MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 131


__ADS_3

Alex keluar dari kamar mandi, ia melihat istrinya sudah memasang wajah menyeramkan.


Anes menjentikkan jari telunjuknya supaya Alex mendekat kepadanya. Alex hanya menurut saja.


"Duduk!" perintah Anes.


"Perasaan tadi sebelum aku tinggal mandi, dia baik-baik saja. Kenapa sekarang dia seperti marah?"


"Apa sayang?" Alex duduk di depan Anes.


"Aku mau tanya sama mas, kenapa mas harus menyembunyikan kalau mama Rania itu mantan kekasih mas, padahal jelas-jelas mas punya banyak kesempatan untuk memberitahu aku?" Anes menatap marah suaminya.


"Membahas itu lagi? bukannya tadi sudah deal? kenapa berubah lagi sih," batin Alex.


"Sayang bukannya mas mau menyembunyikannya tapi.."


"Ah sudahlah! mas tahu nggak sih kemarin aku sedihnya seperti apa hem? aku sempat berpikir mas sama dia memiliki hubungan di belakang, aku, aku takut menjadi janda muda, dan harus membesarkan anak kita sendiri hiks hiks hiks,"


"Sayang maafin mas, mas nggak akan membiarkan hal seperti itu, selama mas masih hidup kamu nggak akan jadi janda, dan nggak akan membesarkan anak kita sendirian. Kita akan membesarkannya bersama," mengusap air mata Anes lembut.


"Mas jahat, jahat, jahat!" teriak sambil memukul dada bidang Alex.


"Iya mas yang jahat, mas yang salah, mas egois," menahan tangan Anes yang terus memukulnya.


Tiba-tiba Anes langsung berhenti menangis.


"Mas," rengek Anes.


"Ya sayang?"


"Aku, mau di peluk," ucap Anes manja.


"Baiklah, jangankan cuma peluk, yang lain pun boleh," Alex langsung memeluk Anes. Ia heran kenapa mood istrinya bisa berubah-ubah secepat itu, sebentar marah, sebentar sedih, terus tiba-tiba manja.


"Jangan-jangan karena tidak ketemu aku seminggu, sistem kerja otaknya jadi bermasalah, Bagaimana ini?" batin Alex khawatir.


"Mas kenapa udah mandi sih? kan aku suka bau keringat mas Alex,"


"Keringat mas kan bau sayang, mas aja nggak tahan. Mas juga heran, padahal biasanya indera penciuman mas nggak sepintar ini," sahut Alex.


"Nggak bau mas, tetap seperti biasanya, maskulin, aku malah tambah suka," ucap Anes.


"Kamu menyukainya tapi mas tidak suka,"


"Baiklah kalau kamu suka, mari kita berolah raga, biar mas berkeringat lagi," Alex mengedipkan satu matanya dengan tersenyum nakal. Tangannya sudah mulai bergerilya di area kesukaannya. Bibir Anes tak luput dari sasarannya.


"Mmmph mas, ini masih pagi," ucap Anes dengan nada bergetar akibat sentuhan yang dilakukan Alex.


"Katanya pengen mas berkeringat, akan mas kabulkan," ucap Alex sensual di telinga Anes.


Alex meneruskan aksinya. Ia merebahkan tubuh Anes di atas tempat tidur. Bibirnya langsung bermain di dada Anes. Anes hanya bisa pasrah, tak bisa menolak setiap kenikmatan yang di berikan suaminya. Namun, saat Alex ingin menuntaskan olah raganya, tiba-tiba...


"Hoek,,, Hoek!" Alex langsung lari ke kamar mandi dalam keadaan setengah telanjang.


Anes langsung menyusul Alex ke kamar mandi, dan mengusap-usap punggung Alex.


Alex terus merasa mual tapi tak ada apapun yang keluar dari perutnya.


"Mas kita ke dokter aja ya?" ucap Anes khawatir.

__ADS_1


"Nggak usah sayang, nanti juga hilang mualnya kalau siangan, sudah biasa," sahut Alex.


"Mungkin ini yang dinamakan morning sickness mas, gejala awal orang hamil. Tapi aku juga nggak tahu, kenapa malah mas yang mual, bukan aku," Anes merasa bersalah kepada Alex, ia yang hamil tapi suaminya yang kesusahan.


"Syukurlah," ucap Alex.


"Kok syukur sih?"


"Mas senang kalau mas yang kesusahan, dan bukan kamu," Alex berkumur lalu membersihkan bibirnya.


"Gimana? mau lanjut? tanggung nih," tanya Alex melihat ke bawahnya.


"Nggak ah, udah nggak mood!" sahut Anes lalu meninggalkan Alex.


"Terpaksa deh minta bantuan sabun mandi," desah Alex.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


"Sudah ku bilang, hari ini aku nggak ke kantor. Kamu urus saja semuanya," Alex tampak sedang menelepon seseorang.


"Tapi nona Evelyn ingin membicarakan kerjasama secara langsung dengan Anda," sahut David di seberang telepon.


"Evelyn?"


"Iya bos, nona Evelyn yang akan mewakili perusahaan ayahnya, pak Brata untuk kerja sama kota kali ini," jelas David.


"Evelyn? seperti pernah mendengar namanya," batin Anes yang tak sengaja mendengar ucapan suaminya, ketika ia memasuki ruang kerjanya.


"Bilang padanya aku tidak bisa, kalau dia memaksa, batalkan saja kerja samanya," tegas Alex.


Tut...tut...Alex melempar ponselnya ke sembarang arah.


"Mas nanti ponselnya rusak,"


"Apa? mobil? cepat lapor polisi mas, itu pencurian namanya,"


"Biarkan saja, itung-itung sedekah kepada yang membutuhkan," kata Alex cuek.


Anes menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar kata-kata ajaib dari bibir Alex.


"Kehilangan mobil kok kayak kehilangan bekas permen karet yang sudah anyep. Sepele!" gumam Anes mengerucutkan bibir.


"Mas tidak masalah kehilangan semuanya, asal tidak kehilangan kamu, my sweety duck, cup!" sahut Alex langsung mengecup bibir manyun sang istri.


"Ah aku ingat nama itu, inginkan perempuan cantik dan seksi yang ketemu di Maldives, tapi apa benar dia? mungkin namanya saja yang sama," batin Anes tiba-tiba seperti mendapat pencerahan.


"Apa yang pak David katakan?" tanya Anes penasaran.


"Em itu, perusahaan pak Brata mengutus Evelyn sebagai perwakilan untuk bekerja sama dengan Parvis Group. Dan dia maunya bertemu langsung denganku untuk membahasnya," jawab Alex jujur.


"Evelyn?" muka Anes berubah pias.


"Iya, Evelyn yang waktu itu pernah tidak sengaja bertemu di Maldives. Dia adalah anak perempuan pak Brata, Rekan bisnisku. Tapi kamu jangan mikir yang nggak-nggak, mas nggak tertarik sama dia. Kalau kamu nggak nyaman, mas akan batalkan kerja samanya," Alex tak ingin membuat Anes salah paham lagi.


"Hihi mas segitunya, mas tenang aja, aku percaya sama mas. Tidak usah panik," Anes terkekeh melihat ekspresi Alex.


"Huh, kamu buat mas khawatir," Alex langsung menarik Anes ke pangkuannya.


"kenapa kemari mencari mas? kangen?" tanya Alex.

__ADS_1


"Itu, aku bawain mas buah buat camilan," jawab Anes.


"Siapin mas ya?"


"Manja,"


"Kamu nggak lihat tangan mas sedang bekerja?" ucap Alex.


"Mana ada kerja, orang meluk aku gitu,"


"Ya ini juga bekerja, bekerja menghangatkan kamu, dan juga anak kita, iya kan sayang," mengusap perut Anes.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Di kantor....


"Maaf nona, bos tidak bisa datang ke kantor hari ini. Kita bisa membicarakannya tanpa beliau," ucap David kepada Evelyn yang kini sudah duduk di hadapannya.


"Baiklah, tidak masalah. Berapa kali aku bilang Dav, jangan panggil aku nona, kita teman. Ayolah! panggil aku Ev seperti biasanya" sahut Evelyn.


"Baiklah kalau begitu Ev, kita mulai saja membahas kerja sama kita," sahut David.


"Nah gitu dong, ngomong-ngomong Alex apa kabar, sepertinya dia bahagia bersama istrinya,"


"Ya, mereka sangat bahagia, kita bahas pekerjaan saja," sahut David.


"Ayolah David, jangan terlalu kaku, aku tidak akan mengusiknya, aku bukan perempuan seperti itu, kau tahu kan?" ucap Evelyn terkekeh.


"Evelyn!" menatapnya tajam.


"Oke oke, baiklah. Kau tak berubah Dav,"


Merekapun membahas kerja sama antara kedua perusahaan dengan serius. Tanpa terasa waktu makan siang tiba.


"Dav, udah waktunya makan siang. Kita makan dulu, nanti kita lanjutkan lagi," ucap Evelyn.


"Baiklah, karena lama tidak bertemu, aku akan mengajakmu makan siang di luar," sahut David sambil menutup dokumen yang ia pegang dari tadi.


Saat di lobby, Amel tak sengaja berpapasan dengan David dan Evelyn. Evelyn tampak menggandeng lengan David. Amel menatapnya tidak suka.


"Eh Mel, kamu mau makan siang?" tanya David.


"Iya," sahut Amel matanya tak bergeming dari lengan David.


"Siapa dia? kelihatannya akrab sekali," batin Amel tak suka.


" Kebetulan aku mau makan siang di luar dengan Evelyn. Mau ikut?" tanya David.


"Sejak kapan David akrab dengan karyawan Alex? Kecuali...dia menyukainya" batin Evelyn dengan tersenyum membenarkan pikirannya.


"Tidak terima kasih, takut mengganggu," sahut Amel langsung melanjutkan langkahnya melewati David.


"Sepertinya dia cemburu," bisik Evelyn langsung melepaskan lengan David.


"Aku tunggu di mobil!" seru Evelyn dengan terus berjalan.


David langsung memegang pergelangan tangan Amel dan menariknya.


"Ayo ikut!" ucap David tetap memegang dan menarik pergelangan tangan Amel.

__ADS_1


"Aku nggak mau ikut Dav, lepaskan. Aku makan di kantin saja," Amel terus berusaha menolak. Namun, David tak menghiraukan kicauannya.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


__ADS_2