
Keesokan harinya....
Sesuai agenda, David dan Amel meninggalkan rumah singgah saat hari masih gelap. Tak lupa, Dila di bawa serta oleh mereka. David dan Amel di kursi depan sementara Dila di belakang. Dila hanya mampu terdiam tanpa berani bersuara, dia hanya bisa menikmati kemesraan yang di tunjukkan oleh David dan Amel.
"Ingat Dila, kamu harus meminta maaf dengan tulus dengan bos dan nona," ucap David. Dia selalu meninggikan nada bicaranya jika mengajak Dila bicara. kemarahan dan rasa kecewanya belum menghilang sama sekali.
"Iya bang," jawab Dila lirih.
"Setelah aku kirim kamu ke luar negeri nanti, aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanmu juga Dila, aku akan mengundurkan diri dari Parvis group," ucap David dengan nada bergetar.
Mendengar ucapan David, Amel dan Dila sontak membulatkan kedua mata mereka sempurna karena kaget.
"Dave?" Amel menoleh, ia tak percaya David akan memutuskan hal seperti itu.
"Abang," Dila semakin merasa bersalah.
"Kamu bercanda kan yang?" Amel memastikan. Tapi, dia tidak melihat ada canda dari ucapan David, dia serius.
"Kamu tahu kan Dila, aku bisa seperti sekarang berkat bos Alex. Aku bisa menghidupi dan membiayai kalian semua juga berkat bos Alex. Kalau tidak ada bos Alex, mungkin kalian, tidak hanya kalian tapi juga aku sekarang berada di jalanan, menjadi gembel. Tapi kamu sudah melakukan hal kotor itu, membuatku tak bisa menghadapi bos lagi," kata David, emosinya masih saja belum surut.
"Maaf bang," Dila hanya mampu meminta maaf dan maaf, air matanya sudah menumpuk di pelupuk matanya siap keluar.
"Tapi apa harus dengan menungndurkan diri Dave? Apa kamu yakin dengan keputusanmu? Bagaimana pak Alex? Kamu pernah memikirkan bagaimana perasaannya jika kamu meninggalkannya karena masalah ini?"
"Aku hanya meninggalkan Parvis group Mel, bukan meninggalkan bos,"
"Sama saja Dave, dengan kamu meninggalkan Parvis group, itu artinya kamu menghindari pak Alex kan? Tak ingin menemuinya kan? Itu sama saja meninggalkannya!" ucap Amel ngotot. Ia kesal, yang melakukan kesalahan Dila, kenapa juga David yang harus pusing-pusing bertanggung jawab.
David terdiam, dia benar-benar tidak bisa berpikir jernih sekarang. Dia hanya fokus ke jalan yang ada di depannya.
🌼🌼🌼
Sampai di rumah Parvis, David langsung menyuruh Dila turun dan menariknya masuk ke dalam, dimana Alex dan Anes sudah menunggu kedatangan mereka karena sebelum mereka sampai, Amel sudah menghubungi Anes terlebih dahulu.
__ADS_1
Alex dan Anes menyambut ke datangan David dan Amel tanpa peduli dengan Dila, jangankan melihatnya, meliriknya saja ia mereka enggan.
Detik kemudian, Dila meminta maaf ke pada Anes dan Alex dengan derai air mata. Ia mengatakan bahwa ia sangat menyesali perbuatannya yang di kuasai setan kemarin.
Anes hanya melihatnya sinis tanpa iba, sudah cukup ia di bodohi gadis itu. Niatnya yang tulus, di salah gunakan oleh orang lain. Bahkan Anes sendiri merasa dirinya bodoh, dan karena kebodohannya, rumah tangganya hampir di ujung tanduk.
"Daripada membenci kamu, aku lebih merasa kasihan sama kamu Dila. Kamu gadis pintar dan cantik, kenapa dengan mudahnya menyerahkan kehormatan kamu hanya untuk laki-laki yang sudah beristri, padahal peluang kamu mendapatkan laki-laki single yang baik, yang bisa memberimu cinta dan perhatian yang tulus itu besar. Tapi kamu malah merendahkan harga diri kamu sendiri untuk menarik pria beristri," ucap Anes. Kalau tidak sedang hamil dan ia harus menjaga sikap demi si calon buah hatinya, Anes sudah ingin sekali menamparnya.
"Aku cuma mau bilang, amit amit jabang bayi sama kelakuan kamu Dila,", lanjut Anes sambil mengelus perutnya.
Dila hanya mampu menangis dan memohon ampun kepada Alex dan Anes. David juga tak bergeming, dia serahkan keputusan akhir kepada bosnya itu.
"Dave, cepat bawa dia pergi dari sini, aku tak ingin melihatnya di lagi," perintah Alex dengan tegas. Ia benar-benar merasa jij*k jika mengingat kelakuan Dila kemarin terhadapnya.
David segera bangun dari duduknya dan membawa Dila pergi dari sana. Amel hanya mengekor David dari belakang.
"Kamu tak usah ikut Mel, tunggulah di sini! setelah aku mengantar Dila ke bandar dan memastikan orang-orang bos Alex membawanya pergi, aku akan menjemputmu " pinta David.
"Baiklah," balas David.
Mereka pun berpamitan kepada Alex dan Anes.
"Abang!" seru Anes dan David yang sedang membukakan pintu mobil untuk Amel menoleh.
"Ini bukan salah Abang," ucap Anes. Ia tahu seperti apa sikap dan watak dari Abang angkatnya tersebut.
David hanya tersenyum kecil dan mengangguk, kemudian ia menutup pintu mobil setelah memastikan Amel masuk ke dalam.
🌼🌼🌼
Hari berikutnya di kantor Parvis...
Seperti biasa, Alex di sibukkan dengan setumpuk pekerjaan di depannya. Sementara David juga sibuk di ruangannya, dia cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya sebelum menghadap Alex. Ia ingin saat keluar dari Parvis group, tidak meninggalkan pekerjaan yang belum selesai, jadi ia sebisa mungkin menyelesaikan dengan cepat.
__ADS_1
Selesai dengan semua pekerjaannya, David langsung menuju ke ruang Presdir.
"Bos," sapa David.
Alex yang sedang menundukkan kepala ke arah sebuah berkas yang sedang ia periksa untuk kemudian di tanda tangani mendongak ke arah sumber suara. Lalu, pandangannya beralih ke arah tangan David yang membawa sebuah amplop berukuran cukup besar.
"Ada apa?" perasaan Alex sudah tidak enak melihat mimik muka David.
David maju, semakin mendekat ke arah meja Alex dan meletakkan amplop yang ia pegang tepat di depan Alex.
"Apa ini?" tanya Alex tanpa mengalihkan pandangannya dari David.
"Ini adalah surat pengunduran diri saya bos," jawab David.
"Sudah ku duga," batin Alex. Alex tahu David orang yang bertanggung jawab dengan ucapannya, jika dia bilang akan mengundurkan diri pasti ia lakukan. Alex tak pernah berpikir sebelumnya situasi seperti ini akan terjadi, di mana David memutuskan untuk meninggalkannya.
Alex tak ingin menanggapi hal yang menurutnya konyol ini, lebih tepatnya menyesakkan dadanya.
"Juna mau menikah, dan dia meminta ku untuk memberi tahu kamu untuk datang ke acara pernikahannya yang akan di adakan kurang dari tiga Minggu lagi," Alex mencoba mengalihkan pembicaraan David. Dan tentang pernikahan Junalah yang tanpa senagaja terlintas di pikirannya.
"Bos!" seru David. Ia tahu bosnya sedang mengalihkan pembicaraan.
Alex menghela nafasnya kasar, tanpa mengeluarkan suara dari bibirnya. Namun, dalam hatinya benar-benar kecewa dengan keputusan sepihak yang di ambil oleh David.
"Saya harus mempertanggung jawabkan perbuatannya Dila kepada Anda dan nona, saya yang bertanggung jawab atas sikap kurang ajarnya bos. Terima kasih untuk apa yang sudah bos lakukan untuk saya, panti tempat saya dulu di besarkan, rumah singgah dan lainnya. Tanpa bos, saya tidak bisa menjamin kelangsungan mereka seperti sekarang. Saya mohon maafkan saya, saya Sakin Parvis group tetap akan berjaya tanpa saya mendampingi Anda di sini. Kemampuan Anda dalam menjalankan perusahaan sudah tidak ada yang meragukan. Sekali lagi saya mohon maaf," ucap David dengan menahan keraguannya. Kemudian ia menganggukkan kepalanya sebagai tanda hormat sekaligus pamit kepada Alex.
🌼🌼🌼
💠Bang Dave yang ganteng, tega mau meninggalkan Alex? kamu itu setengah jiwanya Alex lho.. Yang setengah Anes, setengahnya kamu Dave, jadi kalau nggak ada kamu dan Anes, Alex nggak punya jiwa 🤧🤧🤧
Jangan lupa like dan votenya. O ya, bagi yang mau menyapa author boleh banget gabung di grup chat ya kakak. Salam hangat author ❤️❤️💠
__ADS_1