
Keesokan harinya di kantor...
"Bos, saya sudah atur jadwal Anda dan nona Anes untuk konsultasi ke dokter, besok lusa jadwalnya," ucap David kepada Alex.
"Baiklah kau atur saja, jangan lupa dokternya harus laki-laki sama perempuan," sahut Alex sambil memandang tangani sebuah berkas dan kembali menyerahkannya kepada David.
"Baik bos," ucap David.
"Kamu kelihatannya tidak baik, jika tidak enak badan pulang dan istirahatlah, jangan dipaksakan buat bekerja," ucap Alex yang
melihat David agak pucat.
"Tidak bos, saya baik-baik saja, mungkin hanya kecapean, nanti istirahat sebentar juga baikan," sahut David.
"Kamu yakin?" tanya Alex.
"Yakin bos, lagian hari ini pekerjaan tidak terlalu banyak, jadi saya bisa sedikit bersantai,"
"Baiklah terserah kamu saja, selesaikan pekerjaanmu lalu pulang dan istirahat!" titah Alex.
"Baik bos," sahut David lalu meninggalkan Alex di ruangannya.
๐ผ๐ผ๐ผ
Jam makan siang tiba, seperti biasa Amel makan siang di kantin favoritnya. David juga kini sering ikut makan di kantin bersama Amel.
"Bagaimana mood Presdir hari ini?" tanya Amel penasaran.
"Sepertinya sudah membaik. Bahkan dia memintaku untuk mengatur jadwal konsultasi ke dokter kandungan," jawab David.
"Syukurlah kalau begitu," Amel menghela nafas lega.
"Kamu pucat, kamu sakit?" tanya Amel Lusiana yang sedari tadi memperhatikan ada yang beda dari David.
"Sedikit," sahut David.
"Kalau sakit kenapa masuk kerja?"
"Cuma sedikit kecapean, nanti juga baikan,"
"Kebanyakan bergadang tuh, o ya ni kartu kredit kamu aku balikin. Semalam kamu buru-buru langsung pulang pas ambil mobil jadi aku lupa mengembalikannya," meletakkan dan mendorong kartu kredit milik David ke depan si pemilik.
"Kenapa nggak kamu gunakan?" tanya David, karena seharian kemarin tidak ada pemberitahuan sama sekali di ponselnya.
"Aku punya uang sendiri kok, dan aku juga bukan cewek matre!"
"Bukan begitu maksud aku,"
"Aku tahu, lagian aku nggak beli barang yang mahal, jadi uang jajanku cukup," Amel tersenyum memperlihatkan rentetan gigi putihnya.
"Status kita masih abu-abu, kan nggak enak kalau aku pakai uang kamu sesuka hati," imbuhnya lirih.
Baru juga David mau menyahut ucapan Amel yang terdengar seperti sedang menyindirnya keburu Ricko datang.
"Cieeee, Amel pak David makin lengket aja kayak perangko," celetuk Ricko yang baru datang dan ikut nimbrung duduk di sebelah David.
"Berisik kamu Ko, gunakan tuh mulut buat makan, bukan buat ciya ciye ciye ciye," sungut Amel.
"Saya sudah selesai makan, saya kembali dulu ke kantor," ucap David langsung meninggalkan Amel dan Ricko di kantin.
"Kamu sih Ko, bikin malu aja, jadi pergi kan dia," Amel menepuk lengan Ricko.
"Yaelah kenapa malu, udah jadi rahasia umum kali Mel kedekatan kalian, dah jadi konsumsi publik,"
"Huh, nggak seperti yang kalian pikirkan, kami cuma teman," jelas Amel.
"Masa sih cuma teman? teman tapi mesra?" ledek Ricko.
"Benar kata Ricko, kita nggak ada status pacaran tapi dia udah nyium aku, itu namanya apa? teman tapi mesra?" Amel menghela nafas kasar.
"Udah ah, aku selesai mau ke toilet," Amel beranjak dari duduknya dan meninggalkan Ricko.
๐ผ๐ผ๐ผ
Anes tampak sedang sibuk memainkan ponselnya sambil duduk bersantai di taman belakang.
"Asyik benar main ponselnya, sampai suami udah berdiri di sini dari tadi nggak sadar," ucap Alex yang sejak tadi sudah memperhatikan istrinya.
"Mas Alex? kok udah pulang?"
"Udah dari tadi tahu, mas perhatiin kamu dari tadi senyum-senyum sendiri sambil lihatin ponsel. Lagi lihatin photoku ya?" Alex mengusap puncak hidung Anes sambil duduk di kursi samping Anes.
"Narsis, aku lagi liatin gambar bayi yang lucu. Lihat deh! gemesin banget kan? itu anak teman ku waktu sekolah dulu, duh senengnya mereka udah punya baby sekarang," Anes menunjukkan photo bayi di Instagram.
__ADS_1
"Ah lucuan juga anak kita nanti, secara orang tuanya ganteng dan cantik gini," ucap Alex setelah melihat photo tersebut.
"Ih mas Alex nggak boleh julid gitu," mencubit pinggang suaminya.
"Siapa yang julid? kalau nggak percaya kita buktikan saja," sahut Alex.
Tiba-tiba Anes terdiam, raut wajahnya berubah menjadi sendu. Alex tahu apa yang di pikirkan oleh istrinya.
"Udah jangan terlalu berfikir, lusa kita ke dokter buat konsultasi, oke?" ucap Alex seraya membelai pipi Anes.
"Benarkah?"
"Tentu, David sudah mengaturnya,"
"Punya tumben jam segini mas udah pulang?" tanya Anes
"Karena mas mas kangen istri mas, dan juga mau menebus waktu yang mas buang untuk berduaan sama kamu. Mas pasrah deh mau di ajak enak-enak, mas serahkan seluruh tubuh mas buat kamu. Kamu bebas bereksplorasi, bagaimana? senang kan?"
"Haddeh, lagi-lagi menjurus ke sana. Sudah ku duga," desah Anes dalam hati.
"Tau ah!" seru Anes sambil berjalan meninggalkan Alex.
"Mau kemana?" tanya Alex.
"Mau ke kamar, mas lapar kan? ayo makan," Anes menoleh sambil mengedipkan sebelah matanya memberi kode kepada Alex.
Alex langsung menangkap maksud Anes, ia segera menyusul langkah Anes dengan tidak sabar.
"Tapi ini masih sore, kamu yakin?" tanya Alex sambil mengikuti langkah Anes di sampingnya.
"Nggak ada tawaran dua kali, nggak mau yaudah!"
"Mau mau!" seru Alex.
Merekapun masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Selanjutnya apa yang terjadi, ya terjadilah.
๐ผ๐ผ๐ผ
keesokan harinya...
Sejak pagi baru tiba di kantor sampai jam makan siang, Amel tidak melihat bayangan David sama sekali.
"Apa dia nggak masuk hari ini? jangan-jangan sakitnya tambah parah lagi," gumam Amel khawatir. Ia mencoba menghubungi David tapi tidak di angkat. Akhirnya dia memutuskan untuk bertanya kepada Alex.
"Masuk,"
"Permisi Pak, saya mau tanya apa pak David hari ini tidak masuk kerja? Saya khawatir soalnya kemarin beliau kelihatannya tidak enak badan, takutnya tambah parah, saya juga sudah mencoba menghubunginya tapi tidak di angkat, mau ke rumahnya saya tidak tahu alamatnya dan ini juga belum waktunya pulang, apa pak David bilang sesuatu sama Bapak?" ucap Amel tanpa jeda.
"Itu mulut nggak ada remnya ya? Bikin sakit di telinga," Alex mengernyitkan dahinya mendengar ocehan Amel yang menurutnya seperti rem blong.
"Udah? Kalau belum nafas dulu baru lanjutin lagi," sahut Alex.
"Udah pak," ucap Amel sambil mengatur nafas.
Alex menulis sesuatu di kertas dan memberikannya kepada Amel.
"David memang sakit, dan itu alamat apartemennya, kamu bisa ke sana setelah pulang bekerja," ucap Alex.
"Jadi beneran sakit ya? sakit apa?" tanya Amel.
"Kamu bisa tanya sendiri nanti sama yang bersangkutan," sahut Alex.
"Em baiklah, terima kasih. Kalau begitu saya permisi,"
"Hem,"
"Kata orang pasangan adalah cerminan diri kita, jadi nggak yakin dia akan berjodoh sama David, tapi bisa juga sih sikapnya itu justru malah akan jadi saling melengkapi," batin Alex.
๐ผ๐ผ๐ผ
Sepulang kerja, Amel langsung menuju ke apartemen David. Berkali-kali ia menekan bel, namun tak ada yang membukakan pintu. Ia mengambil ponsel di dalam tasnya dan menghubungi David. Beruntung, David segera mengangkat panggilannya.
"Halo Dav, aku di depan pintu nih, cepat bukain," ucap Amel.
"Masuk aja, sandinya xxxxx," sahut David dan langsung mematikan teleponnya.
"Wah ini apartemen mewah juga, jadi penasaran berapa gajinya bekerja sebagai asisten pak Alex," gumam Amel sesampainya di dalam apartemen berlantai dua tersebut.
"Kamarnya di mana ya? Di atas kali ya?" monolog Amel sambil melihat ke lantai atas.
Amel mengendap-endap menaiki anak tangga. Sampai akhirnya ia menemukan kamar David.
"Dav, kamu di dalam kan? aku masuk ya?" ucap Amel lalu membuka pintu kamar David.
__ADS_1
"Dav, kamu baik-baik aja?" Amel mendekati David yang berbaring di tempat tidurnya.
"Ya ampun Dav, badan kamu panas sekali!" seru Amel setelah menempelkan tangannya di kening David.
"Aku panggilan dokter ya?"
"Tidak usah, tadi aku udah berobat," cegah David.
"Kalau begitu, udah di minum obatnya?" tanya Amel. David menggelengkan kepalanya.
"Aku buatin bubur, terus minum obatnya ya?" Amel langsung menuju ke dapur dan membuat bubur buat David.
Beberapa saat kemudian, Amel masuk ke dalam kamar David dengan membawa semangkuk bubur buatannya.
"Kamu makannya, mau sendiri atau aku suapi?" Amel memberi pilihan kepada David.
"Biar aku sendiri saja," David bangun dan meraih mangkuk di tangan Amel.
David memasukkan satu suap bubur ke mulutnya dan...
"Uhuk-uhuk!" David tersedak.
"Kenapa? apa nggak enak buburnya?" tanya Amel.
"Asin sekali, apa dia berencana membunuhku?" batin David.
"Nggak papa, enak kok," jawab David berbohong.
"Sini biar aku coba kalau enak, ini pertama kali aku buat bubur soalnya,"
"Nggak boleh," David langsung memakan semua bubut itu dengan penuh perjuangan dan harapan supaya tidak keracunan.
"Kamu lapar apa doyan?" tanya Amel.
"Dah habis," David langsung menyerahkan mangkuk yang sudah tandas hingga tetes terakhir tersebut kepada Amel.
"Ya udah, sekarang minum obat ya?"
"Nggak, aku nggak bisa minum obat," tolak David.
"Kenapa? Bukannya tadi kamu bilang udah berobat?" selidik Amel.
"Aku nggak bisa minum obat, baru sampai mulut pasti udah muntah, aku emang nggak pernah bisa kalau minum obat, jangan paksa aku, percuma saja,"
"terus apa gunanya berobat kalau obatnya nggak di minum. Sini mana obatnya?"
David menunjuk letak obat di atas nakas.
Amel langsung mengambilnya dan dia memasukkan obat tersebut ke mulutnya di susul air putih, lalu ia memegang dagu David memaksa membuka mulutnya, lalu ia mencium bibir David. Ya, dia memasukkan obat dan membungkam mulut David dengan menciumnya dengan bibirnya, sampai David bisa menelan seluruh obatnya.
"Amel, Apay yang kamu lakukan?" protes David setelah acara ciumannya selesai.
"Bagaimana? udah tertelan kan?" ucap Amel santai.
David merinding membayangkan hal konyol yang baru saja Amel lakukan. Tapi dia senang dalam hati.
"Ih menjijikkan tahu! masa minum obat seperti itu," ucap David mengusap bibirnya.
"Yang penting tertelan kan? biar cepat sembuh," sahut Amel.
"Hah, jangan kamu tunjukkan wajah watados mu itu, wajah tanpa dosa," sungut David.
"Kenapa? protes? mau di keluarin lagi tuh obat? sini aku sogok pakai garpu biar hoek dan keluar tuh obat," sahut Amel dengan wajah devilnya.
"Amel,"
"Apa?"
"Mulutmu?"
"Kenapa lagi mulutku?"
"Sadis!"
"Bodo ah, udah ya aku pulang dulu, udah mulai malam, kamu istirahat, udah minum obat langsung buat tidur biar enakan. Besok aku ke sini lagi," Amel mengambil tasnya.
"Nggak nginep?" tanya David sambil memegang pergelangan tangan Amel.
"Kalau dah resmi," jawab Amel sambil tersenyum.
"Bye bye, cepat sembuh"
David tersenyum melihat tingkah Amel yang mampu mewarnai dunianya tersebut.
__ADS_1
๐ผ๐ผ๐ผ