MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 111


__ADS_3

"Pak, saya kebelet pipis nih. Boleh enggak saya ke dalam lagi mau pinjam toiletnya," ucap Amel beberapa detik setelah masuk ke dalam mobil.


"Cepat 5 menit!" sahut David.


Amel keluar dari mobil dan kembali ke dalam restoran dan langsung menuju ke toilet.


"Hah dasar! Baru di isi minum, udah beser aja," batin David sambil mengangkat satu sudut bibirnya ke atas melihat Amel berlari kecil ke dalam restoran.


"Ahh leganya," gumam Amel sambil berjongkok membuang air seninya.


Selesai buang air kecil Amel buru-buru keluar karena ini sudah lebih dari batas waktu yang di berikan oleh David. Sialnya, karena buru-buru, Amel menabrak seorang waitress yang sedang membawa minuman untuk pengunjung restoran tersebut.


"Bruk!" gelas berisi minum itupun tumpah di baju Amel.


"Ah sial!" umpat Amel dalam hati sambil mengusap-usap bajunya yang terkena minuman.


"I'am sorry Miss, i didn't mean it," ucap waitress yang di tabrak Amel.


"I'ts Ok, no problem," sahut Amel. Mau mengomel juga Amel segan karena memang dia yang bersalah dalam hal ini. Ia berjalan dengan buru-buru tanpa melihat ke depan.


Amel kembali ke dalam toilet untuk membersihkan bajunya.


Sementara David sudah merutuki Amel sedari tadi karena gadis itu tidak kembali juga padahal sudah cukup lama.


"Apa dia tidur di toilet? cuma buang air kecil saja setahun!" umpat David.


Selang beberapa saat, Amel kembali masuk ke dalam mobil.


"Air yang kamu keluarkan se galon ya, lama amat," ucap David jutek, tanpa melihat Amel, ia fokus menyalakan mobilnya.


"Maaf pak, tadi saya tidak sengaja menabrak waitress yang membawa minum, jadi baju saya kotor dan saya harus membersihkannya dulu," Amel mencoba menjelaskan.


David menoleh ke samping. Lagi-lagi dia menelan ludahnya kasar, "Glek!" ia melihat baju Amel basah dan sangat melekat di badannya, sehingga dua gundukan milik Amel tercetak sangat jelas karena Amel memakai baju berbahan sifon.


"Astaga bos, Anda mengirim saya mood booster atau pelemah iman?" batin David. Ia merutuki bosnya yang sekarang sedang dalam keadaan sedih.


David cepat-cepat melepas jas yang ia kenakan dan melemparnya tepat ke dada Amel.


"Tutupi dua dari tiga aset masa depanmu itu. Jangan mengundang perkara dengan itu," ucap David. Amel segera membenarkan letak jas milik David sehingga menutupi seluruh dadanya.


"Ya maaf, kan tadi saya sudah bilang, baju saya ketumpahan minuman, jadi saya bersihkan menggunakan air. Kenapa? Bapak tergoda ya? Normal kok buat ukuran pria normal kalau melihat yang beginian pasti mupeng," ucap Amel tanpa menyaring kata-katanya.


"Amel," panggil David.


"Ya pak David?" sahut Amel.


"Mulut kamu,"


"Mulut saya kenapa pak?"


"Minta dibungkam dengan bibirku sepertinya," ucap David dalam hati. Namun yang keluar adalah...


"Di saring kalau bicara, jangan asal bunyi!" ucap David. Selalu saja, kata hati dan mulut tidak sejalan. Mulutnya selalu mengkhianati apa kata hatinya.


"Hehe maaf pak David," Amel hanya cengengesan.


🌼🌼🌼


David melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hingga ia memikirkan mobilnya di depan sebuah butik baju.

__ADS_1


"Turun!" pinta David kepada Amel setelah ia membukakan pintu mobil untuk Amel.


"Sweet banget sih, pakai di bukain pintu segala," batin Amel.


"Ngapain kita ke sini pak? shopping?" tanya Amel setelah turun dari mobil.


"Jasnya jangan di tinggal, cepat ambil dan tutupi itu," perintah David sambil menunjuk dada Amel tanpa menyentuhnya.


"Ah iya pak, lupa," sahut Amel.


David tidak menyahut lagi, ia berjalan menuju ke dalam butik dan di ikuti oleh Amel.


Sampai di dalam butik, David meminta pelayan butik untuk mencarikan baju yang cocok untuk Amel. Amel menatap David bingung.


"Ganti bajumu, yang kamu pakai itu sangat mengganggu mata, mataku bisa tercemar," ucap David.


Amel mulai mengerti, ternyata David mengajaknya ke sana untuk mengganti pakaiannya yang basah tersebut.


Amel mencoba baju yang di pilihkan oleh pelayan butik beberapa kali, tidak ada yang cocok dengan selera David. Ia terus menggelengkan kepalanya ketika Amel mencoba baju-bajunya satu persatu.


David berinisiatif memilihkan sendiri baju untuk Amel.


"Coba yang ini!" David menyodorkan baju yang ia pilih.


Amel menerimanya dan kembali masuk ke dalam ruang ganti. Beberapa saat kemudian, ia keluar.


"Bagaimana pak?" tanya Amel.


David mengangguk dan langsung menuju ke kasir untuk membayar. Selesai membayar, ia mengajak Amel untuk pergi.


"Tunggu pak, baju saya yang tadi masih di dalam," ucap Amel menunjuk ruang ganti.


"Hei, itu baju kesayangan aku tahu? Seenaknya main suruh buang," kesal Amel dalam hati.


Mereka kembali masuk ke dalam mobil dan David segera melajukan mobilnya kembali.


Kini sampailah mereka di Royal Botanic Gardens Sydney, sebuah oasis 30 hektar yang terletak di jantung kota. David sengaja mengajak Amel ke sana untuk bersantai sejenak, meninggalkan setumpuk pekerjaan yang masih setia menantinya di kantor.


"Waahhhh indah sekali!" Seru Amel sambil berlari kecil dan melompat-lompat, sesekali ia juga berputar. Persis seperti seorang anak kecil.


Amel langsung mengeluarkan ponsel pintarnya dan berselfie ria dengan berbagai macam gaya dan ekspresi.


"Pak David ayo sini, kita photo bareng," Amel melambaikan tangannya ke arah David yang sedang memperhatikannya sambil duduk di bangku panjang bawah pohon yang rindang.


David menolak ajakan Amel dengan menggelengkan kepalanya.


Diam-diam, Amel mengambil gambar David menggunakan ponselnya lalu mengirinkannya ke WhatsApp milik David.


David merasa ponselnya bergetar, ia langsung membuka pesan yang masuk dan ternyata itu dari Amel yang baru saja mengirim photonya.


"Tuh kan ganteng kalau di photo. Kenapa nggak mau sih?" isi pesan Amel.


"Ck, dasar!" ucap David sambil tersenyum dengan tingkah jail Amel.


"Bagaimana? sudah menerima pesanku? Ganteng kan, padahal di ambil diam-diam lho, bagaimana kalau niat, pasti tambah ganteng," ucap Amel mendekati David dan langsung duduk di samping pria tersebut. Dan hanya di tanggapi decakan oleh David


"Pak pak pak, coba lihat itu," ucap Amel yang sudah siap dengan kameranya.


"Cekrek!" Amel langsung memencet tombol kameranya begitu David menoleh ke arah kamera ponselnya.

__ADS_1


"Dasar, suka sekali iseng!" David mengacak rambut Amel karena gemas.


"Sekali-kali lah pak, santai. Nggak lelah apa bekerja terus? Bersantai menikmati hari, sambil berpose-pose manja akan membuat kita lebih fresh. Tidak melulu memikirkan pekerjaan yang bikin cepat ubanan," ucap Amel.


Amel hendak berdiri, namun karena kecerobohannya ia kesandung kakinya sendiri saat hendak melangkah. Sontak David langsung meraih tangan Amel dan menariknya hingga Amel terjatuh duduk di pangkuan David.


"Deg deg, deh deg, deg deg," bunyi detak jantung keduanya. Dengan posisi sedekat itu, mereka bisa merasakan detak jantung masing-masing.


Terbawa suasana, David mendekatkan bibirnya ke bibir Amel dan menciumnya. Amel membulatkan matanya seketika ketiak benda kenyal milik David mencoba menyeruak masuk ke dalam mulutnya.


"Pejamkan matamu!" ucap David di sela-sela ciumannya. Seperti terhipnotis, Amel menurut dan langsung memejamkan matanya.


David melepaskan pagutannya, suasana menjadi sangat canggung di antara keduanya. Amel ingin marah karena David begitu lancang, tapi entah kenapa ia tidak bisa marah, justru ia menikmatinya.


"Ciuman pertama ku," ucap Amel lirih sambil menyentuh bibirnya sendiri.


David yang mendengarnya kaget, bagaimana bisa itu ciuman pertamanya, mengingat Amel sudah beberapa kali berpacaran. Ia menatap gadis itu dengan tanda tanya.


"Pak David sudah mengambil ciuman pertama saya. Walaupun saya sering berpacaran tapi saya tidak pernah sampai berciuman, hanya sebatas berpegangan tangan dan peluk," ucap Amel jujur.


"Maaf, aku pantas mendapat hukuman. Kalau kamu mau tampar, silahkan," ucap David merasa bersalah.


"Hiks hiks hiks, saya ingin menampar Bapak tapi tidak bisa," tangis Amel pun pecah.


David meraih kepala Amel ke dalam pelukannya.


"Maaf Mel, maafkan saya," David terus meminta maaf karena saat ini mereka belum ada hubungan yang jelas tapi dia lancang mencium wanita yang kini di peluknya tersebut.


"Bapak harus bertanggung jawab," ucap Amel.


"Iya, aku akan bertanggung jawab," balas David. Yang ia sendiri tidak tahu harus bertanggung jawab seperti apa, dia menciumnya bukan menghamilinya.


"Ini pertama kalinya pak David mencium saya, tanpa permisi lagi," rajuk Amel.


"Tidak, ini yang kedua kalinya," sahut David jujur.


"Maksud pak David?" Amel tak mengerti.


"Tidak apa-apa, sudah jangan menangis lagi. Malu di lihat orang. Nanti di kiranya kamu saya apa-apain," David mengusap air mata Amel.


Entah kenapa Amel merasa lega sekarang, ia tidak marah bahkan menyesal ciuman yang menurutnya adalah yang pertama, padahal yang kedua diambil oleh David.


"Bisa tidak kamu jangan memanggil saya dengan sebutan pak kalau di luar pekerjaan? kedengarannya aku sudah tua saja di manapun di panggil pak, aku tidak setua itu," ucap David kemudian.


"Lalu harus memanggil apa?" tanya Amel.


"Panggil nama saja, dan bicaralah informal kepadaku," jawab David.


"Tapi, rasanya aneh, kak aja bagaimana?"


"Terserahlah, sayang juga boleh," ucap David lirih.


"Ok ok aku panggil David aja,"


"Hem,"


Dan mereka pun melanjutkan obrolan mereka di bawah pohon yang rindang tersebut.


🌼🌼🌼

__ADS_1


💠Ini yang minta part David dan Amel, bagaimana? Ada kemajuan kan hubungan mereka? Tidak sia-sia Alex mengirim Amel ke sana ya? Ya walaupun belum ada segel berpacaran 😀 dan please yang menuntut Anes buat hamil, mohon bersabar. Semua sudah author pikirkan alurnya biar berurutan. Mohon maaf jika menurut kalian cerita ini terlalu bertele-tele 😀✌️ salam hangat author❤️❤️😘💠


__ADS_2