
Satu Minggu kemudian.
"Sayang, jadwal meeting dengan Tuan Albert hari ini jam berapa?" tanya Alex kepada Anes yang sedang menunggunya menanda tangani beberapa dokumen.
"Jam 10 mas, masih ada waktu sekitar 35 menit lagi," sahut Anes.
"Ok," Alex tersenyum sambil menyerahkan dokumen yang sudah ia tanda tangani.
"Mmm tapi nanti aku nggak ikut meeting nggakpapa kan mas?"
"Memangnya kenapa kok nggak ikut?" tanya Alex.
"Aku mau ijin buat nemenin Amel mas, hari ini kan orang tuanya akan sidang perceraian mereka. Kasihan kalau Amel sendirian," jelas Anes.
"Owh hari ini ya? ya udah nggakpapa sayang, Amel lebih membutuhkan kamu di sampingnya saat ini. Nanti kalau meeting udah selesai, mas akan jemput kamu," sahut Alex.
"Berati mas nggak butuh aku nih?" goda Anes.
"Ya butuh dong sayang," Alex sudah fokus ke benda pipih dan canggih di tangannya.
"Hehe, ya udah kalau begitu aku mau berangkat sekarang ya? mau nyamperin Amel dan ibunya dulu, kerumahnya," pamit Anes.
"Biar di antar pak Anton ya?"
"Nggak usah mas, aku naik taksi aja!" tolak Anes.
"Ya udah hati-hati!" pesan Alex.
"Siap!" seru Anes lalu keluar dengan sejumlah dokumen ditangannya.
Setelah merapikan dan mematikan komputer di meja kerjanya, Anes langsung mengambil tasnya dan melenggang pergi. David yang baru saja masuk pun heran melihatnya.
"Nona Anes mau kemana bos? saya lihat tadi dia keluar sepertinya agak buru-buru," tanya David setelah masuk ke ruangan Presdir.
"Kepo!" jawab Alex singkat.
"Ya Tuhan! inginku berkata kasar, tapi dia bos saya," David menarik nafasnya panjang dan meninggalkan bosnya sendiri.
"Dia mau nemenin Amel ke sidang perceraian orang tuanya!" ucap Alex sedikit berteriak supaya di dengar oleh David.
"Sidang perceraian orang tuanya sekarang bos?" wushhhh! secepat kilat, David sudah berada di hadapan Alex.
Alex sedikit kaget karena tiba-tiba David sudah berdiri tegak di depannya lagi.
"Hu masalah Amel aja gercep, gerak cepat, tapi masih selalu menyangkal perasaannya, hish dasar!" batin Alex sambil melirik David
"Iya, tadi Anes bilang mau nemenin Amel ke pengadilan agama, kenapa? mau ikut juga?"
"Mmm tidak bos, itu bukan urusan saya," kilah David, lalu pergi.
" Ck. Bukan urusan, tapi ngurusin!" ejek Alex sambil menggoyang-goyangkan kursi kebesarannya.
"Woi, sebentar lagi kita meeting dengan klien, ayo berangkat!" teriak Alex.
__ADS_1
Tak lama kemudian, David datang membawa berkas di tangannya.
"Ayo berangkat!" ajak David.
🌼🌼🌼
Taksi yang di tumpangi oleh Anes sudah sampai depan sebuah rumah berlantai dua. Ya, rumah Amel.
Anes membayar taksinya lalu turun.
"Hem, udah cukup lama aku nggak ke sini, kangen juga," gumamnya sambil melihat rumah Amel yang dulu sering ia datangi itu.
"Selamat pagi Tante?" sapa Anes kepada ibunya Amel yang baru saja membukakan pintu.
"Pagi sayang, udah cukup lama ya nggak ketemu? kamu semakin cantik setelah menikah, masuk dulu yuk!" sahut ibunya Amel dengan senyum.
"Sepertinya tante Mira baik-baik saja walau akan bercerai, mungkin aku saja yang berlebihan memikirkannya. Tapi, nggak tahu juga sih dalam hatinya seperti apa,"
"Anes? kok malah bengong? ayo masuk!" ajak bu Mira.
"Ah iya tante," Anes mengikuti bu Mira masuk ke dalam rumah.
"Sebentar ya, tante panggilkan Amel dulu, kamu duduk aja dulu,"
"Iya tante," sahut Anes langsung duduk.
"Anes! udah lama ya nunggunya? sorry sorry, tadi kebelet soalnya," ucap Amel yang sudah rapi.
"Pantesan ada bau-bau gimana gitu," Anes menutup hidungnya.
"Haha bercanda kali Mel, gitu aja ngambek,"
Setelah Amel dan ibunya siap, mereka langsung berangkat ke pengadilan agama. Amel tampak lebih siap dan tegar dari pada hari-hari sebelumnya. Ia sudah belalang dada menerima keputusan kedua orang tuanya. Karena menurutnya ini mungkin keputusan yang terbaik yang sudah orang tuanya pikirkan matang-matang. Ia tidak lagi menangis walaupun raut kesedihan masih sedikit terlihat di wajah cantiknya.
Selama persidangan, Anes selalu memegang tangan Amel untuk menguatkannya.
"Aku nggak papa kok Nes, selama satu Minggu ini aku udah memikirkan semuanya, mereka memang bercerai, tapi aku dan kak Aksa kan tetap anak mereka. Aku yakin ini adalah skenario yang di buat Tuhan untuk keluargaku. Jadi aku hanya bisa menerimanya," ucap Amel yang mengerti kekhawatiran Anes. Anes tersenyum lega mendengar penuturan sahabatnya itu yang semakin dewasa.
"Sayang, udah selesai belum? mas udah kelar rapatnya, mas jemput sekarang ya?" Alex mengirim pesan kepada Anes.
"Sebentar lagi selesai mas, Otw aja ke sini nggakpapa" balas Anes.
"Ok, meluncur😘" balas Alex.
Karena kebetulan jarak tempat meeting Alex dan pengadilan agama tempat sidang orang tua Amel tidak jauh, Alex tidak butuh waktu lama untuk sampai ke sana.
"Mas Alex," Anes langsung menghampiri Alex yang sudah menunggu beberapa saat dan langsung menggandeng tangan Alex.
"Udah selesai?" tanya Alex sambil mengusap kepala Anes.
"Iya, baru saja selesai, huh mereka udah resmi berpisah, karena mereka sudah sepakat untuk berpisah tanpa memperebutkan apapun dan sudah tidak benar-benar menyerah dengan rumah tangga mereka, jadi langsung di kabulkan deh perceraiannya. Kasihan Amel,"
"Udah jangan sedih, mas tahu kok teman kamu itu memiliki hati sekuat baja," sahut Alex.
__ADS_1
"Iya, mas benar," sebuah senyum tersimpul dari bibir tipisnya.
"Mas nyetir sendiri?" tanya Anes ketika sudah berada di dalam mobil.
"Hem, kamu tahu kan mas lebih suka bawa mobil sendiri, pak Anton berguna hanya kalau mas lagi malas aja nyetir sendiri," sahut Alex.
"Mas makan dulu yuk, aku lapar!" pinta Anes.
"Krucuk-krucuk!" suara perut Anes.
"Tuh kan?" Anes melihat ke arah perutnya.
"Siap nona muda Parvis , kita cari makan ok?" ucap Alex.
"Ok tuan muda Parvis!" sahut Anes.
"Ck, dasar!" Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan normal.
🌼🌼🌼
Malam harinya, Anes sedang duduk bersandar di sandaran tempat tidurnya. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu. Alex yang baru saja keluar dari kamar mandi menghampirinya dan duduk di samping Anes.
"Sayang, kamu mikirin apa sih? mas perhatiin dari tadi habis pulang dari pengadilan kok banyak diamnya? ada apa? cerita sama mas," meraih kepala Anes agar bersandar di dadanya.
"Nggak mas, aku hanya kepikiran aja Sam kedua orang tuanya Amel," sahut Anes sambil mengetuk-ngetuk dada bidang Alex dengan jari-jarinya.
"Amel aja udah bisa menerimanya kan? terus kenapa sekarang malah kamu yang repot-repot mikirin rumah tangga orang? lebih baik mikirin rumah tangga kita sendiri,"
"Bukannya gitu mas, justru aku memikirkan rumah tangga kita," sahut Anes mendongak melihat wajah suaminya kemudian kembali bersandar di dadanya.
"Maksudnya?" Alex tidak mengerti maksud ucapan Anes.
"Sejak pengadilan memutuskan mereka resmi berpisah tadi, aku jadi sedikit kepikiran tentang rumah tangga kita mas. Orang tua Amel dulu menikah juga karena di jodohkan dan mereka sekarang berakhir seperti ini, aku takut kalau...."
"Kamu mau bilang kalau kita juga akan seperti mereka begitu?" Alex memotong kalimat Anes.
Anes mengangguk menanggapi pertanyaan Alex.
"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu sih?"
"Aku cuma khawatir mas, bukankah kita dulu menikah juga karena di jodohkan mas?"
"Dengerin mas! iya memang kita di jodohkan, tapi bukan berati nasib rumah tangga kita akan sama seperti mereka sayang. Tidak semua Perjodohan berakhir seperti itu. Perjodohan, hanya sebuah jalan yang di berikan Tuhan untuk mempermudah kita bersatu sayang. Dari segi perasaan saja jelas sudah berbeda, mereka sama sekali tidak bisa menumbuhkan rasa cinta satu sama lain, sedangkan kita? bukankah kita saling mencintai? lalu apa yang kami khawatirkan? mas yakin cinta kita akan selalu bertambah setiap harinya dan akan membawa rumah tangga kita sampai maut yang memisahkan kita." ucap Alex panjang lebar.
"Aku takut, kalau suatu saat cinta mas buatku akan menghilang seiring berjalannya waktu, Dan mas akan seperti papanya Amel memilih meninggalkan keluarga yang sudah dia bangun selama ini, hiks," Anes mulai terisak. Ia sendiri juga tidak tahu, kenapa bisa berpikiran dangkal seperti itu. Padahal ia yakin kalau dia dan Alex saling mencintai.
"Sayang, mas bukan papanya Amel, jadi jangan pernah berpikir seperti itu. Kamu itu segalanya buat mas, mana mungkin mas sanggup meninggalkan kamu? Udah jangan di pikirkan lagi. Kali ini mas nggak setuju dengan pemikiran kamu sayang. Buang jauh-jauh pikiran buruk itu? Setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing, tidak perlu memasukkan cerita hidup orang lain ke dalam rumah tangga kita, ok?" Alex mengusap pipi Anes pelan dan semakin mengeratkan pelukannya.
Anes mengangguk pelan dan hanyut dalam pelukan Alex.
"Sekarang kamu tidur ya udah malam," Alex merebahkan tubuh Anes dan menyelimutinya.
"Mas juga akan tidur kan?" tanya Anes.
__ADS_1
"Iya, mas juga tidur," sahut Alex sambil masuk ke dalam selimut dan memeluk Anes dalam dekapannya.
🌼🌼🌼