
Pagi pun tiba, namun dua sejoli yang baru saja memadu kasih tersebut masih setia dengan alam mimpinya. Pasalnya, Alex dan Anes baru terlelap beberapa saat yang lalu setelah olah raga malamnya.
Sinar mentari yang menyeruak masuk ke dalam kamar itu pun tidak mampu membangunkan keduanya, Anes justru semakin menyusup ke dalam pelukan suaminya.
Begitu pun Alex, ia ingat harus ke kantor hari ini, tapi matanya enggak untuk terbuka. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri.
Hingga suara ponsel yang tidak berhenti berdering dan bergetar membuat Alex terpaksa membuka matanya.
"Siapa sih pagi-pagi begini telepon, mengganggu tidurku saja," gumam Alex.
Alex melihat ke arah istrinya sebentar, di lihatnya sang istri masih meringkuk dengan wajah yang terbenam di dadanya. Ia mencium puncak kepala Anes lalu mengambil ponselnya.
"Dari kantor polisi?" gumam Alex yang masih mengantuk. Di kucek matanya untuk memastikan benar dari kantor polisi atau salah baca, dan ternyata benar.
"Halo," ucap Alex dengan malas.
"Selamat pagi tuan Parvis, mohon maaf kami mengganggu pagi Anda,"
"Katakan ada apa Anda menelepon saya? langsung intinya saja," sahut Alex dengan nada arogannya.
"Begini tuan, kami ingin memberitahukan bahwa nyonya Rania baru saja meninggal, pagi ini ketika kami mengadakan kegiatan pagi untuk para narapidana, beliau melompat dari gedung lantai 7 tuan, dan nyawanya tidak tertolong," jelas pak polisi.
Untuk sesaat Alex terdiam, ia sedikit kaget dan juga tak menyangka, Rania berbuat senekat itu. Memilih untuk mengakhirinya dengan cara seperti itu?
"Halo tuan Parvis? apakah Anda mendengar saya?"
"Em baiklah, saya mengerti. Anda urus saja semuanya," ucap Alex kemudian.
"Baik tuan. Apakah Anda akan ke sini dan akan mengambil jenazahnya untuk di makamkan? Mengingat nyonya Rania tidak memiliki keluarga, dan Anda adalah anak tirinya, satu-satunya keluarga yang ia miliki,"
"Kalian saja yang mengurusnya," sahut Alex datar.
"Baik kalau begitu tuan, terima kasih, Maaf sudah mengganggu waktu anda,"
"Hem," sahut Alex lalu mematikan panggilannya. Ia menghela napasnya dalam lalu meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas.
Saat Alex akan memeluk Anes kembali, ia melihat istrinya itu sudah membuka matanya dan sedang mengamatinya.
__ADS_1
"Sudah bangun sayang? Keganggu ya sama suara mas? Maaf ya? Tidur lagi gih," ucap Alex.
"Siapa yang telepon tadi mas?" tanya Anes mendongak, melihat ke arah wajah Alex.
"Polisi," jawab Alex.
"Ada apa mas? Apa ada masalah?" selidik Anes, dengan tangannya masih setia melingkar di pinggang Alex.
"Tidak ada apa-apa, tidurlah lagi sayang," mengusap lembut kepalanya.
"Aku udah nggak ngantuk mas, cepat katakan ada apa?" rengek Anes, karena ia tahu, pasti ada sesuatu sampai polisi menghubungi suaminya pagi-pagi begini.
"Rania baru saja meninggal, dia bunuh diri, lompat dari gedung lantai 7," sahut Alex santai, justru yang ia khawatirkan adalah Anes pasti akan terkejut.
"Innalilahi!" Anes menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut mendengar ucapan Alex.
"Ya ampun, aku nggak nyangka mas, Rania begitu tidak mencintai dan menghargai nyawanya sendiri, hingga nekat bunuh diri seperti itu," ucap Anes yang masih tak percaya, Rania yang di depan publik di kenal sebagai nyonya besar Parvis, yang anggun dan berwibawa dan banyak di gandrungi laki-laki, harus berakhir tragis seperti itu.
"Makanya tidak heran jika dia tega berbuat jahat, bahkan tega untuk menghabisi nyawa orang lain, karena terhadap nyawanya sendiri saja dia tidak menghargainya, apalagi nyawa orang lain," ujar Alex.
"Hiks, hiks hiks, kasihan sekali Rania mas, apa kita keterlaluan sama dia, sampai dia memilih mengakhiri hidupnya seperti ini, apa semua karena aku merebut mas darinya?" Anes merasa bersalah, ia sungguh miris dan tidak tega mendengar akhir hidup Rania yang cukup tragis menurutnya.
"Tapi mas,,,"
"Tidak ada tapi-tapian sayang," Alex memeluk erat tubuh sang istri.
"Ayo kita ke kantor polisi mas, kita urus jenazahnya Rania, kasihan dia tidak punya kerabat dekat, cuma mas yang dia punya,"
"Mas bukan kerabatnya sayang," jawab Alex.
"Tapi mas, tidak ada salahnya kita sebagai manusia berbuat baik terhadap sesama, urus pemakamannya mas,"
"Biar polisi yang mengurusnya, kamu tidak usah memikirkannya, polisi akan melakukan tugasnya," Alex tetap tak bergeming dengan keputusannya.
"Ayolah mas, setidaknya ini sebagai rasa bela sungkawa kita, Rania memang jahat, memang licik dan tidak punya hati, tapi sekarang tubuhnya sudah terbujur kaku, apalagi yang kita harapkan? Berbelas kasihlah sesama manusia mas, anggap aku memohon, demi aku mas, bukan demi dia,"
"Sayang, jangan memohon untuk sesuatu yang mas nggak bisa," Alex masih dengan pendiriannya. Mungkin karena luka yang ditorehkan Rania begitu dalam, hingga Alex enggan untuk berduka sedikitpun. Baginya, jalan salah yang di tempuh Rania, adalah pilihannya sendiri, tak perlu orang lain yang menyesalinya.
__ADS_1
"Mas,, berati kalau aku punya salah sama mas, mas akan benci aku sampai ke akar-akarnya,?"
"Jangan samakan dia denganmu sayang, jelas berbeda, kamu terlalu sempurna jika harus dibandingkan dengannya, kamu tidak akan sejahat itu, kamu terlalu baik,"
"Namanya manusia bisa khilaf mas, tak terkecuali denganku, mungkin saja nanti aku juga akan berkhianat terhadap mas,"
"Sayang jaga ucapan kamu, mas nggak suka. Ingat omongan adalah salah satu doa, mas tidak mau kehilangan kamu. Baiklah mas akan suruh orang mas buat mengurusnya," ucap Alex, pada akhirnya ia selalu mementingkan perasaan sang istri, dari pada perasaanya sendiri. Karena bagi Alex, Alex adalah segalanya, dunianya, dan nyawanya.
"Nanti kita datang ya ke pemakamannya?" pinta Anes.
"Hem, asal kamu tidak ngomong sembarangan lagi, mas nggak suka,"
"Maaf, maaf," Anes mengecup bibir Alex, kemudian memeluknya lagi. Ia sangat beruntung memiliki suami yang selalu mengerti dirinya.
"Ku terlalu baik jadi orang sayang, dan kebaikan kamu itu bisa membuat orang lain memanfaatkannya," batin Alex.
"Lagi yuk?" ucap Alex mnyeringai,
"Apanya?" Anes pura-pura nggak ngerti.
"Olah raganya," sahut Alex.
"Mas nggak capek?" tanya Anes, dia heran suaminya itu tidak ada capeknya kalau urusan ranjang.
"Enggaklah, tubuh kamu itu candu bagi mas, berapa ronde lagi pun mas sanggup,
" Aku yang nggak sanggup mas, Mandi aja yuk," ajak Anes.
"Oke, kita main lagi di kamar mandi," Alex langsung membopong tubuh Anes beserta dengan selimut yang menutupinya.
Namun, mereka hanya mandi biasa, biar bagaimanapun, mereka baru saja mendengar kabar duka, meskipun Alex bilang tidak peduli, tapi sebagai manusia yang memiliki hati nurani, dia tetap menghormati hari kematian Rania tersebut.
Ada banyak jalan baik yang Tuhan berikan sebagai pilihan, namun kenapa harus memilih jalan yang salah? Seperti Rania, karena obsesi berlebihan dan keserakahannya akhirnya di malah tidak memperoleh apa-apa. Cinta tidak ia dapatkan, harta pun menjadi tak berati lagi buatnya, hingga akhirnya dia memutuskan untuk berakhir dengan tragis.
💠Relakan lah apa yang memang bukan milik kita, jangan terlalu memuja milik orang lain, sebagus apapun itu bukan milik kita, bukan hak kita, hanya akan menambah iri dan dengki saja.
Iri dan dengki yang terus terpupuk akan menjerumuskan kita ke dalam jurang kejahatan, yang pada akhirnya bisa menghancurkan kita sendiri💠
__ADS_1
,,,,,,ayo ayo ayo vote vote vote,,,,,,yang udah vote, thank you sayang, yang belum ayo vote 😁,,,,,,