MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 59


__ADS_3

"Dav, bagaimana berita hari ini?" tanya Alex kepada David sambil memeriksa berkas-berkas.


"Aman bos, tidak ada yang memberitakan tentang nona Anes sama sekali. Mereka hanya memuat tenteng kelancaran acara tadi malam. Dan juga memuat, kalau Presdir Parvis Group datang bersama istri, tapi tidak disebutkan secara detail siapa dan rupa istri bos. Bahkan mereka memuji nona Anes. Saya tidak menyangka nona Anes memiliki bakat bernyanyi dan main piano, dan juga pandai berdansa." jelas David.


"Baguslah, aku juga tidak menyangka, ternyata istriku sehebat itu!"


"Iya bos, saya kira awalnya nona Anes akan di permalukan di atas panggung, ternyata sebaliknya, justru nona Anes mendapat banyak pujian, bukan hanya kecantikannya tapi juga kepintaran dan bakatnya."


"Bukankah aku sangat beruntung memiliki istri seperti dia?"


"Iya bos."


"Ah, rasanya hari ini aku senang sekali," ucap Alex sambil tersenyum.


"Kalau boleh tahu, apa yang membuat Anda senang bos?"


"Kau tahu, tadi malam aku menyatakan cinta kepada Anes, dan dia membalasnya. Rasanya hilang semua bebanku selama ini, kamu tahu kan bagaimana rasanya cinta yang terbalaskan? ah kamu mana tahu."


"Iya iya, Anda ingin bilang saya tidak tahu karena saya masih jomblo kan?"


"Kalau begitu, selamat ya bos, saya ikut senang mendengarnya," sahut David.


"Tentu saja kamu harus ikut senang, hahaha. Sudah saatnya juga kamu mencari pendamping hidup Dav."


"Sudah ke berapa kali Anda bilang begitu bos, tapi menyuruhku mencari wanita tidak semudah menyuruhku mengurus perusahaan. Tidak semudah itu."


"Mmm, bos saya permisi dulu, ada hal yang harus saya kerjakan, soal kerja sama dengan Hutama Company yang akan kita batalkan," David mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Lebih baik aku pergi, dari pada harus mendengarkan kisah cintanya yang baru saja di mulai, bisa menjadi sebuah novel kalau di bukukan," batin David.


"Baiklah, lakukan pekerjaanmu, pastikan semua beres tanpa meninggalkan masalah."


"Baik bos." David bergegas ke ruangannya yang letaknya dekat dengan ruangan Presdir, hanya di batasi sebuah dinding kaca yang tak tembus pandang.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ

__ADS_1


Jam makan siang tiba. Tapi, Alex masih sibuk dengan setumpuk pekerjaannya.


"Sayang, sudah waktunya makan siang. Tapi, mas masih sibuk. Kamu makan siang dulu aja ya, bisa minta di temani Amel kalau mau makan di luar." Alex mengirim pesan singkat kepada Anes.


"Pasti sibuk banget, sampai nggak ada waktu buat nyamperin aku, hanya mengirim pesan singkat. Sebaiknya aku tidak mengganggunya. aku akan makan di kantin saja, lagian udah lama nggak makan di sana. kangen juga sama masakan kantin." Anes berbicara sendiri, setelah membaca pesan yang di kirim olah suaminya. Ia menoleh ke arah ruangan Presdir.


"Siap Bos! nanti sekalian aku pesankan makan siang buat mas ya? aku mau makan di kantin saja." Anes membalas pesan Alex.


"Mas mau makan siang apa?" Anes kembali mengirim pesan kepada Alex, sebelum Alex membalasnya.


"Mmm, terserah kamu saja, apapun akan mas makan nanti, sekalian tolong pesankan makan siang buat David. Seppertinya, dia juga masih sibuk," balas Alex.


"Ok!๐Ÿ˜˜."


Alex tersenyum, lalu meletakkan kembali ponselnya ke meja kerjanya. kemudian, ia melanjutkan pekerjaannya.


Anes mengambil tasnya dan bergegas pergi menuju ke kantin.


Sesampainya di kantin, Anes langsung menghampiri Amel dan Ricko yang sedang menikmati makan siang mereka.


"Anes!" seru Amel dan Ricko bersamaan.


"Kamu makan siang di sini Nes? tumben, biasanya selalu makan siang di luar. Senang sekali, kamu makan siang lagi di sini," ucap ricko kemudian.


"Iya, biasanya kan aku sibuk menemani pak Alex makan di luar karena sekalian urusan pekerjaan. Kalau sekarang pak Alex sibuk di kantor jadi aku bisa makan di kantin deh. Aku kangen malang bareng kalian," jawab Anes ceria.


"Aku juga kangen tahu Nes," sahut Amel sambil memeluk Anes.


"Ya udah, aku pesan makan dulu ya? sekalian mau pesenin buat pak Alex dan pak David. Kasihan mereka nggak sempat keluar buat makan siang," ucap Anes.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Ricko sangat senang bisa makan siang bareng dengan Anes. Dia masih berharap kalau di masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan hati Anes. Bahkan, dia tidak peduli dan tidak percaya dengan gosip yang beredar di kantor, yang mengatakan bahwa Anes seorang pelakor.


" Nes nanti pulang kerja bareng ya, ada yang mau aku omongin sama kamu," ucap Ricko.

__ADS_1


"Mau ngomongin apa Ko?" tanya Anes.


"Nanti kamu juga bakal tahu, ada waktu kan?" balas Ricko.


"Penting banget ya? emang masalah apa Ko?"


"Iya Nes, ini menyangkut perasaan seseorang," sahut Ricko.


Anes sepertinya menangkap maksud dari perkataan Ricko. Begitu juga Amel, dia langsung mengirim pesan kepada Anes yang jelas-jelas sedang bersamanya.


"Pasti dia mau menyatakan cinta sama kamu, cepat bertindak tegas. Kasihan anak orang," Amel mengirim pesan kepada Anes. Anes mengerti maksud Amel. Dia juga tidak ingin Ricko terlalu berharap, apa lagi kalau sampai Alex tahu, bisa jadi masalah besar. Anes takut Ricko akan dipecat.


"Mmm maaf Ko, sepertinya nanti aku lembur. Pak Alex ada banyak pekerjaan dan kemungkinan besar beliau akan lembur. Aku juga harus ikut lembur Ko kayaknya."


"Begitu ya? kalau besok gimana? bisa nggak?" tanya Ricko.


"Besok aku tidak tahu pastinya Ko, emang kamu mau ngomong apa sih Ko? nggak bisa diomongin sekarang di sini?"


"Itu soal.." Kalimat Ricko menggantung.


"Soal apa Ko? kalau soal perasaan kami ke aku, maaf aku nggak bisa membalasnya Ko. Aku hanya menganggap kamu seorang sahabat, kakak dan rekan kerja. Untuk alasan lebih detailnya, maaf saat ini aku belum bisa bilang, tapi sekali lagi aku tegaskan, aku tidak bisa membalas perasaan kamu ke aku Ko. Maaf kalau aku terus terang, karena aku nggak mau kamu selalu berharap sedangkan aku nggak bisa kasih kamu harapan. Sekali lagi aku minta maaf Ko," tegas Anes.


Mendengar ucapan Anes, membuat dada Ricko terasa sakit. Tapi, sebisa mungkin dia tidak menunjukkannya.


"Mmm aku menghargai keputusan kamu Nes, aku juga sadar, aku nggak bisa memaksa perasaan kamu buat aku. Dan terima kasih kamu sudah mau terus terang. Tapi, kita masih jadi sahabat kan?" Ricko berusaha sebisa mungkin berbicara dengan Anes, walaupun sebenarnya ia menahan sesak di dadanya.


"Aku tidak akan menyerah Nes, selama kamu masih single, selama kamu masih sendiri, belum ada yang memiliki, aku masih memiliki harapan buat mendapatkan hati kamu," batin Ricko.


"Tentu dong Ko, kita masih dan akan selalu menjadi sahabat," balas Anes dengan senyum tulus. Ricko pun membalas senyuman Anes dengan tersenyum juga. Suasana menjadi agak canggung


" Aaaah jadi baper deh aku. Udah kan? kalau sudah tidak ada masalah lagi, kita lanjutkan makan," Amel yang dari tadi menyimak percakapan dua orang di dekatnya tersebut, bersuara untuk memecah kecanggungan yang terjadi diantara mereka.


"Ah iya, ayo lanjutin makannya Ko," sahut Anes.


Mereka melanjutkan makan siang sambil berbincang. Anes lega karena dia sudah bersikap tegas terhadap perasaan Ricko padanya.

__ADS_1


__ADS_2