
Acara pun berjalan dengan lancar dan khidmat. Selesai acara Amel dan David langsung pamit pulang, begitu juga Alex dan Anes.
setelah berpamitan kepada bu Ratna dan pak Hari, Alex dan David masuk ke dalam mobil masing-masing dengan pasangan masing-masing.
Setelah bayangan mobil Alex dan David menghilang, pak Hati dan Bu Ratna masuk ke dalam rumah.
"Pa, lihat nggak tadi ekspresi Bu Maemunah bagaimana ketika melihat menantu kita datang?" tanya Bu Ratna.
"Papa tidak memperhatikannya ma, papa bukan tukang gosip seperti mama soalnya," sahut pak Hari.
"Ih papa, harusnya tadi papa perhatiin lucu tahu, mama puas rasanya," ucap Bu Ratna karena merasa telah berhasil menampar perasaan Bu Maemunah yang mulutnya pedas kayak cabe tersebut.
"Ssst mama nggak boleh julid sama tetangga, nggak baik ah," pak Hari menasehati Bu Ratna.
"Siapa suruh tetangga kok gitu, ngatain Anak mantu orang sembarangan, kalau perlu nanti mama akan belikan dia cermin yang gede biar buat dia ngaca. Kayak hidupnya udah bener aja, sehingga dengan bebas bisa menilai rendah orang,"
"Sudah-sudah jangan di bahas lagi,"
"Kalau terus di dengarkan bisa-bisa semalaman nggak kelar nih radio rusak ngomelnya," batin pak Hari. Ia memilih untuk meninggalkan Bu Ratna yang masih saja berceloteh.
🌼🌼🌼
Sementara itu, di dalam mobil Amel hanya diam tidak mengajak David bicara sedikitpun sejak meninggalkan kediaman orang tua Anes.
"Mel, kamu kenapa dari tadi diam aja. Kekenyangan ya jadi nggak mau bicara takut muntah?" tanya David.
"Iya, kenyang gara-gara mulut emak-emak dengan seribu jurus julidnya tadi. Boro-boro makan, setetes air pun nggak ada yang membasahi tenggorokanku Dav," sahut Amel jutek dengan tangan bersedekap.
"Memangnya mereka kenapa?" tanya David.
"Kamu nggak dengar tadi mereka bilang mau jadiin kamu mantu mereka? bahkan ada yang terang-terangan bilang mau kamu jadi suami keduanya," Amel terlihat sangat kesal mengingat omongan para tetangga bu Ratna.
"Itu kan maunya mereka Mel, bukan mau aku, mereka juga pasti cuma iseng-iseng berhadiah aja ngomong kayak gitu," David tetap fokus melihat ke depan.
"Iseng-iseng berhadiah, maksudnya?" Amel tak mengerti dengan ucapan David.
"Ya iseng pengen aku jadi mantu mereka, dan kalau aku beneran jadi mantu mereka, mereka sama aja dapat hadiah dari keisengan mereka," jelas David.
"Tuh kan, berarti kamu mau jadi menantu mereka kan Dav? Ck, dasar cowok semua sama aja," Amel berdecak kesal.
"Siapa bilang aku mau jadi menantu mereka Mel, aku cuma mau jadi menantu nyonya Mira," sahut David.
"David! kalau mau jadi menantu orang ngapain macarin aku? kalau kamu jadi menantu nyonya Mira, aku bagaimana Hua Hua Hua," tangis Amel pun pecah seketika.
__ADS_1
"Ya kamu jadi istriku lah Mel," jawab David datar.
"Hua hua hua, kamu jahat Dav, masa aku mau kamu jadikan istri kedua setelah anaknya nyonya Mira. Berhenti! aku mau turun!"
David pun menepikan mobilnya dan melepaskan seat beltnya.
"Ayo turun!" ucap David.
"David! benar-benar ya, jahat. Kamu beneran nyuruh aku turun di tengah jalan begini? dasar pacar nggak ada akhlak!"
David hanya geleng-geleng kepala mendengar kenalpot wornya tersebut ngomel tanpa menyerap omongan David ke dalam kepalanya.
Amel terus saja nyerocos merutuki kekasihnya tersebut.
"Amel! stop! dengerin aku," David menarik dagu Amel supaya melihat ke arahnya, kemudian ia menangkupkan kedua tangannya di pipi Amel.
"Otak kamu masih ada pada tempatnya kan?" tanya David dengan tatapan serius.
Ditatap seperti itu dengan jarak yang sangat dekat, tentu saja Amel serasa terhipnotis, dia diam dan hanya mengangguk.
"Bagus kalau masih di tempatnya, aku kira ketinggalan di rumah tuan Hari tadi," lanjut David.
"Sekarang aku tanya siapa itu nyonya Mira?" tanya David, dan Amel tampak berpikir.
"Aku nggak lupa Dav, mamaku namanya Mira Larasati," sahut Amel.
David menarik nafasnya dalam dan mengeluarkannya dengan kasar.
"Jadi aku nggak salah dong?" ucap David.
"Udah deh Dav, jangan kasih aku teka-teki. Lagi malas mikir," sahut Amel yang masih kesal.
"Sepertinya bos Alex benar, aku sudah di pelet sehingga bisa jatuh cinta sama gadis ini," batin David.
"Mel, dengerin aku, aku maunya jadi menantu nyonya Mira itu berati aku mau kamu jadi istriku, karena nyonya Mira itu mama kamu, paham sekarang?" jelas David penuh penekanan di setiap katanya.
"Ngomong kek dari tadi Dav, jadinya kan aku nggak perlu nangis, hiks" sahut Amel
David menyeka air mata Amel dengan tangannya.
"Jangan nangis lagi, kamu tahu, aku sudah menjatuhkan pilihanku sama kamu, jadi kamu nggak perlu buang air matamu sia-sia untuk sesuatu yang tidak penting seperti tadi,"
"Tapi tetap aja aku cemburu Dav,"
__ADS_1
"Aku tahu, tapi aku tidak tertarik untuk menjadi menantu mereka, apalagi menjadi suami keduanya," David menarik kepala Amel ke dalam pelukannya.
"Jangan tinggalin aku Dav," ucap Amel.
"Tidak akan," David semakin mengeratkan pelukannya.
"Dav,"
"Hem,"
"Aku lapar,"
"Ayo turun, kita makan. Aku mengajak kamu turun tadi karena mau ngajak kamu makan Mel, bukan nurunin kami di tengah jalan," ucap David.
Amel melihat ke arah jendela mobil, dan benar saja mereka kini sudah berada di depan sebuah restoran.
"Ih pacarku terbaik deh!" seru Amel udan langsung membuka pintu mobilnya dan turun.
"Ck.dasar gadis bodoh!" decak David sambil mengulum senyum di bibirnya.
Mereka berdua masuk ke dalam restoran dengan desain romantis tersebut dengan bergandengan tangan.
"Dav, apa kamu lapar?" tanya Amel sambil berjalan.
"Enggak, tadi aku udah makan di rumah tuan hari bersama bos Alex," jawab David.
"Terus kenapa mengajak aku makan di sini?" Amel berjalan mendahului David dan berhenti tepat di depan laki-laki tersebut untuk meminta jawaban.
"Karena aku tahu kamu lapar, tadi aku perhatiin di rumah tuan Hari kamu tidak makan, hanya sibuk melototi ibu-ibu tadi, beda dengan nona Anes yang sibuk dengan makan di samping kamu,"
"Ih so sweet diam-diam kamu perhatiin aku terus ya tadi, hayo ngaku," Amel kembali menggandeng tangan David.
"Sudah diamlah, kita sudah sampai, duduk dan pesan makanan, biar perut kamu nggak kosong sehingga otak kamu nggak ngeblank kayak tadi," ucap David melepaskan tangan Amel dan menarik kursi untuk di duduki Amel.
"Hehe kamu tahu aja yang, aku suka nggak konsen kalau perut kosong," sahut Amel sambil nyengir.
"Yang? boleh juga" batin David sambil senyum senyum sendiri.
Dan makan malam dadakan yang cukup romantis pun terjadi.
🌼🌼🌼
💠Jangan lupa like n vote💠
__ADS_1