MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 195


__ADS_3

Di meja lain, David dan Amel masih saja memasang mode diam. Amel yang tadi sempat merona karena perlakuan David yang tiba-tiba muncul bak seorang pangeran dan menciumnya di depan umum, kini kembali terdiam. Menerka-nerka kenapa David bisa ada di sana. Dan apa maksudnya tadi mencium pipinya, bukankah mereka sedang tidak baik-baik saja?


Sedangkan David juga diam, auranya sangat dingin. Dengan kedua tangannya yang di lipat di dadanya, David terus melihat ke arah Aldo dengan tatapan membunuh.


"Kenapa laki-laki ini bisa ada di sini? Apa dia datang bersama Amel? Amel lebih memilih datang dengan laki-laki tengil ini dari pada aku?" batin David tanpa mengalihkan pandangannya dari Aldo.


Aldo juga tak kalah sengitnya memandang David, ia masih ingat jelas bagiamana rasanya bogeman yang di layangkan David kepadanya waktu itu. Wajah Aldo tiba-tiba meringis saat mengingatnya.


"Kakak tua ini seram amat, ngapain dia lihatin aku kayak gitu? Masih dendam? Amel bisa ya jatuh cinta sama laki-laki dingin begini. Nggak ngerti deh! Mana mereka berdua ini lebih tenar dari pada aku kayaknya, lihat aja tuh mata para wanita itu tidak berkedip menatap dua kakak tua ini. Huh pantas Amel dan Anes nggak heboh saat lihat aku, yang mereka punya lebih oke sepertinya," batin Aldo yang masih setia membalas tatapan dingin David.


"Mas kok aku ngerasa ada auara-aura gimana gitu. Lihat Abang tuh, serem amat kayak mau menelan Aldo hidup-hidup," bisik Anes di telinga Alex.


Alex hanya tersenyum simpul menanggapi bisikan sang istri. Ia tahu kalau David saat ini sedang dalam mode cemburu level Delapan, masih belum sampai puncaknya yaitu level sepuluh.


"O ya, mas Alex sama Abang kenapa bisa ke sini? Bukannya kalian masih ada kerjaan ya?" Anes mencoba mencairkan suasana dengan mulai mengajak ngobrol mereka.


Alex diam, ia memberi kesempatan kepada David untuk bicara.


"Saya di ajak bos Alex nona, kalau tidak saya juga tidak akan ke sini, saya bahkan tidak tahu ada acara ini. Awalnya saya mau datang kesini karena ingin memberi seseorang kejutan, tapi sepertinya malah saya yang terkejut di sini," sahut David menahan emosi. Dia pikir Amel akan terkejut dan senang jika dia tiba-tiba datang ke sana, tapi apa yang di lihatnya membuat David membuang pikirannya tersebut. Justru dia yang mendapat kejutan dengan adanya Aldo yang sedang duduk semeja dengan Anes dan Amel.


Mungkin ini alasan Amel tidak bilang dan mengajak David ke acara tersebut, karena Amel pergi bersama Aldo, pikir David.


Anes mengerti maksud ucapan David. Ternyata Abang angkatnya ini cemburu dan kesal karena adanya Aldo di antara mereka.


"Sekarang mengerti kan kenapa David mengeluarkan aura seperti itu?" bisik Alex lalu mencium pipi Anes.


"Iya mas, cemburu," sahut Anes berbisik.


"Mas ini main cium aja, suasana sedang tegang begini juga," lanjut Anes


"Yang tegang kan bukan kita, tapi mereka bertiga, kalau mas yang tegang beda lagi, bukan urat, tapi..."

__ADS_1


"Ssssst diam! lihat sikon mas!" Anes melotot ke arah Alex.


"Bercanda sayang," Alex tersenyum.


"Nggak usah salah paham, Aldo di sini sebagai bintang tamu. Tadi aku ke sini sama Anes bukan sama Aldo," ucap Amel.


"Kenapa juga aku mesti jelasin ke dia?" batin Amel. Entah kenapa ia tidak ingin David salah paham, sebenarnya Amel juga lelah harus diam-diaman dan menghindar terus dari David. Ia sangat merindukan kemesraan di antara mereka seperti dulu.


David pun juga begitu, apalagi setelah ingatannya sudah pulih, rasa rindunya terhadap Amel semakin membuncah. Sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi.


"Mas, Abang lebih baik kenalan dulu deh, dia ini Aldo Pratama," sambung Anes.


"Tidak kenal," sahut Alex dan David kompak.


"Makanya kenalan," sambung Amel.


"Apa untungnya?" jawab Alex dan David kompak lagi.


"Heh, kakak-kakak tua! Kenalin! aku Aldo Pratama artis yang sedang viral, tapi poin utamanya bukan itu. Aku dan mereka ini berteman. Aku yang waktu itu mengantar Amel dan Anes ke rumah sakit saat kakak tua David ini tertusuk, Anda ingat Kakak tua Alex?" ucap Aldo memperkenalkan dirinya.


Mendengar Aldo memanggil mereka kakak tua, membuat Anes dan Amel menahan tawanya, sementara David dan Alex mengernyitkan dahinya menahan kesal.


"Dia pikir kita ini burung? Kakak tua!" umpat Alex dan David dalam hati mereka.


Kalau tidak sedang dalam acara tersebut, ingin sekali kedua laki-laki tersebut mengeroyok dan merobek mulut Aldo yang seenak udelnya memanggil mereka seperti itu.


"Dan kamu Kakak tua, kamu belum minta maaf atas apa yang kamu lakukan kepadaku di restoran waktu itu. Bibirku sobek tahu nggak, mukaku juga bonyok. Untung bisa di perbaiki, jadi ganteng lagi wajahku ini,"


"Perlu saya kirim ke Korea buat operasi plastik? Biar wajah kamu yang gantengnya tidak seberapa ini di permak, biar sinkron sama mulut kamu yang bilang kalau kamu ganteng, dasar tengil!" ucap David sarkastik. Tetap pada posisinya duduk dengan tangan bersedekap dan wajah datar.


"Huh dasar kakak tua ini, Bisa juga ya bercanda," timpal Aldo santai. Dia tahu kalau David sedang cemburu terhadap dirinya.

__ADS_1


"Saya bukan burung," sahut David jutek.


"Tapi tetap lebih tua dari aku kan? Nggak salah dong kalau aku panggil kakak tua?" tetap tidak ingin mengubah panggilan.


David tak membalas lagi, dia lebih fokus melirik ke arah Amel. David mencoba menerka-nerka apa yang ada di pikiran Amel saat ini. Ketakutannya akan kehilangan Amel membuncah, ia takut kalau Amel benar-benar sudah menyerah atas hubungan mereka dan lebih memilih berpaling kepada Aldo.


David menghela nafas kasar. Kenapa harus ada Aldo sih di acara tersebut? Merusak suasana saja, kalau dia tidak ada kan mungkin David dan Amel sudah baikan.


"Kalian belum berbaikan?" bisik Aldo.


Amel hanya menggelengkan kepalanya menanggapi ucapan Aldo.


"Udahlah kalau cinta nggak usah gengsi, cepat baikan," bisik Aldo lagi. David semakin mengernyitkan dahinya melihat kedekatan Aldo dan Amel.


Amel tidak tahu apa yang harus dia lakukan, sejujurnya ia sangat senang atas kedatangan David di sana. Namun, suasana di sana benar-benar canggung saat ini. Tidak tahu harus memulai dari mana untuk bicara.


"Sudah-sudah jangan pada tegang begitu, santai aja, kita nikmati acara malam ini, have fun!" Anes kembali mencoba mencairkan suasana.


"Setuju!" seru Aldo tanpa jaim.


Sedangkan Alex dan David tetap cool dan kalem tapi berkharisma seperti biasanya.


"Aku juga setuju, Dave nanti kita bisa bicara setelah ini," Amel melihat ke arah David yang terus memperhatikannya.


"Hem," sahut David, ia mencoba memberikan senyum termanisnya kepada Amel. Mengesampingkan kekesalannya terhadap Aldo.


Suasana yang tadinya tegang pun sedikit mencair.


🌼🌼🌼


💠Jangan lupa untuk like dan vote ya kakak setelah membaca terima kasih🙏 salam hangat author❤️❤️❤️💠

__ADS_1


__ADS_2