera hilang, ada setok banyak detergen, kebetulan baru kemarin bibi membelinya," ucap Anes santai.


Mendengar penjelasan Anes, Alex hanya mampu mendesak, ia kehabisan kata-kata. Bukan bau mulutnya saja yang hilang, bisa jadi nyawanya juga ikut menghilang kalau harus ngemil detergen. Ia sekarang sadar kalau istrinya masih mengeluarkan taringnya.


🌼🌼🌼


💠 Jangan lupa like, komen dan votenya, terima kasih, 🙏🙏 salam hangat author❤️❤️❤️💠

__ADS_1


__ADS_2