
Alex bangkit dari duduknya, dengan cepat ia menghampiri dokter tersebut.
"Dokter, papa baik-baik saja kan?" tanya Alex dengan perasaan tidak karuan. Namun, dokter tak menjawabnya, hanya menghela nafasnya panjang.
"Dokter?" Alex memegang kedua pundak dokter tersebut dengan tatapan tajam meminta penjelasan.
"Maaf tuan muda," jawab dokter tersebut dengan menunduk.
Tidak puas dengan jawaban dokter, Alex langsung nyelonong masuk ke dalam. Di sana ia melihat para perawat yang sedang melepaskan alat bantu bernafas, selang makan dan ingus serta alat monitor denyut jantung yang melekat pada tubuh pak Arya.
"Apa yang kalian lakukan?" hardik Alex kasar.
"Tu tuan,, maaf,"
" Beraninya kalian melapasnya. Pasang semuanya kembali, cepat! kalian mau membunuh papa saya? ha?" teriak Alex. Sebenarnya ia sudah menyadari situasinya, hanya saja belum mampu menerima kenyataannya.
"Kenapa masih diam? cepat pasang! atau kalian mau di pecat?"
"Dokter! cepat suruh mereka memasang alat-alat itu kembali! atau saya akan menutup rumah sakit ini," Alex menghampiri dokter dan mencengkeram kerah kemejanya dengan satu tangannya, sementara tangan yang satu menunjuk ke arah para perawat yang ketakutan.
"Tuan, mohon tenanglah. Kami mohon maaf, kami sudah berusaha yang terbaik buat menyelamatkan tuan Arya, tapi Tuhan berkehendak lain. Kami tidak bisa menyelamatkan tuan Arya," kata dokter.
Anes dan Rania yang juga berada di dalam ruangan tersebut syok mendengar penuturan dokter. Rania langsung memeluk tubuh kalau pak Arya dengan derai air mata.
"Papa,," ucap Anes yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Tubuhnya lemas seketika.
"Tidak! dokter jangan bercanda! Kalian pasti cuma mau ngeprank kan? Ini tidak lucu! Kemarin papa sudah melewati masa kritisnya kan? dokter sediri yang mengatakannya. Jawab dokter!" Alex masih tidak mau percaya dengan ucapan dokter.
"Tuan, mohon tenang dan bersabar. Ini semua kehendak yang di atas. Kami hanya bisa berusaha, tapi Tuhanlah yang menentukan akhirnya,"
__ADS_1
Alex mengendurkan cengkeramannya. Ia bersimpuh di lantai.
"Mas,,," Anes mendekati dan memeluk Alex yang bersimpuh di lantai.
"Sayang, tolong bicaralah sama dokter, dokter pasti salah, papa tidak mungkin meninggalkan aku. Aku, aku akan bawa papa berobat ke rumah sakit yang paling bagus di luar negeri, papa pasti akan sembuh,"
"Mas, harus menerima kenyataan, papa sudah tidak ada. Papa sudah meninggalkan kita," ucap Anes lirih.
"Tidak sayang, dokter pasti salah, papa tidak mungkin meninggalkan aku,"
Anes tak kuasa melihat kesedihan Alex, laki-laki yang biasanya bersikap dingin terhadap orang lain, datar tanpa ekspresi itu terlihat sangat menyedihkan. Alex begitu menyayangi ayahnya. Sejak kecil ia sudah kehilangan ibunya, dan hanya ayahnyalah satu-satunya yang ia miliki. Bahkan, iya rela memendam rasa sakitnya ketika mengetahui ayahnya menikahi gadis yang ia cintai dulu.
"Pa bangun pa," Alex menggoyang-goyangkan tubuh pak Arya, berusah membangunkan tubuh yang konkret sudah kaku tersebut. Namun, usahanya sia-sia. Tak ada respon sama sekali dari pak Arya.
"Jangan bercanda pa, Alex mohon bangun. Kenapa papa meninggalkan Alex secepat ini pa. Tidak! papa tidak akan tega meninggalkan Alex kan pa, ayo bangunlah,"
"Lex, kamu harus kuat," ucap Rania sambil terisak.
"Lex, aku mohon. Aku juga istrinya, aku juga berhak berada di sini, bukan cuma kamu yang sedih tapi aku juga," ucap Rania. Setidaknya ia masih sedikit memiliki hati nurani, ia memang ingin berpisah dengan pak Arya dan kembali kepada Alex, namun ada sedikit rasa bersalah dalam dirinya. Kalau saja pak Arya tidak mendengar percakapannya di telepon waktu itu, mungkin pak Arya tidak akan meninggal.
Alex tak menggubris omongan Rania, ia tak punya waktu dan tenaga untuk meladeni omong kosong dari wanita itu.
"Mas, jangan seperti ini, Mas harus kuat, biarkan mereka melanjutkan untuk melepas semuanya," ucap Anes yang juga merasakan kesedihan yang mendalam. Air mata juga tak luput membanjiri wajahnya. Ia memeluk erat tubuh Alex.
๐ผ๐ผ๐ผ
David yang baru saja tiba di kantor mendapatkan kabar duka tentang meninggalnya pendiri Parvis Group tersebut. Tubuhnya gemetar dan seperti tak bertenaga begitu mendapatkan kabar yang mengejutkan tersebut.
"Tuan besar, kenapa secepat ini anda meninggalkan kami semua?" gumam David sedih.
__ADS_1
David segera mencari keberadaan Amel dan memberi tahu berita duka tersebut. Amel seakan tak percaya, Tuan Arya yang dulu selalu ia puji ketampanannya walaupun sudah tak muda lagi tersebut kini sudah tiada.
"Terus sekarang bagaimana? apa kita kerumah sakit saja sekarang?" tanya Amel.
"Tidak, sebaiknya kita ke rumah bos Alex saja, menunggu mereka di sana, karena jenazah tuan Arya akan di bawa pulang dan di semayamkan di rumah bos Alex terlebih dahulu," sahut David.
"Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang," ajak Amel.
Begitu masuk ke dalam mobil, David langsung melajukan mobilnya dengan cepat.
๐ผ๐ผ๐ผ
Berita wafatnya pendiri perusahaan nomor 1 tersebut sangat cepat tersebar luas, ke semua keluarga dan juga rekan bisnis baik yang ada di dalam maupun luar negeri, bahkan semua media online sudah heboh dengan berita tersebut.
Brian, Juna dan Baim yang mendengar berita tersebut langsung menuju ke rumah Alex. Kebetulan mereka sedang berada di Indonesia, karena mendengar kabar kalau pak Arya sakit dan mereka langsung menuju ke Jakarta beberapa hari yang lalu untuk menjenguk pak Arya dan memberikan support kepada sahabat mereka, Alex.
Semua sudah menunggu kedatangan jenazah pak Arya tanpa terkecuali pak Hari dan Bu Ratna.
Kedatangan jenazah pak Arya di sambut Islam oleh mereka yang hadir di rumah duka, rumah Alex. Alex tampak sedih berjalan di papah oleh Anes.
David menghampiri Alex yang baru saja turun dari mobil dan menggantikan Anes memapah Alex, sementara Anes langsung memeluk bu Ratna.
"Papa Arya ma,," ucap Anes sambil terisak dalam pelukan bu Ratna.
"Kamu yang sabar ya, ini semua sudah takdir. Kamu harus kuat demi suami kamu," ucap bu Ratna sambil mengelus-elus punggung putrinya tersebut. Kemudian mereka masuk mengikuti jenazah pak Arya.
Semua persiapan untuk pemakaman pak Arya sudah di siapkan dengan baik oleh David. Setelah semuanya siap, jenazah pak Arya di bawa ke pemakaman elit di Jakarta, tepatnya di samping makam Bu Widya, mendiang istrinya yang telah meninggalkannya terlebih dahulu. Itu merupakan salah satu keinginan pak Arya, kalau beliau meninggal ia ingin di makamkan di samping makam istrinya.
Beberapa mobil beriringan mengiringi mobil jenazah yang membawa jenazah pak Arya. Alex terus mendekap photo pak Arya dalam pelukannya.
__ADS_1
๐ผ๐ผ๐ผ