
Sore itu, Anes sedang asyik menyaksikan acara televisi.
"Nes, buatin teh dan antar ke ruang kerjaku ya?"
"Iya mas, sebentar aku buatin."
Anes buru-buru ke dapur dan membuatkan teh untuk Alex.
"Mas ini tehnya, sekalian aku bawain camilan," ucap Anes ketika memasuki ruang kerja suaminya sambil membawa nampan berisi secangkir teh dan juga camilan.
Setelah meletakkan teh dan camilannya diatas meja, Anes bermaksud untuk meninggalkan Alex yang dilihatnya sedang sibuk.
"Mau kemana?" langkah Anes terhenti mendengar ucapan Alex.
"Mau lanjutin nonton tv, kalau disini nanti ganggu mas kerja."
"Tetap disini, temani aku!"
"Apa mas nggak keganggu, kalau aku disini?"
"Cepat kemari, jangan bawel!"
"*T*ukang maksa!" batinnya.
Anes hanya menuruti perintah suaminya.
"Duduklah!" Anes menuju ke sofa yang ada diruang kerja tersebut.
"Kenapa duduk disitu?"
"*D*asar aneh, tadi katanya nyuruh duduk dan ini tempat duduk satu-satunya selain yang ia duduki itu, apa aku suruh duduk dilantai , ngesot gitu?"
"Katanya tadi aku disuruh duduk?"
"Cepat kesini!"
Anes menghampiri suaminya.
"Duduk!" titah Alex.
"Duduk dimana?"
"Di pangkuanku."
"Hah apa?"
"Cepatlah, aku butuh vitamin."
Anes menatap Alex bingung.
"*V*itamin apa sih maksudnya?"
Dengan ragu Anes duduk dipangkuan suaminya.
"Apa nggak ganggu mas kerja, kalau aku duduk begini?"
"Enggak, kalau kamu diam dan jangan ganggu," sahut Alex dengan tangan kirinya sudah memeluk Anes sedangkan tangan kanannya masih sibuk dengan pekerjaan.
"*J*elas-jelas aku udah mau keluar nggak mau ganggu dia,tapi dicegah kan, kenapa sekarang seolah-olah aku yang ingin tetap disini, ih dasar aneh!" gerutu Anes dalam hati.
"Ah sepertinya aku benar-benar butuh vitamin," ucap Alex.
"Vitamin apa mas? biar aku ambilkan"
"Vitamin ini," telunjuk Alex sudah berada dibibir Anes.
Alex langsung menarik tengkuk Anes dan mencium bibirnya.
Anes sengaja diam dan tidak membalas ciuman Alex, namun Alex tak kehabisan akal, ia menggigit bibir bawah Anes.
"Awww!" pekik Anes, secara otomatis mulutnya terbuka dan Alex menggunakan kesempatan tersebut untuk lebih dalam menjelajahi rongga mulut Anes.
Akhirnya, Anes tidak tahan juga, dia membalas ciuman Alex sambil mengalungkan tangannya dileher Alex. Ciuman mereka pun semakin panas. Dan tentu saja junior milik Alex sudah memaksa untuk keluar.
Alex menggiring tubuh Anes kesofa tanpa melepas ciumannya.
Baju yang Anes kenakan sudah tidak tahu dimana rimbanya, kini Anes sudah tidak memakai baju sama sekali. Alex terus mencumbu Anes tanpa henti.
Anes menatap Alex dengan sayu, seolah-olah meminta agar segera menyatukan tubuh mereka karena ia sudah tidak tahan dengan cumbuan-cumbuan yang diberikan Alex terutama diarea sensitifnya.
Seolah mengerti keinginan istrinya, Alex pun langsung menindih tubuh Anes dan menggencarkan aksinya hingga akhirnya...
"Ahhhh" mereka mencapai puncak kenikmatan bersama di ruang kerja tersebut. Anes melengkungkan tubuhnya ketika ia mencapai puncak, begitu juga Alex, dia memasukkan miliknya lebih dalam ketika mencapai puncak kenikmatan.
Alex masih berada diatas Anes, mereka sedang mengatur nafas mereka yang tidak beraturan akibat olah raga yang baru saja mereka lakukan.
"Cup!" dengan lembut Alex mencium puncak kepala Anes dan beralih ke keningnya.
"Terima kasih vitaminnya," ucap Alex sambil membelai pipi Anes lembut.
Anes tersenyum dan mengangguk kepada Alex.
"*P*adahal, tadi aku niatnya cuma mau minta vitamin ciuman dari dia, eh malah kebablasan, pesonanya emang membuatku ingin selalu melakukannya, benar-benar candu buatku," batin Alex.
Alex sudah memakai pakaiannya kembali. Kemudian, dia membantu Anes memakai pakaiannya.
"Aku bisa sendiri mas."
"Udah diam, biar aku yang pakaikan!" dengan nada seperti biasa ala Alex Abraham Parvis, yang datar tanpa ekspresi dan terkadang jutek. Eh sering jutek maksudnya.
"*B*enar-benar susah ditebak, kadang lembut kadang judes, jutek, kadang baik kadang nggak bisa dibantah, kadang romantis tapi sering datar, dan itu yang buat aku jatuh cinta," ucap Anes dalam hati.
__ADS_1
🌼🌼🌼
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, Anes dan Alex belum makan malam.
"Mas, aku masak dulu sebentar ya, mas pasti lapar kan, masih ada sayuran dan daging yang bisa Ani dan bisa Ina bawa tadi pagi."
"Nggak usah masak!"
"Tapi mas kan belum makan, aku juga lapar."
"Pakai jaket! kita makan diluar saja malam ini," ucap Alex sambil memakai jaketnya dan mengambil kunci mobil.
Anes segera memakai jaket dan mengambil tasnya.
"Kamu mau makan apa?" tanya Alex.
"Terserah mas aja, asal tidak yang aneh-aneh cacing-cacing dalam perutku bisa menerimanya," jawab Anes.
Mereka sampai didepan sebuah restoran bintang lima ala Eropa yang menyajikan makanan khas Perancis.
"Mas ngapain kesini?" tanya Anes
"Numpang tidur!"
Anes menatap Alex bingung.
"Ya makanlah, ayo turun!"
"Pilih tempat yang lain aja mas, aku nggak biasa makan makanan aneh dan mahal, nanti cacing-cacing diperutku bisa overdosis," kilah Anes.
"Katanya tadi terserah?"
"Iya, tapi yang lain aja ya ya ya please?" ucap Anes memohon dengan nada menggemaskan. Dan tentu saja Alex tak bisa menolak permintaan istrinya yang sangat imut menurutnya itu.
Alex kembali melajukan mobilnya kembali. Setiap kali sampai di restoran Anes selalu menolak. Sampai beberapa restoran bintang lima mereka lewati.
"Sekarang kamu maunya apa? mau makan apa? dari tadi udah berapa restoran yang kita lewati semua kamu nggak mau."
"*Y*a kali, dari tadi mas Alex berhentinya di restoran bintang lima semua. Bisa habis jutaan cuma buat sekali makan doang.Jiwa misquen ku tentu saja memberontak, sayang uangnya," batin Anes.
"Malah diam, sekarang mau makan apa ANESKA SALSABILA PUTRI? keburu malam nih, aku juga udah lapar."
"Mmm terserah mas Alex aja lah aku ikut."
"Allahu Akbar, dari tadi terserah terserah terus, tapi, setiap kali berhenti nggak mau, emang perempuan satu ini makhluk Tuhan paling ajaib, apa maunya nggak jelas," Alex menghela nafas panjang sambil mengusap wajahnya frustasi.
Alex melajukan mobilnya kembali dan lagi-lagi Anes menggeleng-gelengkan kepalanya ketika Alex mengajaknya turun dan masuk.
"Ya udah kita pulang aja!" Alex mulai putus asa.
"Terus nggak jadi makan dong? tapi aku lapar mas, ayolah!" rengek Anes.
"Kembung dong mas?" timpal Anes.
"Terserahlah!" sewot Alex.
"Jangan marah dong!"
"Nggak!"
"Bohong, mukanya kusut kayak baju belum diseterika gitu, pasti marah, kan kan kan?maaf," ucap Anes dengan memanyunkan bibirnya dan sok imut dengan mengedip-ngedipkan matanya.
"Astaga, bagaiman aku bisa marah, kalau dia lagi nyebelin aja tetap imut dan menggemaskan begini," batin Alex.
"Baiklah, aku akan makan sekarang."
"Maksudnya?"
Alex langsung melepaskan seat beltnya dan menarik tengkuk Anes, dia mencium bibir ranum Anes untuk beberapa detik.
"Itu jatah makan malam ku," ucap Alex datar.
"*I*sh, bisa-bisanya dia santai tanpa ekspresi begitu habis nyosor, benar-benar aneh!" Anes menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi tetap aja, perut butuh asupan mas, kalau nggak cacing-cacingnya pada protes.Ya udah jalan aja lagi, nanti aku yang pilih tempatnya."
"*D*ari tadi kek, kan nggak buang-buang waktu, tenaga dan pikiran," gerutu Alex dalam hati.
"Hem" jawab Alex singkat.
Suasana didalam mobil pun menjadi hening
🌼🌼🌼
"Mas mas berhenti!" ucap Anes ketika melewati sebuah warung makan dipinggir jalan.
"Mau ngapain?"
"Kita makan disini aja."
"Nggak mau!" tolak Alex.
"Ayolah, makanan disini enak-enak."
"Oh ajaibnya istriku, diajak makan ditempat bersih dan enak malah milih tempat kayak gini."
"Nggak! nanti aku bisa sakit perut,aku belum pernah makan dipinggir jalan kayak gini."
"*I*sh dasar, terbiasa hidup enak dari orok ya gitu, taunya cuma tempat-tempat elite."
__ADS_1
" Ya makanya ayo sekarang coba, sekali-kali hidup ala-ala rakyat biasa, dijamin mas ketagihan deh!" bujuk Anes.
"Kalau nggak mau yaudah aku turun sendiri, sana, mas pulang aja" Anes mulai beraksi mengerucutkan bibirnya dengan tangan disilangkan didada.
"Ya ya aku mau, tapi kamu yakin tempat ini bersih, nggak bakal bikin sakit perut?"
"Yakin, aku sering makan disini sama Amel."
"Ayo!" Anes menarik tangan Alex ketika mereka sudah keluar dari mobil.
"Malam mang Asep?" sapa Anes terhadap pemilik warung.
"Selamat malam, eh neng Anes, tumben kesini, sudah lama nggak pernah kelihatan?" sahut mang Asep pemilik warung.
"Iya mang, makanya sekarang Anes kesini, kangen ketoprak buatan mang Asep," ucap Anes ramah
Alex hanya diam dengan posisi duduk yang kurang nyaman, karena ia takut tempatnya tidak higienis, memperhatikan Anes dan mang Asep bicara.
"*M*ereka kelihatan akrab sekali," batin Alex sambil memicingkan matanya.
"O ya, neng Amel teh mana, kenapa nggak bareng sama neng Anes kesini?"
"Iya mang, saya kesini sama..."
"Saya suaminya Anes!" Alex memotong kata-kata Anes.
"Oh, neng Anes teh sudah menikah, selamat ya neng? wah, kasep pisan suaminya, cocok sekali sama neng Anes, yang satu geulis yang satu teh kasep."
"Ah mang Asep bisa aja, pesan ketopraknya 2 ya mang?"
"Siap neng, mamang buatin dulu sebentar ya?"
"Mas duduknya biasa aja dong!" ucap Anes ketika melihat suaminya tidak nyaman dengan duduknya.
"Itu bersih, kursinya bersih jangan khawatir," lanjutnya.
"Aku nggak biasa makan dan duduk ditempat begini,"
"Ck, dasar!"
"Ayo pulang aja, disini kamu malah jadi pusat perhatian."
"Hellooo, yang jadi pusat perhatian tu kamu, suami gantengkuh," protes Anes dalam hati.
"Udah biarin aja, nggak kenal ini, sebentar lagi ketopraknya datang."
Ya, dari tadi para pengunjung warung tersebut terutama gadis-gadi dan ibu-ibu memperhatikan Alex. Mereka mengagumi ketampanannya, dan juga ia sangat kharismatik di mata mereka.
"Ini neng ketopraknya," mang Asep meletakkan dua piring ketoprak didepan Anes dan Alex.
"Makasih mang, sekalian minumnya teh hangat sama jeruk hangat ya mang?"
"Siap neng," sahut mang Asep,kemudian meninggalkan meja Alex dan Anes.
"Ayo mas makan!" ajak Anes.
"Aku nggak lapar!"
"Tadi katanya lapar, sekarang kenyang, cepat dimakan, enak lho, beneran!"
"Nggak mau!"
"Yakin nggak mau? ya udah, aku makan sendiri aja."
Alex hanya mengamati ketoprak yang ada didepannya dengan tatapan penasaran, dengan tangannya disilangkan didada.
"Krucuk-krucuk," perut Alex bunyi.
Anes yang mendengar suara itu pun terkekeh.
"Udah makan aja."
"Nggak!"
"*X*asar keras kepala!" rutuk Anes dalam hati.
"Cepat buka mulutnya, aaaaaaa."
Anes menyendok ketoprak tersebut dan mendekatkan ke mulut Alex.
Alex menggenggam kepalanya dan menutup rapat mulutnya.
"Awww!" pekik Alex ketika Anes sengaja menginjak kakinya supaya Alex membuka mulutnya, dan ketika Alex mbuka mulutnya, Anes langsung memasukkan ketoprak tersebut ke mulutnya.
Alex diam sesaat mencerna rasa ketoprak tersebut.
"Mmm, enak juga makanan ini," batinnya.
"gGmana enak kan?" tanya Anes.
"Lumayan."
"Ya udah sini, biar aku makan, kalau mas nggak mau."
"Sini!" Alex merebut ketopraknya dari tangan Anes.
Anes tersenyum dan melanjutkan makannya.
Alex menyantap ketoprak tersebut dengan lahapnya.
__ADS_1
💠Selamat membaca, jangan lupa like komen dan jadikan favorit, terima kasih🙏🙏💠