MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 142


__ADS_3

Di kantor...


David yang baru saja tiba di kantor dan melihat Amel, langsung mengejar dan menyusulnya masuk lift.


"Dav, bikin kaget aja," ucap Amel ketika menyadari laki-laki yang sudah satu Minggu ini menyandang status sebagai kekasihnya. Walaupun masih agak sedikit kaku, dan masih hanya berjalan di kantor karena kesibukkan David yang belum bisa mengajak Amel berkencan, tapi itu cukup menyenangkan buat keduanya.


"Kenapa? apa kamu berharap ada pria lain yang mengejarnya masuk ke lift?" tanya David.


"Bukan begitu Dav, tadi pagi kamu bilang nggak bisa jemput aku, eh sekarang tiba-tiba udah sampai kantor aja," sahut Amel.


"Iya, tadi aku harus menyiapkan berkas-berkas penting, jadi tidak keburu kalau harus menjemput kami dulu. Maaf ya," ucap David.


"Buruan pencet tombolnya Mel, mau pintu liftnya terbuka terus dan kita hanya berdiri di sini tanpa pergerakan?" ucap David.


"Huh kenapa harus aku, kan ada kamu Dav," ucap Amel manja.


"Huh kamu ya, awas nanti," David menekan tombol menuju ke lantai tempat Amel bekerja.


Suasana di dalam lift sedikit canggung, ya walaupun mereka kini sepasang kekasih, sikap David yang kaku masih saja membuat Amel salah tingkah, bingung mau menanggapinya seperti apa. David sendiri lebih suka menunjukkan cintanya lewat tindakan dari pada kata-kata. Kalaupun ingin berkata romantis, ia harus bertanya sama Mbah Google terlebih dahulu.


Pintu lift terbuka, David langsung menggandeng tangan Amel dan menariknya keluar.


"Lho Dav, ruangan kamu kan nggak di sini, ruangan kamu kan di atas kenapa ikut berhenti di sini?" tanya Amel dengan polosnya.


"Aku mau memastikan pacarku ini sampai di ruang kerjanya dengan selamat," sahut David dengan tangan tetap menggandeng tangan Amel.


Amel tersanjung mendengar ucapan David. Pipinya merona dan ia seperti memiliki sayap yang membawanya terbang.


Sampai di kubikelnya, Amel langsung melepaskan pegangan David dan menaruh tasnya. Ia langsung duduk dan bersiap untuk bekerja.


David ikut duduk di depan Amel.


"Dav, kenapa masih di sini?" tanya Amel.


"Nggak apa-apa, bos juga belum datang, dan ini juga masih sepi, yang lainnya belum datang. Aku masih ingin di sini," sahut David.


"Jangan liatin aku kayak gitu, mana bisa aku konsen kalau kamu lihatin kayak gitu," ucap Amel malu-malu.


"Biarin, sekarang kan kamu pacarku, lagian jam kerja belum mulai, kamu ngerjain apa sih?" David kepo.


"Aku mau nuntasin nonton drama yang semalam belum kelar, kepikiran terus kalau belum end," sahut Amel dengan senyum manisnya.


"Jadi, semalam kamu mengabaikan teleponku karena nonton drama?" David mengernyitkan dahinya.


"Hehe, jangan marah. Mereka kan pacar halu aku, pacar nyata aku kan kamu," tersenyum seramah dan semanis mungkin untuk meluluh lantahkan hati David dan tidak lupa tangannya menyentuh tangan David dengan lembut.


"Baik halu maupun nyata, cuma aku yang bisa jadi pacar kamu. Tidak ada bantahan!" tegas David.


"Oke-oke deal, tapi biarin aku nonton ya, ini udah episode terakhir kok, please!" memohon dengan menangkupakan kedua tangannya.

__ADS_1


"Ya udah, aku ke ruanganku dulu. Karyawan lain juga udah pada datang. Jangan kebanyakan nonton drama, nanti jadi halu beneran," ucap David sambil mengacak-acak rambut Amel.


"Enggak janji hehe," sahut Amel dengan senyum.


"Iya besok kan weekend, kita jalan oke!" ucap David langsung ngeloyor pergi.


"Dia ngajak aku kencan? Hemm akhirnya," batin Amel jingkrak-jingkrak. karena ini pertama kalinya David mengajak dia jalan.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


David masuk ke dalam ruangan Alex, di lihatnya Alex sudah duduk di kursi kebesarannya. Alex memicingkan matanya melihat David yang baru saja masuk.


"Heh bucin baru, mentang-mentang udah punya pacar, pagi-pagi udah nongkrongin anak gadis orang. Ck, dasar. Ku kira kamu polos Dav, ternyata lebih buas dari ku," Alex geleng-geleng kepala.


David hanya diam tak menanggapi, dia tak ingin berdebat dengan bosnya itu, karena pasti Alex tidak mau dikalahkan meskipun kalah.


"Em ini berkas-berkas yang dibutuhkan nanti bisa. Saya sudah memeriksanya ulang, dan tidak ada yang perlu ralat," ucap David.


"Hem," sahut Alex.


"Kalau begitu saya permisi bos," ucap David undur diri dari hadapan Alex.


"Em Anes lagi apa ya, udah kangen aja padahal baru sebentar nggak ketemu," gumam Alex. Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Anes.


"Sayang lagi apa?" isi pesan Alex.


"Kayaknya enak tuh, bagi mas dong. Mas lagi mikirin kamu," balas Alex.


"Nanti, sekalian mas jemput aku ya, kita bawa pulang kuenya," balas Anes.


"Oke! emmmuachh!" balas Alex.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Di rumah pak Hari...


"Anak mama senyum-senyum sendiri, habis dapat lotre ya?" ucap bu Ratna yang baru saja mengambilkan Anes minum.


"Ah mama bisa aja, lotre apaan. Ini Anes habis chatting sama mas Alex," sahut Anes.


"Duh, baru juga nggak ketemu sebentar udah saling rindu aja. Emang ya rindu itu berat," goda Bu Ratna.


"Iya ma, berat, mama nggak akan kuat. Biar aku saja, hahahaha" timpal Anes.


"Dilan kali ah!" sahut Bu Ratna. Ibu dan anak tersebut terkekeh bersama.


Wajah Anes tiba-tiba berubah, Bu Ratna melihat dengan jelas perubahan ekspresi semata wayangnya tersebut.


"Sayang, ada apa? kenapa kamu jadi sedih begini? apa ada masalah? cerita sama mama," tanya Bu Ratna. Ia bisa memahami mood Anes yang tiba-tiba berubah karena sedang hamil.

__ADS_1


"Enggak ma, nggak ada masalah kok. Semua baik-baik saja," sahut Anes.


"Yakin? kalau Yasa yang kamu pikirkan, bisa sharing sama mama, jangan di pendam sendiri, enggak baik buat janin yang ada dalam kandungan kamu kalau kamu banyak pikiran,"


"Em, itu ma. Anu," ucap Anes ambigu.


"Anu apa sayang?"


"Apa dulu waktu mama hamil Anes, papa dan mama masih melakukannya?" tanya Anes ragu-ragu.


"Melakukan apa sayang?"


"Itu ma,"


"Itu apa?"


"Ih mama masa nggak ngerti, melakukan hubungan suami istri,"


"Oh ML!" seru Bu Ratna.


"Astaga! Mama pelankan sedikit suaranya!" kata Anes.


"Hehe maaf-maaf. Em, seingat mama sih iya, papa kamu tetap agresif tidak berubah dalam hal begituan waktu itu. Ini seingat mama lho ya. Kenapa kamu tanya begitu?" selidik bu Ratna.


"Em itu ma, mas Alex akhir-akhir ini tidak pernah mengajak Anes begituan, apa karena Anes lagi hamil jadi kurang menarik ya ma?"


"Ya kalau dia nggak minta, kamu aja yang berinisiatif ngasih, kan pahala kalau seorang istri ngasih duluan sebelum suami minta,"


"Bukan itu ma masalahnya, setiap udah tinggal golnya mas Alex pasti langsung menyudahinya. Dia malah lebih suka nonton Upin Ipin dan sponbob ma sebelum tidur,"


"Gini ya sayang, mungkin suami kamu takut,"


"Takut apa ma? emang Anes menakutkan?" tanya Anes.


"Biasanya dia ma yang menakutkan kalau urusan ranjang. Anes suka takut kalau paginya nggak bisa bangun," batin Anes.


"Mungkin suami kamu takut, kalau dia melakukannya, itu akan menyakiti kamu ataupun melukai anak yang ada dalam perut kamu. Wajar saja seperti itu, sebagian lelaki juga berpikir seperti itu, mereka lebih memilih untuk berpuasa dari pada menyakiti anak dan istri mereka. Sebenarnya sih, hal itu bisa di hindari kalau mereka melakukannya dengan posisi yang aman dan hati-hati," jelas bu Ratna.


"Jadi bukan karena mas Alex udah nggak cinta sama aku ya ma?"


"Tentu saja tidak sayang, kamu jangan berpikir lebih. Mama tahu suami kamu itu sangat mencintai kamu, makanya menurut mama justru karena Alex sangat mencintai kalian berdua makanya dia lebih memilih menahannya," sahut Bu Ratna sambil menyentuh perut Anes.


"Terima kasih ya ma, Anes jadi lega sekarang. Anes sempat berpikir kalau Anes sudah tidak menarik lagi, dan mas Alex sudah tidak memiliki gairah terhadap Anes," ucap Anes polos.


"Ibu hamil emang begitu sayang, pikirannya lebih sensitif," Bu Ratna memeluk Anes.


Ada rasa lega dan nyaman ketika Anes konsultasi kepada mamanya.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ

__ADS_1


__ADS_2