
Sementara itu, di apartemen David..
David dan Amel juga terlihat sedang menikmati sarapan mereka. Kali ini David yang memasak. Ia tak ingin memulai hari dengan menyiksa mulut dan perutnya jika Amel yang memasak.
"Dave, aku nggak punya baju buat ke kantor. Antar aku pulang dulu ya buat ganti baju ya?" ucap Amel.
"Tidak usah pulang, sebentar lagi akan ada yang mengantar pakaian buat kamu," ucap David sambil mengoleskan selai pada roti. Ya, dia masak hanya untuk Amel, sedangkan dia lebih memilih sarapan roti saja.
"Kamu nyuruh orang buat ambil baju di rumahku?"
David menggeleng.
"Beli online?" dan di jawab dengan gelengan kepala lagi oleh David.
"Terus?"
"Udah nggak usah kamu pikirin, yang penting nanti baju datang kamu bisa ganti," sahut David.
Beberapa saat kemudian, bel pun berbunyi. David beranjak dari duduknya untuk membuka pintu, ia tahu itu pasti orang suruhannya.
"Tuan, ini pesanan yang anda minta," ucap orang itu yang tetap berdiri di depan pintu karena David tak menyuruhnya masuk.
"Hem, terima kasih. Kau boleh pergi!" ucap David sambil menerima paper bag berisi pakaian tersebut.
"Baik tuan, saya permisi," orang itu langsung pergi.
"Huh pagi-pagi begini nyuruh buat ambil baju dan mengantarnya ke sini. Huh, untung yang nyuruh Anda tuan, orang yang punya mall, kalau orang lain mah ogah. Aku ini seorang manajer," batin orang tersebut sambil berjalan.
David menutup pintu dan kembali ke meja makan. Dia menyuruh Amel untuk segera mengganti pakaiannya, karena sejujurnya saat ini Amel mengenakan kaos milik David dan tentu saja itu kebesaran untuk di pakai Amel. Hal itu membuat David harus menahan libidonya karena Amel terlihat seksi mengenakan kaosnya yang kebesaran tersebut.
Amel segera mengganti pakaiannya dengan pakaian yang di berikan oleh David. Ukurannya pas sekali di badan Amel.
"Dave, kamu pintar sekali, tahu ukuran badanku!" puji Amel seraya berputar-putar memperlihatkan bajunya yang pas di badannya.
David hanya tersenyum menanggapinya.
"Terima kasih yank," ucap Amel kemudian dengan nada manjanya.
"Cuma ucapan terima kasih aja nih?" balas David.
Amel mendekat ke arah David, ia berjinjit dan mengecup bibir David.
"Lagi Beb! yang lama!" rengek David. Ya, terkadang sebutan yank dan beb keluar dari mulut mereka begitu saja tanpa mereka sadari.
"Dengan senang hati!" Amel kembali mendekat dan berjinjit, saat ia sedang mendekatkan bibirnya ke bibir David, David langsung menutup bibirnya dengan punggung telapak tangannya. Alhasil , Amel mencium telapak tangan David.
"Ya ampun! Ini perempuan! Nggak ada jaim-jaimnya sama sekali. Pacar minta di cium langsung nyosor aja!". batin David.
__ADS_1
Amel mendongak menatap David tak mengerti. Dia yang minta tapi malah di halangi.
David tersenyum lagi, lalu berbisik di telinga Amel.
"Lanjut nanti di kantor," Bisiknya tepat di telinga Amel. Membuat bulu kuduk Amel berdiri semua.
"Ayo berangkat!" ajak David yang juga sudah berganti pakaian untuk bekerja. Ia mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan Amel.
"Hem," sahut Amel menyambut ukuran tangan David.
"Berasa sudah jadi nyonya August saja hihi," batin Amel senang.
๐ผ๐ผ๐ผ
Mobil yang di Kendarai David sampai di kantor, di belakangnya menyusul mobil Alex yang juga baru sampai.
Mereka turun di depan kantor dan menyuruh orang untuk memarkirkan mobil mereka.
"Anes!" seru Amel yang melihat Anes juga turun dari mobil Alex. Anes sengaja ikut Alex ke kantor, ia ingin memastikan kalau David dan Amel sudah baikan. Dan dia langsung bernafas lega karena Amel dan David berangkat ke kantor bersama.
"Selamat pagi bos, nona," sapa David dengan wajah berseri.
"Pagi Dave," sahut Alex.
"Pagi Abang, cieeee cieeee yang udah baikan. Wajahnya udah nggak lecek lagi nih kayak cucian kotor yang numpuk di keranjang dan nggak di cuci berhari-hari. Berasa cerah seperti matahari gitu," goda Anes.
Dari semalam aku hubungi kamu nggak di angkat Mel?"
"Ponselku di lempar sama dia," Amel menunjuk ke arah David.
Anes melihat ke arah David dengan tatapan menginterogasi.
"Akan saya ganti nona," ucap David.
"Di lem biru Mel, di lempar beli yang baru," ucap Anes.
"Ya harus dong, orang David yang buang. Cemburunya serem tahu Nes, sampai ponsel di lempar. Lama-lama aku nih yang di lempar,"
"Ehek Hem!" David berdehem untuk mengerem mulut Amel.
"Di lempar ke kasur!" celetuk Alex dengan wajah tanpa dosa.
"Mas ih!" Anes mencubit mulut Alex gemas.
Sementara Amel dan David saling menatap dengan mengangkat kedua alis mereka.
"Tumben, pagi-pagi udah ngintilin pak suami ke kantor Nes, takut hilang? Takut di gondol Wewe gombel?" ledek Amel.
__ADS_1
"Iya, wewe gombelnya kamu Mel," balas Anes.
"Ih kalau Wewe gombel ya secantik aku, pak Alex pasti nggak nolak kan ya pak?" meminta dukungan dari Alex dengan melihat ke arahnya.
"Saya tidak tertarik dengan bidadari sekalipun, bagi saya Anes lebih menarik. Apalagi Wewe gombel kayak kamu," balas Alex tanpa ekspresi.
"Jiah, percaya pak, percaya! dunia bapak udah penuh sesak di huni oleh makhluk Tuhan yang bernama Anes," celetuk Amel.
"Sudah, sudah malah bahas Wewe gombel. Yuk ah masuk!" ajak Anes.
"Pagi semuanya," sapa Dila yang masih berada di loby kantor.
"Tuh Wewe gombel yang asli datang," batin Alex yang hanya meliriknya sekilas.
"Pagi Dila," balas Amel.
"Kak Anes ikut ke kantor?" tanya Dila.
"Iya Dil, kangen aja sama suasana kantor," jawab Anes tersenyum. Tangannya tak lepas dari genggaman Alex.
"Oh begitu," balas Dila juga tersenyum. Kemudian, ia pamit untuk ke ruang kerjanya.
"Saya antar Amel ke kubikelnya terlebih dahulu bos," ucap David.
"Jiah pakai di antar segala, takut Amel tersesat?" ledek Alex.
"Biarin aja kenapa sih mas, maklum sedang mekar-mekarnya perasaan cinta mereka," ucap Anes.
"Kita juga sedang mekar cintanya, bahkan nggak pernah layu. Tapi nggak begitu," ucap Alex.
"Itu karena mas nggak ngerasa aja, kamu lebih lebay dari itu tahu nggak sih?" batin Anes.
"Dasar bucin!" ledek Alex lagi.
"Kayak bos enggak saja. Bucin teriak bucin!" David membalas ucapan Alex tak aku kalah.
Amel dan Anes terkekeh mendengar dua laki-laki yang tidak saling ledek tersebut.
"Udah-udah! malu kalau ada yang! bos sama asisten sama-sama nggak ada Akhlak kalau soal cinta. Jangan sampai citra kalian sebagai orang hebat di kantor anjlok begitu saja karena tingkah konyol kalian," ucap Anes sambil terkekeh.
"Benar tuh, sesama bucin jangan saling meledek," sambung Amel yang juga masih terkekeh.
Mereka pun berpisah untuk memulai pekerjaan masing-masing. David mengantar Amel ke kubikelnya terlebih dahulu, sementara Alex dan Anes menuju ruang Presdir.
๐ผ๐ผ๐ผ
๐ Jangan lupa bahagia! dan jangan lupa like, komen dan votenya ya sayang. Terima kasih ๐๐ salam hangat author ๐โฃ๏ธโฃ๏ธ๐
__ADS_1