MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
Chapter 223


__ADS_3

Akhirnya, hari pernikahan Arjuna tiba juga. David, tampak sedang Menunggu Amel bersiap-siap untuk ke acara pernikahan Juna.


Setelah beberapa kali ganti gaun, akhirnya Amel menyerah, karena David terus saja menyuruhnya mengganti gaun yang ia kenakan dengan berbagai alasan.


"Ini terakhir kalinya aku ganti ya, kalau habis ini masih di suruh ganti aku kesananya nggak usah pakai baju aja sekalian!" Amel mulai ngambek. Amel berbalik badan untuk kemudian mengganti gaunnya Dengan yang lain.


"Belum juga jadi suami, udah posessif aja," gerutu Amel lirih. David yang mendengarnya hanya mengernyit.


"Pakai gaun yang waktu itu pernah aku belikan!" ucap David sedikit berteriak.


"Ya!" seru Amel.


Ya, sebenarnya sejak tadi David menyuruh Amel buat ganti gaunnya karena ia berharap Amel akan memakai gaun yang pernah ia belikan, namun ternyata tidak. Membuat David berpikir apa gaun yang ia belikan tidak bagus, kenapa tidak ada dalam daftar gaun yang ia coba sejak tadi.


Amel keluar dengan mengenakan gaun yang David belikan, ia tampak cantik dengan gaun warna peach tersebut. David tersenyum lalu mengajak Amel berangkat.


"Udah siapin tisu yang banyak?" tanya David.


"Buat apa?" tanya Amel.


"Ya, kan tuan Arjunamu menikah, siapa tahu kamu nggak kuat melihatnya karena nggak rela, dan nangis deh!" goda David.


"Dave! Nggak lucu!" sungut Amel.


"Hehe bercanda," sahut David yang sudah siap membukakan pintu mobilnya untuk Amel.


๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ


Sementara itu, di kediaman Parvis, Anes tampak berkali kali melihat pantulan dirinya di depan cermin. Ia berputar ke kanan dan kekiri, untuk memastikan apakah ia terlihat bagus memakai gaun tersebut.


"Sangat cantik!" puji Alex yang baru saja masuk ke room closet setelah selesai mandi.


"Benarkah?" Anes masih tak percaya, perut buncit dan tubuh yang mulai berisi membuatnya sering kurang percaya diri.


"Tentu saja, mana ada mas bohong. Kalau bohong hidung mas pasti sudah panjang kayak pinokio. Bahkan nanti asti orang-orang mengira kamu adalah pengantin wanitanya karena sangat cantik, kamu bakal jadi pusat utamanya sayang," ucap Alex, selalu masalah pakaian akan menjadi sedikit masalah yang mengganggu rasa percaya diri Anes.


"Eleh, mana ada mas, pusat perhatian karena perut gede mah iya kali," sahut Anes. Ia menghampiri Alex dan membantu suaminya tersebut untuk memakai baju.


Tak berselang lama, David dan Amel sampai di kediaman Parvis, mereka akan berangkat bersama.


Alex dan Anes berangkat dengan di antar oleh sopir pribadi mereka, pak Anton. Sedangkan mobil David mengikutinya dari belakang.


Sesampainya di tempat acara, Bryan dan juga istrinya Sheila serta baim dan tunangannya menyambut mereka berempat. Acara akad akan segera di mulai. Betapa terkejutnya Alex dan Anes, David dan juga Amel karena ternyata yang menjadi pengantin wanitanya si Juna adalah Evelyn. Kapan mereka dekatnya kenapa tiba-tiba mereka bisa menikah, pantas saja Juna merahasiakan nama calon istrinya, karena ingin memberi kejutan atau bagaimana. Anes dan Amel terus saja membicarakan hal tersebut, dimana jiwa kepo mereka langsung keluar. Berbeda dengan Alex dan David yang tetap selalu datar dan masa bodo, tanpa ingin tahu apa-apa.


"Mas nggak kepo apa, kenapa Juna bisa menikah dengan Evelyn? Kan aneh! " tanya Anes berbisik karena pembawa acara sudah memulai acaranya.

__ADS_1


"Memang udah Jodohnya sayang, apa yang mau di kepoin?" jawab Alex, ia tahu ini adalah pernikahan perjodohan, lebih utamanya pernikahan bisnis antara kedua keluarga yang orang tuanya bersahabat. Tapi, apapun itu ia hanya berharap semoga kedua sahabatnya tersebut langgeng dan dipenuhi kebahagiaan.


" Ih mas Alex nggak asyik!" Anes mencubit pinggang Anes, membuat laki-laki tersebut mengadu dengan sedikit keras sehingga menjadi pusat perhatian mereka yang hadir. Tapi, buka Alex namanya kalau nggak cuek dengan tatapan orang-orang ke arahnya. Bukankah sudah biasa jika di menjadi pusat perhatian.


"Terus kamu maunya gimana sayang? Mau mas yang menikah dengan Evelyn begitu biar nggak aneh?" bisik Alex menggoda Anes, yang mana mendapat tatapan tajam dari istrinya tersebut membuat Alex terkekeh.


"Dunia emang sempit ya Dave, tuan Juna ternyata berjodoh sama nona Evelyn," bisik Amel.


"Syukur Jodohnya Evelyn, coba kalau kamu. Udah aku obrak abrik nih acara," sahut David tanpa ekspresi.


"Apaan sih nggak jelas," balas Amel.


Acara ijab kabul pun di mulai, mereka yang hadir diam dan mendengarkan dengan penuh haru.


๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ


Selesai ijab kabul, tak lama kemudian acara resepsi pun langsung di laksanakan. Tamu yang hadir satu persatu mulai menyalami kedua mempelai untuk memberikan selamat tak terkecuali Alex dan kawan-kawan.


Alex menyalami Juna dan memeluk sahabatnya tersebut, tidak lupa ia memberi nasihat dan doa terbaik untuk Juna dan juga Evelyn. Dan di susul oleh Anes.


"Selamat ya Jun, ingat udah menikah jangan akal lagi," pesan Anes kepada Juna.


"Siap bumil cantik," sahut Juna.


"Terima kasih Dave, aku tidak bisa meyanding Amel, untuk itu aku titipkan dia kepadamu, jaga dan bahagiakan dia Dave! Jangan pernah sakiti dia!" bisik Juna penuh keseriusan di telinga David, setelah David memberikan selamat dan doa untuk Juna dan Evelyn.


Deg!


"Kenapa tuan Juna bicara seperti itu, apa mungkin selama ini dia memang benar-benar serius menyukai Amel?" batin David,


"Pasti tuan Juna, pasti saya akan menjaga dan membahagiakannya dengan seluruh hidup saya," sahut David kemudian.


Setelah acara salam-salaman selesai, akhirnya Juna dan Eveliyn bisa berbaur dengan para sahabat mereka untuk sekedar mengobrol, sebelum akhirnya di lanjutkan dengan acara poto-photo bersama.


Selama acara, Anes memperhatikan kedua mempelai yang sepertinya belum memiliki perasaan satu sama lain. Walaupun Juna memang memuji kecantikan Eveliyn ada saat mereka bertemu, tapi itu kan memang gayanya, semua wanita cantik juga akan ia puji, tapi isi hatinya yang sebenarnya siapa yang tahu. Tapi, mereka berdua berusaha tetap bahagia dan menikmati acara mereka tersebut. Bukankah cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu? Jika mereka sudah mengambil keputusan untuk menikah, berarti mereka harus siap menerima satu sama lain.


Acara selesai sore hari, karena Anes sudah merasa lelah, Alex mengajaknya pulang terlebih dahulu.


Tak lama kemudian, David dan Amel menyusul untuk pulang. Di jalan, Amel hanya diam dan diam, membuat David hartanya-tanya, ada apakah gerangan?


"Mel kamu dari tadi diam aja? Kekenyangan?" tanya David.


"Ah enggak Dave, aku cuma kepikiran aja, tuan Juna yang jomblo bisa tiba-tiba dapat jodoh, aku jadi terharu," jawab Amel.


"Jodoh kita sudah Tuhan atur Mel, jadi kapan dan dimanapun pasti akan dipertemukan. Dan mungkin memang sekarang waktu yang di tentukan oleh Tuhan untuk tuan jna menemukan jodohnya," balas David.

__ADS_1


Amel kembali terdiam.


"Lalu, apakah kita berjodoh Dave? Aku takut jika jodoh kamu ternyata bukan aku, btapi wanita lain. Aku nggak bisa ngebayainnya, aku nggak mau cuma jagain jodoh orang," batin Amel. Ia mulai di liputi rasa tidak percaya diri akan hubungannya dengan David. Dia tidak siap jika harus kehilangan laki-laki di sampingnya tersebut.


" Dia pernah melamarku dan aku tolak, mungkin itu sebabnya sampai sekarang dia tidak pernah melamarku lagi. Jadi, tidak ada salahnya kalau sekarang aku yang mengajaknya menikah. Ya, sebelum dia di ambil orang, membayangkannya saja aku nggak mampu, apalagi jika jadi nyata, " batin Amel. Ia mengumpulkan seluruh keberaniannya, menarik napas dalam dan...


" Dave, mau kah kau jadi suamiku? Ayo kita menikah!" ucap Amel mantab.


Mendengar ucapan Amel, David langsung mengerem mobilny mendadak. Sesaat David terdiam, tidak tahu harus berkata apa.


"Kenapa diam Dave? Aku serius Dave, sekarang aku siap menjadi nyonya August, Apa kamu tidak mau menikah denganku?" tanya Amel mulai gundah dan was-was.


"Apa dia sedang melamarku? Tidak bisa! sebagai laki-laki, harusnya kan aku yang melamarnya, bukan dia yang melamarku. Semuanya akan sia-sia jika aku jawab iya, "batin David.


" Mel, maaf... "


" Kamu menolakku Dave?"


"Tidak beb, bukan begitu. Tapi..."


"Ya sudahlah lupakan! Sepertinya kamu memang tidak berniat untuk menjadikan aku istrimu,"


"Mel, dengarkan aku dulu,"


"Jalankan mobilnya dan cepat antar aku pulang Dave, aku capek!" ucap Amel dengan nada penuh kecewa. Ia melihat keluar jendela mobil, Tanpa terasa cairan bening menetes dari sudut matanya.


"Maafkan aku Mel," David melakukan mobilnya kembali.


Sepanjang jalan menuju ke rumah, Amel hanya diam tanpa suara, sesekali ia menyeka cairan bening yang tak mampu ia tahan. David yang sesekali melirik ke arah Amel, sebenarnya tak tega dan juga merasa sedih dan sakit melihat Amel menangis.


Lima belas menit kemudian, mobil David sampai di depan rumah Amel.


"Kamu pulanglah Dave, aku capek, mau istirahat," ucap Amel sebelum membuka pintu mobilnya, tanpa menoleh ke arah kekasihnya tersebut sama sekali.


"Baiklah, Kamu istirahatlah!" sahut David. Sahutan David tersebut, entah kenapa terdengar menyakitkan bagi Amel, ia tak ingin jawaban seperti itu.


Amel kambali mengusap pipinya dan membuka pintu mobil. Amel langsung menutup pintu mobilnya dengan kasar dan berlari masuk ke dalam rumah.


"Nanti kamu akan mengerti Mel," David memejamkan matanya sebentar lalu melakukan mobilnya kembali.


Amel yang masih berada di balik pintu, mendengar suara mobil David meninggalkan rumahnya, ia semakin kecewa dan marah. Ia terus merutuki kekasihnya yang tidak peka tersebut. Ia anggap jawaban David yang tidak tegas tersebut adalah sebuah penolakan secara halus. Lalu, untuk apa mereka menjalin hubungan selama ini. Akan di bawa kemana hubungan mereka? Apa tujuan akhir dari hubungan tersebut kalau bukan sebuah pernikahan? Amel benar-benar dibuat tak mengerti apa maunya David.


๐ŸŒผ ๐ŸŒผ ๐ŸŒผ


๐Ÿ’  Jangan lupa like, komen dan votenya, terima kasih๐Ÿ™ salam hangat author โค๏ธโค๏ธ๐Ÿ’ 

__ADS_1


__ADS_2