MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek

MY HUSBAND IS MY PRESDIR : Jodoh Wasiat Kakek
chapter 102


__ADS_3

Paginya, Alex terbangun karena mendengar nada dering dari ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Bukannya menjawab teleponnya, ia malah semakin mengeratkan pelukannya terhadap Anes.


Alex memandangi wajah Anes dengan seksama. Rasanya ia tak sanggup kalau harus berjauhan dengan istri tercintanya tersebut.


Di peluk begitu eratnya, membuat Anes menggeliat dan membuka matanya.


"Mas, aku enggak bisa bernafas kalau di peluk kayak gini," Anes sedikit mendorong tubuh Alex.


"Sayang, kamu ikut mas aja ya? Mas nggak mau jauh dari kamu,"


"Mas itu ponselnya berdering, angkat cepat!" bukannya menjawab ajakan Alex, Anes malah fokus pada deringan ponselnya.


"Biarin, paling juga David yang telepon," sahut Alex.


"Buruan angkat mas, siapa tahu penting. Lagian pagi-pagi hp udah berisik aja,"


Alex mengambil ponselnya dan melihat layar ponselnya sekilas. Dan langsung meletakkannya kembali.


"Malah enggak di angkat?"


" Biarin ajalah, itu David, ganggu aja. Lanjutin yang semalam yuk?"


"Maunya!" Anes langsung pindah posisi mengambil ponsel milik Alex dan mengangkatnya.


"Halo bos, satu setengah jam lagi pesawat akan berangkat. Apa Anda sudah siap?" David memastikan agar Alex tidak terlambat ke bandara.


"Ini saya pak David," sahut Anes.


"Oh nona Anes, tolong bilang sama bos Alex, kalau kita akan terbang satu setengah jam lagi," David mengulangi kata-katanya tadi.


"Baiklah, akan saya sampai..."


"Undur keberangkatan kita empat jam lagi," Alex merebut ponsel yang di pegang Anes.


"Tapi bos,"


"Tidak ada tapi-tapian, lakukan saja yang aku perintahkan. Masih ada hal yang harus aku urus sekarang,"


"Baik bos," sahut David tanpa bisa protes lagi.


"Memangnya mas masih ada urusan apa?" selidik Anes.


"Tentu saja urusan bikin anak," sahut Alex dan langsung mengajak Anes kembali masuk ke dalam selimut. Dan apa yang terjadi selanjutnya? Hanya mereka dan Tuhan yang tahu.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Alex memutuskan untuk mengantar Anes ke rumah orang tuanya sebelum ia pergi ke bandara. Ia meminta Anes sementara untuk tinggal di rumah pak Arya selama ia pergi agar Anes tidak kesepian, dan tentu saja Anes dengan senang hati mengiyakannya.


"Sayang, mas pergi dulu ya? Kamu di rumah hati-hati. Awas jangan macam-macam sama cowok lain. Jangan tebar pesona. Terutama si Agus tukang daging itu, kalau kamu pergi ke pasar sama mama," pesan Alex kepada Anes. Ternyata Alex masih ingat kejadian waktu di pasar dulu, dan masih ingat nama tukang daging yang menyukai istrinya itu.


Pak Hari dan Bu Ratna yang mendengar ucapan Alex otomatis terkekeh.


"Iya iya, udah sana berangkat, ntar ketinggalan pesawat," sahut Anes yang sebenarnya berat untuk melepas kepergian Alex.


"Ma, Pa, Alex berangkat dulu, titip Anes ya?" Alex berpamitan kepada mertuanya.


"Iya, kamu jangan khawatir. Hati-hati di jalan," sahut pak Hari sambil menepuk pundak Alex.


"Sayang, mas pergi untuk kembali," ucap Alex sebelum meninggalkan istri dan mertuanya.

__ADS_1


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Keesokan harinya...


Baru satu hari Anes di tinggal Alex pergi, tapi ia sudah merindukan suaminya tersebut.


"Kalau kangen, kenapa enggak telepon saja?" ucap bu Ratna.


"Anes udah mencoba meneleponnya dari tadi ma, tapi nggak di angkat sama mas Alex," jawab Anes yang kelihatan agak cemas.


"Mungkin dia lagi sibuk sayang. Nanti coba telepon lagi," ujar bu Ratna.


"Hem," sahut Anes singkat.


Malam harinya, ketiak Anes hendak tidur, ponselnya berdering. Ia melihat nama pemanggil yang ternyata adalah Alex.


"Halo sayang, maaf dari tadi mas sangat sibuk, ini baru sempat pegang hp. Kamu nggak marah kan?"


"Enggak kok, cuma khawatir aja, nggak biasanya mas mengabaikan pesan atau telepon dari aku," jawab Anes.


"Sayang, ganti video call ya? Mas kangen pengen lihat wajah kamu,"


Dan panggilan pun di ubah menjadi panggilan video.


"Maafin mas ya, mas nggak bermaksud nyuekin kamu hari ini," ucap Alex ketika ia sudah melihat wajah cantik sang istri melalu layar ponselnya.


"Iya mas, nggak apa-apa, aku ngerti kok,"


Mereka pun mengobrol sampai akhirnya Anes terlelap padahal panggilan videonya masih on. Posisinya kini tidur miring dengan ponsel ia letakkan di depannya.


Alex tersenyum melihat Anes sudah tidur.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Pagi yang cerah, Anes bingung mau mengawali hari ini dengan melakukan apa. Akhirnya ia hanya duduk-duduk di teras rumah orang tuanya.


"Sudah Lima hari mas Alex pergi, aku sudah sangat merindukannya. Kemarin juga udah jalan sama Amel, hari ini mau ngapain ya?" gumam Anes dalam lamunannya. Ia terus memandangi ponselnya berharap ada panggilan masuk dari Alex.


"Sayang, tolong belikan gula di warung pojokan sana dong! Mama mau bikin kue, tapi gulanya habis," pinta Bu Ratna.


"Eh iya ma," Anes langsung mengambil ponselnya dan bergegas pergi.


"Nyonya mau kemana biar saya antar," tanya pak Anton yang di mintai Alex untuk selalu standby mengantar kemanapun Anes pergi. Ia akan datang di waktu pagi dan kembali ke rumah Alex ketika Anes sudah memintanya kembali.


"Tidak usah pak, saya cuma mau pergi ke warung sana kok. Sekalian mau jalan-jalan," jawab Anes. Memang sudah lama ia tidak jalan-jalan di sekitar rumah orang tuanya tersebut, dan ia ingin bernostalgia dengan masa lalunya di sana.


"Baik kalau begitu nyonya," ucap pak Anton.


Di perjalanan menuju ke warung, ponsel Anes berdering. Ia segera segera menggeser tombol berwarna hijau setelah melihat nama si penelepon.


"Mas Alex, aku kangen! Kapan sih mas pulang?" ucap Anes setelah melihat Alex yang sedang duduk di kursi kebesarannya di Australia sana.


"Mas juga kangen sayang, mas usahakan secepatnya ya mas pulang," sahut Alex yang sedang bersandar di kursinya. Ia melonggarkan sedikit dasi yang ia kenakan.


"Kamu sedang apa sayang?" tanya Alex.


"Ini lagi di jalan mau beli gula," Jawab Anes. Ia sengaja memelankan langkah kakinya.


"Kenapa jalan? Pak Anton nggak ke sana? Beraninya dia!" Alex sedikit meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Aku yang mau jalan mas, bukan salah pak Anton. Orang warungnya dekat kok, sekalian mau jalan-jalan. Bosan tahu di rumah terus nggak ada mas,"


"Maaf maaf sayang, ah sial! mas juga udah nggak sabar pengen pulang. Coba saja kemarin mas bawa kamu ke sini,"


"Mas sebentar ya aku udah sampai, mau beli gula dulu," tak terasa Anes sudah sampai di depan warung.


"Hem, nggak usah di matikan panggilannya," pinta Alex.


"ya," jawab Anes singkat.


"Pak beli gulanya 2 kilo ya?" ucap Anes kepada pemilik warung.


"Tunggu sebentar ya neng," sahut pemilik warung yang langsung mengambilkan gula sesuai permintaan Anes.


"Ini neng gulanya," pemilik warung menyerahkan gula yang sudah di masukkan ke dalam plastik kresek.


"Ini uangnya Pak," Anes menyodorkan uang 50ribuan.


"Sebentar ya Neng kembaliannya,"


"Tidak usah Pak, buat Bapak saja,"


"Terima kasih Neng,"


"Sama-sama pak, saya permisi dulu," pamit Anes.


Baru beberapa langkah Anes meninggalkan warung tersebut, ia bertemu dengan beberapa ibu-ibu yang tak lain adalah para tetangga orang tuanya.


"Eh Anes kan? Wah sekarang tambah cantik ya," sapa seorang ibu-ibu.


Anes langsung menurunkan kembali ponsel yang baru saja ia angkat untuk melihat wajah tampan sang suami.


"Iya Bu, saya Anes anaknya pak Hari dan bu Ratna," sahut Anes ramah.


"Lama nggak kelihatan, katanya sudah menikah ya? Bagaimana udah punya anak belum?" tanya ibu-ibu yang lain.


"Belum Bu," jawab Anes.


"Kok lama ya, padahal udah lama kan menikahnya? Kalau nggak salah udah hampir setahun kan? Waktu itu kan menikahnya secara diam-diam, kirain hamil duluan eh ternyata sampai sekarang malah belum punya anak. Hamil juga belum sepertinya," ucap yang lain dengan nada mengejek.


"Suami kamu orang kaya itu kan? Pemilik perusahaan Parvis Group yang terkenal itu kan? Hati-hati loh Nes, jangan sampai suami kamu berpaling karena kamu nggak bisa kasih dia keturunan. Masalah dalam rumah tangga itu bukan cuma duit sama pelakor saja, tapi masalah anak juga sangat sensitif dan berpengaruh dalam rumah tangga. Percuma kalau duit banyak tapi nggak ada anak," sahut yang lainnya.


"Sabar-sabar Nes, ini dunia nyata, emang ada tetangga-tetangga yang mulutnya pedas model begitu," batin Anes menahan sesuatu di dadanya.


"Iya ya, padahal si Tika Anaknya bu Ajeng tetangga kita itu, dia baru menikah dua bulan tapi sudah hamil loh. Kamu yang lebih lama menikahnya malah belum," ucap yang lain dengan sinisnya.


"Jangan-jangan kamu mandul lagi. Kasihan ya suami kamu yang kaya itu, dia pasti kan menginginkan keturunan sebagai pewarisnya nanti. Cepat-cepat periksa gih, siapa tahu ada yang nggak beres sama kesehatan kamu,"


"Astaghfirullah," Anes hanya mampu beristighfar sambil mengelus dadanya mendengar ucapan yang di lontarkan ibu-ibu itu.


"Maaf ya ibu-ibu, saya harus segera pulang," ucap Anes dengan tersenyum getir.


Ya, Anes ingin sekali menangis mendengar ucapan ibu-ibu itu. Entahlah tujuan mereka apa mengatakan itu semua kepadanya, mungkin untuk mengingatkan Anes, namun lebih terdengar seperti menghina tersebut.


Anes langsung membuat langkah seribu meninggalkan para ibu-ibu tukang gosip tersebut. Membalas ucapan mereka juga sepertinya hanya akan buang-buang waktu, pikir Anes. Ia lupa kalau panggilan video call dari suaminya masih aktif.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


๐Ÿ’ Apakah Alex mendengar apa yang di katakan oleh ibu-ibu tersebut? Lalu bagaimana reaksinya jika dia mendengar?๐Ÿ’ 

__ADS_1


__ADS_2